Tawakal di Tengah Beratnya Ekonomi: Mindset Tenang yang Justru Bikin Hidup Lebih Produktif
NUJATENG.COM – Di tengah ekonomi yang makin penuh ketidakpastian, kata “tawakal” kembali sering terdengar. Namun sayangnya, konsep yang sangat fundamental dalam Islam ini kerap dipahami secara sempit: bekerja sebentar, sisanya “serahkan saja pada Tuhan”. Padahal, para ulama klasik dan modern justru menegaskan bahwa tawakal bukan akhir dari usaha melainkan mindset yang menyertai seluruh proses usaha sejak awal.
Tawakal Bukan Pasrah, Tapi Pola Pikir yang Menyertai Usaha
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menganggap tawakal sebagai “ritual penutup” setelah bekerja keras. Padahal, Al-Qur’an telah menegaskan urutannya secara jelas: tekad dan ikhtiar terlebih dahulu, barulah tawakal.
Dua Tahap: Azm dan Tawakal
Ayat QS Ali ‘Imran [3]:159 mengajarkan bahwa ada dua fase yang tidak boleh dipisahkan:
- Azm (tekad) mencakup perencanaan matang, profesionalitas, dan usaha maksimal.
- Tawakal sikap hati yang stabil, lapang, dan tidak runtuh ketika hasil tidak sesuai rencana.
Dalam konteks modern, azm berarti bekerja optimal, mengembangkan diri, dan merencanakan masa depan, sedangkan tawakal adalah kemampuan untuk tenang dan tidak terjebak overthinking terhadap hal-hal di luar kendali manusia.
Tawakal Adalah Kerja Hati, Ikhtiar Adalah Kerja Anggota Badan
Para ulama seperti Syekh Bilal Ahmad ar-Rifa’i menjelaskan bahwa tawakal adalah amalan hati, sementara usaha adalah amalan anggota badan. Artinya, keduanya bukan hal yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.
Orang yang enggan berusaha namun berdalih “tawakal” disebut sebagai pemalas, sebagaimana ditegaskan Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi. Ia menyebut bahwa pura-pura tawakal itu tampak dari ketidakkonsistenan: malas bekerja, tapi tetap mencari makanan ketika lapar. Artinya, secara naluriah manusia tetap membutuhkan sebab-sebab (ikhtiar) dalam hidupnya.
Menolak Usaha Sama Saja Menolak Karunia Allah
Syekh asy-Sya’rawi bahkan menegaskan bahwa Allah sendiri telah menyediakan “sebab-sebab” bagi manusia. Menolak berusaha berarti menolak pemberian Allah, lalu menyuruh-Nya “mengurus semuanya”.
Makna Tawakal dalam Dunia Modern dan Urban
Menariknya, generasi muda dan pekerja urban sebenarnya sudah menerapkan semangat tawakal meski tak menyebutnya secara eksplisit.
Contohnya:
- Karyawan yang tetap profesional meski kantor penuh ketidakpastian.
- Pencari nafkah yang tetap bekerja sambil menjaga kesehatan mental.
- Praktik work-life balance yang kini populer bekerja maksimal tanpa membawa pulang kecemasan berlebih.
Semua ini adalah manifestasi tawakal modern: berusaha sekuat tenaga, lalu menenangkan hati terhadap hasil yang berada di luar kendali.
Tawakal Bukan Sekadar Konsep Spiritual, Tapi Strategi Hidup
Pada akhirnya, tawakal adalah strategi mental yang membuat seseorang tetap tangguh, fokus, dan stabil. Ia bukan alasan untuk berhenti berjuang, melainkan energi yang membuat seseorang terus berusaha sambil tetap tenang menghadapi ketidakpastian.
Di era ekonomi sulit seperti sekarang, justru inilah seni tertinggi dari tawakal: mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan, dan menyerahkan sisanya kepada Allah tanpa kehilangan semangat berjuang.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Tawakal In This Economy: Seni Menyerahkan Hasil Tanpa Berhenti Berjuang
