Author: Dwi Widiyastuti

  • Takhalli: Langkah Pertama Menyucikan Jiwa dan Membangun Karakter Mulia di Tengah Krisis Moral Modern

    Takhalli: Langkah Pertama Menyucikan Jiwa dan Membangun Karakter Mulia di Tengah Krisis Moral Modern

    NUJATENG.COM – Di tengah derasnya arus modernisasi dan kemerosotan moral, ajaran tasawuf Islam kembali mendapat perhatian. Tasawuf tidak hanya bicara soal spiritualitas, tetapi juga menjadi metode penyucian hati dan pendidikan karakter yang relevan di era sekarang.

    Sebagaimana dikemukakan oleh Qari Ananda Azhari dan Syawaluddin Nasution (2025), tasawuf memiliki potensi besar dalam mengatasi krisis spiritual akibat pola pikir materialistik masyarakat modern. Dalam tasawuf, terutama aliran tasawwuf akhlaqi, proses pembentukan jiwa terdiri dari tiga tahap: takhalli, tahalli, dan tajalli.

    Tulisan ini akan membahas secara khusus takhalli, yakni tahap awal dalam proses pembersihan jiwa dan pembentukan karakter manusia.

    Apa Itu Takhalli?

    Secara bahasa, takhalli berasal dari kata takhalla – yatakhalla – takhalliyan, yang berarti mengosongkan diri atau menyendiri. Dalam terminologi sufi, takhalli adalah proses penyucian diri dari sifat-sifat tercela dan penyakit hati seperti riya, sombong, iri, dendam, cinta dunia, serta kemunafikan.

    Konsep ini berakar kuat dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah dalam QS As-Syams (9–10):

    “Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

    Ayat ini menegaskan bahwa keberhasilan spiritual seseorang terletak pada kemampuan membersihkan jiwa dari kotoran batin. Dalam konteks pendidikan karakter, takhalli menjadi fondasi penting sebelum seseorang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji (tahalli).

    Ibarat gelas kotor, air yang dituangkan ke dalamnya akan tetap keruh jika tidak dibersihkan terlebih dahulu. Demikian pula hati manusia: tanpa penyucian diri, nilai-nilai kebaikan tak akan menetap lama.

    Landasan Tasawuf: Pentingnya Membersihkan Sebelum Menghiasi

    Dalam kitab Buraiqah Mahmudiyah, Abu Sa’id Al-Khadimi menjelaskan logika spiritual bahwa menghiasi diri dengan ketaatan (tahalli) tidak akan sempurna tanpa pembersihan diri (takhalli):

    “Berhias harus dilakukan setelah menyucikan diri. Sebab ketaatan tanpa penyucian dari sifat buruk tidak akan berarti, sementara penyucian tanpa ketaatan masih memberi manfaat.”

    Dengan kata lain, takhalli adalah syarat utama sebelum seseorang mencapai ketakwaan sejati.

    Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi dalam Tanwirul Qulub menjelaskan bahwa sifat-sifat tercela yang wajib dibersihkan meliputi:

    “Dengki, dendam, sombong, bangga diri, pelit, riya, gila hormat, marah, ghibah, adu domba, dusta, dan banyak bicara tanpa manfaat.”

    Sifat-sifat inilah yang menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk mencapai kedekatan spiritual dengan Allah.

    Tahapan Spiritual: Takhalli Sebagai Gerbang Penyucian Hati

    1. Pembersihan dari Sifat Tercela

    Langkah pertama dalam takhalli adalah membuang sifat-sifat buruk yang sudah melekat dalam diri. Proses ini menuntut introspeksi mendalam untuk mengenali dan menolak dorongan negatif yang berasal dari nafsu.

    Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbad An-Nafazi dalam Syarhul Hikam:

    “Hati yang baik hanya dapat diperoleh dengan membersihkannya dari seluruh sifat tercela, baik yang kecil maupun besar.”

    2. Menjauh dari Maksiat

    Selain menghapus sifat buruk, takhalli juga berarti menghindari perbuatan maksiat. Dalam hal ini, tobat menjadi langkah dasar dalam perjalanan spiritual seseorang.

    Imam Al-Qusyairi dalam Ar-Risalah Al-Qusyairiyah menyebutkan:

    “Tobat merupakan perhentian pertama bagi orang yang menempuh jalan menuju Allah.”

    Artinya, takhalli dan tobat saling berkaitan erat. Seseorang yang benar-benar bertobat harus membuktikan kesungguhannya dengan menghindari dosa dan menjaga hati dari keburukan.

    Hubungan Tobat dan Takhalli

    Al-Kurdi menegaskan bahwa setelah seseorang bertobat, ia perlu melanjutkan proses penyucian diri melalui takhalli:

    “Wahai para murid, setelah bertobat hendaklah engkau mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela. Sebab, ia adalah najis batin yang menghalangi kedekatan dengan Allah.”

    Pernyataan ini menunjukkan bahwa pembersihan hati merupakan lanjutan logis dari tobat. Tobat membersihkan dari dosa masa lalu, sedangkan takhalli menjaga agar dosa baru tidak kembali mengotori hati.

    Mujahadah dan Riyadhah: Latihan Mengendalikan Nafsu

    Setelah tahap penyucian diri, perjalanan spiritual seseorang dilanjutkan dengan mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu) dan riyadhah (latihan jiwa).

    Dalam Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushiri disebutkan:

    “Nafsu itu seperti anak kecil. Jika engkau biarkan ia menyusu, maka ia akan terus menyusu. Namun, jika engkau menyapihnya, ia akan berhenti.”

    Syair ini mengandung pesan bahwa nafsu tidak bisa dibiarkan tanpa kendali. Ia harus dilatih secara bertahap hingga tunduk pada nilai-nilai kebaikan.

    Peran Guru Spiritual dalam Proses Takhalli

    Dalam tradisi tasawuf klasik, proses takhalli idealnya dilakukan di bawah bimbingan seorang guru spiritual (mursyid). Guru berfungsi sebagai penuntun agar murid tidak tersesat dalam perjalanan batin yang kompleks.

    Namun, di era modern, menemukan sosok mursyid yang benar-benar mumpuni memang tidak mudah. Para sufi sejati biasanya memilih hidup dalam kesederhanaan dan tidak mencari ketenaran. Kendati demikian, bagi siapa pun yang sungguh-sungguh mencari bimbingan, Allah akan membukakan jalan.

    Takhalli Sebagai Pondasi Reformasi Moral

    Takhalli bukan sekadar ajaran mistik para sufi, tetapi merupakan proses pendidikan karakter dan reformasi moral yang sangat relevan dengan kondisi zaman.

    Di tengah dunia yang sarat materialisme dan kehilangan arah spiritual, ajaran takhalli mengingatkan manusia untuk memulai perubahan dari dalam diri dengan membersihkan hati sebelum menghiasinya dengan kebaikan.

    Sebab tanpa kebersihan batin, semua amal kebaikan hanya akan menjadi hiasan luar tanpa makna.

    Takhalli adalah langkah pertama menuju jiwa yang bersih, karakter yang kokoh, dan hati yang siap menerima cahaya Ilahi.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Takhalli: Langkah Awal Pendidikan Karakter dan Penyucian Jiwa dalam Tasawuf Islam

  • Istiqamah di Era Digital: Dari Mimbar ke Media Sosial, Antara Tren Spiritual dan Tantangan Konsistensi Hidup

    Istiqamah di Era Digital: Dari Mimbar ke Media Sosial, Antara Tren Spiritual dan Tantangan Konsistensi Hidup

    NUJATENG.COM – Beberapa waktu terakhir, istilah istiqamah kembali ramai di linimasa media sosial seperti TikTok dan Instagram. Tagar #istiqamah muncul dalam berbagai konteks mulai dari motivasi hijrah, pengingat diri, hingga semangat dalam pekerjaan, kebugaran, atau hubungan pribadi.

    Video pendek yang menampilkan seseorang bangkit dari kegagalan lalu menutup caption dengan “tetap istiqamah” menjadi tren afirmasi baru di era digital. Istilah ini pun tidak lagi eksklusif di ruang-ruang keagamaan, tetapi bertransformasi menjadi bahasa universal tentang ketekunan, keautentikan, dan daya tahan terhadap perubahan hidup.

    Fenomena ini menandakan bahwa nilai-nilai spiritual Islam kini semakin membumi. Ia hadir di tengah masyarakat modern, bukan sekadar dalam ceramah, tetapi juga dalam bentuk konten kreatif dan keseharian. Namun, di balik popularitasnya, istilah istiqamah sering kali kehilangan makna sakralnya dan hanya menjadi slogan motivasi tanpa pemahaman mendalam.

    Di titik inilah penting untuk kembali menelaah: apa sebenarnya makna istiqamah menurut Islam, dan bagaimana konsep itu dapat diterapkan di tengah kehidupan modern yang serba cepat, penuh distraksi, dan kompetitif?

    Landasan Istiqamah dalam Al-Qur’an dan Hadits

    Istiqamah bukan sekadar ajaran moral, melainkan perintah langsung dalam Al-Qur’an dan sunnah. Salah satu ayat yang menegaskan hal ini terdapat dalam QS. Hud: 112:

    “Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

    Hadits Nabi Muhammad SAW juga menegaskan nilai istiqamah sebagai bentuk amal terbaik:

    “Perbuatan baik yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling konsisten (istiqamah) meskipun sedikit.” (HR. Muslim)

    Ayat dan hadits ini menegaskan bahwa istiqamah adalah pondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Islam tidak hanya mendorong ibadah secara ritual, tetapi juga mengajarkan konsistensi moral dan etika dalam seluruh aspek kehidupan.

    Implementasi Istiqamah di Tengah Distraksi Zaman

    Di era digital yang serba cepat dan penuh distraksi, istiqamah sering dianggap sulit dilakukan. Banyak orang memaknainya secara sempit hanya sebatas ketekunan beribadah. Padahal, hakikat istiqamah jauh lebih luas: ia mencakup seluruh aspek kehidupan yang dilandasi kebaikan, komitmen, dan kejujuran.

    Seorang guru yang tetap mengajar dengan sabar meski gajinya pas-pasan, seorang petani yang terus menanam meski cuaca tak menentu, atau seorang pegawai yang menolak korupsi kecil semuanya sedang menapaki jalan istiqamah.

    Bahkan dalam kehidupan digital, seorang konten kreator yang menolak membuat konten murahan demi sensasi dan tetap konsisten menyebarkan hal-hal positif, juga telah meneladani nilai istiqamah dalam konteks modern.

    Perspektif Ulama tentang Makna Istiqamah

    Dalam Tafsir Mafatihul Ghaib, Imam Fakhruddin Ar-Razi menulis bahwa perintah “Fastaqim kama umirta” (tetaplah di jalan yang benar sebagaimana engkau diperintahkan) mencakup semua aspek kehidupan, baik akidah maupun amal perbuatan.

    Artinya, istiqamah tidak terbatas pada ibadah formal, tetapi juga komitmen moral dalam pekerjaan, keluarga, dan kehidupan sosial.

    Pandangan Syekh Ismail Haqqi

    Dalam Tafsir Ruhul Bayan, Syekh Ismail Haqqi menegaskan bahwa hakikat istiqamah adalah menepati seluruh janji kepada Allah dan menjaga keseimbangan dalam segala urusan, baik duniawi maupun ukhrawi.

    Beliau menulis:

    “Hakikat istiqamah adalah menepati seluruh janji, serta senantiasa berpegang pada jalan yang lurus dengan menjaga batas keseimbangan dalam segala urusan, baik dalam hal makan, minum, berpakaian, maupun dalam setiap urusan agama dan dunia.”

    Dengan kata lain, istiqamah bukan hanya tentang ketaatan, tetapi juga tentang hidup proporsional tidak berlebihan dan tidak ekstrem dalam menghadapi kehidupan.

    Istiqamah Menurut Sayyid Murtadha Az-Zabidi

    Dalam Ithafussadatil Muttaqin, Sayyid Murtadha Az-Zabidi menekankan dua pilar utama istiqamah: konsistensi (tsabat) dan keseimbangan (i’tidal).

    “Istiqamah adalah konsisten dan seimbang dari kecenderungan kepada dua sisi berlebihan dari suatu perkara.”

    Makna ini relevan dengan konteks era modern, di mana manusia sering terjebak dalam ekstremitas—antara ambisi yang berlebihan dan rasa malas yang mengekang.

    Istiqamah Sebagai Gaya Hidup Modern

    Jika dulu istiqamah lebih identik dengan kesalehan spiritual, kini ia juga bisa dimaknai sebagai komitmen etis dalam menjalani profesi dan kehidupan sosial.

    Seorang ibu rumah tangga yang dengan sabar mengurus keluarga setiap hari, seorang mahasiswa yang pantang menyerah menyelesaikan skripsi, atau pekerja kreatif yang tetap idealis di tengah tekanan pasar semuanya adalah bentuk nyata istiqamah.

    Istiqamah bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang usaha konsisten menuju kebaikan di tengah ketidaksempurnaan.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Memahami Konsep Istiqamah dan Implementasinya di Era Modern

  • Rahasia Hidup Tenang di Era Digital: Belajar Ikhlas agar Tak Tenggelam dalam Hiruk Pikuk Modernitas

    Rahasia Hidup Tenang di Era Digital: Belajar Ikhlas agar Tak Tenggelam dalam Hiruk Pikuk Modernitas

    NUJATENG.COM – Zaman modern bergerak tanpa henti. Teknologi membuat hidup serba cepat, serba instan, dan penuh perbandingan. Media sosial memperburuk keadaan: hidup seolah berubah menjadi ajang lomba yang lebih sukses, lebih bahagia, lebih “sempurna” di mata dunia.

    Ironisnya, semakin banyak yang dikejar, semakin banyak pula yang merasa gelisah, cemas, dan kehilangan arah. Salah satu akar dari kegelisahan ini adalah hilangnya ikhlas dalam diri.

    Padahal, ikhlas adalah fondasi ketenangan batin. Ia bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan melepaskan keterikatan hati pada hasil dan pandangan manusia. Dengan ikhlas, seseorang bisa fokus pada proses, bukan sekadar hasil; pada makna, bukan sekadar penilaian.

    Makna Ikhlas: Antara Teori dan Hati yang Murni

    Secara bahasa, ikhlas berarti meninggalkan riya’ (pamer) dalam ibadah atau perbuatan baik. Sementara secara istilah, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Ali bin Muhammad Al-Jurjani dalam At-Ta’rifat:

    “Ikhlas adalah membersihkan hati dari segala hal yang dapat mengotori kemurniannya.”
    (At-Ta’rifat, Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 1403 H, hlm. 13).

    Dalam tayangan Shihab & Shihab, Prof. Quraish Shihab menegaskan bahwa ikhlas bermakna memurnikan hati. Kata “ikhlas” berasal dari “khalis” yang berarti bersih. Hati manusia pada dasarnya mudah tercampur oleh kepentingan dan pamrih seperti air yang keruh karena kotoran.

    Beliau memberi perumpamaan yang indah: hati yang ikhlas bagaikan air bening dalam gelas. Bila tercampur sedikit saja dengan zat asing, air itu tidak lagi murni. Maka, proses membersihkan kembali kotoran dalam hati itulah yang disebut ikhlas.

    Kesimpulannya, ikhlas adalah upaya total untuk memurnikan niat agar seluruh amal, kerja keras, dan ketaatan dilakukan semata karena Allah, bukan demi pujian manusia.

    Belajar Ikhlas di Tengah Modernitas

    Dalam kehidupan yang penuh distraksi ini, tasawuf hadir menawarkan solusi sederhana: kembali ke niat. Menurut ajaran para sufi, ikhlas bukan hanya nilai spiritual, tapi juga strategi hidup agar tetap fokus dan tenang di tengah hiruk pikuk modernitas.

    Dzun Nun al-Mishri, seorang sufi besar, menggambarkan tanda-tanda keikhlasan sejati:

    “Ada tiga tanda ikhlas: sama saja baginya pujian atau celaan manusia, melupakan pandangan terhadap amal ketika beramal, dan tidak menuntut pahala atas amal tersebut di akhirat.”
    (Risalah al-Qusyairiyyah, hlm. 208).

    Dari sini, ada tiga langkah sederhana untuk belajar ikhlas di era modern:

    1. Kebal terhadap Penilaian Orang Lain

    Orang yang ikhlas tidak goyah oleh pujian ataupun celaan. Ia bekerja, berkarya, dan beribadah bukan untuk dilihat orang, melainkan karena tanggung jawab dan cinta terhadap kebaikan itu sendiri. Ketika hati terbebas dari pandangan orang lain, energi mental pun tidak terpecah, dan fokus menjadi utuh.

    2. Fokus Total pada Aktivitas yang Dijalani

    Ikhlas melatih kita untuk menaruh perhatian penuh pada apa yang sedang dilakukan. Dalam pekerjaan, misalnya, fokus pada kualitas kerja lebih penting daripada pengakuan. Inilah bentuk ibadah profesionalisme yang sejati melakukan yang terbaik tanpa pamrih.

    3. Melepaskan Harapan akan Imbalan Duniawi

    Tingkat tertinggi dari ikhlas adalah berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan, bahkan pahala. Bukan karena tidak percaya pahala, tapi karena cinta dan ketaatan sudah cukup menjadi alasan untuk berbuat. Inilah kebebasan spiritual sejati seseorang tidak lagi dikendalikan oleh harapan, melainkan oleh cinta kepada Tuhan.

    Dampak Positif Ikhlas dalam Hidup Modern

    Sikap ikhlas memiliki efek luar biasa terhadap psikologis dan produktivitas manusia modern. Ketika hati ikhlas, fokus meningkat, stres menurun, dan kerja keras menjadi lebih ringan dijalani.

    Syekh Musthafa Al-Ghalaini dalam kitab ‘Idzatun Nasyi’in menjelaskan bahwa banyak orang gagal bukan karena kurang usaha, tetapi karena niatnya tidak ikhlas:

    “Betapa sering kita melihat orang berjuang, namun hasilnya hampa. Mereka tidak mencapai tujuannya karena tidak menjadikan ikhlas sebagai landasan amal. Mereka bekerja demi keuntungan sesaat dan kehormatan palsu.”
    (‘Idzatun Nasyi’in, Surabaya: Al-Miftah, hlm. 12).

    Pesan ini relevan dengan realitas saat ini. Banyak orang bekerja keras siang malam, tetapi merasa lelah secara batin. Mereka mencari validasi, bukan makna. Akibatnya, hasil yang didapat terasa kosong.

    Ikhlas: Jalan Menuju Produktivitas dan Kedamaian

    Mengapa orang yang ikhlas lebih produktif? Karena fokusnya tidak pecah oleh opini publik. Ia bekerja sepenuh hati, bukan setengah untuk berkarya dan setengah untuk pencitraan. Dengan demikian, seluruh energi dan pikirannya tersalurkan ke arah yang benar menuju hasil yang maksimal dan keberhasilan yang hakiki.

    Ikhlas adalah kunci ketenangan batin sekaligus strategi efisiensi spiritual: mengurangi beban emosional, menghindari stres, dan menumbuhkan konsistensi dalam setiap aktivitas.

    Ikhlas Sebagai Energi Sejati Kehidupan

    Dari seluruh penjelasan di atas, jelas bahwa ikhlas bukan hanya nilai moral, tetapi juga kekuatan hidup. Ia menjadi fondasi yang membuat manusia tahan menghadapi tekanan sosial dan tuntutan modernitas.

    Orang yang ikhlas tidak akan mudah goyah oleh penilaian dunia. Ia tenang, fokus, dan bahagia karena seluruh tindakannya berakar pada niat yang murni.

    Ikhlas adalah seni menjalani hidup dengan hati yang bersih tanpa pamrih, tanpa beban, dan tanpa topeng. Di tengah dunia yang bising dan penuh distraksi, ikhlas adalah bentuk kebebasan yang sejati.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Belajar Mengamalkan Ikhlas di Tengah Hiruk Pikuk Modernitas

  • Launching OCOB hingga Laskar Jagabumi Award Meriahkan Hari Pertama HUT SMANSA Perjaka

    Launching OCOB hingga Laskar Jagabumi Award Meriahkan Hari Pertama HUT SMANSA Perjaka

    BANJARNEGARA – nujateng.com  –  Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-42 SMA Negeri 1 Purwareja Klampok berlangsung meriah dan diikuti seluruh warga sekolah. Beragam kegiatan digelar, antara lain opening ceremony, share n care, donor darah, One Class One Book, Laskar Jagabumi Award 2025, HUT Creative Video, Tumpeng Fiesta, serta Clear n Clear Class.

    Rangkaian acara dimulai dengan upacara Hari Pahlawan yang sekaligus menjadi pembukaan resmi peringatan HUT sekolah. Kepala SMA Negeri 1 Purwareja Klampok, Linovia Karmelita, S.Sos., M.Pd., bertindak sebagai pembina upacara. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyerahkan empat ekor ayam dan dua ekor kelinci sebagai simbol harapan dan doa baik bagi kemajuan sekolah. Setelah upacara, kegiatan dilanjutkan dengan parade hasil karya sampul buku dari program yang dilaksanakan saat Bulan Bahasa.

    Penampilan seni turut memeriahkan peringatan HUT. Tim Karawitan Siswo Laras Budoyo membawakan Mars SMA Negeri 1 Purwareja Klampok dan lagu “Identitas Jawa”. Selain itu, 42 penari dari kelompok Hambekso Smanjaka memukau penonton melalui tarian tradisional “Tregel Banyumasan” yang ditutup dengan formasi angka 42, sebagai simbol usia sekolah.

    Kegiatan donor darah yang bekerja sama dengan Puskesmas Purwareja Klampok dan tim PMR menjadi salah satu agenda utama hari ini. Lomba Tumpeng Fiesta juga tak kalah menarik, diikuti lima perwakilan kelas yang menampilkan kreativitas dan kekompakan masing-masing. Sementara itu, siswa yang tidak terlibat dalam lomba memanfaatkan waktu untuk membersihkan ruang kelas dalam rangka penilaian Clear n Clear Class.

    Dalam beberapa hari sebelumnya, seluruh kelas telah membuat video ucapan selamat ulang tahun dan doa bagi sekolah sebagai bagian dari HUT Creative Video. Penilaian kebun kelas untuk mata pelajaran PKWU bagi siswa kelas XI dan XII menjadi penutup rangkaian kegiatan hari pertama peringatan HUT ke-42 ini.***

    Auranissa Syawalia – Jurnalistik SMA Negeri 1 Purwareja Klampok

  • Makna Tersirat dari Sujud Malaikat: Pelajaran Adab Santri kepada Guru dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 34

    Makna Tersirat dari Sujud Malaikat: Pelajaran Adab Santri kepada Guru dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 34

    NUJATENG.COM – Pesantren sejak lama dikenal bukan hanya sebagai tempat menimba ilmu agama, tetapi juga sebagai kawah candradimuka pembentukan akhlak dan adab. Di lingkungan ini, santri diajarkan bukan sekadar memahami teks kitab kuning, melainkan juga bagaimana menundukkan ego, menjaga lisan, serta menghormati guru dengan tulus.

    Nilai-nilai adab tersebut menjadi ruh dalam kehidupan pesantren. Menghormati guru bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penghormatan terhadap ilmu itu sendiri. Dalam pandangan ulama, keberkahan ilmu tidak akan hadir jika tidak disertai dengan adab kepada guru.

    Imam Az-Zarnuji dalam Ta’limul Muta’allim menegaskan bahwa seseorang tidak akan meraih manfaat ilmu tanpa penghormatan terhadap guru dan orang berilmu.

    “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya seorang pelajar tidak akan bisa mendapatkan ilmu dan manfaat ilmu kecuali dengan menghormati ilmu dan orang yang berilmu, memuliakan guru dan menghormatinya. Tidak sukses orang yang telah sukses kecuali dengan hormat, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali karena tidak hormat.”
    (Ta’limul Muta’allim, Daru Ibn Katsir, 2014, hlm. 55).

    Pernyataan ini menjadi pegangan kuat di pesantren, bahwa adab adalah kunci utama dalam menuntut ilmu.

    Adab Lebih Tinggi daripada Ilmu

    Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, menukil perkataan Imam Abdullah bin Mubarak yang sangat masyhur:

    “Kita lebih membutuhkan sedikit adab dibanding banyak ilmu.”
    (Adabul ‘Alim wal Muta’allim, Maktabah at-Turats al-Islami, hlm. 9).

    Ungkapan ini menegaskan bahwa adab menjadi pondasi utama bagi keberhasilan seorang santri. Ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa akar mudah tumbang dan kehilangan maknanya. Maka tidak heran, jika santri di pesantren selalu diajarkan bagaimana bersikap sopan di hadapan guru, mulai dari cara berbicara, duduk, hingga menjaga pandangan.

    Pelajaran dari Sujud Malaikat dalam Al-Baqarah Ayat 34

    Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 34:

    “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.”
    (QS. Al-Baqarah: 34).

    Kisah ini bukan sekadar tentang perintah sujud, tetapi juga tentang penghormatan terhadap ilmu. Sebab, Allah memerintahkan malaikat untuk menghormati Nabi Adam as karena kelebihan ilmu yang diberikan kepadanya.

    Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa sujud yang dimaksud bukanlah sujud penyembahan, melainkan sujud penghormatan.

    “Yakni, sujud badan sebagai bentuk penghormatan dengan membungkukkan diri.”
    (Tafsir Jalalain, Darul Kutub Ilmiah, 2021, hlm. 6).

    Israfil: Malaikat Pertama yang Bersujud dan Rahasia Keberkahan Ilmu

    Syekh Najmuddin Al-Ghazi meriwayatkan dalam Husnut Tanabbuh bahwa malaikat pertama yang bersujud kepada Nabi Adam as adalah Israfil. Karena ketulusannya dalam menuruti perintah Allah dan menghormati Nabi Adam sebagai sosok berilmu, Allah memberinya keistimewaan luar biasa: ilmu Lauhul Mahfuzh.

    “Ketika para malaikat diperintahkan untuk sujud, yang pertama kali sujud adalah Israfil as. Maka Allah memberinya ilmu Lauhul Mahfuzh.”
    (Husnut Tanabbuh, Darun Nawadir, juz I, hlm. 384).

    Al-Ghazi kemudian menegaskan bahwa ini menjadi isyarat penting bagi para murid dan santri. Siapa yang paling cepat dan tulus dalam menghormati gurunya, dialah yang paling berpeluang mendapatkan keberkahan dan warisan ilmu dari gurunya.

    “Barang siapa di antara para murid yang paling cepat dan ikhlas dalam melayani guru dan syekhnya, maka dia akan lebih tinggi derajatnya dalam mewarisi ilmu sang guru.”
    (Al-Ghazi, I/384).

    Makna Spiritual bagi Santri Masa Kini

    Dari kisah ini, pesan yang dapat diambil sangat jelas: penghormatan kepada guru bukanlah bentuk pengultusan manusia, melainkan penghormatan terhadap ilmu yang dibawanya. Malaikat Israfil menjadi teladan bagi santri dalam bersikap rendah hati dan cepat tanggap dalam berkhidmah.

    Di tengah era modern yang serba digital dan serba cepat, adab terhadap guru sering kali tergerus oleh ego dan rasa ingin bebas. Padahal, keberkahan ilmu tidak akan pernah hadir tanpa ketundukan hati dan penghormatan kepada sang pemberi ilmu.

    Tradisi pesantren mengajarkan bahwa semakin tinggi adab seorang santri, semakin tinggi pula derajat ilmunya. Maka, sujud malaikat kepada Nabi Adam as bukan hanya kisah simbolik, melainkan pelajaran abadi tentang makna penghormatan, keikhlasan, dan keberkahan dalam menuntut ilmu.

    Adab Adalah Kunci Warisan Keilmuan

    Adab santri kepada guru merupakan manifestasi dari nilai ilahiah yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Kisah sujud malaikat kepada Nabi Adam as menegaskan bahwa ilmu yang diberkahi hanya akan diraih oleh mereka yang menghormati sumbernya.

    Sebagaimana malaikat Israfil mendapatkan anugerah ilmu Lauhul Mahfuzh karena ketulusannya, demikian pula santri akan memperoleh keberkahan ilmu ketika menghormati gurunya. Dalam pesantren, adab bukan sekadar etika, tetapi jalan spiritual menuju kemuliaan ilmu.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Adab Santri kepada Guru dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 34: Makna Penghormatan dan Keberkahan Ilmu di Pesantren

  • “Raja”: Menyalakan Optimisme Proaktif di Tengah Dunia yang Penuh Ketidakpastian

    “Raja”: Menyalakan Optimisme Proaktif di Tengah Dunia yang Penuh Ketidakpastian

    NUJATENG.COM – Dalam khazanah spiritual Islam, terdapat satu konsep yang begitu mendalam dan relevan untuk manusia modern: raja (رجاء) yang berarti pengharapan. Namun di tengah dunia yang sibuk, serba cepat, dan penuh tekanan, makna raja sering kali disalahpahami. Banyak orang menganggapnya sebagai sikap pasif: menunggu keajaiban tanpa usaha. Padahal, sejatinya raja adalah semangat untuk bertindak dengan harapan yang positif.

    Memaknai kembali raja di era modern berarti mentransformasikan pengharapan menjadi optimisme proaktif sebuah energi spiritual yang mendorong manusia untuk terus berusaha, bekerja keras, dan tidak kehilangan arah meski dihadapkan pada tantangan hidup.

    Makna Hakiki Raja: Harapan yang Melahirkan Gerak

    Secara bahasa, raja berarti al-amal cita-cita atau pengharapan. Sedangkan menurut Syekh Ali Al-Jurjani:

    الرجاء: تعلق القلب بمحصول محبوب في المستقبل
    “Raja adalah keterikatan hati pada hasil yang dicintai di masa depan.”
    (At-Ta’rifat, hlm. 109)

    Dengan kata lain, raja bukan sekadar berangan-angan, tetapi keyakinan yang disertai usaha dan kerja nyata. Imam Abu Qasim Al-Qusyairi menjelaskan perbedaan penting antara raja dan tamanni (angan-angan):

    “Tamanni membuat seseorang malas dan tidak menempuh jalan usaha, sedangkan raja justru mendorong pemiliknya untuk bekerja keras. Karena itu, raja adalah sikap yang terpuji, sementara tamanni adalah sikap yang tercela.” (Risalah Qusyairiyah, hlm. 132)

    Dari sini, dapat dipahami bahwa raja adalah optimisme spiritual yang aktif. Ia melahirkan semangat, bukan kelambanan; kerja nyata, bukan lamunan kosong.

    Cara Praktis Menumbuhkan Sikap Raja

    Dalam kehidupan sehari-hari, raja dapat dilatih dan dipraktikkan. Syekh Musthafa Al-Ghalaini dalam karya klasiknya ‘Idzatun Nasyi’in menjelaskan:

    “Kelemahan dari sikap raja adalah penyakit jiwa yang harus diobati dengan mengusir perasaan putus asa.”
    (‘Idzatun Nasyi’in, hlm. 18-19)

    Artinya, raja dimulai dari melawan keputusasaan.
    Orang yang memiliki raja sejati tidak membiarkan kegagalan menumbuhkan rasa pesimis, karena ia yakin bahwa setiap usaha yang tulus pasti mendapat balasan terbaik dari Allah.

    Beberapa langkah praktis untuk menumbuhkan raja dalam kehidupan modern antara lain:

    • Menyikapi kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.

    • Berdoa dan berusaha secara seimbang.

    • Menjaga pikiran positif dengan memperbanyak dzikir dan refleksi diri.

    • Menghindari lingkungan yang menumbuhkan pesimisme.

    • Menetapkan tujuan hidup yang realistis dan bernilai ibadah.

    Dengan cara ini, raja bukan hanya konsep teoretis, tapi menjadi gaya hidup yang menumbuhkan keteguhan iman dan semangat produktif.

    Raja dan Dampak Positifnya bagi Kehidupan

    Sikap raja memiliki kekuatan luar biasa untuk menumbuhkan optimisme dan daya juang.
    Syekh Musthafa Al-Ghalaini menulis:

    “Golongan orang yang bersemangat tahu bahwa harapan terhadap hasil pekerjaan adalah pendorong utama untuk maju. Mereka tidak akan berhenti hanya karena redupnya cita-cita.”
    (‘Idzatun Nasyi’in, hlm. 20)

    Seseorang yang memiliki raja tidak mudah menyerah pada situasi, sebab harapannya selalu disertai dengan ikhtiar dan tawakal.
    Sikap ini membawa dua dampak besar:

    1. Membangun Pola Pikir Progresif

    Raja melatih seseorang berpikir maju. Ia tidak terjebak dalam masa lalu, melainkan melihat peluang di masa depan. Orang yang memiliki raja akan terus belajar, berinovasi, dan memperbaiki diri tanpa kehilangan arah spiritual.

    2. Mewujudkan Harapan Menjadi Kenyataan

    Optimisme yang lahir dari raja menjadi bahan bakar kesuksesan. Ketika seseorang bekerja dengan keyakinan bahwa Allah bersama setiap usaha yang baik, maka harapannya bukan lagi sekadar impian tapi doa yang sedang menunggu waktu untuk terkabul.

    Raja Sebagai Etos Spiritual di Era Modern

    Di tengah dunia modern yang sering diliputi stres, kegelisahan, dan krisis eksistensial, raja adalah antitesis terhadap pesimisme global. Ia mengajarkan bahwa harapan harus diiringi tindakan, dan keyakinan harus diimbangi kerja keras.

    Konsep raja dapat menjadi spirit baru bagi generasi Muslim urban:

    • Untuk tetap beriman meski dunia tidak pasti.

    • Untuk tetap optimis di tengah keterbatasan.

    • Untuk terus bergerak, bukan hanya berharap.

    Raja bukan sekadar doa yang diucap, tapi keberanian untuk berjuang sambil tetap menggantungkan hasilnya kepada Allah.

    Raja, Jalan Tengah Antara Iman dan Aksi

    Raja adalah bentuk optimisme aktif yang berakar pada iman. Ia bukan sekadar menanti pertolongan Allah, tapi juga berjuang agar layak mendapatkannya. Orang yang memiliki raja sejati akan terus bekerja keras, namun tetap tenang karena tahu setiap usaha yang tulus tidak akan sia-sia.

    Di era modern yang penuh tekanan, raja adalah obat bagi jiwa yang lelah dan penuntun bagi mereka yang ingin hidup penuh makna. Dengan raja, manusia tidak hanya menjadi hamba yang berharap, tapi juga pejuang yang percaya.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Memaknai Raja sebagai Optimisme Proaktif di Era Modern

  • Menjadi Rendah Hati di Hutan Beton: Menghidupkan Tawadhu di Tengah Kehidupan Urban

    Menjadi Rendah Hati di Hutan Beton: Menghidupkan Tawadhu di Tengah Kehidupan Urban

    NUJATENG.COM – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional 2024, sekitar 60 persen masyarakat Indonesia kini tinggal di wilayah perkotaan. Angka ini diprediksi akan melonjak hingga 65 persen pada 2035 dan 78 persen pada 2045.

    Kebanyakan dari mereka awalnya hanya “merantau” untuk mencari nafkah, namun akhirnya menetap dan menjadi penduduk tetap kota. Pertumbuhan masyarakat urban ini tentu membawa dampak besar terhadap gaya hidup termasuk cara mereka beragama.

    Di tengah kesibukan kerja, hiruk pikuk lalu lintas, serta ambisi mengejar karier dan materi, nilai-nilai spiritual seperti tawadhu perlahan mulai memudar. Padahal, tawadhu bukan sekadar ajaran moral, melainkan pondasi utama bagi keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.

    Makna Hakiki Tawadhu Menurut Para Ulama

    Dalam khazanah Islam klasik, tawadhu memiliki makna yang dalam. Imam Junaid al-Baghdadi ketika ditanya tentang tawadhu menjawab:

    خفض الجناح للخلق ولين الجانب لهم
    “Tawadhu adalah merendahkan diri di hadapan makhluk dan bersikap lembut kepada mereka.”
    (Ar-Risalah al-Qusyairiyah, jilid I, hal. 278)

    Sementara Imam Fudhail bin Iyadh menegaskan:

    أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ
    “Tawadhu adalah tunduk kepada kebenaran, walaupun engkau mendengarnya dari anak kecil, tetaplah menerimanya.”
    (Ihya’ Ulumuddin, jilid III, hal. 342)

    Dari dua pendapat besar ini, jelas bahwa tawadhu adalah sikap hati yang terbuka terhadap kebenaran dan kerendahan diri di hadapan sesama manusia. Tawadhu bukan tanda kelemahan, melainkan puncak kematangan spiritual seseorang.

    Keistimewaan Tawadhu: Dihormati di Bumi, Dimuliakan di Langit

    Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebutkan berbagai keutamaan bagi orang yang bersikap tawadhu. Di antaranya:

    1. Allah Akan Meninggikan Derajatnya

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”
    (HR. Muslim)

    2. Mendapat Rahmat Allah

    “Bertawadulah kalian semua, niscaya Allah akan merahmati kalian.”
    (HR. Ahmad)

    3. Dicintai oleh Allah

    “Ada empat hal yang hanya Allah berikan kepada hamba yang dicintai-Nya: khusyuk dalam ibadah, tawakal, tawadhu, dan zuhud terhadap dunia.”
    (HR. Al-Baihaqi)

    Ketika seseorang memahami keutamaan ini, maka akan tumbuh keinginan dalam dirinya untuk meneladani sifat tawadhu. Sebab, tidak ada manusia yang mulia di sisi Allah kecuali mereka yang rendah hati terhadap sesama.

    Tantangan Menerapkan Tawadhu di Tengah Gaya Hidup Perkotaan

    Hidup di kota seringkali membuat seseorang terperangkap dalam ego dan ambisi pribadi. Tekanan kerja, kompetisi sosial, serta dorongan untuk selalu “lebih sukses dari yang lain” dapat melahirkan kesombongan halus yang sulit disadari.

    Sikap seperti menolak kritik, enggan mendengar nasihat, atau merasa paling benar adalah tanda hilangnya tawadhu. Padahal, tanpa keterbukaan terhadap orang lain, seseorang akan sulit berkembang secara spiritual maupun moral.

    Imam Al-Ghazali dalam Mizanul ‘Amal memberikan nasihat berharga:

    “Siapa yang ingin menanamkan sifat tawadhu pada dirinya, hendaklah ia membiasakan diri melakukan perbuatan orang-orang yang tawadhu secara terus-menerus dan berkelanjutan.”
    (Mizanul ‘Amal, hal. 252)

    Artinya, tawadhu tidak lahir dalam semalam. Ia perlu dilatih, dibiasakan, dan diamalkan secara konsisten, hingga menjadi karakter permanen dalam diri seseorang.

    Membumikan Tawadhu di Tengah Masyarakat Urban

    Untuk masyarakat urban yang hidup di tengah kemajuan teknologi dan budaya individualistik, tawadhu adalah oase di tengah padang gersang kesombongan modern.
    Sikap ini bisa diwujudkan melalui hal-hal sederhana, seperti:

    • Menghargai pendapat orang lain, meski berbeda pandangan.

    • Menyapa dengan ramah tanpa melihat status sosial.

    • Menerima kritik dengan lapang dada.

    • Tidak pamer harta, jabatan, atau pencapaian.

    • Berani meminta maaf ketika salah.

    Jika nilai-nilai ini tumbuh, maka masyarakat kota akan lebih manusiawi tidak hanya maju secara ekonomi, tapi juga matang secara spiritual.

    Tawadhu, Fondasi Keseimbangan Hidup Modern

    Di tengah gegap gempita kehidupan modern, tawadhu menjadi kunci agar manusia tidak kehilangan arah spiritualnya. Ia menjaga hati dari kesombongan, menumbuhkan empati sosial, dan memperkuat hubungan antarindividu.

    Ketika masyarakat urban mampu mempraktikkan tawadhu, maka keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi akan terjaga. Kota tidak lagi sekadar tempat berlomba materi, tapi juga ladang menanam kebaikan dan keikhlasan.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Pentingnya Sikap Tawadhu di Tengah Kehidupan Masyarakat Urban

  • Sinergi Fiqih dan Tasawuf: Jalan Tengah Menuju Kesempurnaan Iman Seorang Muslim

    Sinergi Fiqih dan Tasawuf: Jalan Tengah Menuju Kesempurnaan Iman Seorang Muslim

    NUJATENG.COM – Dalam sejarah panjang Islam, sering muncul pandangan bahwa fiqih dan tasawuf adalah dua hal yang bertolak belakang. Padahal, keduanya merupakan bagian dari satu kesatuan ajaran Islam yang utuh. Ungkapan terkenal yang sering dikutip untuk menggambarkan hubungan ini adalah nasihat Imam Malik ra.

    مَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّه فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّف فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ
    “Barangsiapa bertasawuf tanpa berfiqih maka ia menjadi zindiq, dan barangsiapa berfiqih tanpa bertasawuf maka ia menjadi fasik. Barangsiapa menggabungkan keduanya, maka ia telah mencapai hakikat Islam yang sejati.”

    Meski sebagian ulama mempertanyakan keotentikan ucapan tersebut karena istilah tasawuf belum populer di masa Imam Malik, maknanya tetap relevan. Pesan utamanya adalah bahwa Islam tidak bisa dijalankan hanya dengan aspek lahiriah (fiqih) tanpa dimaknai secara batin (tasawuf), atau sebaliknya.

    Ketegangan Klasik antara Syariat dan Tarekat

    Ketegangan antara ahli fiqih dan penganut tasawuf bukanlah hal baru. Abu Nashr As-Siraj At-Thusi dalam Al-Luma’ fi Tarikhit Tashawwufil Islami bahkan menulis bab khusus tentang “konfrontasi penganut tasawuf terhadap ahli fiqih”.

    Di masa kini, fenomena serupa masih terlihat terutama di lingkungan pesantren. Santri “syariat” sering enggan mengikuti jalan “tarekat”, sementara sebagian santri tarekat kadang kurang mendalami fiqih secara utuh. Padahal, dalam diri seorang muslim yang ideal, dua aspek itu seharusnya menyatu secara harmonis.

    Fiqih Tanpa Tasawuf Kering, Tasawuf Tanpa Fiqih Menyesatkan

    Hasan al-Bashri pernah menegaskan bahwa fiqih sejati bukan hanya soal hafalan hukum, tetapi tentang kesalehan hati.

    “Sesungguhnya seorang fakih sejati adalah orang yang zuhud terhadap dunia, mencintai akhirat, sadar akan dosa-dosanya, dan tekun beribadah kepada Allah.”
    (Ahmad bin Hanbal, Az-Zuhd, hlm. 217)

    Artinya, seorang ahli fiqih sejati tidak berhenti pada hukum-hukum lahiriah, tetapi melengkapi pengetahuannya dengan kebersihan jiwa sebagaimana diajarkan dalam tasawuf.

    Sebaliknya, Imam Asy-Sya’rani dalam pengantar Al-Minan al-Kubra menegaskan bahwa tidak boleh seseorang menjadi guru tarekat (mursyid) tanpa penguasaan mendalam terhadap ilmu syariat.

    “Para masyayikh tarekat telah sepakat bahwa seseorang tidak boleh membimbing murid dalam jalan spiritual sebelum ia ahli dalam syariat dan ilmu-ilmu pendukungnya.”

    Kedua pandangan ini menunjukkan bahwa fiqih dan tasawuf sejatinya saling menopang. Fiqih menjaga batasan hukum, sedangkan tasawuf menjaga kebersihan niat dan moral di balik pelaksanaan hukum itu.

    Fiqih, Tasawuf, dan Tauhid: Tiga Pilar Iman Seorang Muslim

    Keselarasan fiqih dan tasawuf sebenarnya telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis Jibril yang masyhur. Ketika Malaikat Jibril bertanya tentang Islam, Iman, dan Ihsan, beliau sesungguhnya sedang menjelaskan tiga pilar utama agama:

    • Islam melahirkan ilmu fiqih (amalan lahiriah).

    • Iman melahirkan ilmu tauhid (keyakinan).

    • Ihsan melahirkan ilmu tasawuf (penyucian jiwa).

    Habib Zain bin Ibrahim bin Smith menjelaskan dalam Hidayatut Thalibin fi Bayani Muhimmatit Din:

    “Hadis Jibril mengandung tiga rukun agama sekaligus tiga cabang ilmu: fiqih, tauhid, dan tasawuf. Ketiganya wajib dipelajari dan tidak ada keringanan untuk meninggalkannya.”

    Maka, seorang muslim tidak bisa hanya mempelajari satu aspek dan mengabaikan yang lain. Fiqih tanpa tasawuf membuat seseorang kaku dan mudah menghakimi. Tasawuf tanpa fiqih membuat seseorang mudah tersesat dalam spiritualitas tanpa arah.

    Tasawuf Menyempurnakan Etika, Fiqih Menegakkan Syariat

    Fiqih berfokus pada hukum zahir tentang halal, haram, sah, dan batal. Ia mengatur perbuatan manusia agar sesuai dengan aturan Allah. Sementara tasawuf mengatur wilayah batin: keikhlasan, kesabaran, dan kebersihan hati.

    Jika fiqih menjaga perilaku, maka tasawuf menjaga niat di balik perilaku itu. Jika fiqih membahas hukum shalat yang sah, maka tasawuf membahas bagaimana shalat menjadi khusyuk. Keduanya melengkapi satu sama lain.

    Sinergi ini melahirkan pribadi muslim yang paripurna memahami hukum Allah, menjalankannya dengan hati bersih, dan berakhlak mulia kepada sesama. Ia tahu apa yang benar, sekaligus mengapa dan untuk siapa ia melakukannya.

    Menjadi Muslim Paripurna: Mengharmonikan Zahir dan Batin

    Dalam kehidupan modern, di mana banyak orang memahami agama secara parsial ada yang kaku dalam hukum, ada yang lepas dalam spiritualitas integrasi fiqih dan tasawuf menjadi semakin penting.

    Seseorang yang hanya berfiqih mungkin tahu bahwa berbuat dosa itu haram, tetapi tetap melakukannya karena hatinya belum tersentuh. Di sinilah tasawuf hadir: untuk menumbuhkan kesadaran, mengasah nurani, dan memurnikan niat.

    Sebaliknya, seseorang yang hanya menekuni tasawuf tanpa dasar fiqih bisa tergelincir ke dalam kesesatan spiritual, merasa dekat dengan Tuhan padahal melanggar batas-batas syariat.

    Oleh karena itu, seorang muslim sejati perlu menyeimbangkan keduanya menjadi alim yang berakhlak, dan sufi yang tunduk pada hukum Allah. Itulah jalan menuju kesempurnaan iman: memahami dengan akal, mencintai dengan hati, dan beramal dengan ikhlas.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Sinergisitas antara Tasawuf dan Fiqih dalam Diri Seorang Muslim

  • Zuhud Itu Bukan Anti-Dunia: Hidup Sederhana Tanpa Menolak Nikmat Tuhan

    Zuhud Itu Bukan Anti-Dunia: Hidup Sederhana Tanpa Menolak Nikmat Tuhan

    NUJATENG.COM – Kata zuhud sering terdengar dari mimbar-mimbar masjid, dibicarakan dalam majelis taklim, bahkan jadi tema ceramah yang penuh keheningan. Namun, banyak orang keliru memahami makna sejatinya. Zuhud sering dianggap sebagai sikap menjauh dari dunia, menolak harta, dan memilih hidup miskin ala sufi dengan pakaian lusuh.

    Padahal, menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin, zuhud tidak sekadar meninggalkan harta atau hidup serba kekurangan. Zuhud adalah urusan hati bukan tampilan luar. Dunia tidak menjadi dosa; dunia hanyalah cermin yang memantulkan isi hati manusia.

    Jika hati dikuasai keserakahan, dunia menjadi jebakan. Tapi jika hati tenang dan terkendali, dunia justru menjadi jalan menuju Tuhan. Seperti kata Imam Ghazali, banyak orang meninggalkan harta hanya untuk dipuji sebagai orang zuhud. Itulah bentuk kepalsuan batin.

    “Ketahuilah, bisa jadi seseorang mengira bahwa orang yang meninggalkan harta adalah zahid, padahal tidak demikian. Sebab meninggalkan harta dan menampakkan kesederhanaan itu mudah bagi orang yang mencintai pujian karena sifat zuhudnya.”
    (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, juz IV, hlm. 252)

    Makna Hakiki Zuhud: Hati yang Tak Tergantung Selain Kepada Allah

    Abu Bakar al-Kalabazi dalam At-Ta‘arruf li Madzhab Ahl at-Tashawwuf menegaskan bahwa zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal atau meninggalkan sebab-sebab duniawi. Zuhud adalah keadaan batin seseorang yang tidak tergantung pada apa pun selain Allah.

    “Orang yang zuhud adalah orang yang tidak memiliki keterikatan sebab apa pun selain kepada Allah.”

    Artinya, seseorang bisa kaya raya, punya harta melimpah, tapi tetap zuhud selama hatinya tidak diperbudak oleh kepemilikan itu. Zuhud bukan kemiskinan, tapi kebebasan. Ia bukan penolakan terhadap dunia, tapi kemampuan untuk tidak dikuasai dunia.

    Para sufi klasik bahkan menertawakan mereka yang berbangga diri karena meninggalkan dunia. Asy-Syibli pernah berkata,

    “Celaka kalian! Apa nilai dunia ini bahkan kurang dari sayap seekor nyamuk sehingga seseorang merasa perlu bersikap zuhud terhadapnya?”

    Menikmati yang Halal Bukan Berarti Kehilangan Zuhud

    Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyyah juga mengkritik pandangan sempit yang menganggap menolak harta halal sebagai bentuk kesalehan. Ia menulis bahwa meninggalkan rezeki yang telah Allah halalkan justru bukan sikap zuhud yang benar.

    “Ketika Allah menganugerahkan kepada hamba-Nya harta yang halal dan memerintahkannya untuk bersyukur, maka meninggalkannya tanpa alasan bukanlah sikap zuhud yang benar.”

    Dengan kata lain, zuhud bukan berarti menolak nikmat, tapi menempatkannya dengan benar. Dunia boleh dimiliki, asal tidak sampai menguasai hati. Karena hakikat zuhud adalah bagaimana seseorang mengatur hubungannya dengan nikmat dunia agar tidak tergelincir menjadi budak dari kenikmatan itu.

    Zuhud di Era Media Sosial: Memiliki Tanpa Dimiliki

    Di era digital saat ini, zuhud justru menemukan maknanya yang paling relevan. Dunia media sosial membuat banyak orang mengejar validasi dari jumlah followers, banyaknya likes, hingga merek pakaian yang dikenakan. Semua hal diukur dari tampilan luar.

    Menjadi zuhud di zaman sekarang bukan berarti meninggalkan teknologi atau berhenti bekerja. Justru, zuhud adalah cara hidup yang sadar dan seimbang: bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi tidak terikat pada hasilnya. Memiliki banyak, tapi tetap ringan hati.

    Sufyan ats-Tsauri pernah berkata,

    “Zuhud di dunia adalah pendek cita-cita, bukan dengan makan makanan kasar atau memakai pakaian wol.”

    Al-Junaid pun menambahkan,

    “Zuhud adalah tangan yang kosong dari kepemilikan, dan hati yang kosong dari ketertarikan.”

    Itulah inti dari zuhud modern: memiliki dunia di tangan, bukan di dada. Dunia boleh mengelilingi kita, tapi jangan sampai masuk ke dalam hati. Jika perahu dikelilingi air, ia tetap terapung. Tapi ketika air masuk ke dalamnya, ia akan tenggelam.

    Zuhud Adalah Jalan Hidup yang Membebaskan

    Sikap zuhud bisa dimiliki siapa pun, di profesi apa pun. Seorang pengusaha bisa zuhud jika kekayaannya tidak membuatnya sombong. Pejabat bisa zuhud bila kekuasaannya tidak membuatnya lupa pada kebenaran. Pekerja kreatif pun bisa zuhud bila karyanya tidak membuatnya haus pujian.

    Zuhud bukan tentang berapa banyak yang kita punya, tapi seberapa dalam kita bergantung pada Yang Maha Punya. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, zuhud mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dan bertanya:

    “Untuk apa aku melakukan semua ini?”

    Jika jawabannya adalah untuk kebaikan, maka di sanalah ruh zuhud mulai hidup dalam diri kita. Zuhud bukan menolak dunia, tapi memerdekakan diri dari perbudakan dunia.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Zuhud Itu Bukan Anti-Dunia

  • Dzikir di Era Digital: Rahasia Ketenangan Hati di Tengah Kebisingan Dunia Modern

    Dzikir di Era Digital: Rahasia Ketenangan Hati di Tengah Kebisingan Dunia Modern

    NUJATENG.COM – Hidup di abad digital berarti dikelilingi oleh notifikasi tanpa henti, deadline pekerjaan, dan percakapan grup yang tak pernah usai. Tubuh hadir di dunia nyata, tetapi pikiran melayang ke banyak tempat tagihan, target kerja, hubungan, hingga masa depan. Kita terus terhubung secara online, namun hati justru semakin offline dari kedamaian sejati.

    Di tengah ritme cepat dunia modern, banyak orang mencari ketenangan di luar: lewat hiburan, perjalanan, atau pencapaian materi. Padahal, sumber ketenangan sejati ada di dalam diri dalam dzikir, mengingat Allah di setiap helaan napas kehidupan.

    Dzikir: Nafas Hati yang Tak Pernah Berhenti

    Dzikir bukan sekadar ritual yang dilakukan di waktu senggang atau setelah salat. Ia adalah kesadaran batin yang membuat manusia tetap utuh di tengah derasnya arus kehidupan.

    Allah SWT berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
    “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)

    Menurut tafsir Ibnu Abbas dalam kitab Iqadzul Himam, setiap ibadah memiliki waktu tertentu—kecuali dzikir. Allah tidak menetapkan waktu khusus baginya. Artinya, dzikir tidak mengenal batas ruang dan waktu.
    Ia bisa hadir di tengah kemacetan jalan, di sela makan siang kantor, atau bahkan sebelum tidur. Dzikir adalah ibadah yang melekat dalam ritme hidup manusia.

    Dzikir yang Tidak Terikat Waktu

    Imam Al-Qusyairi menegaskan dalam Risalah Qusyairiyah:

    “Tidak ada waktu di mana seorang hamba tidak diperintahkan berdzikir, baik wajib maupun sunnah. Sedangkan salat memiliki waktu tertentu, dzikir di hati dapat berlangsung setiap saat.”

    Maknanya, dzikir bisa dilakukan kapan saja: sambil bekerja, belajar, mengemudi, atau bahkan menatap layar komputer. Menyebut nama Allah, mengucap “Alhamdulillah” saat menyelesaikan tugas, atau “Astaghfirullah” setelah menahan amarah semuanya adalah bentuk dzikir yang membumikan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.

    Oase Spiritual di Tengah Hiruk Pikuk Digital

    Di dunia yang semakin cepat, dzikir hadir sebagai terapi spiritual yang menenangkan jiwa.
    Firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 menjadi pengingat abadi:

    اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
    “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

    Ulama besar Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan dalam Tafsir Al-Munir bahwa ketenangan hati muncul ketika seseorang merenungi kebesaran Allah dan ciptaan-Nya dengan mata hati yang jernih. Ia menulis, dengan dzikir, hati orang beriman akan terbebas dari keresahan dan kecemasan, karena cahaya iman telah tertanam kuat di dalamnya.

    Dzikir sebagai Terapi Jiwa Modern

    Penelitian modern pun membuktikan keampuhan dzikir. Dalam jurnal “Terapi Relaksasi Dzikir untuk Mengurangi Depresi” (Indonesian Journal of Islamic Counseling, Vol. 3, No. 1, 2021), Emilia Mustary menjelaskan bahwa dzikir mampu menurunkan stres, menenangkan sistem saraf, dan membantu individu memulihkan kesadaran spiritual yang hilang akibat tekanan hidup modern.

    Dzikir menjadi semacam “spiritual breathing” napas hati yang menyegarkan jiwa yang lelah karena tekanan digital dan beban produktivitas tanpa henti.

    Menemukan Allah di Tengah Dunia yang Bising

    Manusia modern sering kali mencari kedamaian melalui hal-hal eksternal, namun melupakan sumber ketenangan sejati kedekatan dengan Allah. Dzikir bukan sekadar ritual formal, tetapi panggilan batin untuk kembali pulang. Ia adalah cara hati berbicara kepada Tuhannya, tanpa harus menunggu waktu, tempat, atau suasana khusus.

    Dengan dzikir, manusia tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga menemukan keseimbangan, kejernihan pikiran, dan ketenangan batin. Di tengah dunia yang semakin berisik, dzikir adalah keheningan yang menyelamatkan.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Pentingnya Dzikir di Tengah Kebisingan Dunia Modern: Menemukan Ketenangan Hati di Era Digital