By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Reading: Tawakal di Tengah Beratnya Ekonomi: Mindset Tenang yang Justru Bikin Hidup Lebih Produktif
Share
Font ResizerAa
Search
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Have an existing account? Sign In
Follow US
Home » Blog » Tawakal di Tengah Beratnya Ekonomi: Mindset Tenang yang Justru Bikin Hidup Lebih Produktif
Tawakal di Tengah Beratnya Ekonomi: Mindset Tenang yang Justru Bikin Hidup Lebih Produktif
Artikel

Tawakal di Tengah Beratnya Ekonomi: Mindset Tenang yang Justru Bikin Hidup Lebih Produktif

Dwi Widiyastuti
Last updated: November 14, 2025 5:02 am
Dwi Widiyastuti
Published: November 14, 2025
Share
Tawakal di Tengah Beratnya Ekonomi: Mindset Tenang yang Justru Bikin Hidup Lebih Produktif
SHARE

NUJATENG.COM – Di tengah ekonomi yang makin penuh ketidakpastian, kata “tawakal” kembali sering terdengar. Namun sayangnya, konsep yang sangat fundamental dalam Islam ini kerap dipahami secara sempit: bekerja sebentar, sisanya “serahkan saja pada Tuhan”. Padahal, para ulama klasik dan modern justru menegaskan bahwa tawakal bukan akhir dari usaha melainkan mindset yang menyertai seluruh proses usaha sejak awal.

Contents
Tawakal Bukan Pasrah, Tapi Pola Pikir yang Menyertai UsahaDua Tahap: Azm dan TawakalTawakal Adalah Kerja Hati, Ikhtiar Adalah Kerja Anggota BadanMenolak Usaha Sama Saja Menolak Karunia AllahMakna Tawakal dalam Dunia Modern dan UrbanTawakal Bukan Sekadar Konsep Spiritual, Tapi Strategi Hidup

Tawakal Bukan Pasrah, Tapi Pola Pikir yang Menyertai Usaha

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menganggap tawakal sebagai “ritual penutup” setelah bekerja keras. Padahal, Al-Qur’an telah menegaskan urutannya secara jelas: tekad dan ikhtiar terlebih dahulu, barulah tawakal.

Dua Tahap: Azm dan Tawakal

Ayat QS Ali ‘Imran [3]:159 mengajarkan bahwa ada dua fase yang tidak boleh dipisahkan:

  1. Azm (tekad) mencakup perencanaan matang, profesionalitas, dan usaha maksimal.
  2. Tawakal sikap hati yang stabil, lapang, dan tidak runtuh ketika hasil tidak sesuai rencana.

Dalam konteks modern, azm berarti bekerja optimal, mengembangkan diri, dan merencanakan masa depan, sedangkan tawakal adalah kemampuan untuk tenang dan tidak terjebak overthinking terhadap hal-hal di luar kendali manusia.

Tawakal Adalah Kerja Hati, Ikhtiar Adalah Kerja Anggota Badan

Para ulama seperti Syekh Bilal Ahmad ar-Rifa’i menjelaskan bahwa tawakal adalah amalan hati, sementara usaha adalah amalan anggota badan. Artinya, keduanya bukan hal yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.

Orang yang enggan berusaha namun berdalih “tawakal” disebut sebagai pemalas, sebagaimana ditegaskan Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi. Ia menyebut bahwa pura-pura tawakal itu tampak dari ketidakkonsistenan: malas bekerja, tapi tetap mencari makanan ketika lapar. Artinya, secara naluriah manusia tetap membutuhkan sebab-sebab (ikhtiar) dalam hidupnya.

Menolak Usaha Sama Saja Menolak Karunia Allah

Syekh asy-Sya’rawi bahkan menegaskan bahwa Allah sendiri telah menyediakan “sebab-sebab” bagi manusia. Menolak berusaha berarti menolak pemberian Allah, lalu menyuruh-Nya “mengurus semuanya”.

Makna Tawakal dalam Dunia Modern dan Urban

Menariknya, generasi muda dan pekerja urban sebenarnya sudah menerapkan semangat tawakal meski tak menyebutnya secara eksplisit.

Contohnya:

  • Karyawan yang tetap profesional meski kantor penuh ketidakpastian.
  • Pencari nafkah yang tetap bekerja sambil menjaga kesehatan mental.
  • Praktik work-life balance yang kini populer bekerja maksimal tanpa membawa pulang kecemasan berlebih.

Semua ini adalah manifestasi tawakal modern: berusaha sekuat tenaga, lalu menenangkan hati terhadap hasil yang berada di luar kendali.

Tawakal Bukan Sekadar Konsep Spiritual, Tapi Strategi Hidup

Pada akhirnya, tawakal adalah strategi mental yang membuat seseorang tetap tangguh, fokus, dan stabil. Ia bukan alasan untuk berhenti berjuang, melainkan energi yang membuat seseorang terus berusaha sambil tetap tenang menghadapi ketidakpastian.

Di era ekonomi sulit seperti sekarang, justru inilah seni tertinggi dari tawakal: mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan, dan menyerahkan sisanya kepada Allah tanpa kehilangan semangat berjuang.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Tawakal In This Economy: Seni Menyerahkan Hasil Tanpa Berhenti Berjuang

You Might Also Like

Keajaiban Tawakal, Kisah 1.000 Dinar yang Mengajarkan Kekuatan Percaya kepada Allah
Kunci Menjadi Pribadi yang Lebih Baik Setiap Hari, Inilah Doa yang Bisa Dipraktekan
Hikmah Puasa Ramadhan dan Doa Mudah dikabulkan
Sejarah Pembuka Hutan Awal Wonosobo Jawa Tengah
Dua Karunia Terbesar Hidup: Prof Sholihan Ungkap Makna Syukur atas Amanat Kehidupan dan Panggilan ke Tanah Suci
TAGGED:ekonomi dan spiritualitasislam modernkonsep tawakalmindset islamitawakal
Share This Article
Facebook Email Print
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

  • ES Money
  • U.K News
  • The Escapist
  • Insider
  • Science
  • Technology
  • LifeStyle
  • Marketing

About US

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

Subscribe US

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?