Author: Dwi Widiyastuti

  • Dari “Gut Feeling” ke Firasat: Benarkah Suara Hati yang Viral di TikTok Ini Bagian dari Cahaya Ilahi?

    Dari “Gut Feeling” ke Firasat: Benarkah Suara Hati yang Viral di TikTok Ini Bagian dari Cahaya Ilahi?

    NUJATENG.COM – Belakangan ini, linimasa TikTok diramaikan dengan tagar #GutFeeling tren yang berisi kisah tentang orang-orang yang “merasakan sesuatu” sebelum hal itu benar-benar terjadi. Mulai dari kecurigaan terhadap pasangan, firasat di tempat kerja, hingga intuisi saat menghadapi keputusan penting.
    Menariknya, banyak yang mengaitkan fenomena ini dengan istilah “firasat” dalam Islam. Namun, apakah benar gut feeling yang viral ini sama dengan firasat yang dimaksud dalam ajaran Islam?

    Firasat dalam Pandangan Islam

    Dalam tradisi Islam, firasat bukan sekadar perasaan atau intuisi biasa. Ia memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan Hadis.
    Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan (dengan saksama) tanda-tanda itu.”
    (QS Al-Hijr [15]: 75)

    Ayat ini menurut Imam Fakhruddin ar-Razi merujuk pada orang-orang yang memiliki ketajaman batin disebut al-mutawassimin yakni mereka yang bisa membaca tanda-tanda Tuhan di balik peristiwa.
    Nabi Muhammad SAW juga menegaskan dalam hadisnya:

    “Takutlah kalian terhadap firasat orang mukmin, karena ia melihat dengan cahaya Allah.” (HR. At-Tirmidzi)

    Artinya, firasat sejati lahir dari cahaya keimanan, bukan sekadar reaksi emosional.

    Apa Itu Firasat?

    Imam al-Junaid al-Baghdadi, tokoh sufi besar, menjelaskan:

    “Firasat adalah tanda-tanda ketuhanan yang tampak di hati para ahli makrifat; lidah mereka kemudian berbicara kebenaran yang selaras dengan kenyataan.”

    Dengan kata lain, firasat adalah intuisi spiritual, bukan sekadar bisikan hati yang lahir dari perasaan atau logika.
    Sementara Abu Hafs al-Haddad menambahkan bahwa firasat adalah bisikan hati pertama yang muncul tanpa pertentangan batin. Jika muncul keraguan, maka itu bukan firasat, melainkan hanya lintasan pikiran.

    Bagaimana Firasat Bekerja?

    Menurut Syekh Abdurrauf al-Munawi, hati manusia memiliki “mata batin” sebagaimana tubuh memiliki mata lahir. Jika hati jernih dan disinari cahaya Allah, seseorang dapat menangkap kebenaran di balik peristiwa dan perilaku manusia.

    “Sesungguhnya hati memiliki mata sebagaimana penglihatan juga memiliki mata. Barangsiapa mata hatinya jernih dan dibantu cahaya Allah, ia akan mengetahui hakikat segala sesuatu.”
    (Faidhul Qadir, jilid II, hlm. 652)

    Namun, tidak semua orang bisa mencapai tingkat ini. Syekh al-Mubarakfuri menegaskan bahwa banyak manusia gagal menangkap firasat karena hati mereka tertutup oleh nafsu dan syahwat duniawi. Semakin seseorang tenggelam dalam kesibukan dunia, semakin tumpul pula mata hatinya.

    Ciri Orang yang Memiliki Firasat Benar

    Ulama besar seperti Imam al-Kirmani memberikan kriteria jelas: firasat yang benar hanya lahir dari hati yang bersih. Ia berkata:

    “Barangsiapa yang menundukkan pandangan dari yang haram, menjaga diri dari syahwat, membiasakan makan yang halal, dan selalu merasa diawasi Allah, maka firasatnya tidak akan pernah meleset.”

    Dari sini, dapat disimpulkan bahwa firasat sejati adalah buah dari ketaatan dan ketenangan batin. Semakin jernih hati, semakin tajam intuisi yang dimiliki. Sebaliknya, jika hati keruh, yang muncul hanyalah prasangka dan dugaan keliru yang dikira sebagai firasat.

    Antara Firasat dan Prasangka

    Perlu dibedakan antara firasat (cahaya hati) dan prasangka (bisikan ego). Firasat muncul dengan tenang, tanpa paksaan, dan sering kali membawa kedamaian. Sedangkan prasangka muncul dari ketakutan, kecemasan, atau luka batin. Inilah sebabnya mengapa tidak semua gut feeling di media sosial bisa dianggap firasat sejati. Islam menekankan keseimbangan antara hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

    Fenomena gut feeling yang viral di TikTok mungkin menunjukkan bahwa manusia modern mulai rindu pada kepekaan batin. Namun dalam Islam, kepekaan ini dikenal dengan nama firasat, sebuah anugerah ilahi yang hanya muncul dari hati yang bersih dan jiwa yang dekat dengan Allah.

    Firasat bukanlah kekuatan mistik, melainkan pancaran cahaya kebenaran bagi mereka yang menjaga pandangan, menghindari maksiat, dan menata hati dari nafsu duniawi. Jadi, sebelum percaya pada “feeling”, pastikan hati kita bersih terlebih dahulu. Karena firasat sejati tak pernah salah arah asalkan datang dari hati yang diterangi cahaya Allah.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Dari Gut Feeling ke Firasat: Menyimak Kembali Suara Hati dalam Pandangan Islam

  • Angka Perceraian Akibat Ekonomi Meningkat Tajam! Begini 5 Solusi Islam Agar Rumah Tangga Tak Hancur Karena Uang

    Angka Perceraian Akibat Ekonomi Meningkat Tajam! Begini 5 Solusi Islam Agar Rumah Tangga Tak Hancur Karena Uang

    NUJATENG.COM – Fenomena perceraian di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Data 2024 mencatat 466.359 kasus perceraian, naik signifikan dari 408.340 kasus pada 2023. Ironisnya, jumlah pernikahan justru menurun menjadi 1,47 juta pasangan, jauh di bawah angka dua juta pernikahan yang tercatat pada 2019.

    Dari total perceraian tersebut, 20–24% disebabkan oleh faktor ekonomi, menjadikannya penyebab kedua terbanyak setelah pertengkaran rumah tangga. Artinya, satu dari empat perceraian di Indonesia berawal dari tekanan finansial.

    Masalah ekonomi tak sekadar memisahkan dua individu, tetapi juga meninggalkan luka psikologis mendalam bagi anak-anak dan keluarga besar. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memengaruhi stabilitas sosial dan emosional masyarakat.

    Islam Memandang Perceraian Sebagai Tindakan yang Dibenci Allah

    Dalam kitab Adabul Islam fi Nizhamil Usrah, Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas menegaskan bahwa perceraian adalah tindakan yang halal namun sangat dibenci Allah. Talak dapat merobohkan rumah tangga, melemahkan umat, dan menimbulkan luka sosial yang dalam.

    “Talak (perceraian) merupakan tindakan yang tidak disyariatkan. Sebab talak, rumah tangga akan roboh, memutus tali keluarga, melemahkan persatuan umat, dan merusak tutup (aib yang harus ditutupi)…”
    (Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas, Adabul Islam fi Nizhamil Usrah, hal. 89)

    Islam menempatkan pernikahan sebagai ikatan suci yang harus dijaga dengan sabar, saling pengertian, dan keikhlasan. Ketika masalah ekonomi melanda, Islam tidak menyarankan perceraian, tetapi justru memberikan lima solusi penting untuk menjaga keutuhan rumah tangga.

    5 Solusi Islam untuk Mengatasi Ujian Ekonomi dalam Rumah Tangga

    1. Memahami Prinsip Dasar Ekonomi Islam: Rezeki Dijamin oleh Allah

    Dalam Islam, rezeki setiap makhluk telah dijamin oleh Allah SWT. Firman-Nya dalam QS Hud [11]: 6 menegaskan:

    “Tidak satu pun makhluk yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah.”

    Kesadaran ini menjadi pondasi agar pasangan suami-istri tidak mudah panik ketika ekonomi sedang sulit. Suami yang berusaha keras mencari nafkah dan istri yang mendukung dengan ikhlas harus percaya bahwa Allah tidak akan menelantarkan mereka.

    Masalah ekonomi tidak seharusnya menjadi alasan untuk bercerai, karena berpisah justru bisa menutup pintu rezeki yang Allah bukakan melalui pernikahan.

    2. Pernikahan Adalah Pintu Rezeki, Bukan Penghalang

    Allah SWT berfirman dalam QS An-Nur [24]: 32:

    “Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”

    Ayat ini menegaskan bahwa pernikahan adalah salah satu jalan turunnya rezeki. Dengan niat baik dan usaha yang benar, Allah menjanjikan keluasan rezeki bagi mereka yang menikah.

    Pasangan yang sabar dan tetap bersyukur di tengah kesulitan justru sedang membuka pintu keberkahan baru. Sebaliknya, memutus tali pernikahan karena ekonomi hanya akan menambah beban hidup.

    3. Saling Pengertian dan Kolaborasi: Suami Bekerja, Istri Mengelola atau Membantu

    Dalam rumah tangga, suami bertanggung jawab mencari nafkah, sementara istri berperan mengelola keuangan dengan bijak. Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas menjelaskan:

    “Termasuk bentuk hubungan rumah tangga yang baik adalah ketika istri tidak membebani suami di luar kemampuannya dan tidak menuntut berlebihan.”

    Selain itu, Syekh Zainuddin Al-Munawi mengatakan:

    “Manajemen (keuangan) adalah separuh dari kehidupan.”

    Artinya, pengelolaan finansial yang baik adalah kunci ketahanan rumah tangga. Istri bisa membantu dengan berhemat, berwirausaha kecil, atau ikut menambah penghasilan bila diperlukan.

    Kunci utamanya adalah kolaborasi dan komunikasi terbuka antara suami-istri.

    4. Bersabar: Setelah Kesulitan, Pasti Ada Kemudahan

    Islam mengajarkan bahwa ujian ekonomi hanyalah sementara. Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas menulis:

    “Tidak pantas bagi istri bersikap keberatan ketika kondisi ekonomi suaminya berubah dari lapang menjadi sulit. Wanita salehah tetap bersama suaminya di masa susah sebagaimana di masa senang.”

    Kesabaran dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi adalah bentuk keimanan. Allah telah menjanjikan bahwa setiap kesulitan akan diiringi dengan kemudahan.

    Sabar bukan berarti pasif, tetapi tetap berusaha sambil menunggu waktu terbaik dari Allah.

    5. Ingatlah Dampaknya: Perceraian Bukan Solusi, Tapi Awal dari Masalah Baru

    Perceraian akibat tekanan ekonomi hanya menyelesaikan masalah di permukaan, sementara akar persoalan tetap ada. Dampaknya justru lebih besar, terutama bagi anak-anak yang kehilangan figur keluarga lengkap.

    Islam mengajarkan bahwa perceraian tanpa alasan syar‘i adalah perbuatan yang paling dibenci Allah. Maka, sebelum memutuskan berpisah, renungkan kembali: apakah perceraian akan membawa solusi atau justru membuka luka baru?

    Masalah ekonomi memang berat, tetapi bukan akhir dari segalanya. Islam menawarkan panduan hidup yang menenangkan dan realistis bagi pasangan yang sedang diuji dalam finansial.

    Dengan memahami prinsip rezeki, bersabar, saling mendukung, dan menjaga komunikasi, suami-istri bisa melewati badai ekonomi tanpa kehilangan cinta dan keutuhan rumah tangga.

    Perceraian mungkin tampak sebagai jalan keluar cepat, namun sering kali menjadi awal dari penderitaan panjang. Sebaliknya, bertahan dengan iman dan kerja sama bisa menjadi pintu keberkahan yang lebih besar.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: 5 Solusi yang Ditawarkan Islam untuk Mengatasi Kasus Perceraian karena Faktor Ekonomi

  • Begini Cara SMK Negeri 2 Bawang Wujudkan Generasi Muda yang Terampil, Optimis, dan Profesional

    BANJARNEGARA – https://nujateng.com –  Dalam upaya mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja tetapi juga berkarakter kuat, SMK Negeri 2 Bawang terus berbenah serta berinovasi untuk menguatkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna dan berkelanjutan. Hal itu diungkapkan oleh Kepala SMK Negeri 2 Bawang, yaitu; Ibu Dra. Widiastuti, M.M,. saat ditemui tim jurnalistik sekolah dalam sesi wawancara eksklusif baru-baru ini.

     

    Menurut Kepala Sekolah, visi utama SMK Negeri 2 Bawang adalah “Mewujudkan peserta didik yang patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa, terampil, optimis, dan profesional.”

    Visi tersebut menjadi arah dan pedoman seluruh kegiatan sekolah agar mampu membentuk generasi muda yang unggul secara spiritual, moral, maupun profesional.

     

    “Kami ingin lulusan SMK Negeri 2 Bawang tidak hanya mahir di bidang kejuruan, tetapi juga memiliki karakter dan semangat kerja yang tinggi,” ujarnya.

     

    Visi yang Jadi Arah dan Semangat Sekolah

     

    Kepala sekolah menjelaskan, visi sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan arah masa depan siswa. Melalui visi ini, sekolah berupaya menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah.

    Selain itu, sekolah juga menekankan pentingnya akhlak mulia dan sikap santun, agar lulusan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam bersosialisasi di masyarakat. Sesuai dengan 8 profil lulusan dalam pembelajaran mendalam (deep learning) yaitu, keimanan dan ketaqwaan, kewarganegaraan, penalaran kritis, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

     

    “Visi ini menjadi kompas bagi seluruh warga sekolah, agar setiap langkah dan keputusan tetap berada di jalur yang benar,” tambahnya.

     

    Jembatan Antara Sekolah dan Dunia Industri

     

    Sebagai sekolah kejuruan, SMK Negeri 2 Bawang memahami pentingnya hubungan erat dengan dunia kerja. Untuk itu, sekolah aktif menjalin kemitraan dengan berbagai industri serta dunia usaha, dunia kerja dan industri (IDUKA) yang relevan dengan jurusan yang ada.

    Salah satu bentuk nyata kolaborasi tersebut adalah Program Praktik Kerja Lapangan (PKL), Teaching Factory, Kelas Industri. Melalui PKL, peserta didik mendapatkan pengalaman langsung di dunia industri sehingga mampu beradaptasi dan siap terjun ke dunia kerja setelah lulus.

     

    “Kami ingin peserta didik tidak kaget menghadapi dunia kerja. Karena itu, pembelajaran praktik dan kerja sama industri terus kami perkuat, dengan pengembangan kurikulum pembelajaran, penyediaan tenaga pengajar dan instruktur baik, dari sekolah maupun di industri, penguatan sertifikasi kompetensi, penyelenggaraan praktik kerja industri, serta berusaha dalam pengembangan penyediaan infrastruktur dan fasilitas yang diperlukan.” Jelasnya.

     

    Peningkatan Kompetensi Guru dan Fasilitas Sekolah

     

    Selain fokus pada siswa, SMK Negeri 2 Bawang juga berkomitmen meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Guru secara rutin mendapatkan pelatihan teknologi dan pengajaran berbasis industri, agar selalu selaras dengan perkembangan zaman.

    Sekolah juga menerapkan pendekatan instruksional, yaitu menciptakan suasana belajar yang nyaman, interaktif, dan mendukung partisipasi aktif peserta didik.

     

    “Kami ingin hubungan antara guru dan peserta didik terbuka, sehingga peserta didik merasa nyaman bertanya dan berdiskusi,” tutur kepala sekolah.

     

    Peduli Lingkungan melalui Program Sekolah Adiwiyata

     

    Tak hanya unggul di bidang akademik, SMK Negeri 2 Bawang juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui Program Sekolah Adiwiyata, sekolah berupaya menciptakan lingkungan belajar yang hijau, bersih, dan nyaman.

    Program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran peserta didik akan pentingnya menjaga kelestarian alam, sekaligus membangun suasana belajar yang menyenangkan.

     

    Langkah Inovatif Menuju Sekolah Hebat

     

    Ke depan, SMK Negeri 2 Bawang tengah menyiapkan beberapa program baru untuk semakin meningkatkan mutu pendidikan, di antaranya:

     

    Memperluas kemitraan industri, serta menguatkan Teaching Factory (TeFa), mengadakan kelas industri, BKK (Bursa Kerja Khusus) untuk penyaluran kerja siswa.

     

    Mengembangkan program ganda (double track) yaitu magang dan melanjutkan studi agar peserta didik memiliki pengalaman nasional dan internasional.

     

    Menyelenggarakan kegiatan kreatif seperti film, robotika, dan kewirausahaan.

     

    Serta memberikan pendampingan khusus bagi guru agar kompetensinya terus meningkat.

     

    Pesan Kepala Sekolah untuk Peserta didik

     

    Menutup wawancara, Kepala SMK Negeri 2 Bawang berpesan agar seluruh peserta didik terus bersemangat dalam belajar, menjaga disiplin, dan menjunjung tinggi nilai-nilai karakter.

     

    “Jadilah generasi yang IMTAQTOP (Iman Taqwa Terampil Optimis Profesional) mengikuti langkah yang benar dan patuhilah kedua orang tua baik dirumah ataupun disekolah” tegasnya.

     

    Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras seluruh warga sekolah, SMK Negeri 2 Bawang terus berkomitmen mendampingi peserta didik dengan pendekatan pendidikan pilar holistik yaitu, olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olahraga. Mencetak generasi muda yang siap menghadapi tantangan zaman, perubahan masa depan, kompetensi masa depan dengan karakter kuat dan kemampuan profesional yang mumpuni.

  • Waspada Flexing Ibadah: Saat Pahala Hilang karena Pencitraan di Media Sosial

    Waspada Flexing Ibadah: Saat Pahala Hilang karena Pencitraan di Media Sosial

    NUJATENG.COM – Di era digital, media sosial telah menjadi panggung besar bagi hampir setiap aspek kehidupan manusia. Segalanya bisa dibagikan dari hal pribadi, prestasi, hingga momen spiritual. Tak jarang, aktivitas ibadah seperti salat, sedekah, atau umrah ikut diunggah ke dunia maya.

    Sebagian dilakukan dengan niat baik: untuk menginspirasi atau menyebarkan semangat kebaikan. Namun, sebagian lainnya tanpa sadar berubah menjadi ajang flexing ibadah pamer kebaikan demi validasi dan pengakuan publik. Fenomena ini membuka celah munculnya penyakit hati bernama sum’ah, saudara dekat dari riya’ dan ujub, yang sama-sama menggerogoti keikhlasan.

    Apa Itu Sum’ah?

    Secara bahasa, sum’ah berasal dari kata sami’a yang berarti “mendengar”. Menurut Badruddin al-‘Aini dalam Umdatul Qari, sum’ah adalah:

    “Menyebutkan atau menceritakan amal perbuatan agar dilihat dan didengar manusia.”

    Sementara Abu Thalib al-Makky dalam Qutul Qulub menjelaskan, sum’ah muncul dari dorongan hawa nafsu dan lemahnya jiwa. Ia menggambarkan bahwa seseorang yang memperdengarkan amalnya kepada selain Allah, dengan harapan mendapat pujian, sejatinya telah menyekutukan Allah dalam perbuatannya.

    Peringatan Rasulullah SAW

    Rasulullah SAW memberikan peringatan keras terhadap perbuatan ini:

    “Barang siapa memperdengarkan amalnya (agar dipuji), maka Allah akan memperdengarkan (aib) amalnya. Dan barang siapa berbuat riya’, maka Allah akan menampakkan (niat buruk) amalnya.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Artinya, amal yang dilakukan demi dilihat atau didengar manusia tidak akan diterima oleh Allah, bahkan bisa menjadi sebab terbukanya aib.

    Riya’ dan Sum’ah: Mirip Tapi Tak Sama

    Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, riya’ berasal dari kata ru’yah (melihat), sementara sum’ah berasal dari sami’a (mendengar).

    • Riya’ adalah pamer ibadah agar dilihat orang lain.

    • Sum’ah adalah memperdengarkan amal agar didengar dan dipuji.

    Keduanya sama-sama berakar pada keinginan manusia untuk mendapatkan pengakuan. Dalam konteks sekarang, hal ini sering muncul dalam bentuk soft flexing seperti memamerkan momen ibadah atau sedekah di media sosial, dengan niat yang bercampur antara dakwah dan pencitraan.

    Antara Syiar dan Pencitraan: Niat Jadi Pembeda

    Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

    “Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka nyatakanlah.” (QS. Ad-Dhuha [93]: 11)

    Ayat ini menunjukkan bahwa menampakkan amal baik bisa menjadi bentuk syukur, jika diniatkan untuk menebar inspirasi. Ibnu Hajar menegaskan dalam Fathul Bari:

    “Disunnahkan menyembunyikan amal saleh, namun terkadang disunnahkan menampakkannya bila dapat menjadi teladan bagi orang lain dengan niat yang benar.”

    Artinya, niat adalah pembeda utama antara syiar dan sum’ah. Amal yang dilakukan demi mengajak orang lain bisa bernilai pahala, tetapi amal yang dilakukan demi pujian justru bisa menjadi dosa.

    Ujian Keikhlasan di Era Media Sosial

    Budaya digital kini menuntut setiap orang untuk menampilkan “versi terbaik” dirinya. Tak heran, banyak yang tanpa sadar menjadikan media sosial sebagai alat validasi spiritual. Tantangan utamanya bukan lagi pada bagaimana beramal, melainkan untuk siapa amal itu dilakukan.

    Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amal yang tulus adalah amal yang tidak bergantung pada pandangan manusia. Artinya, ketika hati mulai bertanya “berapa banyak yang menyukai postingan ibadahku?”, saat itulah kita perlu waspada.

    Menjaga Hati di Tengah Budaya Pamer

    Sebelum membagikan amal kebaikan di media sosial, tanyakan pada diri sendiri:

    “Apakah aku ingin Allah yang melihat, atau manusia yang memuji?”

    Jika jawabannya karena Allah, maka insyaallah postingan itu bernilai syiar. Namun jika tujuannya demi validasi, itu adalah sum’ah yang dapat menghapus pahala.

    Keikhlasan adalah benteng terakhir seorang mukmin di dunia yang penuh pencitraan. Di tengah derasnya arus “likes” dan komentar, jadikan Allah satu-satunya tujuan dari setiap amal dan ibadah.

    Flexing ibadah di media sosial tidak selalu salah. Semua kembali pada niat. Jika diniatkan untuk mengajak orang lain pada kebaikan, ia adalah syiar. Tapi jika diniatkan untuk mendapat pengakuan, ia adalah sum’ah yang berbahaya. Menjaga keikhlasan memang sulit di era digital, tapi di situlah nilai ibadah sejati diuji.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Waspada Sum’ah, Flexing Ibadah di Media Sosial

  • ‘Uzlah: Rahasia Ketenangan Jiwa di Tengah Kegaduhan Dunia Modern

    ‘Uzlah: Rahasia Ketenangan Jiwa di Tengah Kegaduhan Dunia Modern

    NUJATENG.COM – Kehidupan modern yang serba cepat membuat banyak orang, terutama generasi muda, merasa lelah dan kehilangan arah. Rutinitas yang padat, tuntutan pekerjaan, serta tekanan sosial media sering kali membuat hati gelisah dan pikiran penat. Namun Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, telah memberikan solusi spiritual yang relevan di setiap zaman salah satunya melalui ‘uzlah, yakni praktik menenangkan diri dengan menjauh sejenak dari hiruk pikuk dunia.

    ‘Uzlah bukanlah sekadar mengasingkan diri tanpa tujuan, melainkan proses reset mental dan spiritual untuk menemukan kembali keseimbangan hidup. Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan kisah Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda beriman yang diperintahkan untuk berlindung di gua demi menjaga iman mereka:

    “Karena kamu juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu. Niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu.”
    (QS. Al-Kahfi: 16)

    Teladan ‘Uzlah dari Para Nabi dan Orang Saleh

    Praktik ‘uzlah telah dicontohkan oleh banyak nabi dan orang saleh. Nabi Muhammad ﷺ sendiri sering beruzlah di Gua Hira sebelum menerima wahyu, mencari ketenangan dan makna hidup melalui tafakur. Nabi Ibrahim, Nabi Musa, hingga para sahabat seperti Abu Darda’ dan Amr bin al-Ash juga menjalankan ‘uzlah sebagai bentuk pembersihan hati dari pengaruh duniawi.

    Dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Manusia terbaik adalah orang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah, dan orang yang berada di salah satu lembah (‘uzlah), beribadah kepada Tuhannya dan menjauhkan manusia dari kejahatannya.”
    (HR. Al-Bukhari)

    Bahkan Amr bin al-Ash menegaskan bahwa Allah telah memerintahkan orang berakal untuk melakukan ‘uzlah:

    “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang berakal untuk ber-‘uzlah (menjauh dari hiruk pikuk dunia).”
    (Ibnu Wahb, Al-Jami’ fil Hadits, hlm. 523)

    Hakikat dan Esensi ‘Uzlah

    Secara bahasa, ‘uzlah berarti menjauh atau menepi dari interaksi duniawi yang berlebihan. Imam al-Jurjani mendefinisikannya sebagai:

    “Menjauh dari berinteraksi dengan manusia melalui menyendiri dan memisahkan diri.”
    (At-Ta’rifat, hlm. 150)

    Namun, penting dipahami bahwa ‘uzlah bukan pelarian, melainkan upaya menjaga diri dari gangguan hati dan pergaulan yang buruk. Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata:

    “Uzlah adalah istirahat dari pergaulan yang buruk.”
    (Ibnu Wahb, hlm. 526)

    Dengan kata lain, ‘uzlah adalah bentuk self-care spiritual cara seorang Muslim menata ulang hatinya agar kembali tenang dan dekat dengan Allah SWT.

    Enam Manfaat ‘Uzlah Menurut Imam Al-Ghazali

    Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa ‘uzlah memiliki manfaat besar, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Ia merangkumnya dalam enam poin penting:

    1. Fokus dalam Ibadah dan Perenungan

    Menepi memberi ruang bagi seseorang untuk beribadah dengan khusyuk dan bermunajat tanpa gangguan.

    2. Terhindar dari Dosa Sosial

    ‘Uzlah menjauhkan manusia dari godaan ghibah, riya’, dan perbuatan dosa lain yang sering muncul dalam pergaulan.

    3. Menghindari Fitnah dan Pertengkaran

    Dengan membatasi interaksi, seseorang dapat menjaga agamanya dari fitnah dan perselisihan.

    4. Terlindung dari Kejahatan Manusia

    Kesendirian menjadi perisai dari gangguan atau pengaruh buruk lingkungan sekitar.

    5. Melepaskan Ketergantungan Duniawi

    ‘Uzlah mengajarkan seseorang untuk tidak bergantung pada manusia, melainkan hanya kepada Allah SWT.

    6. Menjauh dari Orang Bodoh dan Menyulitkan

    Kadang ketenangan hanya bisa ditemukan ketika kita berhenti mengurusi kebodohan orang lain. Dengan ‘uzlah, kita terhindar dari energi negatif semacam itu.

    Cara Praktis Melakukan ‘Uzlah di Zaman Modern

    Ber-‘uzlah di masa kini tentu tidak harus menyendiri di gunung atau gua. Yang lebih penting adalah mengasingkan diri dari hal-hal yang merusak fokus dan kedamaian hati. Berikut beberapa cara praktis untuk melakukannya:

    1. Lakukan “Digital Uzlah”

    Batasi penggunaan media sosial atau lakukan digital detox. Pilih satu hari dalam seminggu untuk tidak membuka ponsel, berita, atau media sosial, agar pikiran bisa beristirahat dari banjir informasi dan perbandingan hidup yang melelahkan.

    2. Ambil Waktu untuk Muhasabah

    Sisihkan waktu khusus, misalnya satu hari setiap bulan, untuk menyendiri. Bisa dilakukan di masjid, taman, atau kamar pribadi. Gunakan waktu itu untuk refleksi, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan menulis jurnal kehidupan.

    3. Selektif dalam Bergaul

    ‘Uzlah bukan berarti memutus hubungan sosial, tapi menata ulang prioritas pertemanan. Pilih lingkungan yang menenangkan hati, bukan yang membuat stres dan iri. Dengan begitu, hati tetap bersih tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

    ‘Uzlah sebagai Jalan Sehat untuk Jiwa

    Di tengah dunia yang bising, cepat, dan penuh distraksi, ‘uzlah menjadi jalan untuk bernafas kembali secara spiritual. Ia bukan sekadar menyendiri, tetapi bentuk introspeksi dan penyembuhan diri. Dengan ber-‘uzlah, manusia belajar untuk berhenti sejenak dari dunia, agar bisa kembali menatap hidup dengan hati yang lebih damai dan jernih.

    Sebagaimana Rasulullah ﷺ menemukan cahaya kenabian di Gua Hira melalui ‘uzlah, demikian pula manusia modern dapat menemukan kembali cahaya ketenangan dengan menepi dari kesibukan dunia meski hanya sejenak.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Uzlah: Cara Sehat Menenangkan Jiwa di Zaman Modern

  • Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Khidhir: 12 Adab Emas Menuntut Ilmu yang Mulai Hilang di Zaman Sekarang

    Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Khidhir: 12 Adab Emas Menuntut Ilmu yang Mulai Hilang di Zaman Sekarang

    NUJATENG.COM – Di era modern ini, kita sering mendengar berita tentang murid yang berani membantah, meremehkan, bahkan berbuat kasar kepada guru. Fenomena tersebut menjadi bukti nyata bahwa adab dalam menuntut ilmu semakin terkikis oleh arus zaman. Padahal, dalam tradisi Islam, adab seorang murid terhadap guru merupakan fondasi utama agar ilmu yang diperoleh membawa manfaat dan keberkahan.

    Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa seorang murid harus tunduk, rendah hati, dan menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada guru. Ia berkata:

    “Murid tidak boleh menyombongkan diri terhadap ilmu dan menentang gurunya. Ia harus mempercayai bimbingan gurunya sebagaimana orang sakit mempercayai dokter yang ahli dan penyayang.”
    (Ihya’ Ulumuddin, Jilid I, hlm. 50)

    Adab ini bukan hanya sekadar tata krama, tetapi merupakan syarat turunnya keberkahan ilmu. Tanpa adab, ilmu bisa kehilangan ruhnya.

    Pelajaran dari Kisah Nabi Musa dan Khidhir

    Al-Qur’an memberikan contoh luar biasa tentang adab menuntut ilmu melalui kisah Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidhir a.s. yang termuat dalam Surat Al-Kahfi ayat 66:

    قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

    “Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) dari apa yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?’”
    (QS Al-Kahfi: 66)

    Padahal, Nabi Musa bukan orang sembarangan. Ia seorang Rasul yang mendapat kehormatan berbicara langsung dengan Allah (Kalimullah). Namun, dalam kisah ini, beliau menunjukkan kerendahan hati luar biasa di hadapan seorang guru.

    Imam Ismail Haqqi menjelaskan dalam Ruhul Bayan:

    “Seseorang harus bersikap rendah hati kepada orang yang lebih berilmu darinya.”
    (Ruhul Bayan, Jilid V, hlm. 273)

    Sementara Imam Fakhruddin Ar-Razi menegaskan bahwa setiap ayat dalam kisah Musa dan Khidhir menggambarkan berbagai bentuk adab dan kelembutan seorang murid kepada guru.

    12 Adab Menuntut Ilmu dari Kisah Nabi Musa dan Khidhir

    Dalam tafsirnya, Imam Fakhruddin Ar-Razi merinci dua belas adab luar biasa yang ditunjukkan Nabi Musa a.s. saat belajar kepada Khidhir. Inilah pelajaran abadi yang seharusnya dihidupkan kembali oleh para penuntut ilmu masa kini:

    1. Merendahkan Diri di Hadapan Guru

    Ucapan Musa “هل أتبعك” (“Bolehkah aku mengikutimu?”) menunjukkan kerendahan hati dan pengakuan bahwa dirinya membutuhkan bimbingan.

    2. Meminta Izin dengan Sopan

    Musa tidak serta-merta mengikuti Khidhir. Ia terlebih dahulu meminta izin, menunjukkan etika dalam berinteraksi dengan guru.

    3. Mengakui Keterbatasan Diri

    Kalimat “أَنْ تُعَلِّمَنِ” menunjukkan kesadaran bahwa masih banyak ilmu yang belum ia ketahui, meski dirinya seorang nabi besar.

    4. Tidak Menuntut Ilmu Secara Berlebihan

    Beliau hanya meminta “sebagian dari ilmu” (مِمَّا عُلِّمْتَ), bukan seluruhnya. Ini mengajarkan rasa cukup dan kerendahan hati dalam belajar.

    5. Menyadari Bahwa Ilmu Milik Allah

    Ucapan “dari apa yang telah diajarkan kepadamu” menunjukkan bahwa sumber ilmu sejati adalah Allah, dan guru hanyalah perantara.

    6. Meminta Ilmu yang Bermanfaat

    Kata “رُشْدًا” menandakan bahwa ilmu yang diminta adalah ilmu yang membawa petunjuk dan manfaat, bukan sekadar pengetahuan kosong.

    7. Menghargai Guru sebagai Perantara Nikmat Allah

    Guru adalah jalan datangnya ilmu. Nabi Musa menghormati Khidhir bukan karena kedudukannya, tapi karena perannya sebagai perantara ilmu.

    8. Tunduk dan Tidak Membantah Guru

    Musa menunjukkan sikap tunduk dan tidak membantah, meski belum memahami maksud setiap tindakan Khidhir.

    9. Mengikuti Guru Secara Total

    Ia menunjukkan komitmen penuh untuk mengikuti bimbingan gurunya, bahkan dalam hal-hal yang tampak sulit dipahami.

    10. Rendah Hati Meski Memiliki Kedudukan Tinggi

    Meski seorang rasul besar, Musa tetap tawadhu dan menunjukkan penghormatan total kepada Khidhir.

    11. Mendahulukan Khidmah Sebelum Menuntut Ilmu

    Dalam ayat itu, “mengikuti” disebut lebih dulu daripada “belajar”, menunjukkan pentingnya melayani guru sebagai bagian dari proses menuntut ilmu.

    12. Ikhlas Tanpa Mengharap Imbalan Duniawi

    Musa menegaskan bahwa tujuannya bukan harta atau kedudukan, melainkan ilmu semata. Ketulusan ini menjadi kunci keberkahan ilmu.

    Adab dalam Dunia Pendidikan Modern

    Di zaman digital seperti sekarang, proses belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Guru bisa hadir lewat layar, dan ilmu bisa diperoleh dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini sering membuat murid kehilangan rasa hormat terhadap guru dan proses belajar itu sendiri.

    Adab, yang dulu menjadi jantung pendidikan Islam, kini mulai dianggap usang. Padahal, sebagaimana dicontohkan Nabi Musa, adab adalah syarat turunnya ilmu yang bermanfaat.

    Maka, meski teknologi berubah, prinsipnya tetap sama:

    • Rendahkan hati di hadapan orang berilmu.

    • Hargai guru, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

    • Niatkan belajar semata-mata karena Allah, bukan popularitas atau keuntungan duniawi.

    Ilmu Tanpa Adab Akan Hilang Keberkahannya

    Kisah Nabi Musa dan Khidhir mengajarkan bahwa keberkahan ilmu tidak ditentukan oleh banyaknya pengetahuan, tetapi oleh adab yang menyertainya.

    Di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan teknologi, pelajar Muslim perlu kembali meneladani adab para nabi. Dengan adab, ilmu bukan hanya menambah wawasan, tetapi menjadi cahaya yang menuntun menuju kebaikan dunia dan akhirat.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Kisah Nabi Musa dan Khidhir: Hikmah Tentang Rendah Hati dalam Menuntut Ilmu

  • Jangan Salah Paham! Menasihati Ustadz Bukan Berarti Menentang Islam

    Jangan Salah Paham! Menasihati Ustadz Bukan Berarti Menentang Islam

    NUJATENG.COM – Dalam kehidupan masyarakat Muslim, ustadz atau pemuka agama sering kali dianggap sebagai sosok yang tidak boleh disentuh kritik. Mereka dihormati sebagai panutan dan sumber ilmu agama, tempat orang bertanya dan mencari solusi dalam urusan spiritual maupun sosial.

    Namun, muncul pandangan keliru bahwa memberi nasihat atau masukan kepada ustadz merupakan tindakan yang tidak sopan, bahkan dianggap menentang Islam. Anggapan semacam ini justru berbahaya karena menutup ruang dialog dan menghambat semangat amar ma’ruf nahi munkar yang diajarkan oleh agama itu sendiri.

    Padahal, Islam tidak pernah menutup pintu kritik dan nasihat, bahkan terhadap pemimpin tertinggi, selama dilakukan dengan cara yang baik dan penuh adab.

    Tradisi Nasihat dalam Islam: Nabi Pun Menerima Masukan

    Islam memiliki tradisi yang sangat kuat dalam hal saling menasihati. Nabi Muhammad SAW sendiri memberikan contoh nyata bahwa seorang pemimpin, sekalipun Rasulullah, terbuka terhadap masukan dari sahabatnya.

    Salah satu peristiwa yang terkenal adalah kisah Habbab bin al-Mundzir dalam Perang Badar. Ketika Nabi menentukan posisi pasukan di depan sumber air, Habbab bertanya dengan sopan apakah keputusan itu berdasarkan wahyu atau pendapat pribadi. Setelah Nabi menjawab bahwa itu pendapatnya, Habbab mengusulkan agar posisi pasukan dipindahkan ke belakang sumber air agar lebih strategis. Rasulullah menerima usulan itu dengan lapang dada.

    Peristiwa lain adalah kisah Dzul Yadain, sahabat yang berani mengingatkan Rasulullah SAW ketika beliau menunaikan shalat Ashar hanya dua rakaat. Setelah dicek dan dikonfirmasi kepada jamaah lain, Rasulullah pun menyempurnakan shalatnya dan melakukan sujud sahwi sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.

    Dua peristiwa ini menegaskan bahwa memberi masukan kepada orang berilmu bahkan kepada Nabi bukanlah bentuk penentangan, melainkan ekspresi cinta terhadap kebenaran dan tanggung jawab moral terhadap agama.

    Nasihat Sebagai Bagian dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar

    Memberi masukan kepada ustadz bukan berarti menolak keilmuannya, melainkan membantu menjaga kemurnian ajaran Islam. Dalam Tafsir Ar-Razi, disebutkan:

    “Dan mereka saling menasihati, yakni antara satu dengan yang lain saling menasihati, baik dengan perbuatan maupun ucapan, untuk kebenaran.”
    (Khatib Asy-Syarbini, Tafsir Asy-Syarbini, Jilid IV, Hal. 680)

    Penjelasan ini menegaskan bahwa nasihat merupakan kewajiban bersama, tanpa memandang kedudukan seseorang. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan agar tidak terjerumus dalam kesalahan.

    Bahkan Imam Al-Ghazali menegaskan dalam Ihya’ Ulumuddin:

    “Syarat orang yang menjadi objek amar ma’ruf nahi munkar adalah berada pada kondisi di mana perbuatan yang dilarang benar-benar termasuk kemungkaran.”
    (Jilid I, Hal. 420)

    Artinya, siapa pun yang berbuat salah termasuk ustadz wajib diingatkan jika tindakannya menyimpang. Justru karena pengaruh ustadz sangat luas, kesalahan mereka harus segera diluruskan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi jamaah dan masyarakat.

    Siapa yang Boleh Menasihati Ustadz?

    Banyak yang berpikir bahwa hanya ustadz atau ulama selevel yang berhak mengoreksi sesama ustadz. Padahal, menurut Sayyid Abdurrahman Al-Hadrami dalam Bughyatul Mustarsyidin, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar berlaku bagi semua Muslim yang sudah baligh dan berakal.

    “Maka mencakup orang merdeka dan hamba sahaya, kaya dan miskin, kuat dan lemah, rendah dan terhormat, tua dan muda. Tidak diriwayatkan bahwa anak muda tidak boleh mengingkari orang yang lebih tua, dan itu bukan bentuk tidak sopan kepadanya.”
    (Bughyatul Mustarsyidin, Hal. 311)

    Dengan demikian, siapa pun baik muda maupun tua, berilmu tinggi atau sederhana boleh menasihati ustadz selama memahami duduk perkaranya dan memiliki niat yang tulus untuk memperbaiki, bukan menjatuhkan.

    Adab dan Etika dalam Memberi Nasihat kepada Ustadz

    Meski dibolehkan, nasihat kepada ustadz harus dilakukan dengan adab dan cara yang bijaksana. Islam menempatkan orang berilmu pada kedudukan tinggi, sehingga adab dalam menasihati menjadi bagian penting dari etika Islam.

    Beberapa prinsip yang harus dipegang antara lain:

    • Menasihati dengan lemah lembut dan tidak merendahkan.

    • Mengutamakan niat memperbaiki, bukan mencari kesalahan.

    • Menghindari publikasi atau hujatan terbuka yang dapat merusak kehormatan orang berilmu.

    • Menyampaikan nasihat di waktu dan tempat yang tepat, agar pesan diterima dengan baik.

    Dengan adab seperti ini, nasihat kepada ustadz justru menjadi bentuk kasih sayang dan kepedulian terhadap umat, bukan bentuk perlawanan terhadap agama.

    Nasihat Adalah Wujud Cinta terhadap Kebenaran

    Memberi nasihat kepada ustadz bukanlah tanda kurang ajar atau menentang Islam. Sebaliknya, itu adalah bagian dari ajaran Islam yang luhur semangat amar ma’ruf nahi munkar yang menjaga kemurnian dakwah dan melindungi umat dari kesalahan tafsir maupun perilaku.

    Selama dilakukan dengan adab, keikhlasan, dan rasa hormat, menasihati ustadz justru menunjukkan kepedulian terhadap agama dan cinta terhadap kebenaran.

    Sebab diam melihat kesalahan bukanlah bentuk hormat, melainkan bentuk kelalaian terhadap amanah ilmu yang seharusnya disampaikan demi kemaslahatan bersama.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Jangan Keliru: Menasihati Ustadz Bukan Berarti Anti-Islam

  • Doa Tak Selalu Tentang Hasil: Ketika Rasa Butuh kepada Tuhan Lebih Penting dari Segalanya

    Doa Tak Selalu Tentang Hasil: Ketika Rasa Butuh kepada Tuhan Lebih Penting dari Segalanya

    NUJATENG.COM – Bagi banyak orang, doa identik dengan permintaan. Mereka berdoa agar rezeki lancar, penyakit sembuh, atau keinginan segera terkabul. Namun, ketika doa itu tak kunjung diijabah, kerap muncul rasa kecewa dan bahkan kecurigaan dalam hati: “Apakah Allah tidak mendengarku?”

    Padahal, dalam pandangan Islam, hakikat doa jauh lebih dalam dari sekadar meminta sesuatu. Doa adalah bentuk pengakuan tertinggi bahwa manusia lemah, tidak berdaya, dan sepenuhnya bergantung pada Allah SWT.

    Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya’ Ulumuddin:

    “Sesungguhnya dalam doa terdapat perwujudan penghambaan dan kefakiran. Ia adalah manifestasi kebutuhan hamba kepada Tuhannya dalam setiap keadaan.”
    (Ihya’ Ulumuddin, Beirut: Darul Minhaj, Jilid I, Hal. 294)

    Melalui doa, manusia menegaskan jati dirinya sebagai makhluk yang fakir di hadapan Sang Pencipta. Rasa butuh itu adalah inti dari penghambaan yang sejati.

    Ketika Doa Bukan Lagi Transaksi

    Sayangnya, banyak orang memandang doa sebagai bentuk “transaksi spiritual”. Kita meminta Allah memberi. Padahal, doa bukan alat tawar-menawar, bukan sarana memaksa Tuhan untuk memenuhi keinginan manusia.

    Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam memberi nasihat lembut:

    “Jangan jadikan permintaanmu sebagai sebab untuk diberi oleh-Nya.”

    Maknanya dalam sekali. Allah tidak memberi karena doa itu “mengharuskan”-Nya, tetapi karena kasih sayang dan kehendak-Nya semata. Tugas manusia hanyalah berdoa dengan penuh keikhlasan, bukan menakar hasilnya.

    Doa sejatinya adalah ibadah, bukan instrumen permintaan. Dengan berdoa, seseorang menunjukkan ketundukan dan kerendahan hatinya. Ia sadar, tanpa izin Allah, tidak ada satu pun daya dan upaya yang bisa dilakukan.

    Doa Adalah Ibadah yang Meneguhkan Ketergantungan kepada Allah

    Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an:

    “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.’”
    (QS Ghafir: 60)

    Ayat ini menegaskan bahwa doa bukan hanya sarana meminta, tetapi bagian dari ibadah itu sendiri. Orang yang enggan berdoa dianggap sombong, karena menolak mengakui bahwa dirinya bergantung sepenuhnya pada Tuhan.

    Dengan demikian, setiap kali seseorang menengadahkan tangan dan memanjatkan doa, sejatinya ia sedang memperbarui ikrar kehambaannya. Ia sedang mengingatkan dirinya sendiri bahwa tanpa Allah, ia bukan siapa-siapa.

    Makna Tertinggi dari Sebuah Doa

    Jika ditelaah lebih dalam, doa sejati bukanlah doa yang segera terkabul, melainkan doa yang mampu menumbuhkan rasa tunduk dan ketergantungan total kepada Allah.

    Hakikat berdoa bukanlah agar kebutuhan pribadi terpenuhi, melainkan agar kesadaran spiritual tumbuh. Dengan berdoa, manusia mengembalikan seluruh urusannya kepada Sang Pencipta, melepaskan ego, dan menyerahkan segalanya kepada kehendak Allah.

    Allah adalah Zat yang Maha Memiliki, dan manusia hanyalah hamba yang membutuhkan. Maka, nilai tertinggi dari doa bukan pada hasilnya, melainkan pada rasa butuh dan kedekatan hati kepada-Nya.

    Sebagaimana dikatakan para ulama, doa adalah dzikir yang hidup, pengakuan paling jujur dari seorang hamba yang sadar akan keterbatasannya. Karena itu, ketika doa belum terkabul, jangan buru-buru kecewa barangkali Allah sedang menumbuhkan sesuatu yang jauh lebih berharga: rasa butuh yang tulus kepada-Nya.

    Doa bukan sekadar sarana meminta, melainkan wujud cinta, harap, dan pengakuan seorang hamba atas kebutuhannya kepada Tuhan. Maka, jangan ukur nilai doa dari seberapa cepat dikabulkan, tapi dari seberapa dalam ia menumbuhkan kesadaran bahwa kita ini hanyalah makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Doa: Bukan Tentang Hasil, Tapi Rasa Butuh kepada Tuhan

  • Keseruan HUT SMA Negeri 1 Purwareja Klampok ke-42 Semakin Meriah! Lomba Flashmob hingga Hanum Salsabiela Rais, Sang Penulis Novel Hadir ke Sekolah

    BANJARNEGARA – nujateng.com

    Purwareja Klampok – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-42 SMA Negeri 1 Purwareja Klampok memasuki hari kedua pada Selasa, 11 November 2025. Tahun ini sekolah mengusung tema “AM42ING: Gemilang dengan Kreativitas dan Inovasi” untuk mendorong lahirnya ide-ide kreatif dan inovatif di kalangan siswa maupun guru.

    Kemeriahan acara terlihat dari penampilan kompetisi flashmob yang diikuti 10 tim. Masing-masing tim menampilkan koreografi energik dan kreatif, disambut sorakan meriah para penonton di Indoor SMANSAPERJAKA. Rangkaian pertunjukan dilanjutkan dengan tari Dawet Ayu khas Banjarnegara bersama tim karawitan Siswo Laras Budoyo SMANSAPERJAKA. Suasana semakin semarak ketika lagu “Lestari” dibawakan duet oleh Rifal Faulana dan Anindya Dwi Qonita. Penampilan seni ditutup dengan tari Lobong Ilang oleh lima penari dari ekstrakurikuler Tari Hambekso SMANSAPERJAKA.

    Pada sesi penutup, digelar Meet & Greet serta bedah buku “I AM SARAHZA” bersama penulis sekaligus inspirator, Hanum Salsabiela Rais, yang telah banyak menerbitkan karya dan beberapa di antaranya telah diadaptasi menjadi film, seperti 99 Cahaya di Langit Eropa, Bulan Terbelah di Langit Amerika, Faith and the City, dan I AM SARAHZA yang saat ini tengah dalam proses produksi dan akan tayang di layar lebar pada 2026.

    Karya terbarunya, “Sangkakala di Langit Andalusia”, juga mendapat apresiasi luas dan menjadi salah satu novel religi unggulan dalam beberapa tahun terakhir. Acara ini dipandu oleh Dian Ratnawati TW, S.Pd., yang bertindak sebagai moderator dan berhasil menciptakan suasana hangat serta penuh energi. Dalam sesi tersebut, Hanum membagikan perjalanan kariernya sebagai penulis, termasuk tantangan hingga salah satu novelnya diangkat menjadi film. Ia juga memberikan motivasi kepada para siswa mengenai pentingnya menulis.

    “Sejak kecil kita belajar mengenal luasnya dunia. Kini saatnya kita dikenal oleh dunia, salah satunya melalui tulisan,” ujar Hanum.

    Antusiasme siswa terlihat saat sesi tanya jawab dibuka. Peserta berebut mengajukan pertanyaan, menunjukkan minat baca dan rasa ingin tahu yang tinggi.

    Perayaan HUT kali ini tidak hanya menampilkan kreativitas dan hiburan, tetapi juga mendorong semangat berkarya serta memperkuat rasa kebersamaan. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa SMA Negeri 1 Purwareja Klampok terus berinovasi dan memberikan kontribusi positif bagi prestasi sekolah.

    Desviana Khairunnisa – Jurnalistik SMA Negeri 1 Purwareja Klampok

  • Fenomena Ujub di Media Sosial: Ketika Pamer Kebaikan Jadi Racun Spiritual yang Tak Disadari

    Fenomena Ujub di Media Sosial: Ketika Pamer Kebaikan Jadi Racun Spiritual yang Tak Disadari

    NUJATENG.COM – Di tengah derasnya arus informasi dan budaya self-branding, ruang media sosial menjadi lahan subur bagi tumbuhnya penyakit hati bernama ujub rasa bangga diri yang berlebihan hingga lupa bahwa segala kebaikan berasal dari Allah SWT. Jika dahulu ujub muncul dalam ruang-ruang ibadah atau lingkaran spiritual, kini ia bermetamorfosis menjadi fenomena digital pride yang menjangkiti pengguna media sosial di berbagai lapisan.

    Mulai dari unggahan motivasi, story edukatif, hingga komentar bernada santun, semua bisa menjadi sarang ujub tanpa disadari. Inilah alasan mengapa penting bagi kita untuk meneliti lebih jauh gejala-gejala ujub di ruang digital agar tidak terjerumus pada kesombongan halus yang berbalut “niat baik”.

    Makna Ujub Menurut Ulama Tasawuf

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ujub bermakna keangkuhan atau rasa bangga diri. Namun, dalam perspektif tasawuf, maknanya jauh lebih dalam. Ujub adalah pengagungan terhadap diri sendiri dan melupakan bahwa semua nikmat serta kebaikan bersumber dari Allah SWT.

    Imam Al-Ghazali menjelaskan:

    “Ujub adalah pengagungan atas nikmat disertai lupa untuk menyandarkannya kepada Sang Pemberi nikmat.”
    (Ihya’ Ulumuddin, Jilid III, hal. 493)

    Dengan kata lain, ketika seseorang merasa bahwa amal, kecerdasan, atau keberhasilannya murni hasil usahanya sendiri saat itulah ujub lahir.

    Bahaya Ujub: Dari Ibadah Hingga Perilaku Sosial

    1. Ujub Merusak Spiritualitas

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujub terhadap diri sendiri.” (HR. At-Thabarani)

    Ujub membuat seseorang lupa pada dosa-dosanya karena terlampau fokus pada amal baiknya sendiri. Ia merasa cukup dan tidak lagi introspeksi. Imam Al-Ghazali menyebut ujub sebagai akar dari kesombongan (kibr), yang kemudian menumbuhkan berbagai penyakit hati lain seperti riya’, dengki, dan meremehkan orang lain.

    2. Ujub Menghancurkan Hubungan Sosial

    Dalam konteks sosial, ujub bisa melahirkan perilaku diskriminatif. Orang yang terjangkit ujub cenderung menilai dirinya lebih baik dari orang lain, merendahkan yang berbeda, dan menganggap kelompoknya paling benar. Inilah yang menjadikan ujub bukan sekadar dosa personal, tapi juga ancaman moral sosial.

    Gejala Ujub di Media Sosial

    1. Ujub Intelektual Bangga dengan Kecerdasan

    Kalimat seperti “Kalau udah biasa mikir pakai data, susah debat sama yang pakai perasaan” tampak cerdas, tapi menyiratkan kesombongan intelektual. Imam Al-Ghazali menyebutnya ujub bil-‘aqli, yaitu bangga terhadap kecerdasan hingga menyepelekan pendapat orang lain.

    Obatnya: sadari bahwa kecerdasan adalah karunia Allah, dan bisa hilang kapan pun entah karena sakit, usia, atau ujian kehidupan.

    2. Ujub Moral Merasa Paling Baik

    Kalimat seperti “Susah jadi orang baik di dunia penuh munafik” mengandung sinyal ujub moral. Ia merasa lebih suci daripada orang lain. Padahal, menurut Al-Ghazali, manusia sebaik-baiknya tetaplah tempat salah dan lupa.

    Cara mengobatinya: ingatlah bahwa setiap orang berjuang di jalan kebaikan dengan kadar yang berbeda, dan hanya Allah yang berhak menilai siapa yang benar-benar baik.

    3. Ujub Materi Bangga dengan Kepemilikan

    Ungkapan seperti “Nggak perlu brand mahal, yang penting auraku tetap mahal” sering kali terdengar bijak, namun menyiratkan rasa bangga terhadap harta atau penampilan. Imam Al-Ghazali menegaskan, kebanggaan terhadap harta adalah penyakit hati yang halus tapi berbahaya.

    Obatnya: merenungi bahwa harta hanyalah titipan yang suatu hari akan diminta pertanggungjawabannya.

    4. Ujub Kolektif Bangga dengan Jumlah atau Popularitas

    Kalimat seperti “Inilah bedanya kami, walau minoritas tetap berprinsip” mencerminkan ujub kelompok. Dalam konteks digital, hal ini bisa berupa kebanggaan terhadap banyaknya pengikut (followers) atau pengaruh sosial.

    Obatnya: sadari bahwa jumlah pengikut bukan ukuran kebenaran. Banyaknya pengikut tidak selalu berarti kebaikan di mata Allah.

    Cara Mengobati Ujub di Era Digital

    1. Sadari Bahwa Semua Nikmat Adalah Titipan

    Kecerdasan, harta, atau pengikut hanyalah titipan sementara. Kesadaran ini menjadi tameng utama dari ujub.

    2. Sandarkan Semua Keberhasilan kepada Allah

    Ketika menulis status motivasi, sertakan kesadaran bahwa inspirasi datang dari Allah, bukan semata kemampuan diri.

    3. Perbanyak Syukur dan Muhasabah

    Rasa syukur mengikis kebanggaan diri, sementara muhasabah menjaga hati tetap rendah dan sadar posisi sebagai hamba.

    4. Hindari Pamer Amal di Media Sosial

    Kebaikan tidak perlu selalu diumbar. Jika pun dibagikan, niatkan untuk menginspirasi, bukan untuk menonjolkan diri.

    Menutup Diri dari Racun Digital: Menyadari, Mengakui, dan Mengobati

    Media sosial memang telah menjadi “dunia kedua” manusia modern. Namun, di balik cahaya layar yang menyala, tersembunyi potensi gelap berupa kesombongan terselubung. Ujub bukan hanya dosa hati, tapi juga racun spiritual yang perlahan merusak hubungan kita dengan Allah dan sesama.

    Maka, mari jadikan setiap posting-an, komentar, atau karya digital sebagai ladang pahala yang bersih dari ujub dengan cara selalu mengingat bahwa semua kebaikan adalah milik-Nya semata.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Urgensi Menilik Gejala Ujub di Media Sosial: Bahaya, Penyebab, dan Cara Mengobatinya