Hati Tak Tenang dan Hidup Penuh Iri? Waspadai Penyakit Hasad yang Diam-diam Merusak Jiwa
3 mins read

Hati Tak Tenang dan Hidup Penuh Iri? Waspadai Penyakit Hasad yang Diam-diam Merusak Jiwa

NUJATENG.COM – Bayangkan seseorang yang selalu gelisah saat melihat rekannya dipuji atasan, berharap orang lain gagal hanya karena merasa tak senang melihat keberhasilan mereka. Inilah potret nyata penyakit hasad, sebuah penyakit hati yang tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menumpulkan nurani dan menghapus rasa syukur.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan:

“Hasad ialah dorongan iri dengan menginginkan hilangnya kenikmatan pada diri orang lain, merasa susah saat orang lain mendapatkan nikmat dan bahagia ketika ia tertimpa musibah. Ini merupakan sifat orang-orang munafik.”
(Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, juz 5 hal. 646)

Hasad dalam Pandangan Al-Qur’an dan Sejarah

1. Hasad Dikecam dalam Al-Qur’an

Allah Swt berfirman dalam surat An-Nisa ayat 54:

“Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah menganugerahkan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan kerajaan yang besar kepada mereka.”

Ayat ini menegaskan bahwa sifat hasad menandakan ketidakridhaan terhadap keputusan Allah Swt atas rezeki dan nikmat yang Ia berikan kepada makhluk-Nya.

2. Dosa Pertama yang Lahir dari Hasad

Para ulama salaf menyebut, dosa pertama dalam sejarah adalah hasad, yaitu hasadnya Iblis terhadap Nabi Adam as. Iblis enggan sujud menghormati Adam karena iri atas derajat yang Allah berikan kepadanya. Dari sinilah lahir kesombongan dan pembangkangan.

Tak hanya itu, kisah Qabil dan Habil, dua putra Nabi Adam, juga menjadi bukti nyata bahwa hasad dapat menjerumuskan manusia hingga ke perbuatan keji seperti pembunuhan.

Cara Mengatasi Penyakit Hasad Menurut Islam dan Psikologi

1. Menyadari Bahwa Semua Nikmat dari Allah

Langkah pertama untuk sembuh dari hasad adalah menyadari bahwa setiap nikmat datang dari Allah. Tidak ada yang dapat memperolehnya tanpa kehendak-Nya. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati dan mencegah kita merasa iri terhadap takdir orang lain.

2. Mensyukuri Nikmat yang Dimiliki

Setelah menyadari sumber nikmat, langkah berikutnya adalah bersyukur. Rasa syukur menjauhkan hati dari iri dan membuat seseorang lebih fokus pada potensi serta perjalanan hidupnya sendiri.

Dalam dunia kerja, konsep ini dikenal sebagai job involvement keterlibatan psikologis seseorang terhadap pekerjaannya. Menurut Dr. Umi Anugerah Izzati dalam buku Psikologi Industri dan Organisasi (2019), seseorang dengan tingkat keterlibatan tinggi akan merasa pekerjaannya bermakna dan menjadi bagian dari harga dirinya.

3. Mengetahui Bahaya Hasad

Orang yang hasad sebenarnya sedang menyakiti dirinya sendiri. Ia tidak hanya kehilangan ketenangan batin, tapi juga menentang takdir Allah. Dalam aspek duniawi, hasad menyebabkan penderitaan psikologis; sedangkan dalam aspek agama, ia bisa menjadi tanda ketidaksyukuran terhadap karunia Ilahi.

Imam Al-Ghazali menegaskan, “Hasad tidak memberi dampak kepada orang yang dihasadi, melainkan kepada pelakunya sendiri.”

4. Menyadari Bahwa Hasad Tak Mengubah Takdir Orang Lain

Iri hati tidak akan mengurangi nikmat orang lain sedikit pun. Hasad hanyalah racun batin yang menumpuk di hati pelakunya. Dengan menyadari hal ini, seseorang akan lebih mudah menahan diri dan membersihkan hati dari perasaan iri.

Hasad yang Diperbolehkan: Sebagai Motivasi, Bukan Kebencian

Rasulullah Saw bersabda:

“Tidak diperkenankan hasad kecuali kepada dua orang: seseorang yang Allah beri harta lalu ia gunakan di jalan kebenaran, dan seseorang yang Allah beri ilmu lalu ia amalkan dan ajarkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hasad seperti ini bukanlah dosa, melainkan ghibthah perasaan ingin seperti orang lain dalam kebaikan, tanpa berharap kenikmatan mereka hilang.

Jadikan Hasad sebagai Cermin untuk Berbenah Diri

Hasad adalah penyakit hati yang halus namun mematikan. Ia membuat seseorang buta terhadap nikmat sendiri dan sibuk menatap rezeki orang lain. Namun, jika diarahkan dengan benar, rasa kagum terhadap kelebihan orang lain bisa menjadi motivasi untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dengan menyadari, bersyukur, dan mengingat bahaya hasad, hati akan kembali tenang, dan hidup pun menjadi lebih lapang.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Mengenal Penyakit Hasad dan Cara Mengatasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *