Author: Dwi Widiyastuti

  • Biar Nggak Asal Posting! Santri Dilatih Menulis Berita Profesional

    Santri MA Al Musyaffa’ PPFF Semarang mengikuti pelatihan jurnalistik bersama jurnalis senior, Bapak Ali Arifin.

    NUJATENG.COM – SEMARANG – Menulis berita ternyata tidak semudah membuat status media sosial. Kalimat pembuka harus kuat, data harus jelas, dan informasi harus lengkap. Itulah yang dipelajari 26 santri putra dan putri Madrasah Aliyah Al-Musyaffa’ Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang saat mengikuti Pelatihan Jurnalistik pada Ahad, 8 Februari 2026.

     

    Kegiatan yang berlangsung di Meeting Room PPFF ini, menghadirkan Ali Arifin, seorang jurnalis senior, yang membimbing santri mengenal dunia jurnalistik dari dasar. Para peserta tidak hanya diberi materi teori, tetapi juga dilatih membangun cara berpikir seorang wartawan: mengamati peristiwa, memilah informasi penting, lalu menyusunnya menjadi berita yang runtut dan mudah dipahami pembaca.

     

    Sejak sesi awal, Ali Arifin menekankan bahwa menulis berita bukan soal panjang atau pendeknya tulisan, tetapi soal kelengkapan informasi. Karena itu, santri dikenalkan pada rumus utama jurnalistik yaitu 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, dan How) sebagai pondasi agar berita tidak membingungkan dan tidak kehilangan arah.

     

    Pelatihan kemudian dibuat lebih hidup dengan sesi praktik. Santri diminta menulis sebuah berita yang mengandung unsur 5W+1H secara lengkap. Suasana ruangan pun berubah menjadi ruang kerja wartawan kecil-kecilan. Beberapa santri terlihat serius menyusun lead berita, sementara yang lain sibuk menata informasi agar tulisan mereka tidak berputar-putar.

     

    Pelatihan jurnalistik ini menjadi bagian dari upaya Madrasah Aliyah Al-Musyaffa’ dalam menumbuhkan budaya literasi dan meningkatkan minat jurnalistik di kalangan santri. Selain melatih kemampuan menulis, kegiatan ini juga diarahkan untuk mengasah keterampilan komunikasi santri agar mampu menyampaikan informasi secara cerdas dan bertanggung jawab.

     

    Sesuai dengan apa yang disampaikan DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA., “Menulis itu bukan sekadar keterampilan, tetapi cara untuk menjaga ilmu agar tidak hilang. Apa yang kita tulis akan menjadi jejak kebaikan yang bisa dibaca dan dimanfaatkan orang lain. Itu amal jariah yang dilakukan para ulama terdahulu, hingga kini bisa kita jadikan rujukan ilmu.”

     

    Melalui pelatihan ini, pesantren berharap santri tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan ilmu agama, tetapi juga memiliki keterampilan menulis yang kuat. Dengan bekal tersebut, santri diharapkan mampu menjadi generasi yang kritis, produktif, serta mampu berkontribusi bagi masyarakat melalui karya jurnalistik yang bermanfaat. (Lintang Angguningtyas)***

  • Siapa Bilang Santri Cuma Bisa Ngaji? Intip Skill Bisnis F&B ala Santri Yai Fadlolan

    Santri Sedang Meracik Kreasi Minuman di Kafe The Santri PPFF Semarang

    SEMARANG – Siapa sangka, di balik lantunan kitab suci, wajah pendidikan pesantren di Indonesia kini kian dinamis. Tak lagi hanya berkutat pada penguatan literasi kitab kuning dan akademik, Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Semarang mulai berinovasi lewat program life skill manajerial bisnis culinary.

    Melalui unit usaha “Cafe Santri” dan “Cafe Langit” yang ikonik dengan akulturasi budaya Arab-Tiongkok, para santri kelas XI dan XII MA Al-Musyaffa’ kini diterjunkan langsung untuk membedah dapur industri Food & Beverage (F&B).

    Program ini bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan kurikulum life skill yang komprehensif. Santri belajar meracik kopi, jus, eksplorasi bumbu dapur untuk kreasi menu baru serta sistem pelayanan operasional kepada customer.

    Uptown Light View Senja Dari Cafe Langit PPFF Semarang

    Visi besar ini berakar dari restu dan cita-cita pengasuh pondok pesantren, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA. Sosok yang akrab disapa Yai Fadlolan, Pengasuh Pesantren Fadhlul Fadhlan Semarang yang memiliki pandangan visioner terhadap masa depan santrinya.

    “Saya selalu mendoakan agar santri-santri saya tidak hanya menjadi orang yang alim (berilmu), tetapi juga menjadi orang yang kaya. Kami ingin mereka tidak hanya bersiap menjadi pekerja, tetapi justru menjadi pencipta lapangan kerja bagi orang lain,” ujar DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc. MA.

    Keberhasilan BUMP di PP Fadhlul Fadhlan yang mencakup berbagai sektor seperti pertanian, peternakan, greenhouse, fashion, hingga tour & travel yang kini sukses menjadi kiblat pesantrenpreneur di Jawa Tengah membuktikan bahwa pesantren bisa menjadi motor penggerak ekonomi umat yang berdaya. (Laili Nailul Muna)***

     

  • Tak Identik Ngaji Kitab Kuning dan Alquran, Santri Ponpes di Semarang Ini juga Diajari Berwirausaha

    Tak Identik Ngaji Kitab Kuning dan Alquran, Santri Ponpes di Semarang Ini juga Diajari Berwirausaha

    Santri dengan penuh ketelitian melakukan pencatatan administrasi dan pendataan transaksi, didampingi oleh pendamping program yang memberikan arahan secara langsung. /Ali A/

    nujateng.com – Tak hanya ngaji Kitab Kuning dan Alquran, santri di pondok pesantren Semarang ini juga diajari berwirausaha.

    Suasana aktivitas usaha tampak hidup di salah satu unit Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP) yang dikelola oleh santri peserta Program Life Skill Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Semarang.

    Dalam gambar terlihat santri dengan penuh ketelitian melakukan pencatatan administrasi dan pendataan transaksi, didampingi oleh pendamping program yang memberikan arahan secara langsung.

    Pesantren kini tak lagi hanya identik dengan kitab dan ruang mengaji. Di PPFF, santri justru ditempa menjadi wirausahawan muda melalui Program Life Skill yang mengoptimalkan Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP) sebagai laboratorium bisnis nyata.

    Program Life Skill tersebut dilaksanakan di beberapa sektor BUMP yang ada di lingkungan PPFF, salah satunya di bidang ritel dan jasa, yaitu Adammart.

    Melalui sektor ini, santri mendapatkan pembelajaran langsung mengenai dunia bisnis dalam lingkup pesantren, mulai dari pelayanan konsumen, pengelolaan stok barang, pencatatan keuangan sederhana, hingga kedisiplinan dan tanggung jawab dalam menjalankan usaha.

    Pimpinan PPFF, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’ Lc., MA, menyampaikan bahwa Program Life Skill ini merupakan bagian dari visi besar pesantren dalam menyiapkan santri menghadapi tantangan masa depan.

    Dalam gambar terlihat santri dengan penuh ketelitian melakukan pencatatan administrasi dan pendataan transaksi, didampingi oleh pendamping program yang memberikan arahan secara langsung.

    “Melalui program life skill ini, PPFF tidak hanya mencetak santri yang kuat secara keilmuan agama, tetapi juga memiliki kecakapan hidup dan kemandirian ekonomi,” tegas beliau.

    Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa model pengelolaan ini menempatkan BUMP sebagai sarana strategis dalam pembentukan santripreneur, yaitu santri yang memiliki jiwa wirausaha, mandiri, serta berlandaskan nilai-nilai keislaman dan pesantren.

    Salah satu santri peserta Program Life Skill di sektor Adammart, Jasmine, santri MA kelas XI B, mengungkapkan kesannya terhadap kegiatan tersebut.

    “Melalui program life skill di Adammart, saya jadi memahami bagaimana cara mengelola usaha, melayani pelanggan dengan baik, serta belajar bertanggung jawab dalam bekerja. Program ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan saya tentang dunia bisnis sejak masih di pesantren,” ujar Jasmine.

    Dengan terlaksananya Program Life Skill ini, PPFF berharap para santri Madrasah Aliyah kelas X, XI, dan XII mampu mengembangkan potensi diri, memiliki bekal keterampilan hidup, serta siap menjadi generasi santri yang mandiri, produktif, dan berdaya saing di tengah masyarakat.Rofikoh***

  • Seru dan Kreatif! Tim Media PPFF Latihan Menjadi Jurnalis Profesional

    Wartawan senior Ali Arifin di hadapan Tim Media PPFF Semarang /Ali A/

    NUJATENG.COM- SEMARANG –  Jumat petang, (6/2) , di Meeting Room Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Semarang dipenuhi denyut semangat Tim Media PPFF.

    Di ruang itu, para santri bersiap menajamkan pena dan pikiran, mengikuti sesi latihan menulis berita bersama Pak Ali Arifin – wartawan senior  yang telah berulang kali membersamai proses belajar mereka.

    Memasuki pertemuan keempat, antusiasme tak sedikit pun meredup; justru semakin menguat.

    Selama beberapa jam, para santri larut dalam proses merangkai berita dari titik awal hingga layak tayang.

    Mereka belajar memilih topik yang bernilai, menyusun lead yang memikat, serta merajut alur berita agar mengalir runtut dan berimbang.

    Tak berhenti pada menulis, mereka juga dikenalkan pada pengelolaan portal berita melalui sistem content manajement system (CMS), sehingga setiap karya yang lahir tak hanya tersimpan di lembar latihan, tetapi dapat langsung menyapa pembaca luas.

    Suasana pelatihan terasa hidup. Diskusi mengalir, pertanyaan bergulir, dan praktik dilakukan dengan penuh kesungguhan.

    Di balik canda dan tawa, tampak keseriusan para santri menyerap ilmu jurnalistik—sebuah pengalaman yang memberi warna baru di tengah keseharian pesantren. Kegiatan ini sejalan dengan arahan Pendiri dan Pengasuh PPFF, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA., bahwa santri tak cukup hanya piawai mengaji, tetapi juga harus tumbuh sebagai pribadi yang multitalenta.

    Wartawan senior Ali Arifin di hadapan Tim Media PPFF Semarang /Ali A/

    Melalui latihan ini, PPFF berikhtiar membentuk Tim Media yang tidak hanya terampil menulis, tetapi juga cakap mengelola informasi dan menyebarkannya secara bijak serta positif.

    Para peserta yang berasal dari berbagai angkatan menjadi bukti bahwa generasi muda PPFF tengah dipersiapkan dengan keterampilan kreatif dan kritis—bekal berharga untuk berkontribusi nyata bagi masyarakat luas. (Umma)***

  • Di Balik Pakan dan Kandang, Ada Pelajaran tentang Masa Depan

    Santri MA Al-Musyaffa’ PPFF Semarang sedang memberi pakan ternak saat mengikuti program lifeskill di PPFF Farm

    NUJATENG.COM – SEMARANG – Pagi di sudut kandang sebuah pesantren di Kota Semarang selalu dimulai dengan langkah-langkah kecil para santri. Mereka datang bukan sekadar menjalani rutinitas, tetapi belajar tentang tanggung jawab, kesabaran, dan makna bekerja dari kehidupan ternak yang mereka rawat setiap pekan.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari program life skill bagi santri kelas XI dan XII Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Semarang. Melalui unit PPFF Farm, para santri terlibat langsung dalam perawatan kambing, ayam petelur dan pedaging, bebek, serta pengelolaan kolam bioflok berisi lele, nila, patin, hingga bawal.

    Setiap pekan, santri bergiliran memberi pakan, membersihkan kandang, memantau kesehatan ternak, hingga memahami proses produksi hasil peternakan. Aktivitas sederhana ini menjadi ruang belajar nyata yang tidak selalu mereka temukan di ruang kelas.

    “Awalnya saya takut pegang kambing. Tapi lama-lama jadi terbiasa, bahkan merasa senang karena belajar sabar dan telaten,” ujar salah satu santri kelas XI yang mengikuti program tersebut.

    Program life skill di PPFF tidak hanya bertujuan memberi keterampilan teknis, tetapi juga membentuk karakter kemandirian. Pendampingan dilakukan langsung oleh pendiri dan pengasuh PPFF, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA. bersama tim pembina, sehingga nilai disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab tumbuh seiring proses belajar di lapangan.

    Melalui pengalaman merawat ternak secara langsung, santri tidak hanya memahami proses produksi pangan, tetapi juga belajar menghargai kerja dan keberlanjutan. Nilai-nilai inilah yang diharapkan menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

    Bagi sebagian santri, kandang bukan lagi tempat yang kotor dan melelahkan. Ia berubah menjadi ruang belajar kehidupan, tempat mereka mengenal arti tanggung jawab dari makhluk hidup yang mereka rawat dengan tangan sendiri. (Ummi Tamami)***

  • Bukan Cuma Ngaji! Santri Dilatih Jadi Baker, Bisa Bikin Kue Sampai Hias Tart

    Dua santri Al Musyaffa’ PPFF Semarang sedang berlatih lifeskill di PPFF Food & Bakery dengan membuat dan membentuk adonan roti sebelum masuk ke oven.

    NUJATENG.COM – SEMARANG – Aroma manis dari adonan kue perlahan memenuhi ruangan. Suasana dapur PPFF Food & Bakery tampak hidup, lebih ramai dari biasanya. Di sana, para santri Madrasah Aliyah Al-Musyaffa’ PPFF Semarang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang menimbang tepung, ada yang mengocok adonan, sebagian lain menyiapkan loyang dan alat masak.

    Hari itu, mereka bukan sedang menjalani kegiatan biasa, melainkan mengikuti pelatihan lifeskill, program unggulan pesantren yang dirancang untuk membekali santri dengan keterampilan nyata sebagai bekal masa depan.

    Pelatihan dimulai dari hal-hal dasar. Santri diajak memahami bahan, belajar menakar dengan tepat, lalu mengolahnya menjadi adonan yang siap dipanggang. Dari proses sederhana itu, mereka mulai mengenal bahwa membuat kue bukan sekadar mencampur bahan, tetapi membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan teknik yang benar.

    Hasilnya pun beragam. Tidak hanya roti dan kue manis, para santri juga belajar membuat makanan dan minuman kekinian yang bernilai jual. Mulai dari macaroni schotel, pempek sutra, hingga berbagai camilan dan minuman manis yang kini banyak digemari masyarakat.

    Keseruan belum berhenti ketika kue matang. Pada sesi berikutnya, para santri dilatih untuk menghias kue tart agar tampil lebih menarik. Mereka belajar merapikan lapisan krim, membentuk dekorasi sederhana, hingga menulis dan menggambar di atas permukaan kue. Dari tangan-tangan santri itulah, kue tart biasa berubah menjadi sajian yang cantik dan siap dipasarkan.

    Salah satu siswi peserta pelatihan mengaku sangat menikmati kegiatan tersebut. Baginya, pelatihan ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga membuka wawasan baru.

    “Kegiatannya sangat menyenangkan. Saya jadi tambah pengetahuan tentang baking, mulai dari cara membuat adonan sampai proses menghias kue. Ini sangat membantu saya untuk mewujudkan mimpi membuka toko kue suatu saat nanti,” ungkapnya dengan antusias.

    Program lifeskill ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya fokus pada pembelajaran agama dan akademik, tetapi juga memperhatikan kesiapan santri menghadapi kehidupan setelah lulus. Pelatihan ini khusus ditujukan bagi santri putra dan putri kelas XI dan XII Madrasah Aliyah Al-Musyaffa’ PPFF Semarang, agar mereka memiliki keterampilan yang dapat digunakan di dunia kerja maupun dunia usaha.

    Para santri pun menyadari bahwa keterlibatan mereka dalam kegiatan usaha pesantren bukan sekadar membantu, melainkan bagian dari latihan untuk hidup mandiri. Dari sini mereka belajar disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta memahami bagaimana sebuah usaha dibangun dan dijalankan.

    PPFF Semarang menegaskan bahwa kecerdasan dan prestasi akademik saja belum cukup menjadi bekal hidup. Keterampilan wirausaha yang disertai kemampuan komunikasi dan jejaring justru dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Lintang Anggun***

  • Antusiasme Calon Santri Baru Terus Meningkat, PPFF Gelar Tes PPDB Gelombang 1 TA 2026–2027

    Antusiasme Calon Santri Baru Terus Meningkat, PPFF Gelar Tes PPDB Gelombang 1 TA 2026–2027

    Antusiasme Calon Santri Baru Terus Meningkat, PPFF Gelar Tes PPDB Gelombang 1 TA 2026–2027

    SEMARANG — Madrasah Al-Musyaffa’ dibawah Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang, kembali menggelar rangkaian Tes PPDB Gelombang 1 Tahun Ajaran 2026–2027, yang berlangsung dalam dua tahap: Sabtu, 31 Januari 2026 tes tulis dan tes lisan dilaksanakan hari Ahad, 1 Februari 2026. Ratusan calon santri dari berbagai daerah tampak antusias mengikuti proses tes.

    Para peserta memulai kegiatan seleksi sejak pagi hari. Sejak pukul 06.00 WIB, area pondok sudah dipadati oleh calon santri dan calon walisantri yang menanti giliran tes. Tes seleksi wawancara dimulai pukul 07.00 WIW..

    Tahap pertama berupa tes tulis online digelar pada Sabtu malam, 31 Januari 2026, melalui Zoom Meeting. Tes ini menjadi gerbang awal untuk mengukur kesiapan akademik calon santri sebelum memasuki lingkungan pendidikan PPFF.

    Ahad, 01 Februari 2026 Ratusan peserta hadir langsung ke kompleks PPFF Semarang, membawa semangat dan harapan besar untuk lulus tes bisa menjadi bagian dari keluarga besar Fadhlul Fadhlan.

    Tahap kedua dilanjutkan pada Ahad, 1 Februari 2026, berupa tes lisan serta wawancara calon santri dan calon walisantri. Ratusan peserta hadir langsung ke kompleks PPFF Semarang, membawa semangat dan harapan besar untuk lulus tes bisa menjadi bagian dari keluarga besar Fadhlul Fadhlan.

    Proses wawancara berjalan tertib dan hangat, mencerminkan karakter pendidikan PPFF yang memperhatikan aspek akhlak dan adab, santri dan akademisi, serta kesiapan keluarga dalam mendukung lahir batin pendidikan putra putrinya.

    pengarahan langsung dari Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA.

    Setelah itu, seluruh peserta yang lulus seleksi lisan maupun tulisan bersama calon walisanteinya mendapatkan pengarahan langsung dari Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA.

    Dalam pengarahan tersebut, Kyai Fadlolan, memberikan gambaran pentingnya tiga program unggulan yang menjadi ciri khas PPFF: program tahfidh Al-Qur’an 30 juz dalam waktu 6 bulan, program kitab kuning, serta bilingual Arab dan Inggris.

    Beliau juga menjelaskan bahwa Madrasah Al Musyaffa’ mencetak profil lulusan MA sebagai calon ulama’ yang unggul, maka penguasaan kitab kuning adalah syarat utama, hafalan Al-Qur’an 30 juz menjadi keharusan dasar pengetahuan agama, dan kemampuan dua bahasa asing menjadi wasilah penting untuk pendalaman literasi keislaman global.

    Dalam nasihatnya kepada para calon walisantri, Kyai Fadlolan berpesan, agar sebaiknya pasrah sepenuhnya, percaya ke Kyai sebagai pengasuh serta asatidz/ah dan pengurus yang membantu kyai dalam proses belajar mengajar, tidak perlu banyak ikut campur urusan manajemen dan pengajaran, cukup kirimkan doa setiap waktu dan kirimi uang yang halal, maka anak akan krasan dan berhasil dalam tholabul ilmi.

    InsyaAllah lulusan dari Madrasah Al-Musyaffa’ pararel 6 tahun dari MTs hingga MA, dengan bekal tiga program unggulan akan menjadi alim ulama’ yang shalih seperti yang diharapkan.

    Kyai Fadlolan juga berpesan “Wattaqullah, wayu’allimukumullah” – bertaqwalah dahulu niscaya Allah akan memberikan ilmu. Pesan ini menjadi pengingat penting bagi para orang tua bahwa pendidikan berbasis pesantren tidak sekadar soal kurikulum, namun taqwa menjahui maksiat dan ibadah yang ikhlas akan menjadi pokok keberhasilan ilmu yg berkah.

    Keikhlasan dalam menyerahkan anak kepada Kyai pengasuh pesantren, untuk dididik akhlak dan adab dalam lingkungan yang sarat nilai dan pendidikan ruhiyah. Dari keshalihan inilah santri mudah dididik ilmu dan dicetak menjadi calon ulama.

    Alhamdulillah, rangkaian seleksi PPDB Gelombang 1 berjalan lancar. Dari Gelombang Inden Perdana dan Gelombang 1 ini tercatat lebih dari 200 calon santri yang telah dinyatakan lulus seleksi.

    Semoga para peserta didik yang diterima dapat mengikuti pembelajaran dengan semangat dan istiqamah di Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Semarang tahun ajaran 2026/2027.

    Bagi yang belum berhasil lolos tes, semoga diberi kelapangan hati dan kesempatan yang lebih baik di waktu dan tempat yang lain. Allahumma aamiin.

  • SMAN 1 Sigaluh Hadiri Bedah Buku dan Diskusi “Reset Indonesia”

    BANJARNEGARA – nujateng.com – SMAN 1 Sigaluh, SMAN 1 Purwareja Klampok, dan Komunitas diundang untuk menghadiri bedah buku dan diskusi dengan tema “Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru” pada Sabtu, 13 Desember 2025. Acara ini diadakan oleh Kampung Ilmu Serayu Network dan menampilkan Maman, Ketua Kampung Ilmu, Farid Gaban, Jurnalis Senior, Dirut Yayasan Zambrud Katulistiwa, dan Benaya Harobu Jurnalis Gen Z.

    Buku “Reset Indonesia” yang dibedah dalam acara ini ditulis oleh 4 orang penulis, yaitu Farid Gaban, Dendhi, Yusuf, dan Benaya. Buku ini merupakan hasil dari ekspedisi Zambrud Katulistiwa yang dilakukan pada tahun 2009 oleh Dendhi Laksono dan Farid Gaban. Ekspedisi ini menggunakan motor bebek bekas dan berlangsung selama 364 hari, dengan tujuan merekam kondisi Indonesia dan mengangkat isu-isu lingkungan.

    Dalam diskusi, dibahas tentang permasalahan dasar di Indonesia, seperti pertanian, kelautan, dan kerusakan lingkungan. Masalah pertanian disebabkan oleh tekanan dari pemerintah dan pengambilan lahan oleh negara, sehingga lahan pertanian menyempit dan pertanian mundur. Masalah kelautan juga menjadi perhatian, dengan harga BBM yang naik dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

    Solusi yang ditawarkan adalah melestarikan alam dan melakukan kolaborasi antara petani dan nelayan. Data dari PPS menunjukkan bahwa hanya 1% tanah di Indonesia yang dikuasai oleh petani, sehingga perlu adanya perubahan dalam pengelolaan sumber daya alam.

    Acara ini juga menampilkan diskusi tentang pentingnya menjaga lingkungan dan melakukan perubahan untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik. SMAN 1 Sigaluh sangat mendukung acara ini dan berharap dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik untuk Indonesia.

    Jurnalistik (SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara)

  • Siswi SMAN 1 Sigaluh Raih Juara 3 di Kejuaraan PSHT se-Jateng-DIY

    BANJARNEGARA – nujateng.com – Salah satu siswi SMAN 1 Sigaluh yang bernama Marya Nur Ulfa berhasil meraih Juara 3 Kelas F Putri Kategori Remaja dalam Kejuaraan PSHT se-Jateng-DIY yang digelar di GOR Tennis Indoor Banjarnegara pada 7-9 November 2025.

    Motivasi siswi tersebut adalah ingin mengetahui seberapa besar peningkatan performa dirinya. “Saya ingin tahu seberapa besar peningkatan performa saya setelah berlatih dengan sangat keras dan tekun,” ujarnya.

    Terdapat teman-teman Marya dan salah satu timnya yang terdiri dari kelas X dan XI, yang terdiri dari 3 orang siswi dan 7 orang siswa dari SMAN 1 Sigaluh. Marya menjelaskan bahwa dia sangat antusias terhadap pertandingan PSHT Cup se-Jateng-DIY ini karena dia sudah berlatih dengan sangat keras dan tekun.

    Pengalaman bertanding yang sudah cukup banyak membuat siswi tersebut tidak memiliki rasa takut saat akan bertanding. “Saya tidak memiliki rasa takut saat akan bertanding karena memang pengalaman saya sudah cukup banyak” katanya.

    Siswi tersebut juga memberikan motivasi kepada teman-teman yang baru ingin mengikuti pertandingan pencak silat. “Jangan takut, selalu memegang prinsip setiap usaha pasti ada hasil. Jika hasilnya belum memuaskan, berarti usahanya belum cukup, masih perlu ditingkatkan lagi. Dan juga, doa kepada Tuhan sangat penting untuk meyakinkan diri sendiri agar yakin dan tidak takut,” ujarnya.

    Wildha Khamelia (SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara)

  • Siswa SMAN 1 Sigaluh Raih Juara 3 di Kejuaraan PSHT se-Jateng-DIY

    BANJARNEGARA – nujateng.com – Rozi Bani Musyarof, siswa SMAN 1 Sigaluh, kembali membawa prestasi membanggakan di dunia olahraga pencak silat. Dalam ajang Kejuaraan PSHT se-Jateng-DIY yang digelar di GOR Tennis Indoor Banjarnegara pada 7-9 November 2025, ia berhasil meraih Juara 3 Kelas C Putra Kategori Remaja.

    Rozi menyampaikan harapannya agar pencak silat dapat berkembang pesat dan mampu menorehkan prestasi hingga tingkat Asia dan dunia. “Kejuaraan ini menjadi sebuah pengalaman yang berharga bagi saya. Saya berharap pencak silat dapat terus berkembang dan membawa prestasi bagi Indonesia” ujarnya.

    Rozi mengaku bahwa dalam perlombaan terakhir, saingan terbesarnya justru adalah rasa malas yang sering menghambat latihannya. Namun, ia berhasil melawan rasa malas tersebut dan berlatih dengan tekun.

    “Untuk mengatasi risiko cedera, saya selalu melakukan pemanasan, pendinginan, serta berlatih dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan hasil yang terbaik,” tambah Rozi.

    Prestasi di Ajang Silat 2025 ini menjadi bukti nyata bahwa jika seseorang telah memiliki suatu tekad dan semangat yang kuat, maka hasil yang didapat pun akan menjadi yang terbaik untuk bekal masa depannya.

    Dengan semangat, tekad, dan latihan yang konsisten, siswa-siswi SMAN 1 Sigaluh terus menunjukkan kemampuan terbaik mereka di arena olahraga bela diri tradisional Indonesia.

    Clarista Praselia Putri (SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara)