Berhati-Hatilah! Riya’ Bisa Menyusup di Balik Amal Salehmu Tanpa Disadari
NUJATENG.COM – Banyak orang berbuat baik dengan niat yang tampak tulus. Namun tanpa disadari, sebagian amal itu bisa berubah menjadi sia-sia karena penyakit halus bernama riya’. Riya’ bukan hanya soal ingin dipuji atau dipandang suci, tetapi berakar dari cara seseorang memandang kebaikan.
Ketika seseorang melihat dirinya sebagai pelaku utama amal, bukan Allah sebagai Penggerak Segala Sesuatu, maka di situlah riya’ mulai tumbuh. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum ad-Din menegaskan:
“Akar riya’ adalah kecintaan terhadap pujian, kebencian terhadap celaan, dan keinginan agar manusia menerima serta menghormatinya.”
Riya’ adalah penyakit hati yang merusak niat. Ia membuat amal yang tampak besar menjadi kosong dari nilai keikhlasan.
Makna Riya’ Menurut Para Ulama
Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ra’a – yura’i – mura’atan, yang berarti “memperlihatkan sesuatu agar dilihat orang lain.”
Secara istilah, para ulama mendefinisikan riya’ sebagai ibadah yang dilakukan untuk mendapatkan perhatian manusia.
Imam an-Nawawi al-Bantani menulis dalam Nasa’ih al-‘Ibad:
“Riya’ adalah upaya mencari tempat di hati manusia melalui ibadah.”
Al-Qur’an memberi peringatan keras terhadap perbuatan ini dalam surah Al-Ma’un ayat 4–6:
“Celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya, dan mereka yang berbuat riya’.”
Rasulullah SAW bahkan menyebut riya’ sebagai syirik kecil, sebagaimana sabdanya:
“Yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.”
Para sahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad)
Riya’ di Zaman Digital: Amal yang Tergelincir di Media Sosial
Fenomena riya’ kini tidak hanya terjadi di masjid atau majelis ilmu. Di era media sosial, penyakit ini hadir dalam bentuk baru: pencitraan digital. Amal baik seperti sedekah, kegiatan sosial, dan ibadah sering kali diunggah ke dunia maya bukan untuk menginspirasi, melainkan untuk mencari validasi.
Inilah tantangan spiritual zaman modern di mana pujian, like, dan followers menjadi ukuran kebaikan.
Padahal, amal yang sejati adalah yang tidak membutuhkan pengakuan, selain dari Allah semata.
Mengubah Cara Pandang: Kunci Menghindari Riya’
Dalam khazanah tasawuf, para ulama mengenalkan konsep wijhatun nadhar cara pandang terhadap amal.
Jika pandangan kita terfokus pada manusia, maka amal itu rapuh. Namun, jika pandangan kita tertuju pada Allah, amal menjadi kuat, stabil, dan penuh ketenangan.
Imam al-Ghazali menulis dalam Minhaj al-‘Abidin:
“Kebanyakan manusia dalam amalnya tidak menginginkan Allah, dan itu merupakan kelalaian dari tujuan sejati amal.”
Artinya, yang perlu dibenahi bukan hanya niat di awal, tetapi juga cara pandang terhadap siapa pusat kebaikan itu sendiri.
Jangan Berhenti Berbuat Baik, Tapi Perbaiki Niat
Banyak orang khawatir amalnya tidak ikhlas, lalu berhenti berbuat baik. Padahal, Allah memerintahkan kita untuk terus beramal sambil memperbaiki niat.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan Rasul, dan jangan batalkan amal-amalmu.”
(QS. Muhammad [47]: 33)
Perjuangan melawan riya’ adalah proses yang berjalan seiring dengan amal itu sendiri. Selama hati terus berusaha ikhlas, Allah menilai ketulusan di baliknya.
Rahasia Para Sufi: Menghapus Riya’ dengan Kesadaran Ilahi
Ibn Atha’illah as-Sakandari dalam al-Hikam menulis:
“Amal sederhana yang dijaga oleh niat tulus lebih utama daripada amal besar yang minim kesadaran akan pengawasan Allah.”
Sementara Ibnu Ajibah menambahkan dalam Syarh al-Hikam:
“Orang yang ikhlas adalah yang beramal karena Allah, tidak melihat dirinya dalam amal, dan tidak melihat amal itu bersumber dari dirinya.”
Artinya, seseorang bisa menghindari riya’ dengan mengembalikan seluruh amal kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri. Contohnya, saat seseorang menyumbang untuk pembangunan masjid, hendaknya ia tidak merasa masjid itu berdiri karena jasanya, melainkan karena Allah yang menakdirkannya menjadi perantara kebaikan.
Allah: Pusat dari Segala Kebaikan
Syekh Ibn Atha’illah dalam At-Tanwir fi Isqat at-Tadbir menulis:
“Apabila Allah hendak menampakkan karunia-Nya kepadamu, Dia ciptakan amal kebaikan dan menisbahkannya kepadamu.”
Sedangkan Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Risalatul Mu’awanah menegaskan:
“Apabila seorang hamba sadar bahwa Allah-lah pelaku dalam setiap sesuatu, maka hilanglah darinya rasa kagum terhadap diri sendiri dan riya’.”
Inilah kesadaran tertinggi dalam amal: melihat Allah sebagai Pelaku Sejati. Dengan cara pandang ini, setiap amal terasa ringan dan bebas dari keinginan dipuji. Seseorang tidak lagi berbuat karena ingin dikenal, tetapi karena ingin menjalankan amanah yang Allah titipkan.
Ubah Pusat Pandang, Temukan Ketulusan
Menghindari riya’ bukan berarti berhenti beramal, tetapi mengubah cara memandang amal itu sendiri. Jangan lihat kebaikan sebagai prestasi pribadi, tetapi sebagai amanah dan takdir yang Allah percayakan. Ketika hati melihat Allah sebagai pusat dari segala perbuatan, maka setiap amal sekecil apa pun akan menjadi ibadah yang penuh makna.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Mengubah Cara Pandang terhadap Kebaikan, Kunci Menghindari Riya’
