Perselingkuhan Bukan Sekadar Dosa: Luka Psikologisnya Bisa Turun ke Generasi Berikutnya
NUJATENG.COM – Kasus perselingkuhan kini semakin sering muncul di media sosial, terutama yang melibatkan publik figur. Padahal, tindakan ini bukan hanya pelanggaran moral, tetapi juga merusak perjanjian sakral dalam pernikahan, atau Mitsaqan Ghalidza.
Dalam perspektif syariat, perselingkuhan merupakan bentuk zina muhsan, yaitu zina yang dilakukan oleh seseorang yang sudah menikah. Islam menegaskan beratnya dosa ini karena menghancurkan kehormatan keluarga dan merusak struktur sosial.
Larangan Keras dalam Islam: Mengapa Perselingkuhan Sangat Dilarang?
Rasulullah SAW memperingatkan keras siapa pun yang merusak hubungan rumah tangga orang lain. Dalam riwayat An-Nasai dijelaskan bahwa tidak termasuk pengikut Nabi adalah mereka yang merusak hubungan suami-istri dengan tipu daya, baik dengan menyebarkan keburukan pasangan maupun memuji orang lain agar hubungan rumah tangga retak.
Makna Larangan Ini Menurut Ulama
Larangan ini bukan sekadar menjaga pernikahan, tetapi juga menjaga stabilitas sosial, kehormatan keluarga, dan keturunan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh zina dan perselingkuhan bisa merembet jauh melampaui dua orang yang terlibat.
Dampak Perselingkuhan: Luka yang Tak Selalu Terlihat
Perselingkuhan bukan sekadar pengkhianatan emosional. Dampaknya merambat ke tiga lapisan: pasangan, anak, dan lingkungan sosial.
1. Dampak Berat terhadap Pasangan
Bagi pihak yang dikhianati, perselingkuhan ibarat hantaman besar pada mental. Banyak yang mengalami trauma hingga gangguan mental seperti depresi atau PTSD. Penelitian oleh Jhunar John M. Tauy & Jennie A. Perez (2023) menunjukkan bahwa pengkhianatan dalam hubungan dapat memicu gangguan psikologis serius akibat kehilangan kepercayaan.
Pandangan Islam
Islam sangat memuliakan orang yang mampu menjaga diri dari zina. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang menolak ajakan zina karena takut kepada Allah akan berada dalam naungan-Nya di hari kiamat. Ini menunjukkan betapa besar nilai kesetiaan dan penjagaan diri dalam agama.
2. Dampak terhadap Anak: Luka yang Bisa Turun ke Generasi Berikutnya
Masa kecil adalah fondasi pembentukan karakter seseorang. Ketika anak menyaksikan atau merasakan konflik akibat perselingkuhan, jejak luka emosionalnya dapat terbawa hingga dewasa.
Penelitian Alexander E. Schmidt dkk (2015) menyebutkan bahwa anak dari keluarga yang mengalami perselingkuhan rentan mengalami:
- Krisis kepercayaan
- Kesulitan menjalin hubungan
- Gangguan kesehatan mental
- Kecenderungan mengulangi pola perselingkuhan orang tuanya
Perspektif Syariat: Menjaga Keturunan
Syekh Al-Jurjawi menegaskan bahwa larangan zina juga bertujuan menjaga keturunan dari kerusakan moral, percampuran nasab, dan hilangnya hak waris. Ini menunjukkan bahwa dampak zina tidak hanya personal, tetapi generasional.
3. Dampak pada Keluarga Besar dan Lingkungan Sosial
Perselingkuhan dapat memicu konflik berkepanjangan dalam keluarga besar. Munculnya stigma dan pengucilan sosial juga menjadi beban tambahan bagi pihak-pihak yang terlibat.
Penelitian Aminat Adeola Odebode dkk (2021) menunjukkan bahwa perselingkuhan dapat menimbulkan hilangnya empati sosial, kerusakan hubungan kekeluargaan, hingga munculnya perilaku antisosial.
Maqasid Syariah dan Kewajiban Menjaga Moralitas
Dalam kerangka maqasid syariah, menjaga kehormatan (hifzhul ‘irdh) merupakan bagian penting dari upaya mencegah mudarat sosial. Perselingkuhan adalah tindakan yang merusak tatanan ini.
Mengapa Perselingkuhan Bisa Menjadi Luka Turunan?
Karena keluarga adalah ekosistem pertama bagi anak. Ketika ekosistem ini terguncang, luka yang ditinggalkan tidak hanya dirasakan di masa kini, tetapi bisa membentuk pola perilaku dan trauma hingga dewasa.
Oleh sebab itu, menjaga kesetiaan dan keharmonisan rumah tangga bukan hanya tugas moral, tetapi juga investasi jangka panjang dalam kesehatan psikologis generasi.
Perselingkuhan tidak pernah menjadi masalah pribadi semata. Ia adalah tindakan destruktif yang merambat ke hati pasangan, jiwa anak-anak, hubungan keluarga besar, hingga moralitas masyarakat. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjaga amanah pernikahan dan kehormatan keluarga. Wallahu a’lam.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Perselingkuhan dan Jejak Luka yang Menurun ke Generasi Berikutnya
