Merdeka dari Validasi Manusia: Rahasia Hurriyah dalam Tasawuf yang Sering Dilupakan
3 mins read

Merdeka dari Validasi Manusia: Rahasia Hurriyah dalam Tasawuf yang Sering Dilupakan

NUJATENG.COM – Di tengah budaya sosial yang penuh penilaian, banyak orang hidup bukan untuk kebenaran, tetapi untuk memuaskan pandangan manusia. Semangat berbuat baik naik turun tergantung pada pujian, komentar, atau penghargaan yang diterima. Padahal, menurut ajaran tasawuf, kondisi ini menunjukkan seseorang belum benar-benar merdeka secara spiritual.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah menasihati putranya, Hasan:

“Jangan menjadi hamba bagi orang lain. Allah telah menjadikanmu merdeka.”

Pesan singkat ini menyiratkan makna mendalam: kebebasan sejati bukan sekadar bebas bergerak, melainkan bebas dari kebutuhan untuk diakui oleh manusia.

Ukuran Kebenaran Bukan pada Pujian Manusia

Dalam Islam, kebenaran tidak ditentukan oleh komentar publik, melainkan oleh ridha Allah SWT. Oleh sebab itu, seseorang tidak boleh menunda kebaikan hanya karena tidak diapresiasi.

Rasulullah SAW mengingatkan:

“Barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan membuat Allah murka, maka ia diserahkan kepada manusia.”

Menurut penjelasan ulama, orang seperti ini justru akan makin tersakiti oleh manusia, karena ia menggantungkan kebahagiaannya pada makhluk yang sifatnya berubah-ubah.

Bahaya Psikologis Bergantung pada Validasi

Tidak semua yang merasa berjasa akan dikenang, dan tidak semua kebaikan mendapat balasan serupa. Mereka yang berbuat demi dilihat manusia akan mengalami kekecewaan berulang, sebab manusia memiliki sifat lupa, berubah-ubah, dan kadang menzalimi.

Sebaliknya, Allah SWT tidak menyia-nyiakan sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas.

Keikhlasan dalam Tasawuf: Berbuat Baik Meski Tak Dipuji

Syekh Wahbah Az-Zuhaili menegaskan pentingnya berkata dan berbuat benar tanpa takut celaan manusia. Inilah bentuk hurriyah, kebebasan spiritual yang membuat seseorang tetap teguh dalam kebaikan, meski dicela, direndahkan, atau diabaikan.

Tidak Menjadi “Ikut-Ikutan”

Rasulullah SAW melarang umatnya menjadi im’ah orang yang baik hanya ketika diperlakukan baik, dan zalim ketika dizalimi. Kebaikan sejati dilakukan tanpa menunggu perlakuan orang lain.

Relevansi Hurriyah di Era Media Sosial

Dalam kehidupan modern, terutama di media sosial, ukuran kebaikan sering bergeser menjadi angka: likes, shares, dan views. Banyak yang gelisah saat tidak mendapat perhatian, atau merasa tinggi saat mendapat pujian. Padahal ini hanyalah jebakan batin yang menjauhkan manusia dari keikhlasan.

Dengan membebaskan diri dari ketergantungan pada komentar manusia, seseorang akan hidup lebih tenang. Ia tidak lagi lelah mencoba memuaskan semua orang karena hal itu mustahil sebagaimana dinasihatkan Imam Syafi’i: perbaikilah hubungan dengan Allah, dan jangan pedulikan penilaian manusia.

Menuju Kemerdekaan Spiritual

Hurriyah mengajarkan bahwa hidup bukan tentang bagaimana manusia memperlakukan kita, tetapi bagaimana kita memperlakukan mereka dan bagaimana kita berhubungan dengan Allah. Ketika orientasi hidup diarahkan kepada Sang Pencipta, setiap amal kecil menjadi bernilai ibadah.

Hidup Lebih Tenang dengan Ikhlas

Seseorang yang merdeka dari validasi manusia tidak mudah terguncang oleh celaan, dan tidak terbang oleh pujian. Ia berbuat baik karena Allah, bukan karena ingin terlihat baik.

Konsep hurriyah dalam tasawuf adalah jalan menuju kemerdekaan batin. Berbuat baik karena Allah akan menghadirkan ketenteraman, sementara hidup demi validasi manusia hanya membawa kekecewaan. Islam menuntun umatnya menjadi pribadi yang bebas secara spiritual, teguh dalam kebaikan, dan tidak terikat oleh pandangan manusia.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Hurriyah dalam Tasawuf: Jalan Menuju Kemerdekaan dari Validasi Manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *