Author: Dwi Widiyastuti

  • Kehampaan di Era Modern: Mengapa Tasawuf Jadi Solusi yang Dicari Banyak Orang?

    Kehampaan di Era Modern: Mengapa Tasawuf Jadi Solusi yang Dicari Banyak Orang?

    NUJATENG.COM – Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan seharusnya membawa manusia menuju kehidupan yang lebih nyaman. Namun faktanya, modernitas melahirkan paradoks: semakin maju peradaban, semakin kosong batin manusia. Riset sosial-kultural menunjukkan meningkatnya angka depresi, kecemasan, dan bunuh diri akibat hilangnya keseimbangan antara akal dan spiritualitas.

    Pemikir Muslim kontemporer, Sayyed Hossein Nasr, menilai bahwa manusia modern mengalami krisis eksistensial karena terlalu bertumpu pada rasionalitas dan sains, tetapi mengabaikan kebutuhan jiwa. Akibatnya, banyak individu terjebak dalam kegelisahan, disorientasi, dan ketidakbahagiaan yang sulit dijelaskan.

    Di tengah kekacauan batin modern inilah Tasawuf hadir sebagai jalan pulang menuju ketenangan.

    Apa Sebenarnya Tasawuf?

    Tasawuf bukan sekadar ritual atau laku asketis ia adalah disiplin untuk memfokuskan hati kepada Allah dan menyingkirkan segala penyakit batin. Ulama sufi besar, Syekh Ahmad Zarruq, mendefinisikan Tasawuf sebagai ilmu yang bertugas memperbaiki hati agar hanya tertuju kepada Allah.

    Definisi lain datang dari Sayyid Murtadha Az-Zabidi yang menekankan bahwa langkah awal Tasawuf adalah menyucikan batin dan lahir dari dosa, baik yang tampak maupun tersembunyi. Dengan demikian, Tasawuf membentuk manusia yang bersih dari dalam, bukan hanya sekadar tampilan luar.

    Mengapa Tasawuf Diperlukan di Tengah Masyarakat Modern?

    Para ahli psikologi dan studi spiritual menemukan bahwa Tasawuf berperan penting dalam menenangkan jiwa modern. Dalam penelitian klinis, praktik-praktik Tasawuf terbukti menurunkan kecemasan, membantu pengendalian emosi, dan memperbaiki kesehatan mental.

    Tasawuf tidak lagi dipandang sebatas ritual agama, tetapi sebagai terapi spiritual yang selaras dengan kebutuhan psikologis manusia masa kini.

    Muraqabah Mekanisme Akuntabilitas Batin di Tengah Dunia yang Serba Anonim

    Konsep muraqabah, yakni kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi pikiran dan hati manusia, menjadi alat penting untuk menjaga perilaku pribadi dalam lingkungan modern yang individualistis. Muraqabah membantu seseorang tetap terkendali, terarah, dan tidak larut dalam godaan dunia.

    Tasawuf Akhlaki: Jalan Etis untuk Menghadapi Kerusakan Moral Zaman Ini

    Tasawuf Akhlaki menjadi ajaran sufi yang paling relevan untuk masyarakat modern. Dua metode utama yang diajarkan adalah:

    1. Takhalli Membersihkan Diri dari Sifat Tercela

    Takhalli adalah proses membuang semua sifat buruk seperti sombong, dengki, riya, dusta, dan amarah. Sebagaimana dijelaskan Syekh Amin Al-Kurdi, sifat-sifat buruk adalah “najis maknawi” yang menghalangi cahaya Ilahi memasuki hati.

    Konsep takhalli ini sangat penting dalam konteks modern, ketika sifat tamak, pamer, dan egoisme semakin menonjol akibat media sosial dan budaya materialistik.

    Contoh aplikatifnya: seseorang yang bertobat dari perilaku merugikan seperti ghasab (mengambil hak orang lain) akan lebih sadar akan tanggung jawab sosial dan moralnya.

    Di berbagai pesantren, terutama yang mengikuti ajaran tarekat seperti Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), praktik takhalli diperkuat dengan dzikir jahr dan sirri untuk menenangkan hati dan menguatkan spiritualitas.

    2. Tahalli Menghias Diri dengan Akhlak Terpuji

    Setelah hati bersih dari sifat buruk, tahap berikutnya adalah mengisinya dengan nilai-nilai luhur: sabar, ikhlas, rendah hati, kasih sayang, dan kejujuran.

    Tahalli merupakan proses mengimplementasikan ajaran Islam dalam tindakan sehari-hari tidak hanya dalam ibadah lahiriah seperti shalat, tetapi juga dalam membangun karakter batin.

    Keduanya, takhalli dan tahalli, menjadi sistem etis yang terstruktur untuk membentuk pribadi berakhlak mulia dalam masyarakat yang mengalami disorientasi moral.

    Tasawuf sebagai Kompas Spiritual Zaman Modern

    Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi tekanan, persaingan, dan kebisingan informasi, Tasawuf hadir sebagai obat yang menenangkan. Ia menawarkan integrasi akal dan spiritualitas, sesuatu yang hilang dari budaya modern.

    Melalui ajaran takhalli dan tahalli, Tasawuf membantu manusia membersihkan diri dari nilai-nilai merusak dan menghiasinya dengan akhlak mulia. Tasawuf bukan nostalgia masa lalu, tetapi kebutuhan mendesak untuk menjaga kesehatan batin dan moralitas manusia modern.

    Tasawuf adalah jalan untuk kembali menemukan diri dan menemukan Tuhan.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Peran Tasawuf di Tengah Kompleksitas Masyarakat Modern

  • 3 Elemen Berharga yang Menjadikan Santri Lebih dari Sekadar Pencari Ilmu

    3 Elemen Berharga yang Menjadikan Santri Lebih dari Sekadar Pencari Ilmu

    NUJATENG.COM – Menjadi santri bukan hanya soal belajar di pesantren, melainkan proses panjang membangun karakter dan akhlak. Dalam Khutbah Jumat bertema “3 Elemen Berharga dalam Diri Santri”, disampaikan bahwa ada tiga pilar utama yang wajib dimiliki oleh setiap santri:

    1. Thalabul ‘Ilmi menuntut ilmu dengan serius dan beradab
    2. Tazkiyatun Nafs membersihkan jiwa agar ilmu melahirkan akhlak
    3. Jihad fi Sabilillah perjuangan fisik, mental, dan spiritual demi kemaslahatan umat

    Tiga fondasi inilah yang menjadikan santri bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan matang dalam kontribusi sosial.

    Thalabul ‘Ilmi Menuntut Ilmu sebagai Jalan Hidup

    Dalam tradisi pesantren, menuntut ilmu dipahami sebagai ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

    “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

    Ilmu bukan sekadar sarana mencari pekerjaan, tetapi pondasi untuk memperbaiki diri dan memberi manfaat kepada masyarakat. Santri belajar tidak untuk gelar, melainkan untuk keberkahan.

    Pesantren sebagai Penjaga Tradisi Keilmuan

    Sejak dahulu, pesantren menjadi pusat lahirnya generasi ulama, intelektual, serta tokoh masyarakat. Para santri ditempa bukan hanya melalui kitab-kitab yang mereka baca, tetapi juga dari akhlak para kiai yang menjadi teladan hidup.

    Tazkiyatun Nafs Penyucian Jiwa sebagai Kunci Keberkahan Ilmu

    Santri tidak hanya belajar ilmu teks, tetapi juga ilmu kehidupan. Mereka menempuh perjalanan spiritual melalui ibadah, riyadhah, kesederhanaan, dan kedisiplinan. Di pesantren ada pepatah:

    “Jika hanya pandai membaca kitab namun hati tetap gelap, maka belum sempurna menjadi santri.”

    Inilah esensi tazkiyah: ilmu harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.

    Pesantren sebagai Sekolah Jiwa

    Di pesantren, santri dilatih untuk menata hati, menjaga niat, dan memerangi hawa nafsu. Mereka belajar bahwa kecerdasan intelektual tanpa kebersihan hati hanya akan melahirkan keangkuhan dan perpecahan.

    Jihad fi Sabilillah Totalitas Pengabdian Santri untuk Umat dan Bangsa

    Jihad bukan hanya perjuangan fisik, tetapi komitmen total dalam memperjuangkan nilai kebaikan. Santri diajarkan bahwa ilmu harus dibarengi keberanian membela kebenaran, menegakkan kedamaian, dan menjaga kemaslahatan umat.

    Jejak Emas Santri dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia

    Sejarah mencatat peran besar santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 oleh KH Hasyim Asy’ari menjadi pemantik semangat perjuangan yang melahirkan peristiwa heroik 10 November di Surabaya.

    Tidak berlebihan bila dikatakan: ujian pertama pasca-kemerdekaan dikerjakan oleh para santri — dan mereka lulus dengan gemilang.

    Santri sebagai Teladan Zaman

    Tiga elemen utama thalabul ‘ilmi, tazkiyatun nafs, dan jihad fi sabilillah menjadikan santri sosok yang komplet: berilmu, berakhlak, dan berjiwa pejuang. Di tengah tantangan zaman modern, nilai-nilai ini tetap relevan bagi siapa pun yang ingin menjadi manusia bermanfaat.

    Santri adalah cermin bahwa menjadi baik bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga tentang kebersihan hati dan pengabdian tanpa batas.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Khutbah Jumat: 3 Elemen Berharga dalam Diri Santri

  • Terkuak! Begini Dinamika Panas Hubungan Sufi dan Penguasa dari Zaman Kerajaan hingga Indonesia Modern

    Terkuak! Begini Dinamika Panas Hubungan Sufi dan Penguasa dari Zaman Kerajaan hingga Indonesia Modern

    NUJATENG.COM – Hubungan antara para sufi dan kekuasaan politik selalu menarik untuk ditelusuri. Sejarah membuktikan bahwa keduanya tidak pernah benar-benar terpisah. Para sufi tidak hanya menekuni dunia batin melalui tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), tetapi juga menjadi agen perubahan sosial, penyeimbang kekuasaan, dan bahkan penggerak perlawanan.

    Sikap teratur, disiplin, serta kekuatan batin yang mereka bawa lahir dari ajaran Al-Qur’an, salah satunya firman Allah dalam QS. Ash-Shaff: 4:

    “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang kokoh.”

    Dari sinilah tampak bahwa tasawuf bukan sekadar ibadah personal. Ia memiliki kekuatan sosial dan politik yang mampu memengaruhi tatanan negara dari masa ke masa.

    Tasawuf dan Politik: Saudara Kembar dalam Tradisi Islam

    Para pemikir klasik menolak memisahkan secara mutlak antara urusan dunia dan akhirat. Imam Al-Ghazali, tokoh besar Sufisme, menjelaskan hubungan antara negara dan agama sebagai hubungan yang saling menopang.

    Dalam Ihya’ Ulumuddin, beliau menulis:

    “Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi, sedangkan negara penjaganya. Tanpa pondasi, negara roboh; tanpa penjaga, agama akan terlantar.”

    Pernyataan ini menegaskan bahwa tasawuf dan politik bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan dua unsur yang saling melengkapi: etika untuk mengarahkan kekuasaan, dan kekuasaan untuk menjaga nilai-nilai etika.

    Dua Wajah Sufi dalam Kekuasaan

    Dalam sejarah Islam, para sufi memainkan dua peran utama yang selalu muncul dalam berbagai era dan wilayah.

    1. Sufi sebagai Penasihat dan Penjaga Etika Kekuasaan

    Dalam banyak kerajaan Islam, termasuk Nusantara, para sufi sering berada dekat dengan istana. Pertemuan keduanya menghasilkan hubungan patron-klien yang saling menguntungkan:

    • Penguasa memperoleh legitimasi spiritual dan karisma moral.
    • Sufi atau mursyid mendapatkan ruang untuk menyebarkan ajarannya dan melindungi murid-muridnya.

    Sejak abad ke-17, hampir semua kerajaan Islam di Asia Tenggara menempatkan ulama sufi sebagai penasihat utama. Mereka tidak hanya memberi nasihat moral, tetapi juga menduduki jabatan formal seperti mufti dan pejabat istana.

    Studi Kasus Aceh: Ketika Sufi Mengarahkan Kebijakan Raja

    Kerajaan Aceh adalah contoh paling jelas hubungan kuat antara sufi dan kekuasaan:

    • Syamsuddin al-Sumatrani, murid Hamzah Fansuri, menjadi mufti dan penasihat utama Sultan Iskandar Muda.
    • Nurruddin ar-Raniri, ulama neo-sufi, memberi banyak nasihat etik dan syariat kepada istana.

    Dalam kitab Bustanus Salatin, Ar-Raniri menegaskan pentingnya raja menjadi “khalifah yang adil”, melindungi rakyat lemah, dan menjauhi hukum-hukum yang tidak sesuai syariat. Tidak sedikit rekomendasinya yang akhirnya menjadi kebijakan kerajaan, termasuk penghapusan bentuk-bentuk hukuman yang dianggap tidak Islami.

    Sufi juga menjadi motor Islamisasi yang berpusat di istana. Melalui jaringan tarekat, mereka membangun kewibawaan spiritual yang memperkuat otoritas sultan.

    Sufi sebagai Motor Sosial dan Pemersatu Bangsa

    Selain menjadi penasihat penguasa, para sufi juga dikenal sebagai penggerak masyarakat dan pemersatu bangsa.

    Sufi dan Perlawanan Kolonial

    Ajaran neo-sufisme yang dibawa ulama seperti Ar-Raniri berhasil:

    • membangkitkan semangat anti-penjajahan,
    • menggerakkan solidaritas kolektif,
    • menyatukan berbagai etnik Nusantara yang sebelumnya sulit dipersatukan.

    Tarekat-tarekat sufi terbukti mampu mengorganisasi masyarakat dalam struktur komunal yang solid sesuatu yang tidak dapat dilakukan sistem politik tradisional saat itu.

    Tasawuf sebagai Fondasi Multikulturalisme Indonesia Modern

    Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, nilai-nilai tasawuf terbukti relevan:

    • Amanah → dasar etika profesional
    • Ahsan → semangat kerja berkualitas
    • Cinta dan toleransi → ikatan sosial lintas identitas
    • Kesadaran batin → obat bagi polarisasi politik

    Studi tentang Sufi Batak dalam Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah menunjukkan bagaimana ajaran sufi mampu menciptakan ruang perjumpaan lintas agama. Di beberapa komunitas, Muslim dan Kristen bahkan disebut sebagai “saudara kandung” dalam kebudayaan Batak.

    Tasawuf tidak berhenti pada ranah spiritual; ia menjadi perekat sosial yang memperkuat identitas kolektif bangsa.

    Sufi, Etika, dan Masa Depan Politik yang Lebih Beradab

    Sejarah menunjukkan bahwa Sufisme selalu hadir sebagai penyeimbang bagi kekuasaan:

    • Ketika dekat dengan puncak kekuasaan, ia menanamkan etika dan keadilan.
    • Ketika masyarakat terancam, ia menjadi kekuatan pemersatu dan penggerak perjuangan.
    • Ketika politik terpecah, ia menawarkan narasi cinta dan toleransi.

    Sufi tidak hanya hidup di ruang dzikir; mereka hadir dalam denyut sosial bangsa. Mereka menjaga agar kekuasaan tidak kehilangan moral, dan masyarakat tidak kehilangan arah.

    Pada akhirnya, tasawuf mengajarkan bahwa politik yang beradab hanya bisa lahir dari jiwa yang bersih. Dan jiwa yang bersih, sebagaimana selama berabad-abad diperjuangkan para sufi, adalah pondasi bagi terciptanya kemaslahatan universal.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Hubungan Sufi dan Penguasa dari Masa ke Masa

  • Mengungkap Akar Tasawuf: Benarkah Ia Lahir dari Krisis Sosial-Politik Umat Islam?

    Mengungkap Akar Tasawuf: Benarkah Ia Lahir dari Krisis Sosial-Politik Umat Islam?

    NUJATENG.COM – Tasawuf sering dipahami sebagai ajaran spiritual dalam Islam yang mengajarkan kesucian jiwa, kelembutan hati, dan kedekatan dengan Allah. Namun, jika melongok kembali ke sejarahnya, tasawuf ternyata tidak lahir dalam ruang kosong. Disiplin ilmu ini berkembang dalam suasana sosial-politik yang penuh gejolak, khususnya setelah wafatnya generasi sahabat dan tabi’in.

    Lantas, bagaimana sebenarnya tasawuf muncul? Mengapa ia baru dikenal luas setelah abad ke-2 Hijriah? Apakah benar tasawuf lahir sebagai “kritik sosial” terhadap masyarakat dan penguasa? Artikel ini mengurai ulang sejarah tersebut dengan bahasa populer dan pendekatan jurnalistik.

    Kelahiran Tasawuf Menurut Sejarah: Sebuah Ilmu Baru dalam Syariat

    Dalam al-Mausu’ah al-Yusufiyyah fi Bayani Adillatish Shufiyyah, Syekh Yusuf al-Khattar mengutip pandangan monumental Ibnu Khaldun yang menyebut tasawuf sebagai salah satu disiplin ilmu baru dalam tradisi keilmuan Islam.

    “Ilmu ini termasuk ilmu syariat yang baru muncul dalam agama.”
    (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, Jilid II)

    Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tasawuf bukan bagian dari masa sahabat dan tabi’in, tetapi berkembang pada kurun kedua Hijriah, lalu semakin populer pada masa pemerintahan Al-Ma’mun (w. 218 H).

    Baru Nama, Bukan Ajaran Baru

    Meski disebut “ilmu baru”, Syekh Yusuf menegaskan bahwa yang baru hanyalah penamaannya. Esensi moral dan spiritualitas tasawuf sejatinya telah dipraktikkan Rasulullah SAW dan para sahabat sejak awal. Dengan kata lain:

    • Tasawuf bukan ajaran baru
    • Ia hanyalah formalisasi dan penamaan ulang dari praktik-praktik kesalehan yang sudah ada sebelumnya

    Mengapa Harus Ada Istilah Tasawuf? Inilah Latar Sosialnya

    Sebelum istilah tasawuf dikenal, para ahli ibadah disebut az-zuhhad (ahli zuhud) dan al-‘ubbad (ahli ibadah). Namun, memasuki abad ke-2 Hijriah, suasana sosial berubah drastis.

    Munculnya “Kesalehan Palsu”

    Saat itu banyak kelompok menampilkan diri sebagai ahli ibadah tetapi sesungguhnya mengejar ambisi dunia, khususnya kekuasaan. Mereka menyamar sebagai tokoh spiritual, namun batinnya dipenuhi kerakusan.

    Untuk membedakan pengamal spiritual sejati dari mereka yang hanya tampak saleh, istilah tasawuf kemudian dipopulerkan.

    Syekh Yusuf al-Khattar mencatat:

    “Tasawuf muncul sebagai identitas baru bagi orang-orang yang memusatkan diri pada ibadah, untuk membedakan mereka dari masyarakat yang terlalaikan oleh dunia.”

    Tasawuf pada masa itu bukan sekadar tradisi spiritual; ia menjadi tanda identitas moral.

    Tasawuf Sebagai Kritik Sosial dan Kritik Politik

    Setidaknya ada dua sebab mengapa tasawuf lahir dan berkembang pesat.

    1. Kritik terhadap Materialisme Masyarakat

    Pasca generasi sahabat, muncul kecenderungan masyarakat mengejar dunia dengan mengabaikan urusan akhirat. Tasawuf hadir sebagai jawaban spiritual, mengembalikan keseimbangan antara dunia dan akhirat.

    Praktik zuhud, mujahadah, dan tazkiyatun nafs menjadi obat bagi jiwa-jiwa yang mulai terjebak dalam budaya materialisme.

    2. Kritik terhadap Hasrat Kekuasaan Penguasa

    Meski masa Al-Ma’mun dikenal sebagai zaman keemasan Abbasiyah, pemerintahan kala itu juga dipenuhi pejabat yang tamak kekuasaan. Tasawuf tampil sebagai gerakan moral yang mengingatkan penguasa agar tidak lepas dari nilai ukhrawi.

    Kisah menarik dari Yahya bin Aktsam menggambarkan kondisi ini: seorang Sufi datang menemui Al-Ma’mun bukan untuk memuji, tetapi mengajak diskusi sebuah bentuk amar makruf yang elegan dan beradab.

    Tasawuf hadir bukan hanya sebagai doktrin, tetapi sebagai gerakan kritik sosial-politik yang lembut namun tegas.

    Relevansi Tasawuf di Era Modern

    Jika menengok realitas zaman kini kesenjangan sosial, hasrat kekuasaan, materialisme ekstrem kita menemukan cermin yang sama dengan kondisi saat tasawuf lahir.

    Tasawuf menawarkan:

    • keseimbangan batin
    • kritik terhadap gaya hidup konsumtif
    • kontrol moral bagi para pemegang kekuasaan
    • spiritualitas yang menyehatkan jiwa

    Dalam konteks modern, tasawuf tidak hanya relevan ia justru menjadi kebutuhan. Hanya saja pendekatannya perlu disesuaikan dengan dinamika masyarakat saat ini: lebih rasional, lebih komunikatif, dan lebih kontekstual.

    Jejak sejarah menunjukkan bahwa tasawuf bukan sekadar ilmu spiritual; ia adalah respons cerdas terhadap kegelisahan zaman. Lahir di tengah krisis sosial dan politik, tasawuf tampil sebagai cahaya moral yang menjaga keseimbangan umat.

    Hari ini, ketika dunia kembali dikuasai materialisme dan kerakusan kekuasaan, pesan tasawuf justru semakin bergema: kembalilah pada keseimbangan, karena jiwa manusia tidak diciptakan untuk tunduk pada dunia, tetapi untuk menguasai dunia dengan kesucian batin.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Membaca Ulang Konteks Sosial-Politik pada Saat Tasawuf Lahir

  • Ternyata Nabi Muhammad Sudah Mengajarkan Gaya Hidup Hijau Sejak 14 Abad Lalu! Umat Islam Wajib Tahu

    Ternyata Nabi Muhammad Sudah Mengajarkan Gaya Hidup Hijau Sejak 14 Abad Lalu! Umat Islam Wajib Tahu

    NUJATENG.COM – Di tengah krisis lingkungan global pemanasan bumi, polusi, banjir, dan kerusakan alam dunia modern terus menyerukan go green dan sustainable living. Namun, sedikit yang menyadari bahwa konsep tersebut sebenarnya telah dipraktikkan Nabi Muhammad SAW jauh sebelum dunia mengenal istilah ekologi.

    Islam memberikan tuntunan lengkap dalam menjaga bumi, dan Rasulullah mencontohkan langsung bagaimana seorang Muslim seharusnya memperlakukan alam. Jejak teladan itu kini semakin relevan di tengah darurat ekologi.

    Hemat Air: Teladan Hijau Pertama Rasulullah

    Salah satu kebiasaan Rasulullah yang paling kuat mengajarkan eco-living adalah penggunaan air dalam berwudhu dan mandi. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Nabi berwudu hanya dengan satu mudd (sekitar 0,5–0,75 liter) dan mandi dengan satu sha’ (sekitar 2–3 liter).

    Bandingkan dengan kebiasaan sebagian orang yang menghabiskan belasan liter air hanya untuk berwudu.

    Hemat air bukan hanya disiplin ibadah, tetapi bentuk penghormatan terhadap nikmat Allah. Di era kekeringan dan krisis air seperti sekarang, tindakan Nabi ini sangat layak dijadikan pedoman.

    Menanam Pohon: Ibadah Lingkungan yang Pahalanya Mengalir Tanpa Henti

    Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Rasulullah menegaskan bahwa setiap pohon yang ditanam seorang Muslim akan menjadi sedekah, meskipun buahnya dimakan manusia, hewan, atau burung.

    Islam tidak hanya mendorong kegiatan menanam, tetapi mengangkatnya menjadi bentuk ibadah.

    Banyak ulama mengatakan bahwa pertanian adalah salah satu amalan paling utama, sebab pahala dari pohon hidup terus mengalir hingga akhirat selama ia memberi manfaat bagi makhluk lain.

    Ihsan terhadap Alam: Etika Ekologis dalam Islam

    Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa Allah mewajibkan ihsan dalam setiap hal. Ihsan berarti berbuat baik, menjaga, serta memperlakukan ciptaan Allah dengan cara yang layak.

    Dalam konteks modern, ihsan dapat diterjemahkan sebagai:

    • tidak melakukan perusakan lingkungan,
    • menghindari penebangan pohon tanpa kebutuhan jelas,
    • tidak menyiksa hewan,
    • tidak mencemari air atau tanah,
    • menjaga keseimbangan alam sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

    Etika ekologis ini menjadi fondasi penting bagi umat Islam dalam menghadapi krisis lingkungan.

    Menjaga Kebersihan: Cabang Iman yang Dibuktikan dengan Aksi Nyata

    Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi menjelaskan bahwa cabang iman paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Artinya, menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian langsung dari keimanan.

    Jika sekadar mengangkat duri dari jalan saja bernilai ibadah, bagaimana dengan menjaga sungai tetap bersih, memilah sampah, atau menanam pohon?

    Islam sejak awal telah menanamkan kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan dan menciptakan ruang hidup yang sehat.

    Nabi Muhammad adalah Pelopor “Gaya Hidup Hijau”

    Nabi Muhammad SAW telah memberikan empat prinsip emas yang sangat relevan untuk menghadapi krisis ekologi hari ini:

    1. Hemat dalam penggunaan air
    2. Menanam pohon dan menjaga kelestarian tumbuhan
    3. Bersikap ihsan terhadap alam dan makhluk lainnya
    4. Menjaga kebersihan sebagai bukti keimanan

    Bagi umat Islam, mencintai bumi adalah bagian dari mencintai Sang Pencipta. Menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, tetapi ibadah yang bernilai dunia dan akhirat.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Khutbah Jumat: Meneladan Gaya Hidup Hijau ala Nabi Muhammad

  • Miss Grand Tourism Indonesia, Alumni SMA Negeri 1 Purwareja Klampok, Meriahkan Puncak HUT ke-42

    BANJARNEGARA – nujateng.com

    Banjarnegara (12/11/2025) – SMA Negeri 1 Purwareja Klampok mengadakan puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-42 yang berlangsung meriah dan penuh makna. Tidak hanya dimeriahkan oleh berbagai kegiatan seperti jalan sehat, penampilan band, hingga color fun, tetapi acara kali ini terasa semakin istimewa dengan kehadiran Anis Hilmi Basman, alumni berprestasi yang kini menyandang gelar Miss Grand Tourism Indonesia.

    Acara diawali dengan kegiatan jalan sehat “WALKMAZING 42” yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Suasana kebersamaan terasa hangat ketika peserta menyusuri area sekolah dengan penuh semangat.

    Kemeriahan berlanjut di area indoor dengan penampilan Bratasena Band yang berhasil menghidupkan suasana melalui lagu-lagu penuh energi. Para guru juga turut memeriahkan acara melalui Teachers Show bertema jadul, lengkap dengan outfit era 90-an yang mendapat sambutan meriah dari para siswa.

    Sorotan utama acara muncul ketika Anis Hilmi Basman hadir sebagai bintang tamu. Dalam sambutannya, Anis membagikan kisah perjuangannya hingga berhasil meraih prestasi di tingkat nasional. Ia menekankan bahwa meskipun aktif di dunia modeling sebagai Miss Grand Tourism Indonesia, dirinya tetap menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. “Bagi saya, kuliah tetap menjadi prioritas utama. Tugas-tugas kampus harus saya selesaikan terlebih dahulu. Kegiatan sebagai Miss Grand saya jalankan di waktu luang, biasanya saat hari libur. Di waktu itu saya gunakan untuk latihan berbicara, latihan catwalk, dan latihan lain yang bisa meningkatkan kepercayaan diri. Jadi semuanya tetap bisa berjalan, asalkan tahu mana yang harus diutamakan terlebih dahulu,” jelasnya.

    Kehadiran Anis memberikan motivasi besar bagi para siswa untuk terus mengembangkan kemampuan diri, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik, serta belajar mengatur prioritas dengan disiplin dan tanggung jawab.

    Setelah rangkaian hiburan dan pengumuman lomba, acara dilanjutkan dengan kegiatan Color Fun di lapangan sekolah. Para siswa tampak bersemangat mengenakan pakaian serba hitam sambil saling melempar bubuk warna-warni, menciptakan nuansa ceria dan penuh kegembiraan.

    Sebagai penutup, seluruh siswa melaksanakan kegiatan kebersihan kelas sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekolah. Perayaan HUT tahun ini bukan hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga momentum untuk memperkuat nilai kebersamaan, kedisiplinan, dan rasa memiliki terhadap sekolah.

    Kehadiran Anis Hilmi Basman dalam perayaan kali ini menjadi bukti bahwa alumni SMA Negeri 1 Purwareja Klampok mampu berprestasi hingga tingkat nasional. Melalui momentum tersebut, sekolah berharap para siswa semakin termotivasi untuk menggali potensi diri dan terus berusaha meraih prestasi terbaik.

    Chelsea Nindy Pramudita – SMA Negeri 1 Purwareja Klampok

  • SMKN 1 Wanayasa Raih Juara Umum III Tingkat Pelajar di Kejuaraan PSHT Cup 2025

    SMKN 1 Wanayasa Raih Juara Umum III Tingkat Pelajar di Kejuaraan PSHT Cup 2025

    SMKN 1 Wanayasa mendapat Juara umum peringkat 3 antar pelajar setelah berhasil meraih total delapan medali, termasuk dua medali emas, dalam ajang Kejuaraan PSHT Cup Piala Dindikpora ke-XVII se-Jawa Tengah dan DIY 2025, yang diselenggarakan di GOR Tenis Indoor Kabupaten Banjarnegara selama tiga hari, yaitu pada hari Jumat hingga Minggu, 7–9 November 2025.

    Dalam kejuaraan tersebut, tim pencak silat SMKN 1 Wanayasa tampil gemilang dengan perolehan dua medali emas, empat medali perak, dan dua medali perunggu. Medali emas dipersembahkan oleh Faisal Al Qomaruddin (XI ATR B) dan Given (XII TJKT C). Sementara empat medali perak diraih oleh Duwi Firda Tasya Aulia Putri (XI APHP C), Ragil Wahyu Yulianto (XI ATR A), Candra Andika Rasti (XI ATR A), dan Fani Syafa Riski (X TJKT A). Pencapaian tim dilengkapi medali perunggu yang diraih oleh Ardan Bagus Arta Wijaya (XII ATR) dan Rosita Rahmawati (X PPLG B).

    Perasaan senang, bangga, dan pengalaman berkesan didapatkan oleh para atlet. Menghadapi tantangan, kelelahan dan merasakan kebahagiaan bersama-sama. “Saya sangat senang karena pertandingan-pertandingan sebelumnya saya hanya mendapatkan juara 2 dan juara 3. Dengan event ini saya sangat bangga karena bisa mengharumkan nama sekolah, bisa dapat juara 1,“ ujar Given (XII TJKT C) peraih medali emas. Ia juga mengaku mengalami beberapa rintangan, “Tantangan terbesar saat latihan yaitu untuk konsisten. Saat persiapan lomba, saya dihadapkan dengan TKA (Tes Kemampuan Akademik),  saya harus persiapan latihan silat dan juga persiapan untuk TKA. Saat pertandingan, tantangannya ada pada lawan. Lawannya cukup sulit dikalahkan, tapi akhirnya saya bisa menang.” Pengalaman berkesan bagi Given justru kebersamaan yang ia anggap seperti keluarga. ”Untuk momen berkesan itu kebersamaan. Kami latihan bersama-sama seperti keluarga, dan saat bertanding pun setiap pemain pasti mencari pengalaman.”

    Perjuangan mendapat medali juga dirasakan Duwi Firda Tasya Aulia Putri (XI APHP C) peraih medali perak. “Untuk latihan, tantangannya karena ekstrakurikuler pencak silat belum punya basecamp sendiri, jadi kami latihan memanfaatkan lingkungan sekolah, kadang di tempat parkiran, kadang di depan kantin,“ jelasnya. Bukan hanya di saat latihan, di saat bertanding pun ada tantangannya, “Jadi waktu itu kaki saya sakit, lalu pelatih saya bilang kalau tidak kuat tidak usah, tapi menurut saya percuma kalau tidak bertanding padahal sudah di sana, akhirnya saya tetap bertanding cuma sayangnya kalah di final,”ujar Duwi, namun ia tetap merasa senang dan bangga. “Yang paling berkesan itu pengalaman bersama teman-teman. Karena sering kumpul, latihan, dan ikut pertandingan, jadi lebih dekat, lebih kenal, dan lebih terbuka.” Kedekatan seperti keluargalah yang menjadi pengalaman berkesan bagi Duwi.

    “Melihat anak-anak yang saya dampingi sejak latihan dan mengetahui perjuangan mereka. Saya merasa sangat senang dan bangga,” tutur Joko Riyono selaku pelatih sekaligus pembina ekstrakurikuler. “Pencapaian ini sudah melampaui target awal saya, karena banyak dari adik-adik di sini yang masih baru dan pemula. Ada kejutan dari adik-adik kelas 10, seperti Fani yang meraih juara 2 dan Rosita yang meraih juara 3 untuk kategori putri. Saya cukup puas, tetapi tentu saja masih banyak target lain yang harus kami capai setelah ini,” tambahnya.

    Sebagai pelatih tentu juga mengadapi berbagai ritangan. “Tantangan terbesar saat latihan biasanya adalah suasana hati anak-anak. Kadang ada yang bersemangat, kadang ada yang tidak. Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi saya untuk mengembalikan semangat dan mental mereka,” ujar Joko Riyono. ”Saat pertandingan, tidak banyak tantangan karena sebagian besar sudah terbiasa dan saling membantu, terutama adik-adik yang masih baru. Tantangan utama justru datang dari lawan, terutama dari sekolah unggulan seperti SMK 1 Bawang dan SMK 2 Bawang yang meraih juara umum 1 dan 2. Namun, Alhamdulillah, kami berhasil mengatasi beberapa atlet mereka yang memang sudah berpengalaman.”  Tambahnya.

    Selalu ada rencana untuk masa depan dan itu lah harapan. “Saya berharap Silat bisa semakin maju. Tahun sebelumnya peminatnya sedikit, tapi tahun ini sudah meningkat cukup banyak.” Ujar Given. Duwi juga menambahkan harapan darinya, “Semoga di event berikutnya, kita bisa jadi juara umum kedua atau bahkan kesempatan juara umum kesatu” ujarnya menyampaikan harapan.

    Pelatih mereka juga berpesan, “Saya selalu berpesan agar mereka tidak cepat puas, karena ini bukanlah akhir, melainkan sebuah awal bagi mereka untuk mengukir prestasi di masa depan. Mereka baru saja menaiki satu anak tangga, dan masih banyak anak tangga lain yang harus dilalui untuk mencapai kesuksesan. Tidak hanya dalam pencak silat, tetapi melalui pencak silat lah, saya berusaha mewadahi dan membentuk anak-anak agar mampu berkompetisi dalam kehidupan nyata.” Kalimat dari Joko Riyono yang menjadi inspirasi bagi mereka semua.

     

    (Harinne Aurelia P, SMKN 1 Wanayasa)

  • Bolehkah Menunda Hubungan Intim Setelah Akad? Ini Hukum, Batasan, dan Solusi Menyalurkan Syahwat Menurut Fikih

    Bolehkah Menunda Hubungan Intim Setelah Akad? Ini Hukum, Batasan, dan Solusi Menyalurkan Syahwat Menurut Fikih

    NUJATENG.COM – Dalam fikih nikah, pasangan yang telah melakukan akad sebenarnya sudah halal berhubungan intim. Akan tetapi, bila keduanya sepakat menunda hingga acara walimah, hukumya dibolehkan, bahkan Nabi Muhammad SAW pernah melakukannya saat pernikahan dengan Sayyidah Aisyah RA.

    Penundaan hanya menjadi masalah jika berubah menjadi syarat pranikah yang melarang hubungan badan secara total. Menurut penjelasan Imam Mawardi dalam al-Hawi al-Kabir, syarat seperti itu dapat membatalkan akad jika berasal dari pihak calon istri, karena ia mencegah hak suami yang menjadi tujuan utama pernikahan.

    Namun bila penundaan muncul sebagai inisiatif suami dan sifatnya kesepakatan bersama tanpa tujuan meniadakan hak, maka akad tetap sah menurut Mazhab Syafi’i.

    Mengapa Istri Perlu Menjelaskan Alasan Penundaan?

    Agar tidak dianggap membuat syarat yang bertentangan dengan tujuan pernikahan, istri dianjurkan menyampaikan alasan penundaan. Misalnya:

    • khawatir hamil sebelum walimah,
    • belum siap secara mental atau kesehatan,
    • mempertimbangkan persepsi sosial,
    • atau alasan lain yang dibenarkan syariat.

    Kejelasan alasan membantu menjaga keabsahan pernikahan dan menghindari syarat yang melanggar ketentuan fikih.

    Ketika Syahwat Memuncak, Apa yang Boleh Dilakukan?

    Rasa ingin berhubungan sangat manusiawi, terlebih ketika pasangan sering bertemu dan bermesraan setelah akad. Jika komitmen menunda jimak ingin tetap dijaga, syariat memberikan beberapa solusi yang sah dan aman.

    1. Berpuasa untuk Meredam Syahwat

    Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa adalah “wija’” (pengekang hasrat) bagi yang belum mampu menikah. Meski menikah sudah terjadi, prinsip ini tetap berlaku untuk menahan syahwat berlebih.

    Imam Qurtubi menjelaskan:

    • Puasa dapat mengurangi syahwat secara bertahap.
    • Gejolak syahwat mungkin naik di awal, tetapi akan menurun setelah tubuh terbiasa.
    • Syahwat jimak berkaitan erat dengan syahwat makan; keduanya melemah bila makan dikurangi.

    2. Istimta’: Bercumbu Tanpa Melanggar Batas Syariat

    Dalam Islam, pasangan halal boleh melakukan istimta’ (bersenang-senang secara fisik). Ini termasuk sentuhan, pelukan, dan kegiatan intim selain penetrasi.
    Namun, jika istri sedang haid, terdapat batasan:

    • suami hanya boleh menyentuh bagian di atas pusar dan di bawah lutut.
    • sebagian ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya istri menyentuh area antara pusar dan lutut suami saat haid.

    Di luar kondisi haid, istimta’ diperbolehkan secara luas sebagai cara memenuhi kebutuhan biologis tanpa jimak.

    3. Istimna’ dengan Bantuan Istri

    Syekh Sulaiman al-Bujairimi menyatakan bahwa seorang suami boleh mengeluarkan mani melalui tangan istrinya. Opsi ini diperbolehkan sebagai bentuk penyaluran syahwat yang sah secara fikih.

    Menunda Jimak Boleh, Selama Tidak Jadi Syarat yang Membatalkan

    Kesepakatan untuk menunda hubungan intim boleh, selama:

    1. tidak menjadi syarat yang menghalangi tujuan utama pernikahan,
    2. tidak menghilangkan hak salah satu pihak secara mutlak,
    3. didasari alasan yang jelas dan dibenarkan syariat.

    Jika penundaan mulai menimbulkan ketegangan dalam rumah tangga, syariat menganjurkan untuk meninjau ulang kesepakatan tersebut demi menjaga keharmonisan.

    Sementara itu, cara-cara syar’i seperti puasa, istimta’, dan istimna’ dengan bantuan pasangan dapat menjadi solusi sehat dan halal untuk mengelola syahwat. Semoga menjadi jalan keluar yang bijak bagi pasangan yang menghadapi situasi serupa.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Hukum Perjanjian Pra-Nikah untuk Menunda Hubungan Intim hingga Usai Walimah

  • Benarkah Zuhud Bikin Pemuda Muslim Tertinggal? Rekonstruksi Makna Zuhud untuk Mentalitas Generasi Z

    Benarkah Zuhud Bikin Pemuda Muslim Tertinggal? Rekonstruksi Makna Zuhud untuk Mentalitas Generasi Z

    NUJATENG.COM – Di tengah arus digitalisasi dan kompetisi global, pemuda Muslim generasi Z menghadapi tantangan baru yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Ironisnya, sebagian dari mereka justru memaknai zuhud secara salah kaprah seolah kezuhudan adalah alasan keterbelakangan dalam ekonomi, teknologi, dan kreativitas. Padahal, persoalan utamanya bukan pada konsep zuhud itu sendiri, melainkan pada cara memahaminya.

    Banyak pemuda mengira bahwa zuhud berarti menjauh dari dunia atau meninggalkan ambisi duniawi sepenuhnya. Padahal, para ulama salaf justru mengajarkan bahwa dunia boleh digenggam, selama tidak merajai hati. Syekh Ibn ‘Athā’illah menegaskan:
    “Zuhud bukan meninggalkan dunia, tetapi dunia berada di tanganmu, bukan di hatimu.”

    Kesalahpahaman inilah yang membuat sebagian pemuda Muslim kehilangan motivasi berprestasi, sehingga daya saing mereka tertinggal jauh di berbagai sektor.

    Krisis Mentalitas Generasi Z Muslim

    Penelitian dalam Journal of Social Psychology (2022) menunjukkan generasi Z rentan disorientasi moral akibat paparan digital berlebihan. Identitas virtual seringkali menggantikan rasa kehadiran Tuhan dalam hidup mereka.

    Keterputusan antara Agama dan Realitas Sosial

    Riset UIN Sunan Kalijaga (2023) menunjukkan 68% mahasiswa mengalami kesulitan menghubungkan nilai agama dengan dunia kerja dan aktivitas sosial modern. Inilah alasan mengapa konsep zuhud perlu direkonstruksi: bukan untuk menjauhkan mereka dari dunia, tetapi agar mampu menghadapinya dengan mentalitas yang sehat.

    Hakikat Zuhud Menurut Para Ulama

    Imam al-Ghazālī menggambarkan tiga tingkat kezuhudan, dari meninggalkan ketergantungan pada dunia hingga melihat dunia tidak layak menjadi tujuan utama. Ini berarti harta bukan masalah, kecuali ketika hati terikat pada harta tersebut.

    Habib ‘Abdullāh al-Ḥaddād juga menegaskan bahwa zuhud bukan meninggalkan kepemilikan, melainkan memutus keterikatan hati terhadap dunia. Dengan kata lain, seseorang boleh menjadi profesional, pebisnis, atau digital creator, tetapi tetap menempatkan Allah sebagai tujuan tertinggi.

    Dunia sebagai Sarana, Bukan Tujuan

    Syekh Abū Bakr al-Kalābādhī menekankan bahwa orang zuhud adalah yang mengambil dunia sebatas penopang ketaatan kepada Allah. Prinsip ini relevan bagi generasi Z yang hidup di tengah industri digital menguasai teknologi tanpa diperbudak olehnya.

    Zuhud Sebagai Kekuatan, Bukan Penghambat Kemajuan

    Zuhud bukan musuh kemajuan. Ia justru berfungsi sebagai kompas moral dan penjaga integritas. Ibn ‘Athā’illah mengatakan bahwa seseorang boleh memiliki apa saja, selama tidak ada apa pun yang memiliki dirinya.

    H3: Etos Kerja dari Jiwa yang Tidak Tergantung pada Dunia

    Pemuda yang tidak diperbudak oleh ambisi materialistik justru akan bekerja lebih jujur, objektif, dan berfokus pada manfaat. Inilah kualitas yang dibutuhkan dunia profesional hari ini.

    Syekh Nawawī al-Bantanī mengingatkan bahwa dunia adalah ladang akhirat. Artinya, pemuda generasi Z justru harus memaksimalkan potensinya di dunia sebagai investasi untuk kebahagiaan dua alam.

    Saatnya Rekonstruksi Makna Zuhud bagi Generasi Z

    Zuhud bukan ajakan untuk mundur, tetapi cara untuk tetap stabil dalam hiruk-pikuk dunia modern. Bukan anti teknologi, tapi anti diperbudak teknologi. Bukan anti kekayaan, tapi anti keserakahan. Zuhud adalah fondasi spiritual yang menuntun generasi Z untuk melangkah maju tanpa kehilangan arah.

    Dengan memahami zuhud secara benar, pemuda Muslim dapat menjadi generasi yang unggul: mahir teknologi, kuat mentalitas, dan tetap teguh pada nilai-nilai keilahian.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Rekonstruksi Makna Zuhud bagi Pembentukan Mentalitas Pemuda Muslim Generasi Z

  • Menguak Rahasia Tajalli: Bisakah Cahaya Ilahi Hadir di Tengah Hidup Modern yang Penuh Hiruk-Pikuk?

    Menguak Rahasia Tajalli: Bisakah Cahaya Ilahi Hadir di Tengah Hidup Modern yang Penuh Hiruk-Pikuk?

    NUJATENG.COM – Di tengah gaya hidup modern yang cepat, penuh tekanan, dan berorientasi material, banyak orang merasakan kekosongan batin yang sulit dijelaskan. Dalam tradisi tasawuf, kondisi batin seperti ini sesungguhnya dapat dijawab melalui konsep tajalli proses spiritual ketika cahaya Ilahi hadir dan menerangi hati seseorang.

    Secara etimologis, tajalli berarti “penampakan” atau “manifestasi”. Dalam praktik tasawuf, istilah ini merujuk pada tersingkapnya cahaya keimanan dalam hati seorang hamba setelah melalui perjalanan penyucian diri. Haidar Putra Daulay, Zaini Dahir, dan Chairul Azmi Lubis dalam jurnal Pandawa (2021) menyebut tajalli sebagai fase ketika nur ghaib memancar, melahirkan akhlak mulia dan kebiasaan amal saleh yang tumbuh dari keimanan mendalam.

    Konsep ini juga didukung para sufi klasik seperti Ibnu ‘Arabi, Al-Ghazali, dan Al-Jili yang menegaskan bahwa tajalli merupakan penampakan hakikat Ilahi melalui ciptaan-Nya. Alam, manusia, dan segala peristiwa bukan hanya rangkaian kejadian fisik, tetapi cermin tempat Allah menampakkan kebesaran-Nya.

    Tahapan Menuju Tajalli

    1. Takhalli Membersihkan Hati dari Sifat Buruk

    Tajalli tidak muncul begitu saja. Prosesnya dimulai dengan takhalli, yakni mengosongkan diri dari sifat yang merusak: sombong, dengki, riya, cinta dunia, dan segala hal yang mengotorinya. Tahap ini ibarat membersihkan lahan sebelum ditanami.

    2. Tahalli Menghiasi Diri dengan Akhlak Terpuji

    Tahap berikutnya ialah tahalli, yaitu mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji seperti sabar, ikhlas, tawakal, kasih sayang, dan kelembutan. Tahalli adalah proses merawat “tanaman kebaikan” agar tumbuh subur.

    3. Tajalli Hadirnya Cahaya Ilahi dalam Hati

    Barulah setelah dua tahap tersebut dijalani, seseorang memasuki fase tajalli. Imam Al-Qusyairi menyebutnya sebagai:
    “Tersingkapnya cahaya kebenaran dalam hati seorang murid.”

    Pada tahap ini, seseorang menyadari bahwa dirinya bukan pusat dari segala sesuatu. Segala peristiwa dipandang sebagai bagian dari kehendak Allah. Yang tampak hanyalah keabadian Ilahi, sementara semua selain-Nya bersifat fana.

    Bagaimana Tajalli Dipraktikkan di Era Modern?

    Meski terkesan mistis, konsep tajalli ternyata sangat relevan untuk kehidupan masa kini. Ketika seseorang mampu “melihat Allah” dalam tiap momen, hidup akan terasa lebih damai dan terarah.

    Praktik Tajalli dalam Keseharian

    • Dalam bekerja: seseorang melihat pekerjaannya sebagai amanah Ilahi, bukan sekadar mencari penghasilan.
    • Saat menghadapi cobaan: musibah dipahami sebagai bentuk ujian Allah untuk menguji keikhlasan.
    • Saat menikmati alam: keindahan yang dilihat menjadi jalan untuk semakin mengenal kebesaran Allah.
    • Dalam relasi sosial: setiap orang dipandang sebagai manifestasi kasih Allah sehingga melahirkan empati dan kebaikan.

    Latihan penting untuk membuka pintu tajalli antara lain muraqabah (kesadaran bahwa Allah selalu hadir), dzikir, dan terus-menerus menata niat.

    Tajalli sebagai Jawaban atas Kekosongan Manusia Modern

    Pada akhirnya, tajalli bukan sekadar konsep metafisis, melainkan pengalaman spiritual yang menguatkan tauhid serta menjernihkan hati. Di dunia yang penuh distraksi, tajalli menolong manusia menemukan makna: melihat Tuhan di balik layar kehidupan sehari-hari dalam pekerjaan, hubungan, bahkan penderitaan.

    Tajalli bukan membuat seseorang menjauh dari dunia, melainkan menempatkan dunia pada posisinya yang tepat: sebagai jalan untuk mengenal Allah.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Praktik Konsep Tajalli dalam Tasawuf di Hari Ini