Author: Dwi Widiyastuti

  • Rahasia Khusyuk di Era Serba Bising: Menghadirkan Allah di Tengah Ledakan Distraksi Digital

    Rahasia Khusyuk di Era Serba Bising: Menghadirkan Allah di Tengah Ledakan Distraksi Digital

    NUJATENG.COM – Hidup modern memaksa manusia bergerak cepat. Notifikasi berdering tanpa henti, pekerjaan menumpuk, media sosial menuntut perhatian, sementara pikiran terus meloncat dari satu hal ke hal lain. Di tengah gelombang distraksi ini, khusyuk menjadi istilah yang semakin asing even dalam ibadah paling sakral: shalat.

    Dalam kacamata tasawuf, khusyuk bukan sekadar fokus saat shalat, tetapi keadaan batin yang stabil, tunduk, dan sadar penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas. Seorang sufi tidak hanya khusyuk di atas sajadah, tetapi juga saat bekerja, berbicara, dan berinteraksi dengan dunia.

    Makna Khusyuk Menurut Tasawuf

    Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mu’minun 1–2 tentang keberuntungan bagi orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. Para sufi memahami ayat ini sebagai bentuk kesadaran mendalam, bukan sekadar kekhidmatan fisik.

    Khusyuk, bagi mereka, adalah ketenangan hati yang “menyaksikan” Allah dengan mata ruhani.

    Pandangan Imam Al-Ghazali: Hadir Penuh di Hadapan Allah

    Dalam Al-Adab fid Din, Imam Al-Ghazali menguraikan adab-adab shalat yang mengantarkan pada kekhusyukan. Ia menyebutkan sikap merendah, menghadirkan hati, menepis waswas, mengatur gerakan tubuh, merendahkan pandangan, serta menghayati bacaan sebagai unsur penting agar hati benar-benar hadir di hadapan Allah.

    Bagi Al-Ghazali, khusyuk bukan sekadar konsentrasi, melainkan rasa hina dan pasrah sepenuhnya di hadapan Sang Pencipta.

    Khusyuk di Tengah Kebisingan Modern

    Era digital menyuburkan kondisi yang disebut sufi sebagai tafarruq al-qalb hati yang tercerai-berai. Informasi yang berdesakan membuat hati sulit menetap pada satu pusat: Allah.

    Padahal khusyuk hanya tumbuh dari hati yang terkumpul dan fokus.

    Perjuangan Baru: Bukan Menolak Dunia, Tapi Mengendalikannya

    Dalam tasawuf modern, tantangan bukan lagi menjauhi dunia, tetapi mengelola dunia agar tidak mengambil alih ruang batin. Hati harus tetap hadir meski tubuh bergerak di tengah hiruk pikuk.

    Jalan Tasawuf Menuju Khusyuk

    1. Takhalli Melepaskan Ketergantungan Dunia

    Latihan pertama adalah melepaskan hati dari keterikatan berlebih pada harta, pujian, status, dan ketakutan. Dunia tidak ditinggalkan, tetapi tidak dijadikan pusat perhatian. Hati yang terikat sulit mencapai khusyuk.

    2. Tahalli Menghidupkan Dzikir dan Kesadaran

    Tahapan berikutnya adalah memperindah diri dengan dzikir. Dzikir adalah tali pengikat hati; ketika lidah berdzikir, hati diajak hadir, dan pikiran pun tertunduk mengikuti.

    3. Tajalli Menyaksikan Allah dalam Segala Hal

    Tahap tertinggi adalah ketika seorang hamba mampu melihat Allah dalam setiap peristiwa. Bekerja karena Allah, berbicara dengan kasih sayang Allah, diam dalam pengawasan-Nya. Pada momen ini, khusyuk bukan lagi upaya, melainkan pancaran cahaya Ilahi dari hati yang bersih.

    Latihan Praktis Menumbuhkan Khusyuk

    Dalam penelitian tentang konsep khusyuk, Imam Nawawi al-Bantani memberikan beberapa langkah sederhana namun mendalam:

    1. Mengenal Allah dan Sifat-sifat-Nya

    Semakin seseorang mengenal Allah, semakin tinggi kualitas budi pekerti dan stabilitas hatinya.

    2. Merenungi Nasihat Al-Qur’an

    Membaca Al-Qur’an dengan hati terbuka melahirkan ketenangan dan menghadirkan Allah dalam pikiran.

    3. Memohon Kekhusyukan kepada Allah

    Khusyuk adalah karunia; ia datang kepada hati yang memintanya.

    4. Meyakini Janji Allah bagi Orang yang Khusyuk

    Keyakinan ini menghadirkan kekuatan batin untuk terus berlatih.

    Khusyuk Adalah Kemewahan Batin

    Dalam tasawuf, dunia bukan halangan menuju Allah, tetapi jendela untuk melihat-Nya. Khusyuk tidak muncul dari pelarian, tetapi dari kemampuan menghadirkan Allah di tengah aktivitas duniawi.

    Di era yang serba cepat, orang yang mampu hening di hadapan Allah sejatinya telah menemukan kemewahan spiritual yang tak ternilai. Khusyuk adalah perjalanan panjang: dari dunia kepada Allah, lalu dari Allah kembali ke dunia dengan hati yang mantap.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Menggapai Khusyuk di Tengah Hidup yang Penuh Distraksi

  • Shalat Tanpa Sadar Memakai Pakaian Najis, Sah atau Harus Diulang? Ini Penjelasan Ulama!

    Shalat Tanpa Sadar Memakai Pakaian Najis, Sah atau Harus Diulang? Ini Penjelasan Ulama!

    NUJATENG.COM – Pertanyaan tentang shalat yang dilakukan tanpa mengetahui adanya najis pada pakaian atau tubuh merupakan persoalan fiqih yang sering muncul di masyarakat. Mengingat kesucian merupakan syarat utama sahnya shalat, masalah ini menjadi penting untuk dipahami berdasarkan penjelasan para ulama klasik.

    Dalam literatur fiqih, toharah atau kesucian dari najis di tubuh, pakaian, dan tempat shalat merupakan syarat wajib. Imam An-Nawawi dalam al-Majmu’ menegaskan bahwa kesucian ini berlaku untuk semua jenis shalat baik fardhu maupun sunnah termasuk shalat jenazah, sujud tilawah, dan sujud syukur.

    Pendapat Mayoritas Mazhab: Shalat Wajib Diulang

    Menurut mazhab Syafi’i yang dianut mayoritas muslim Indonesia shalat seseorang yang baru mengetahui adanya najis setelah selesai tetap dihukumi tidak sah dan wajib diulang. Imam Nawawi menjelaskan bahwa kewajiban menghilangkan najis tidak gugur hanya karena lupa atau tidak tahu. Prinsipnya, selama najis ada pada pakaian atau tubuh, syarat suci tidak terpenuhi.

    Dalil dari Mazhab Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali

    Imam Nawawi, Imam Abu Hanifah, dan salah satu riwayat Imam Ahmad menyepakati bahwa:

    • Jika seseorang shalat dengan najis tanpa sengaja atau tanpa sadar,
    • Lalu baru mengetahuinya setelah shalat,
    • Maka shalatnya tetap tidak sah dan harus diulang demi kehati-hatian dan kesempurnaan ibadah.

    Penjelasan serupa ditegaskan Imam Ramli dalam Nihayatul Muhtaj, yang secara tegas menyatakan bahwa shalat tetap batal meskipun ketidaktahuan tersebut tidak disengaja.

    Pendapat Ulama Lain: Shalatnya Tetap Sah

    Tidak semua ulama berpendapat shalatnya batal. Ibnu Mundzir mencatat bahwa sejumlah sahabat dan tabi’in, seperti Ibnu Umar, Atho’, Mujahid, Thawus, hingga al-Auza’i, berpendapat tidak wajib mengulang shalat.

    Alasannya: seseorang shalat berdasarkan pengetahuan dan keyakinan saat itu. Jika ia tidak mengetahui adanya najis, maka ia tidak dibebani untuk mencari sesuatu yang berada di luar kesanggupannya.

    Mazhab Maliki Menyebutkan Shalat Sah, Tapi Sunnah Diulang

    Ahmad Dardir dari mazhab Maliki menegaskan:

    • Jika seseorang shalat dengan najis karena lupa atau tidak tahu,
    • Maka shalatnya sah,
    • Namun sunnah (dianjurkan) untuk mengulang shalat jika masih dalam waktunya, sebagai bentuk penyempurnaan ibadah.

    Bahkan bagi orang yang tidak mampu menghilangkan najis misalnya tidak ada air atau tidak memiliki pakaian lain yang suci shalat dalam kondisi tersebut tetap sah dan tidak boleh ditunda sampai habis waktu.

    Mana Pendapat yang Sebaiknya Diikuti?

    Terdapat dua pendapat yang sama-sama memiliki dasar kuat:

    1. Wajib diulang pendapat Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali.
    2. Tidak wajib diulang pendapat sebagian sahabat, tabi’in, Ibnu Mundzir, dan mazhab Maliki.

    Masyarakat Indonesia yang umumnya mengikuti mazhab Syafi’i biasanya memilih pendapat pertama demi kehati-hatian. Namun, mengikuti pendapat yang membolehkan untuk tidak mengulang juga memiliki landasan fiqih yang kuat.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Shalat dengan Pakaian Najis Tanpa Disadari, Wajib Diulang?

  • Belajar Takut yang Menenangkan: Rahasia Para Sufi untuk Hidup Lebih Jernih di Tengah Dunia yang Melelahkan

    Belajar Takut yang Menenangkan: Rahasia Para Sufi untuk Hidup Lebih Jernih di Tengah Dunia yang Melelahkan

    NUJATENG.COM – Di tengah ritme hidup modern yang kian menekan, manusia hidup berdampingan dengan berbagai bentuk ketakutan. Takut gagal, takut kehilangan pekerjaan, takut tertinggal, bahkan takut terlihat tidak bahagia di media sosial. Ketakutan semacam ini menggerus mental dan membuat hidup terasa sesak. Namun para sufi menawarkan jenis takut yang berbeda khauf rasa takut yang justru menenangkan dan memulihkan makna hidup.

    Khauf Rasa Takut yang Menghidupkan, Bukan Melumpuhkan

    Berbeda dengan ketakutan duniawi yang membuat seseorang cemas dan kehilangan kendali, khauf menurut para sufi adalah kesadaran mendalam yang menjaga jiwa tetap jernih.

    Bukan Takut yang Pasif, Tapi Kesadaran yang Aktif

    Imam al-Qusyairi menjelaskan bahwa orang yang benar-benar memiliki khauf bukanlah yang sekadar menangis atau larut dalam perasaan bersalah. Rasa takut yang benar adalah meninggalkan perbuatan yang dapat merusak jiwa dan menjauhkan diri dari hal-hal yang mendatangkan konsekuensi moral.

    Dalam kehidupan modern, khauf dapat diterjemahkan sebagai takut kehilangan integritas, takut kehilangan arah hidup, atau takut kehilangan nilai yang membuat kita tetap manusiawi.

    Khauf dalam Dunia Kerja dan Kehidupan Urban

    Generasi muda hari ini hidup di tengah tuntutan produktivitas, target karier, dan ekspektasi sosial yang seolah tak ada akhir. Di sinilah khauf menemukan relevansinya.

    Takut Gagal atau Takut Kehilangan Jati Diri?

    Bagi para sufi, khauf bukan soal takut “tidak sukses”, tetapi takut kehilangan makna. Dalam dunia kerja, khauf menjadi etos tanggung jawab; seseorang bekerja bukan karena takut hukuman, tapi karena takut merusak integritasnya.

    Hal ini sejalan dengan perkataan Abu Hafsh al-Haddad bahwa khauf adalah pelita hati dengan rasa takut yang jernih, manusia mampu melihat apa yang baik dan buruk dalam dirinya.

    Keseimbangan Khauf dan Raja’: Kunci Hidup yang Tidak Hampa

    Para sufi menegaskan bahwa rasa takut saja tidak cukup. Khauf harus berjalan berdampingan dengan raja’ (harapan). Tanpa harapan, khauf berubah menjadi kecemasan gelap. Sebaliknya, harapan tanpa khauf membuat seseorang lalai dan merasa aman secara palsu.

    Sahl bin Abdullah at-Tustari menegaskan bahwa ketika khauf dan raja’ seimbang, hidup manusia akan berada pada titik stabilnya. Inilah keseimbangan yang dibutuhkan oleh manusia modern yang rentan overthinking.

    Menata Arah Hidup di Tengah Tekanan Modern

    Dalam perspektif psikologi kontemporer, keseimbangan antara harapan dan ketakutan menjadi pilar penting bagi kesehatan mental. Khauf mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan menata ulang tujuan hidup tanpa kehilangan semangat.

    Khauf Takut yang Membuat Berani Hidup Lebih Bermakna

    Pada akhirnya, khauf bukan tentang hidup dalam ketakutan, tetapi hidup dengan kesadaran moral. Rasa takut ini tidak membuat lari, tetapi mendorong seseorang untuk berani menatap hidup dengan hati yang tunduk, pikiran yang jernih, dan langkah yang lebih mantap.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Belajar Khauf dari Para Sufi, Supaya Tak Kehilangan Makna Hidup

  • Tawakal di Tengah Beratnya Ekonomi: Mindset Tenang yang Justru Bikin Hidup Lebih Produktif

    Tawakal di Tengah Beratnya Ekonomi: Mindset Tenang yang Justru Bikin Hidup Lebih Produktif

    NUJATENG.COM – Di tengah ekonomi yang makin penuh ketidakpastian, kata “tawakal” kembali sering terdengar. Namun sayangnya, konsep yang sangat fundamental dalam Islam ini kerap dipahami secara sempit: bekerja sebentar, sisanya “serahkan saja pada Tuhan”. Padahal, para ulama klasik dan modern justru menegaskan bahwa tawakal bukan akhir dari usaha melainkan mindset yang menyertai seluruh proses usaha sejak awal.

    Tawakal Bukan Pasrah, Tapi Pola Pikir yang Menyertai Usaha

    Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menganggap tawakal sebagai “ritual penutup” setelah bekerja keras. Padahal, Al-Qur’an telah menegaskan urutannya secara jelas: tekad dan ikhtiar terlebih dahulu, barulah tawakal.

    Dua Tahap: Azm dan Tawakal

    Ayat QS Ali ‘Imran [3]:159 mengajarkan bahwa ada dua fase yang tidak boleh dipisahkan:

    1. Azm (tekad) mencakup perencanaan matang, profesionalitas, dan usaha maksimal.
    2. Tawakal sikap hati yang stabil, lapang, dan tidak runtuh ketika hasil tidak sesuai rencana.

    Dalam konteks modern, azm berarti bekerja optimal, mengembangkan diri, dan merencanakan masa depan, sedangkan tawakal adalah kemampuan untuk tenang dan tidak terjebak overthinking terhadap hal-hal di luar kendali manusia.

    Tawakal Adalah Kerja Hati, Ikhtiar Adalah Kerja Anggota Badan

    Para ulama seperti Syekh Bilal Ahmad ar-Rifa’i menjelaskan bahwa tawakal adalah amalan hati, sementara usaha adalah amalan anggota badan. Artinya, keduanya bukan hal yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.

    Orang yang enggan berusaha namun berdalih “tawakal” disebut sebagai pemalas, sebagaimana ditegaskan Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi. Ia menyebut bahwa pura-pura tawakal itu tampak dari ketidakkonsistenan: malas bekerja, tapi tetap mencari makanan ketika lapar. Artinya, secara naluriah manusia tetap membutuhkan sebab-sebab (ikhtiar) dalam hidupnya.

    Menolak Usaha Sama Saja Menolak Karunia Allah

    Syekh asy-Sya’rawi bahkan menegaskan bahwa Allah sendiri telah menyediakan “sebab-sebab” bagi manusia. Menolak berusaha berarti menolak pemberian Allah, lalu menyuruh-Nya “mengurus semuanya”.

    Makna Tawakal dalam Dunia Modern dan Urban

    Menariknya, generasi muda dan pekerja urban sebenarnya sudah menerapkan semangat tawakal meski tak menyebutnya secara eksplisit.

    Contohnya:

    • Karyawan yang tetap profesional meski kantor penuh ketidakpastian.
    • Pencari nafkah yang tetap bekerja sambil menjaga kesehatan mental.
    • Praktik work-life balance yang kini populer bekerja maksimal tanpa membawa pulang kecemasan berlebih.

    Semua ini adalah manifestasi tawakal modern: berusaha sekuat tenaga, lalu menenangkan hati terhadap hasil yang berada di luar kendali.

    Tawakal Bukan Sekadar Konsep Spiritual, Tapi Strategi Hidup

    Pada akhirnya, tawakal adalah strategi mental yang membuat seseorang tetap tangguh, fokus, dan stabil. Ia bukan alasan untuk berhenti berjuang, melainkan energi yang membuat seseorang terus berusaha sambil tetap tenang menghadapi ketidakpastian.

    Di era ekonomi sulit seperti sekarang, justru inilah seni tertinggi dari tawakal: mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan, dan menyerahkan sisanya kepada Allah tanpa kehilangan semangat berjuang.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Tawakal In This Economy: Seni Menyerahkan Hasil Tanpa Berhenti Berjuang

  • Merdeka dari Validasi Manusia: Rahasia Hurriyah dalam Tasawuf yang Sering Dilupakan

    Merdeka dari Validasi Manusia: Rahasia Hurriyah dalam Tasawuf yang Sering Dilupakan

    NUJATENG.COM – Di tengah budaya sosial yang penuh penilaian, banyak orang hidup bukan untuk kebenaran, tetapi untuk memuaskan pandangan manusia. Semangat berbuat baik naik turun tergantung pada pujian, komentar, atau penghargaan yang diterima. Padahal, menurut ajaran tasawuf, kondisi ini menunjukkan seseorang belum benar-benar merdeka secara spiritual.

    Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah menasihati putranya, Hasan:

    “Jangan menjadi hamba bagi orang lain. Allah telah menjadikanmu merdeka.”

    Pesan singkat ini menyiratkan makna mendalam: kebebasan sejati bukan sekadar bebas bergerak, melainkan bebas dari kebutuhan untuk diakui oleh manusia.

    Ukuran Kebenaran Bukan pada Pujian Manusia

    Dalam Islam, kebenaran tidak ditentukan oleh komentar publik, melainkan oleh ridha Allah SWT. Oleh sebab itu, seseorang tidak boleh menunda kebaikan hanya karena tidak diapresiasi.

    Rasulullah SAW mengingatkan:

    “Barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan membuat Allah murka, maka ia diserahkan kepada manusia.”

    Menurut penjelasan ulama, orang seperti ini justru akan makin tersakiti oleh manusia, karena ia menggantungkan kebahagiaannya pada makhluk yang sifatnya berubah-ubah.

    Bahaya Psikologis Bergantung pada Validasi

    Tidak semua yang merasa berjasa akan dikenang, dan tidak semua kebaikan mendapat balasan serupa. Mereka yang berbuat demi dilihat manusia akan mengalami kekecewaan berulang, sebab manusia memiliki sifat lupa, berubah-ubah, dan kadang menzalimi.

    Sebaliknya, Allah SWT tidak menyia-nyiakan sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas.

    Keikhlasan dalam Tasawuf: Berbuat Baik Meski Tak Dipuji

    Syekh Wahbah Az-Zuhaili menegaskan pentingnya berkata dan berbuat benar tanpa takut celaan manusia. Inilah bentuk hurriyah, kebebasan spiritual yang membuat seseorang tetap teguh dalam kebaikan, meski dicela, direndahkan, atau diabaikan.

    Tidak Menjadi “Ikut-Ikutan”

    Rasulullah SAW melarang umatnya menjadi im’ah orang yang baik hanya ketika diperlakukan baik, dan zalim ketika dizalimi. Kebaikan sejati dilakukan tanpa menunggu perlakuan orang lain.

    Relevansi Hurriyah di Era Media Sosial

    Dalam kehidupan modern, terutama di media sosial, ukuran kebaikan sering bergeser menjadi angka: likes, shares, dan views. Banyak yang gelisah saat tidak mendapat perhatian, atau merasa tinggi saat mendapat pujian. Padahal ini hanyalah jebakan batin yang menjauhkan manusia dari keikhlasan.

    Dengan membebaskan diri dari ketergantungan pada komentar manusia, seseorang akan hidup lebih tenang. Ia tidak lagi lelah mencoba memuaskan semua orang karena hal itu mustahil sebagaimana dinasihatkan Imam Syafi’i: perbaikilah hubungan dengan Allah, dan jangan pedulikan penilaian manusia.

    Menuju Kemerdekaan Spiritual

    Hurriyah mengajarkan bahwa hidup bukan tentang bagaimana manusia memperlakukan kita, tetapi bagaimana kita memperlakukan mereka dan bagaimana kita berhubungan dengan Allah. Ketika orientasi hidup diarahkan kepada Sang Pencipta, setiap amal kecil menjadi bernilai ibadah.

    Hidup Lebih Tenang dengan Ikhlas

    Seseorang yang merdeka dari validasi manusia tidak mudah terguncang oleh celaan, dan tidak terbang oleh pujian. Ia berbuat baik karena Allah, bukan karena ingin terlihat baik.

    Konsep hurriyah dalam tasawuf adalah jalan menuju kemerdekaan batin. Berbuat baik karena Allah akan menghadirkan ketenteraman, sementara hidup demi validasi manusia hanya membawa kekecewaan. Islam menuntun umatnya menjadi pribadi yang bebas secara spiritual, teguh dalam kebaikan, dan tidak terikat oleh pandangan manusia.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Hurriyah dalam Tasawuf: Jalan Menuju Kemerdekaan dari Validasi Manusia

  • Makam Tumpang Jadi Polemik: Bolehkah Menumpuk Jenazah Baru di Atas Makam Lama Menurut Islam?

    Makam Tumpang Jadi Polemik: Bolehkah Menumpuk Jenazah Baru di Atas Makam Lama Menurut Islam?

    NUJATENG.COM – Praktik pemakaman tumpang yakni menempatkan jenazah baru pada liang yang sudah pernah berisi jenazah lama kian ramai diperbincangkan di kota-kota padat seperti Jakarta. Keterbatasan lahan, pertumbuhan penduduk, dan kebutuhan ruang pemakaman membuat sebagian Tempat Pemakaman Umum (TPU) mulai menerapkan sistem penumpukan jenazah.

    Namun muncul pertanyaan besar: Apa pandangan Islam mengenai makam tumpang ini? Apakah hal tersebut diperbolehkan, atau justru bertentangan dengan tuntunan syariat?

    Hukum Dasar Pemakaman dalam Islam

    Dalam kondisi normal, syariat Islam menganjurkan agar setiap jenazah dimakamkan di satu liang tersendiri. Ini merupakan bagian dari mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

    Para ulama menyebutkan bahwa menggabungkan dua jenazah dalam satu liang tanpa kebutuhan mendesak hukumnya makruh bahkan dianggap terlarang oleh sebagian ulama, seperti dikemukakan al-Sarkhasy dan dikutip Imam an-Nawawi.

    Bagaimana Jika Ada Kondisi Darurat?

    Dalam Muktamar NU 2010 di Makassar, para ulama membahas persoalan serupa karena adanya ledakan populasi dan semakin sempitnya tanah pemakaman. Dari sinilah muncul kajian mengenai kondisi darurat yang membolehkan penggabungan jenazah dalam satu liang.

    Keputusan Muktamar NU 2010

    Dalam forum tersebut, ulama memberikan rincian (tafsil) mengenai keadaan yang membolehkan makam tumpang:

    1. Jika Jenazah Baru dan Lama Sama-Sama Muslim

    → Hukumnya diperbolehkan, selama jenazah lama sudah hancur.

    2. Jika Jenazah Lama Non-Muslim, yang Baru Muslim

    → Juga diperbolehkan, karena memuliakan yang Muslim.

    3. Jika Jenazah Lama Muslim, yang Baru Non-Muslim

    → Tidak diperbolehkan, kecuali kondisi darurat yang sangat memaksa.

    4. Jika Tulang-Belulang Jenazah Lama Masih Ada

    → Tidak boleh, kecuali penggalian sudah mencapai kedalaman layak untuk pemakaman baru.

    Batasan yang Harus Diperhatikan

    Forum ulama juga menentukan bahwa yang dimaksud berkumpul adalah dua jenazah atau lebih dalam satu liang tanpa pemisah seperti dinding atau papan. Artinya, jika ada pemisah yang layak, hukum bisa berbeda.

    Pandangan Fikih dari Kitab Klasik

    Sebagian ulama seperti al-Mawardi memakruhkan pemakaman dua jenazah dalam satu liang, sedangkan al-Sarkhasy mengharamkannya. Namun para ulama fikih sepakat bahwa kondisi darurat seperti banyaknya korban perang atau bencana dapat membolehkan penggabungan jenazah.

    Rasulullah SAW sendiri pernah memakamkan beberapa syuhada Uhud dalam satu liang kubur karena jumlah mereka sangat banyak.

    Boleh, Tapi Bukan Pilihan Ideal

    Secara garis besar, Islam mengajarkan bahwa:

    • Pemakaman satu liang satu jenazah adalah yang paling utama.
    • Pemakaman tumpang tidak sesuai sunnah, dan tidak dilakukan kecuali keadaan mendesak.
    • Kondisi darurat bisa membolehkan, terutama ketika lahan sangat terbatas atau populasi sangat padat.
    • Jenis jenazah (muslim/non-muslim) menjadi faktor penting dalam penentuan boleh atau tidaknya.

    Dengan kata lain, praktik makam tumpang dapat diterima selama memenuhi syarat syariat dan benar-benar dalam kondisi kebutuhan mendesak.

    Demikian ulasan mengenai hukum pemakaman tumpang dalam Islam. Semoga penjelasan ini membantu masyarakat memahami dasar-dasar fikih jenazah di tengah keterbatasan lahan pemakaman di kota besar.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Hukum Makam Tumpang atau Menumpuk Jenazah Baru di Atas Makam Lama

  • Benarkah Uang Suami Milik Istri, dan Uang Istri Milik Sendiri? Ini Penjelasan Lengkap Fiqih dan Budaya Nusantara!

    Benarkah Uang Suami Milik Istri, dan Uang Istri Milik Sendiri? Ini Penjelasan Lengkap Fiqih dan Budaya Nusantara!

    NUJATENG.COM – Ungkapan populer “uang suami milik istri, uang istri milik sendiri” sudah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Nusantara. Pepatah ini menggambarkan pengelolaan keuangan rumah tangga di mana istri memegang peran dominan, sedangkan suami dipandang sebagai pemasok utama nafkah.

    Namun, apakah ungkapan tersebut benar menurut fiqih Islam? Ataukah ia sekadar praktik sosial yang berkembang dalam masyarakat? Untuk memahami hal ini, perlu dilihat dari dua perspektif: budaya Nusantara dan hukum Islam.

    Budaya Pernikahan di Nusantara: Gotong Royong Jadi Fondasi

    Berbeda dari wilayah-wilayah yang menerapkan tradisi Islam klasik, masyarakat Muslim Nusantara menjunjung tinggi pernikahan yang egaliter dan monogami. Nilai seperti “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” menjadi landasan utama kehidupan rumah tangga.

    Di banyak daerah, terlambatnya nafkah atau kondisi ekonomi suami di awal pernikahan sering dianggap wajar. Bahkan tidak sedikit istri yang bersedia membantu ekonomi keluarga dan merelakan mahar untuk kebutuhan rumah tangga. Ini merupakan bukti kuatnya budaya gotong royong.

    Munculnya Ungkapan “Uang Suami Adalah Uang Istri”

    Dalam praktik sosial, banyak keluarga menerapkan sistem di mana:

    • Seluruh gaji suami dikelola oleh istri
    • Suami hanya menerima uang jajan seperlunya
    • Istri dianggap lebih efisien mengatur keuangan

    Sistem ini sebenarnya bukan aturan agama, melainkan strategi mengelola keuangan agar tidak boros dan tetap terarah.

    Perspektif Fiqih: Hak Kepemilikan Tidak Berubah Karena Pernikahan

    Meskipun praktik sosial demikian populer, fiqih Islam memiliki batas-batas yang jelas soal kepemilikan harta.

    Harta Istri Adalah Milik Istri

    Para ulama menegaskan bahwa pendapatan istri adalah hak penuh istri, selama ia bekerja dengan izin suami. Hal ini ditegaskan dalam Fatawa al-Bazzaziyah:

    “Jika istri bekerja sendiri, maka hasil kerjanya sepenuhnya menjadi miliknya.”

    Mahar pun merupakan hak pribadi istri, sebagaimana perintah Allah dalam QS. An-Nisa ayat 4.

    Suami Wajib Menafkahi, Tetapi Hartanya Tidak Otomatis Menjadi Milik Istri

    Dalam QS. An-Nisa ayat 34 ditegaskan bahwa suami memiliki kewajiban untuk menafkahi istrinya, namun nafkah tidak sama dengan penyerahan seluruh harta.

    Al-Baghawi menjelaskan:

    “Wajib bagi suami menafkahi istrinya, baik kaya maupun miskin. Istri tidak berkewajiban menafkahi suami.”

    Artinya, hak istri dari harta suami hanyalah nafkah, bukan seluruh pendapatan atau asetnya.

    Mengapa Banyak Keluarga Nusantara Mempercayakan Keuangan pada Istri?

    Istri dinilai lebih teliti, lebih sabar, dan lebih disiplin mengatur kebutuhan rumah tangga.

    Mencegah Penggunaan Harta yang Tidak Maslahat

    Ketakutan bahwa suami membelanjakan uang untuk hal yang tidak penting membuat sistem transparansi menjadi budaya.

    Namun Kadang Menimbulkan Ketimpangan

    Beberapa suami merasa tidak memiliki ruang pribadi dalam urusan finansial hingga diam-diam mencari pemasukan tambahan.

    Batasan Pengelolaan: Imam al-Ghazali Menegaskan Adab Berumah Tangga

    Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan:

    “Istri tidak boleh berlebihan menggunakan harta suami tanpa izin. Ia wajib menjaga harta suaminya.”

    Ini artinya, istri bukan pemilik harta suami, melainkan pengelola yang memiliki amanah.

    Harta dalam Pernikahan Modern: Perlu Kejelasan, Tidak Cukup Sekadar Adagium

    Perjanjian Pisah Harta

    Di Indonesia, pasangan dapat membuat perjanjian pisah harta berdasarkan:

    • UU No. 1 Tahun 1974 Pasal 29
    • Kompilasi Hukum Islam Pasal 45–52

    Perjanjian ini melindungi kedua pihak apabila terjadi perselisihan atau perceraian.

    Menghindari Salah Tafsir atas Pepatah Populer

    Masalah muncul ketika ungkapan tadi dianggap sebagai aturan agama. Padahal:

    • Suami tetap pemilik hartanya
    • Istri pemilik hasil kerjanya
    • Nafkah adalah kewajiban, bukan pengalihan kepemilikan

    Tempatkan Adagium pada Porsi yang Benar

    Ungkapan “uang suami milik istri, uang istri milik sendiri” adalah refleksi budaya gotong royong masyarakat Nusantara, bukan aturan syariat.

    Islam mengajarkan:

    • Suami wajib menafkahi
    • Istri berhak atas hartanya
    • Keduanya wajib menjaga hak masing-masing
    • Pengelolaan keuangan harus berdasar kesepakatan, bukan pemaksaan

    Dengan pemahaman proporsional, rumah tangga akan berjalan adil, harmonis, dan tetap selaras dengan nilai budaya maupun fiqih Islam.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Benarkah Uang Suami Milik Istri, dan Uang Istri Milik Sendiri?

  • Benarkah Jin Dasim Jadi Biang Perceraian Suami Istri? Ini Penjelasan Ulama dan Hadis Nabi

    Benarkah Jin Dasim Jadi Biang Perceraian Suami Istri? Ini Penjelasan Ulama dan Hadis Nabi

    NUJATENG.COM – Belakangan ini, isu perceraian ramai menghiasi media sosial. Tak sedikit warganet yang beranggapan bahwa penyebab retaknya rumah tangga bukan sekadar masalah komunikasi atau ekonomi, melainkan karena pengaruh jin bernama Dasim, makhluk gaib yang disebut-sebut mampu menebar kebencian di antara pasangan suami istri.

    Namun, benarkah jin Dasim ini benar-benar ada dan menjadi penyebab utama pertikaian rumah tangga? Mari kita telusuri pandangan Islam dan literatur klasik mengenai hal ini.

    Siapa Jin Dasim dalam Literatur Islam?

    Dalam beberapa kitab klasik, Dasim disebut sebagai salah satu anak Iblis yang memiliki tugas khusus: menggoyahkan keharmonisan rumah tangga manusia. Jin ini disebut masuk ke dalam rumah, menanamkan rasa curiga, memperbesar kesalahan kecil, dan menumbuhkan amarah antara suami dan istri.

    Imam Al-Munawi menjelaskan dalam Faidhul Qadir:

    “Adapun jin bernama Dasim, tugasnya adalah ikut masuk bersama pria ke keluarganya. Ia menjadikan pria itu memandang aib keluarganya dan membencinya.”
    (Faidhul Qadir, Jilid II, hal. 503)

    Dari penjelasan ini, terlihat bahwa peran Dasim bukan sekadar memunculkan emosi sesaat, tetapi memengaruhi persepsi seseorang terhadap pasangannya. Hal-hal kecil yang dulunya dianggap biasa bisa tiba-tiba terasa menyakitkan, hingga menimbulkan pertengkaran tanpa sebab jelas.

    Dasim dan Misi Iblis Merusak Rumah Tangga

    Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Iblis menempatkan singgasananya di atas air dan mengutus pasukannya untuk menyesatkan manusia. Di antara mereka, yang paling dekat dengan Iblis adalah setan yang berhasil memisahkan suami dan istri.

    “Sesungguhnya Iblis menempatkan singgasananya di atas air, lalu mengutus pasukannya. Yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Salah satunya berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya hingga berhasil menceraikannya dari istrinya.’ Maka Iblis memujinya dan berkata, ‘Engkaulah sebaik-baik setan.’”
    (HR. Muslim)

    Hadis ini tidak menyebut nama “Dasim” secara spesifik, namun menegaskan bahwa Iblis memang berupaya menghancurkan rumah tangga manusia, dan upaya itu dianggap sebagai pencapaian besar di kalangan setan.

    Penjelasan Ulama Tentang Dasim dan Rumah Tangga

    Sayyidina Umar bin Khattab ra, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, juga pernah menyinggung tentang jin bernama Dasim:

    “Adapun Dasim, dia adalah jin penghuni rumah. Jika seseorang masuk ke rumahnya tanpa membaca basmalah dan tidak berzikir kepada Allah, maka Dasim akan menimbulkan pertengkaran di antara penghuni rumah itu, hingga berujung pada kekerasan dan perceraian.”
    (Ibnu Hajar al-Asqalani, Nashaihul ‘Ibad fi Bayani Alfadzi Munabbihatin alal Isti’dadi Liyaumil Ma’ad, hal. 127-128)

    Dari keterangan ini, Dasim digambarkan sebagai jin yang memanfaatkan kelalaian manusia dari zikir dan doa. Ketika seseorang lupa mengingat Allah saat masuk rumah, Dasim mendapat celah untuk menyebarkan rasa curiga dan kebencian di dalam keluarga.

    Apakah Semua Perceraian Karena Jin Dasim?

    Penting dipahami bahwa tidak semua keretakan rumah tangga disebabkan oleh pengaruh jin. Islam mengajarkan keseimbangan antara keimanan dan ikhtiar rasional. Artinya, gangguan spiritual memang mungkin terjadi, namun faktor manusiawi tetap memiliki peran besar.

    Faktor Internal dan Eksternal Rumah Tangga

    1. Faktor internal: kurangnya komunikasi, tidak adanya saling pengertian, emosi yang tidak terkendali, serta kehilangan rasa hormat dan kasih.
    2. Faktor eksternal: tekanan ekonomi, intervensi pihak ketiga, hingga pengaruh lingkungan sosial yang negatif.

    Jadi, tidak semua konflik bisa disandarkan pada makhluk halus. Dalam Islam, manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan yang diambilnya.

    Cara Menghindari Gangguan Jin Dasim dan Keretakan Rumah Tangga

    1. Membaca Basmalah dan Dzikir Saat Masuk Rumah

    Sebagaimana disebutkan dalam literatur klasik, mengingat Allah saat memasuki rumah dapat menjadi benteng dari gangguan jin seperti Dasim. Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang masuk rumah dan menyebut nama Allah, maka setan berkata: ‘Tidak ada tempat tinggal bagi kami di sini.’”

    2. Menjaga Komunikasi dan Kasih Sayang

    Komunikasi yang jujur dan saling memahami akan mempersempit ruang bagi setan untuk menebar prasangka. Pasangan yang sering berdialog terbuka cenderung lebih kuat menghadapi godaan pertengkaran.

    3. Bersyukur dan Saling Memaafkan

    Rumah tangga yang dipenuhi rasa syukur dan kasih sayang sulit ditembus oleh bisikan kebencian. Sikap memaafkan dapat memadamkan bara pertikaian sebelum membesar menjadi perceraian.

    Jangan Salahkan Jin, Introspeksi Diri Juga Penting

    Sosok jin Dasim memang disebut dalam sejumlah literatur keislaman sebagai makhluk yang menggoda pasangan agar bertengkar dan bercerai. Namun, Islam mengajarkan keseimbangan antara iman, akal, dan tanggung jawab pribadi.

    Gangguan spiritual bisa jadi ada, tetapi ikhtiar menjaga komunikasi, zikir, dan kasih sayang adalah perisai terbaik agar rumah tangga tetap harmonis. Jadi, sebelum menyalahkan Dasim, mungkin ada baiknya kita bercermin apakah kita sudah cukup menjaga hati, lisan, dan cinta dalam rumah tangga?***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Iblis Dasim Pemicu Penceraian Suami-Istri, Memangnya Ada?

  • Hati Tak Tenang dan Hidup Penuh Iri? Waspadai Penyakit Hasad yang Diam-diam Merusak Jiwa

    Hati Tak Tenang dan Hidup Penuh Iri? Waspadai Penyakit Hasad yang Diam-diam Merusak Jiwa

    NUJATENG.COM – Bayangkan seseorang yang selalu gelisah saat melihat rekannya dipuji atasan, berharap orang lain gagal hanya karena merasa tak senang melihat keberhasilan mereka. Inilah potret nyata penyakit hasad, sebuah penyakit hati yang tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menumpulkan nurani dan menghapus rasa syukur.

    Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan:

    “Hasad ialah dorongan iri dengan menginginkan hilangnya kenikmatan pada diri orang lain, merasa susah saat orang lain mendapatkan nikmat dan bahagia ketika ia tertimpa musibah. Ini merupakan sifat orang-orang munafik.”
    (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, juz 5 hal. 646)

    Hasad dalam Pandangan Al-Qur’an dan Sejarah

    1. Hasad Dikecam dalam Al-Qur’an

    Allah Swt berfirman dalam surat An-Nisa ayat 54:

    “Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah menganugerahkan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan kerajaan yang besar kepada mereka.”

    Ayat ini menegaskan bahwa sifat hasad menandakan ketidakridhaan terhadap keputusan Allah Swt atas rezeki dan nikmat yang Ia berikan kepada makhluk-Nya.

    2. Dosa Pertama yang Lahir dari Hasad

    Para ulama salaf menyebut, dosa pertama dalam sejarah adalah hasad, yaitu hasadnya Iblis terhadap Nabi Adam as. Iblis enggan sujud menghormati Adam karena iri atas derajat yang Allah berikan kepadanya. Dari sinilah lahir kesombongan dan pembangkangan.

    Tak hanya itu, kisah Qabil dan Habil, dua putra Nabi Adam, juga menjadi bukti nyata bahwa hasad dapat menjerumuskan manusia hingga ke perbuatan keji seperti pembunuhan.

    Cara Mengatasi Penyakit Hasad Menurut Islam dan Psikologi

    1. Menyadari Bahwa Semua Nikmat dari Allah

    Langkah pertama untuk sembuh dari hasad adalah menyadari bahwa setiap nikmat datang dari Allah. Tidak ada yang dapat memperolehnya tanpa kehendak-Nya. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati dan mencegah kita merasa iri terhadap takdir orang lain.

    2. Mensyukuri Nikmat yang Dimiliki

    Setelah menyadari sumber nikmat, langkah berikutnya adalah bersyukur. Rasa syukur menjauhkan hati dari iri dan membuat seseorang lebih fokus pada potensi serta perjalanan hidupnya sendiri.

    Dalam dunia kerja, konsep ini dikenal sebagai job involvement keterlibatan psikologis seseorang terhadap pekerjaannya. Menurut Dr. Umi Anugerah Izzati dalam buku Psikologi Industri dan Organisasi (2019), seseorang dengan tingkat keterlibatan tinggi akan merasa pekerjaannya bermakna dan menjadi bagian dari harga dirinya.

    3. Mengetahui Bahaya Hasad

    Orang yang hasad sebenarnya sedang menyakiti dirinya sendiri. Ia tidak hanya kehilangan ketenangan batin, tapi juga menentang takdir Allah. Dalam aspek duniawi, hasad menyebabkan penderitaan psikologis; sedangkan dalam aspek agama, ia bisa menjadi tanda ketidaksyukuran terhadap karunia Ilahi.

    Imam Al-Ghazali menegaskan, “Hasad tidak memberi dampak kepada orang yang dihasadi, melainkan kepada pelakunya sendiri.”

    4. Menyadari Bahwa Hasad Tak Mengubah Takdir Orang Lain

    Iri hati tidak akan mengurangi nikmat orang lain sedikit pun. Hasad hanyalah racun batin yang menumpuk di hati pelakunya. Dengan menyadari hal ini, seseorang akan lebih mudah menahan diri dan membersihkan hati dari perasaan iri.

    Hasad yang Diperbolehkan: Sebagai Motivasi, Bukan Kebencian

    Rasulullah Saw bersabda:

    “Tidak diperkenankan hasad kecuali kepada dua orang: seseorang yang Allah beri harta lalu ia gunakan di jalan kebenaran, dan seseorang yang Allah beri ilmu lalu ia amalkan dan ajarkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hasad seperti ini bukanlah dosa, melainkan ghibthah perasaan ingin seperti orang lain dalam kebaikan, tanpa berharap kenikmatan mereka hilang.

    Jadikan Hasad sebagai Cermin untuk Berbenah Diri

    Hasad adalah penyakit hati yang halus namun mematikan. Ia membuat seseorang buta terhadap nikmat sendiri dan sibuk menatap rezeki orang lain. Namun, jika diarahkan dengan benar, rasa kagum terhadap kelebihan orang lain bisa menjadi motivasi untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

    Dengan menyadari, bersyukur, dan mengingat bahaya hasad, hati akan kembali tenang, dan hidup pun menjadi lebih lapang.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Mengenal Penyakit Hasad dan Cara Mengatasinya

  • Berhati-Hatilah! Riya’ Bisa Menyusup di Balik Amal Salehmu Tanpa Disadari

    Berhati-Hatilah! Riya’ Bisa Menyusup di Balik Amal Salehmu Tanpa Disadari

    NUJATENG.COM – Banyak orang berbuat baik dengan niat yang tampak tulus. Namun tanpa disadari, sebagian amal itu bisa berubah menjadi sia-sia karena penyakit halus bernama riya’. Riya’ bukan hanya soal ingin dipuji atau dipandang suci, tetapi berakar dari cara seseorang memandang kebaikan.

    Ketika seseorang melihat dirinya sebagai pelaku utama amal, bukan Allah sebagai Penggerak Segala Sesuatu, maka di situlah riya’ mulai tumbuh. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum ad-Din menegaskan:

    “Akar riya’ adalah kecintaan terhadap pujian, kebencian terhadap celaan, dan keinginan agar manusia menerima serta menghormatinya.”

    Riya’ adalah penyakit hati yang merusak niat. Ia membuat amal yang tampak besar menjadi kosong dari nilai keikhlasan.

    Makna Riya’ Menurut Para Ulama

    Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ra’a – yura’i – mura’atan, yang berarti “memperlihatkan sesuatu agar dilihat orang lain.”
    Secara istilah, para ulama mendefinisikan riya’ sebagai ibadah yang dilakukan untuk mendapatkan perhatian manusia.

    Imam an-Nawawi al-Bantani menulis dalam Nasa’ih al-‘Ibad:

    “Riya’ adalah upaya mencari tempat di hati manusia melalui ibadah.”

    Al-Qur’an memberi peringatan keras terhadap perbuatan ini dalam surah Al-Ma’un ayat 4–6:

    “Celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya, dan mereka yang berbuat riya’.”

    Rasulullah SAW bahkan menyebut riya’ sebagai syirik kecil, sebagaimana sabdanya:

    “Yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.”
    Para sahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”
    Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad)

    Riya’ di Zaman Digital: Amal yang Tergelincir di Media Sosial

    Fenomena riya’ kini tidak hanya terjadi di masjid atau majelis ilmu. Di era media sosial, penyakit ini hadir dalam bentuk baru: pencitraan digital. Amal baik seperti sedekah, kegiatan sosial, dan ibadah sering kali diunggah ke dunia maya bukan untuk menginspirasi, melainkan untuk mencari validasi.

    Inilah tantangan spiritual zaman modern di mana pujian, like, dan followers menjadi ukuran kebaikan.
    Padahal, amal yang sejati adalah yang tidak membutuhkan pengakuan, selain dari Allah semata.

    Mengubah Cara Pandang: Kunci Menghindari Riya’

    Dalam khazanah tasawuf, para ulama mengenalkan konsep wijhatun nadhar cara pandang terhadap amal.
    Jika pandangan kita terfokus pada manusia, maka amal itu rapuh. Namun, jika pandangan kita tertuju pada Allah, amal menjadi kuat, stabil, dan penuh ketenangan.

    Imam al-Ghazali menulis dalam Minhaj al-‘Abidin:

    “Kebanyakan manusia dalam amalnya tidak menginginkan Allah, dan itu merupakan kelalaian dari tujuan sejati amal.”

    Artinya, yang perlu dibenahi bukan hanya niat di awal, tetapi juga cara pandang terhadap siapa pusat kebaikan itu sendiri.

    Jangan Berhenti Berbuat Baik, Tapi Perbaiki Niat

    Banyak orang khawatir amalnya tidak ikhlas, lalu berhenti berbuat baik. Padahal, Allah memerintahkan kita untuk terus beramal sambil memperbaiki niat.

    Allah berfirman:

    “Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan Rasul, dan jangan batalkan amal-amalmu.”
    (QS. Muhammad [47]: 33)

    Perjuangan melawan riya’ adalah proses yang berjalan seiring dengan amal itu sendiri. Selama hati terus berusaha ikhlas, Allah menilai ketulusan di baliknya.

    Rahasia Para Sufi: Menghapus Riya’ dengan Kesadaran Ilahi

    Ibn Atha’illah as-Sakandari dalam al-Hikam menulis:

    “Amal sederhana yang dijaga oleh niat tulus lebih utama daripada amal besar yang minim kesadaran akan pengawasan Allah.”

    Sementara Ibnu Ajibah menambahkan dalam Syarh al-Hikam:

    “Orang yang ikhlas adalah yang beramal karena Allah, tidak melihat dirinya dalam amal, dan tidak melihat amal itu bersumber dari dirinya.”

    Artinya, seseorang bisa menghindari riya’ dengan mengembalikan seluruh amal kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri. Contohnya, saat seseorang menyumbang untuk pembangunan masjid, hendaknya ia tidak merasa masjid itu berdiri karena jasanya, melainkan karena Allah yang menakdirkannya menjadi perantara kebaikan.

    Allah: Pusat dari Segala Kebaikan

    Syekh Ibn Atha’illah dalam At-Tanwir fi Isqat at-Tadbir menulis:

    “Apabila Allah hendak menampakkan karunia-Nya kepadamu, Dia ciptakan amal kebaikan dan menisbahkannya kepadamu.”

    Sedangkan Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Risalatul Mu’awanah menegaskan:

    “Apabila seorang hamba sadar bahwa Allah-lah pelaku dalam setiap sesuatu, maka hilanglah darinya rasa kagum terhadap diri sendiri dan riya’.”

    Inilah kesadaran tertinggi dalam amal: melihat Allah sebagai Pelaku Sejati. Dengan cara pandang ini, setiap amal terasa ringan dan bebas dari keinginan dipuji. Seseorang tidak lagi berbuat karena ingin dikenal, tetapi karena ingin menjalankan amanah yang Allah titipkan.

    Ubah Pusat Pandang, Temukan Ketulusan

    Menghindari riya’ bukan berarti berhenti beramal, tetapi mengubah cara memandang amal itu sendiri. Jangan lihat kebaikan sebagai prestasi pribadi, tetapi sebagai amanah dan takdir yang Allah percayakan. Ketika hati melihat Allah sebagai pusat dari segala perbuatan, maka setiap amal sekecil apa pun akan menjadi ibadah yang penuh makna.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Mengubah Cara Pandang terhadap Kebaikan, Kunci Menghindari Riya’