Author: Dwi Widiyastuti

  • PELATIHAN JURNALISTIK GENERASI ERA DIGITAL

    PELATIHAN JURNALISTIK GENERASI ERA DIGITAL

    BANJARNEGARA-nujateng.com-Dalam rangka Bulan Bahasa pihak MGMP Bahasa Indonesia mengadakan Pelatihan Jurnalistik pada 27 Oktober 2025 dengan tema “JURNALISTIK DI ERA DIGITAL GERAKAN MENULIS DI MEDIA DALAM RANGKA MENYONGSONG INDONESIA EMAS 2045″. SMA Negeri 1 Banjarnegara dipilih sebagai tempat lokasi dalam kegiatan ini. Menurut Ibu Suniarti selaku Ketua Panitia menyatakan terdapat 116 siswa dari sekolah lain yang ikut berpartisipasi. Hal ini menggambarkan bahwa peserta sangat berantusias tinggi untuk belajar bersama.

    Kegiatan ini turut didukung oleh Yayasan Garda Wirasana Merah Putih, sehingga dapat terlaksana dengan baik. Pembina yayasan, Bapak Harris Farouck Perwiranegara, M.M., yang juga alumni SMA Negeri 1 Banjarnegara angkatan 1992, menyampaikan apresiasi atas semangat para peserta dalam mengembangkan kemampuan literasi media.

    Bersama Bapak Ali Arifin seorang Wartawan Indonesia sejak 1997, bahkan sudah pernah sampai bertugas di luar negara, Beliau sebagai pemateri menyampaikan berbagai ilmu yang sangat bermanfaat bagi generasi penerus Jurnalis di Era Digital, salah satunya yaitu kemampuan dalam memahami serta pentingnya penggunaan “5W+1H” dalam penulisan berita. Selain itu menjadi seorang Jurnalis harus memiliki rasa berani dalam hal kebenaran,cerdas berpikir kritis, karena nantinya seorang wartawan tidak boleh mengira – ngira informasi yang ada dalam hal penulisan juga tidak harus bertele-tele namun kesan isi tersebutlah yang seharusnya bisa tersampaikan, kata Pak Ali. Tidak hanya itu Beliau juga berbagi pengalaman yang bisa diteladani oleh kita semua selama melewati berbagai rintangan dan resiko menjadi seorang wartawan melalui sesi tanya jawab oleh para siswa, Hal ini mengundang rasa semangat yang lebih jika siswa berani dan percaya diri untuk bertanya maka akan mendapatkan gift sebagai kenang kenangan.

    Melalui kegiatan pelatihan ini diharapkan dapat melahirkan jurnalis-jurnalis muda yang bijak kritis dalam memilah informasi serta memiliki kemampuan literasi digital tinggi sehingga nantinya mampu  menyampaikan gagasan melalui karya tulisan menuju Indonesia Emas 2045.

     

    Zwevania Mauren Cristin

    SMK Negeri 1 Wanayasa

  • Azizah dan Rizal Wakili Banjarnegara Raih Juara Harapan 2 pada Internalisasi Sejarah dan Budaya Kabupaten Semarang

    Azizah dan Rizal Wakili Banjarnegara Raih Juara Harapan 2 pada Internalisasi Sejarah dan Budaya Kabupaten Semarang

    Banjarnegara – nujateng.com – Perwakilan Banjarnegara, Azizah Khoirunnisa Qurrotul’ain dari SMA Negeri 1 Banjarnegara dan Ilham Syafrizal Pratama dari SMK Negeri 2 Bawang, berhasil meraih Juara Harapan 2 dalam Kegiatan Internalisasi Sejarah dan Budaya Kabupaten Semarang, yang digelar pada 9–11 September 2025 di The Wujil Resort & Conventions, Ungaran. Prestasi ini menegaskan kemampuan generasi muda Banjarnegara dalam memahami dan melestarikan nilai sejarah serta budaya lokal.

    Kegiatan ini diikuti peserta dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah serta Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan kegiatan adalah menanamkan nilai sejarah dan budaya, sekaligus mengembangkan kreativitas, kemampuan kerja sama, dan kompetensi berpikir kritis peserta.

    Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan resmi, termasuk penyanyian lagu Indonesia Raya, Tari Gambyong dan Tari Prajuritan, serta sambutan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X. Suasana formal namun hangat ini memotivasi seluruh peserta untuk mengikuti sesi materi dengan antusias.

    Materi pertama, “Menyelami Tradisi dan Budaya Jawa di Desa Banyubiru”, dibawakan oleh Dr. Kuncoro Bayu Prasetyo, S.Ant., M.A., menekankan pelestarian tradisi lokal di tengah modernisasi. Azizah menyampaikan, “Saya merasa bangga dapat aktif bertanya dalam sesi ini karena jawaban yang diberikan memperluas wawasan kami tentang cara menjaga tradisi agar tetap hidup,” tuturnya.

    Materi kedua, “Batu Bercerita, Air Mengalir: Pesan Lestari dari Candi Ngempon”, dibawakan Jujun Kurniawan, S.S., M.A., menghadirkan pengalaman belajar sejarah yang mendalam melalui pahatan dan simbol candi. Rizal menambahkan, “Sesi ini sangat menarik karena saya seolah diajak berbicara langsung dengan sejarah melalui setiap pahatan candi,” ujarnya.

    Materi terakhir, “Video Diary untuk Internalisasi Sejarah dan Budaya”, oleh Dr. Muhammad Zaman Fauzanul S.Ant., M.A., merupakan sesi praktik di mana peserta menyusun konsep video, membagi tugas, melakukan pengambilan gambar, dan menyunting hasil rekaman. Azizah bertugas sebagai voice over, sementara Rizal menjadi editor. Kolaborasi keduanya berjalan efektif dan menghasilkan karya yang berkualitas, yang kemudian dipresentasikan pada hari terakhir kegiatan.

    Penutupan kegiatan diisi dengan penayangan hasil karya seluruh kelompok dan pentas seni. Prestasi Azizah dan Rizal menjadi kebanggaan Banjarnegara sekaligus bukti dedikasi dan profesionalisme para peserta. “Pengalaman ini sangat berharga bagi kami karena selain menambah ilmu, kami juga belajar bekerja sama dan menghargai budaya daerah lain,” tutur Azizah.

    Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelestarian sejarah dan budaya dapat disampaikan secara kreatif dan interaktif, sekaligus memberikan pengalaman berharga bagi generasi muda untuk terus berkarya dan membawa nama baik daerah.

    Azizah Khoirunnisa Qurrotul’ain

    SMA Negeri 1 Banjarnegara

  • Pelatihan Jurnalistik Warnai Bulan Bahasa 2025 di Banjarnegara

    Pelatihan Jurnalistik Warnai Bulan Bahasa 2025 di Banjarnegara

    BANJARNEGARA – nujateng.com – Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa tahun 2025, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kabupaten Banjarnegara menggelar Pelatihan Jurnalistik bagi perwakilan siswa SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Banjarnegara pada Senin, 27 Oktober 2025. Kegiatan yang dipusatkan di SMA Negeri 1 Banjarnegara ini dibuka secara resmi oleh Bapak Sudarto, selaku Kepala SMA Negeri 1 Banjarnegara. Dengan mengusung tema “Jurnalistik di Era Digital: Gerakan Menulis di Media dalam Rangka Menyongsong Indonesia Emas 2045,” pelatihan ini menjadi wadah penting dalam menumbuhkan semangat literasi dan keterampilan menulis generasi muda di era digital.

    Kegiatan yang diketuai oleh Ibu Sunarti ini menghadirkan Bapak Alin Arifin, seorang jurnalis senior dan pemerhati media yang telah berkiprah sejak tahun 1997, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa dunia jurnalistik menuntut kecermatan berpikir, kejujuran dalam menyampaikan fakta, serta tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Para peserta tampak sangat antusias mengikuti setiap sesi pelatihan. Mereka juga menerima lembar panduan berisi dasar-dasar jurnalistik dan teknis penulisan berita, yang membantu mereka memahami proses menulis berita secara profesional dan sesuai kaidah jurnalistik.

    Suasana kegiatan berlangsung hangat, inspiratif, dan interaktif. Peserta diajak berlatih menyusun berita dengan menerapkan unsur 5W + 1H, menulis lead yang kuat, dan memilih judul yang menarik. Melalui pelatihan ini, MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Banjarnegara berkomitmen menumbuhkan budaya literasi yang berkualitas di kalangan pelajar. Diharapkan, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membentuk generasi penulis muda yang kritis, kreatif, dan berintegritas generasi yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan semangat Gerakan Menulis di Media sebagai wujud kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

    Azizah Khoirunnisa Qurrotul’ain

    SMA Negeri 1 Banjarnegara

  • TKA di SMAN 1 Sigaluh: Mempersiapkan Siswa untuk Masa Depan

    BANJARNEGARA – nujateng.com – SMAN 1 Sigaluh baru-baru ini mengadakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai bagian dari persiapan siswa-siswi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Saya mewawancarai salah satu guru SMAN 1 Sigaluh yaitu, Antoni S.Pd terkait TKA yang sedang berlangsung untuk mengetahui lebih lanjut tentang TKA ini.

    Menurut pendapat Beliau, “Tujuan dari TKA ini adalah untuk mempersiapkan siswa-siswi SMA untuk naik ke jenjang berikutnya, yaitu kuliah. Dengan TKA, siswa dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan mereka dalam berbagai mata pelajaran dan mempersiapkan diri untuk mencapai tujuan mereka.” ujar beliau

    Beliau juga menjelaskan bahwa yang berhak mengikuti TKA adalah semua siswa yang duduk di tingkatan SMA, terutama siswa kelas XII yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

    TKA diadakan di sekolah-sekolah SMA yang telah ditentukan, termasuk di SMAN 1 Sigaluh. “Untuk tahun ini, TKA akan diadakan pada tanggal 3-8 November 2025 di dua ruang lab komputer dan dibagi menjadi tiga sesi setiap harinya selama 5 hari. Program TKA dari pemerintah baru dijalankan pada tahun 2025 ini.” ujar beliau

    TKA sangat penting bagi siswa-siswi karena dapat membantu mereka mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan menentukan arah mereka ke mana.

    Beliau juga memberikan cara untuk menghadapi TKA adalah dengan belajar secara teratur, mengetahui arah akan ke mana dan tujuan yang ingin dicapai. Siswa juga perlu mempersiapkan diri sejak dini dengan memahami materi yang akan diujikan dan melakukan latihan soal-soal yang serupa dengan TKA.

    Dengan adanya TKA, diharapkan siswa-siswi SMAN 1 Sigaluh dapat lebih siap dan percaya diri dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

    (Wildha/SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara)

  • SMAN 1 Sigaluh Gelar Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-97

    BANJARNEGARA – nujateng.com – SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara menggelar Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-97. Upacara yang berlangsung khidmat dan sederhana ini diikuti oleh seluruh warga sekolah, termasuk siswa, guru, dan staf administrasi.

    Upacara dimulai pukul 07.50 WIB dengan pengibaran bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Selanjutnya, pembacaan teks Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilakukan oleh Ny Maunah S.Pd selaku pembina upacara. Siswa-siswi juga menyanyikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” dan “Bangun Pemudi Pemuda” untuk menunjukkan semangat kebangsaan.

    Dalam amanatnya, pembina upacara menekankan pentingnya semangat Sumpah Pemuda dalam membangun bangsa dan negara. “Kita harus meneladani semangat para pemuda yang telah berjuang untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa” ujar Ny Maunah selaku pembina upacara.

    Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan semangat kebangsaan di kalangan siswa dan masyarakat. Dengan demikian, mereka dapat menjadi generasi penerus yang berkarakter dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

    (Wilda/SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara)

  • Sunarti: Pentingnya Diklat Jurnalistik sebagai Bagian dari Penguatan Literasi Sekolah

    Sunarti: Pentingnya Diklat Jurnalistik sebagai Bagian dari Penguatan Literasi Sekolah

    BANJARNEGARA – nujateng.com – Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMA Banjarnegara yang juga guru Mapel Bahasa Indonesia SMAN 1 Banjarnegara Sunarti menyatakan pelatihan jurnalistik tidak sekadar untuk meningkatkan skill siswa peserta menjadi lebih baik dalam hal menulis berita, namun juga penting untuk penguatan literasi terhadap ilmu dan dunia jurnalistik itu sendiri.

    “Bagi kami, kegiatan ini sangat membanggakan, karena animo siswa mengikuti kegiatan luar biasa. Ada 116 siswa perwakilan SMA/SMK/MA dari seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara. Kami menggelar pelatihan kegiatan ini dengan tema ‘Jurnalistik di Era Digital Gerakan Menulis di Media dalam Rangka Menyongsong Indonesia Emas 2045,’ dengan tujuan anak-anak semakin pandai menulis berita,” kata Sunarti saat pidato di acara pembukaan diklat jurnalisti di Aula SMAN 1 Banjarnegara, Senin, 27/10/2025.

    Sudarto SPd MM, kepala SMAN 1 Banjarnegara saat pidato sebelum membuka diklat jurnalistik mengharapkan kegiatan ini bisa meningkatkan kemampuan peserta dalam hal menulis. Tidak hanya menulis berita, namun menulis makalah apa saja, termasuk persiapan menulis karya tulis, skripsi atau apa saja.

    “Kami harap dari kegiatan ini muncul bibit-bibit unggul di dunia jurnalistik di masa depan,” katanya.

    Ali Arifin, pimred nujateng.com, portalpekalongan.com, dan banjarnegaraku.com tampil sebagai pembicara tunggal dalam kegiatan yang digelar oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMA se Banjarnegara itu

    Ali Arifin juga menjelaskan konsep dasar jurnalistik. Wartawan harus memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas. Wartawan harus memahami teori jurnalistik, produk-produk jurnalistik, bentuk-bentuk berita, struktur redaksi dan sebagainya.

    “Tak hanya itu, skill atau kemampuan menulis berita, mencari angle yang menarik, menguasai teknik repotase, hingga penggunaan atau pemilihan bahasa yang baik sesuai standar Bahasa Indonesia Baku. Adapun definisi jurnalistik yaitu serangkaian aktivitas untuk menyebarluaskan informasi melalui media (cetak, elektronik, cyber) dengan mendasarkan kaidah bahasa dan kode etik jurnalistik,” ujarnya.

    Dan, lanjut dia, hal penting yang tidak boleh diabaikan oleh para wartawan saat menulis berita adalah 5 W + 1 H.

    Pentingnya 5 W + 1 H  dalam membuat berita. Beroita apa saja bentuknya, terutama straight news atau berita langsung.

    “Konsep dasar jurnalistik dalam pembuatan yaitu 5W+1 H yaitu What (Apa), Who (siapa), Where (di mana), When (kapan), dan Why (mengapa)) ditambah How (bagaimana). Jangan sampai pembaca berita bertanya kapan kejadiannya? siapa yang ngomong?” kata Ali Arifin, saat menjadi pemateri Kegiatan Pelatihan Jurnalistik dalam rangka memperingati Bulan Bahasa Tahun 2025.

    Lebih jauh Ali Arifin menambahkan bahwa mengapa setiap berita harus memenuhi kaidah baku 5 W + 1 H, karena publik pembaca (situs online, dot com), pemirsa (tv) dll ingin mendapatkan informasi yang lengkap.

    “Mereka akan sangat respek kepada media yang bisa menampilkan berita lengkap 5W + 1 H. Mereka tidak lagi mengernyitkan dahi atau mengeluh, dan bergumam: berita tidak lengkap gini kok disajikan di media mainstream. Jangan sampai pembaca atau pemirsa televisi kurang puas karena penyajian sebuah berita tidak lengkap.”***

    (Annisa Zahra Mauludina / SMAN 1 Banjanegara)

  • KH Idham Chalid: Dari Santri Kalimantan hingga Wajah di Uang Rp5.000, Ulama Moderat yang Jadi Simbol Indonesia!

    KH Idham Chalid: Dari Santri Kalimantan hingga Wajah di Uang Rp5.000, Ulama Moderat yang Jadi Simbol Indonesia!

    NUJATENG.COM – KH Idham Chalid lahir di Setui, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 1922. Sejak kecil, ia dikenal sebagai sosok santri yang cerdas, tekun, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap ilmu agama.

    Kepribadiannya yang sederhana dan rendah hati membuatnya disegani, sementara ketajaman intelektualnya menjadikannya cepat dikenal di kalangan ulama muda Nahdlatul Ulama (NU).

    Seiring perjalanan waktu, semangat juangnya kian menyala. Di tengah masa penjajahan, KH Idham Chalid menyadari bahwa agama bukan hanya urusan spiritual, tetapi juga sumber kekuatan moral bagi bangsa yang tengah berjuang untuk merdeka.

    Pejuang Kemerdekaan dan Politisi Lintas Zaman

    Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, KH Idham Chalid tidak berhenti di dunia dakwah. Ia terjun langsung dalam politik dan pemerintahan, meyakini bahwa politik adalah sarana memperjuangkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

    Dengan latar belakang keulamaan dan kemampuan berdiplomasi yang tinggi, ia berhasil menjadi jembatan antara umat Islam dan pemerintah nasional.

    Ketua Umum PBNU Terlama dalam Sejarah

    Sebagai tokoh NU, kiprah KH Idham Chalid semakin menonjol. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sejak 1956 hingga 1984 masa kepemimpinan terlama sepanjang sejarah organisasi tersebut.

    Di bawah kepemimpinannya, NU tampil sebagai kekuatan sosial-keagamaan dan politik moderat yang berperan penting menjaga persatuan bangsa di tengah pergolakan politik nasional.

    Dari Kabinet ke Kursi Wakil Perdana Menteri

    Kemampuan intelektual dan ketenangan sikap membuat KH Idham Chalid dipercaya memegang sejumlah jabatan strategis di pemerintahan.
    Ia pernah menjadi Wakil Perdana Menteri Indonesia dalam dua kabinet penting:

    • Kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956–1957)

    • Kabinet Djuanda (1957–1959)

    Dalam setiap posisi itu, ia dikenal sebagai tokoh yang menempatkan agama dan negara secara seimbang. Ia menolak ekstremisme dari segala arah baik agama yang kaku maupun ideologi politik yang berlebihan.

    KH Idham Chalid juga dikenal mampu menenangkan suasana politik yang panas dengan pendekatan musyawarah dan hikmah, mencerminkan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin yang selalu ia pegang teguh.

    Wajah di Uang Rp5.000: Simbol Abadi Keteladanan

    Penghargaan terhadap jasa KH Idham Chalid tak berhenti pada masa hidupnya. Melalui Keputusan Presiden Nomor 113/TK/Tahun 2011, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 7 November 2011 pengakuan atas peran besarnya dalam dakwah, pendidikan, dan pemerintahan.

    Lima tahun kemudian, pada 2016, Bank Indonesia menampilkan wajah KH Idham Chalid di pecahan uang kertas Rp5.000 baru. Langkah ini menjadikannya satu-satunya tokoh NU yang diabadikan dalam mata uang nasional, sebuah kehormatan luar biasa sekaligus bentuk penghargaan negara terhadap dedikasi dan integritasnya.

    Makna Simbolik di Balik Uang Rp5.000

    Wajah KH Idham Chalid di uang kertas bukan sekadar penghormatan. Ia adalah simbol nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, dan keteguhan prinsip. Setiap lembar uang itu seolah mengingatkan bangsa bahwa kekuatan sejati bukan pada kekuasaan, tetapi pada ketulusan pengabdian kepada rakyat dan negara.

    Teladan Ulama Moderat dan Visioner

    KH Idham Chalid adalah sosok ulama sekaligus negarawan sejati. Ia membuktikan bahwa seorang ulama bisa menjadi bagian penting dalam tata kelola negara tanpa kehilangan jati diri spiritualnya.

    Gagasan-gagasannya tentang Islam yang moderat, toleran, dan cinta tanah air masih relevan hingga kini, menjadi pedoman bagi generasi muda Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman.

    Warisan Abadi: Dari Tanah Kalimantan untuk Indonesia

    Dari tanah Kalimantan Selatan, KH Idham Chalid menapaki jalan panjang sebagai ulama, politisi, dan pahlawan bangsa. Ia menulis sejarah bukan dengan tinta kekuasaan, melainkan dengan keikhlasan, integritas, dan pengabdian.

    Kini, wajahnya di uang Rp5.000 menjadi pengingat bahwa kesederhanaan bisa melahirkan kebesaran, dan bahwa ulama sejati tak hanya mengajarkan kebaikan, tapi juga meneladankan keberanian dan pengabdian bagi bangsa.

    Ulama, Negarawan, dan Cermin Bangsa

    KH Idham Chalid adalah cerminan generasi ulama Nusantara yang berpikir jauh ke depan, tetapi berpijak kuat pada nilai-nilai agama. Dari mimbar dakwah hingga ruang kabinet, dari pesantren hingga istana negara beliau membawa misi yang sama:

    Menyatukan agama, bangsa, dan kemanusiaan dalam satu napas keikhlasan. Wajahnya di uang Rp5.000 bukan sekadar gambar, tetapi pesan abadi bagi Indonesia: bahwa pengabdian tulus akan selalu bernilai, bahkan setelah seseorang tiada.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: KH Idham Chalid: Dari Kalimantan ke Uang Rp5 Ribu, Sang Ulama Visioner yang Jadi Wajah Indonesia!

  • Rahasia Ketenteraman Jiwa: Inilah Cara Menjadikan Hati Ikhlas Menurut Al-Qur’an dan Hadis!

    Rahasia Ketenteraman Jiwa: Inilah Cara Menjadikan Hati Ikhlas Menurut Al-Qur’an dan Hadis!

    NUJATENG.COM – Kata ikhlas sering terdengar sederhana, namun maknanya dalam tak terhingga. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ikhlas diartikan sebagai bersih hati atau tulus hati. Namun, dalam kehidupan nyata, tidak mudah untuk benar-benar ikhlas.

    Banyak orang beramal, berbuat baik, bahkan beribadah, tetapi hatinya masih berharap pujian atau imbalan dunia. Padahal, dalam ajaran Islam, ikhlas menjadi syarat utama diterimanya amal di sisi Allah SWT. Amal tanpa keikhlasan ibarat bejana kosong tampak besar, tapi tak bermakna.

    Ikhlas dalam Pandangan Al-Qur’an

    Allah SWT menegaskan pentingnya keikhlasan dalam setiap amal manusia. Dalam Surat Al-An’am ayat 162–163, Allah berfirman:

    “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”

    Ayat ini menegaskan bahwa seluruh aktivitas hidup manusia seharusnya hanya tertuju kepada Allah SWT, bukan karena manusia, bukan karena pujian, dan bukan karena kepentingan duniawi.

    Keteladanan dari Nabi Ibrahim AS

    Dalam Surat An-Nisa ayat 125, Allah SWT juga menyinggung keagungan orang yang ikhlas:

    “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.”

    Artinya, keikhlasan adalah tanda ketaatan sejati dan ketundukan total kepada Allah SWT, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS hamba yang tulus dalam setiap ujian.

    Langkah-Langkah Melatih Hati agar Ikhlas

    Ikhlas tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh melalui proses, kesadaran, dan latihan spiritual yang konsisten. Berikut beberapa langkah yang bisa kita pelajari dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

    1. Luruskan Niat Sejak Awal

    Setiap amal tergantung pada niatnya. Sebelum melakukan sesuatu, tanyakan dalam hati:

    “Untuk siapa aku melakukan ini?”

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

    Jika niat bukan karena Allah, maka sebesar apa pun amalnya, ia tidak akan bernilai di sisi-Nya.

    2. Berlindung dari Riyaa dan Syirik Tersembunyi

    Rasulullah SAW senantiasa memohon perlindungan agar terhindar dari penyakit hati, seperti riyaa (pamer amal) dan syirik kecil.
    Beliau berdoa:

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun atas perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)

    Doa ini menjadi perisai hati agar tidak ternoda oleh keinginan dipuji manusia.

    3. Perbanyak Dzikir dan Tafakur

    Mengingat Allah melalui dzikir dan tafakur membantu menenangkan hati. Ketika seseorang sering mengingat bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka keikhlasan akan tumbuh dengan sendirinya.

    Hati yang sibuk dengan dzikir akan lebih mudah untuk melupakan pujian dan celaan manusia, karena hanya Allah yang menjadi pusat perhatian.

    4. Teladani Keikhlasan Umar bin Khattab

    Sahabat agung, Umar bin Khattab, dikenal sebagai sosok tegas namun lembut dalam urusan niat.
    Beliau sering berdoa dengan kata-kata penuh makna:

    “Ya Allah, jadikan seluruh amalanku amal yang shaleh, jadikan seluruh amalanku ikhlas hanya mengharap wajah-Mu, dan jangan jadikan sedikit pun dari amalanku untuk orang lain.”

    Doa ini menggambarkan betapa berat menjaga niat, bahkan bagi orang seagung Umar bin Khattab.

    5. Sadari Bahwa Segalanya Milik Allah

    Keikhlasan lahir dari kesadaran mendalam bahwa semua yang kita miliki waktu, tenaga, ilmu, rezeki, bahkan kemampuan beramal semuanya berasal dari Allah SWT. Dengan pemahaman ini, tidak ada ruang untuk sombong atau berharap imbalan.

    Buah Manis dari Keikhlasan

    Hati yang ikhlas akan menghasilkan ketenangan jiwa, kedamaian batin, dan keberkahan hidup. Orang yang ikhlas tidak lagi sibuk mencari pengakuan dari manusia, karena cukuplah Allah sebagai saksi atas amalnya. Dalam keikhlasan, seseorang akan menemukan kebebasan sejati bebas dari penilaian dunia, bebas dari pamrih, dan hanya berharap ridha Sang Pencipta.

    Imam Al-Ghazali berkata:

    “Ikhlas adalah ketika engkau tidak melihat dalam amalmu selain Allah.”

    Menutup dengan Keikhlasan

    Ikhlas memang sulit, tapi bukan mustahil. Ia adalah otot spiritual yang bisa dilatih dengan niat, doa, dan kebiasaan. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk menjaga hati, meluruskan niat, dan menjadikan setiap amal sebagai jalan menuju ridha-Nya. Karena hanya dengan hati yang ikhlas, manusia dapat meraih ketenangan sejati di dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: Rahasia Hati yang Tenang: Begini Cara Membuat Hati Ikhlas Menurut Al-Qur’an dan Hadis! 

  • NU Bukan Sekadar Organisasi: Kisah Mistis dan Heroik di Balik Lahirnya Nahdlatul Ulama

    NU Bukan Sekadar Organisasi: Kisah Mistis dan Heroik di Balik Lahirnya Nahdlatul Ulama

    NUJATENG.COM – Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar peristiwa sosial atau politik, melainkan buah dari perjalanan spiritual yang panjang. Kisahnya dimulai dari seorang ulama besar, KH Cholil Bangkalan, guru para kiai Jawa yang dikenal memiliki kedalaman ilmu dan karamah.

    Suatu ketika, beliau memberikan sebuah tasbih sakral kepada muridnya, KHR As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo, dengan pesan agar disampaikan langsung kepada KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Tasbih itu tidak boleh disentuh selama perjalanan tanda bahwa amanah ini bukan perkara biasa.

    Setibanya di Tebuireng, Kiai As’ad menyampaikan pesan spiritual dari gurunya dengan lantunan kalimat sakral:

    “Ya Jabbar, Ya Qahhar.”

    Kalimat itu diucapkan tiga kali sesuai pesan KH Cholil. Mendengar itu, KH Hasyim Asy’ari langsung berkata,

    “Allah SWT telah memperbolehkan kita mendirikan jam’iyyah (organisasi).”

    Momen itulah yang diyakini sebagai isyarat langit atas lahirnya Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi yang berdiri bukan karena ambisi manusia, tetapi restu Ilahi.

    Tongkat, Tasbih, dan Asmaul Husna: Simbol Restu Langit

    Sebelum amanah tasbih tersebut, KH Cholil lebih dulu mengutus Kiai As’ad membawa sebatang tongkat disertai bacaan Surat Thaha ayat 17–23, yang menceritakan mukjizat tongkat Nabi Musa.

    Setahun kemudian, beliau kembali diutus dengan tasbih dan doa “Ya Jabbar, Ya Qahhar.”
    Dua tanda ini memiliki makna mendalam:

    • Tongkat melambangkan kekuatan, kepemimpinan, dan perjuangan.

    • Tasbih dan Asmaul Husna mencerminkan kesucian niat serta kedalaman spiritual.

    Dengan dua simbol itu, NU lahir dari sinergi kekuatan lahiriah dan batiniah, antara perjuangan sosial dan restu langit fondasi yang membuatnya bertahan hampir satu abad.

    Dari Gagasan Kiai Wahab hingga Restu Mbah Hasyim

    Sekitar tahun 1924, KH Abdul Wahab Chasbullah menggagas pendirian sebuah jam’iyyah (organisasi) untuk memperkuat posisi ulama dan umat Islam di tengah arus modernisme dan kolonialisme.

    Namun, KH Hasyim Asy’ari tidak serta merta menyetujuinya. Ia memilih melakukan shalat istikharah, memohon petunjuk dari Allah SWT. Petunjuk itu datang melalui KH Cholil Bangkalan yang kemudian mengirimkan isyarat spiritual melalui Kiai As’ad.

    Dari sinilah NU lahir, hasil kolaborasi antara wahyu spiritual dan kesadaran intelektual. Sebuah organisasi yang berdiri atas dasar ilmu, iman, dan keikhlasan.

    Komite Hijaz: Diplomasi Ulama Menjaga Peradaban Islam

    Pada waktu yang sama, dunia Islam tengah bergolak. Dinasti Saud di Hijaz (Arab Saudi) berencana menerapkan paham Wahabi secara mutlak, bahkan sampai ada isu pembongkaran makam Nabi Muhammad SAW.

    Mengetahui ancaman itu, KH Wahab Chasbullah bergabung dalam Centraal Comite Al-Islam (CCI) yang kemudian menjadi Centraal Comite Chilafat (CCC). Dalam Kongres Al-Islam ke-IV di Yogyakarta (1925), beliau mengusulkan agar dikirim delegasi ke Makkah untuk mendesak Raja Ibnu Saud menjaga kebebasan bermazhab.

    Sayangnya, usulan itu ditolak oleh kelompok modernis. KH Wahab tidak menyerah. Ia membentuk Komite Hijaz pada Januari 1926 dengan restu KH Hasyim Asy’ari.

    Pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H), para ulama berkumpul di Surabaya dan menunjuk KH Raden Asnawi Kudus sebagai utusan ke Makkah.

    Pertanyaannya: atas nama siapa beliau berangkat?
    Jawabannya melahirkan sejarah besar:

    “Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.”

    NU pun resmi berdiri sebagai lembaga ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang berakar kuat pada tradisi keilmuan dan spiritualitas Islam Nusantara.

    NU: Dari Spirit Keislaman Menuju Spirit Kebangsaan

    Berdirinya NU bukan hanya jawaban terhadap isu keagamaan global, tapi juga jawaban atas penderitaan bangsa yang dijajah Belanda.

    Sebelum NU lahir, para ulama pesantren telah menyiapkan fondasinya lewat beberapa gerakan awal:

    • Tashwirul Afkar (1914) – kebangkitan pemikiran Islam.

    • Nahdlatul Wathon (1916) – kebangkitan nasionalisme dan cinta tanah air.

    • Nahdlatut Tujjar (1918) – kebangkitan ekonomi umat.

    NU hadir sebagai sintesis dari ketiganya, menyatukan aspek intelektual, ekonomi, dan spiritual dalam satu gerakan peradaban.

    Warisan Abadi: NU Penjaga Islam Rahmatan lil ‘Alamin

    Sejak 1926 hingga kini, NU tetap tegak menjadi penjaga moral, spiritual, dan kebangsaan Indonesia.

    Setiap tahun, NU memperingati dua momentum kelahirannya:

    • 31 Januari (Masehi)

    • 16 Rajab (Hijriyah)

    Keduanya bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat bahwa NU lahir dari dzikir dan cinta tanah air.
    KH Hasyim Asy’ari pernah berkata:

    “Hubbul wathan minal iman cinta tanah air sebagian dari iman.”

    Kalimat itu bukan semboyan kosong, melainkan roh perjuangan NU yang menegaskan bahwa mencintai Indonesia adalah bagian dari ibadah.

    Lahir dari Dzikir, Tumbuh dengan Cinta Tanah Air

    Nahdlatul Ulama bukan sekadar organisasi, tetapi wahyu peradaban. Ia lahir dari doa dan tasbih, tumbuh karena cinta ilmu dan kemanusiaan, serta bertahan karena cinta kepada Indonesia.

    Selama hampir satu abad, NU terus menjadi mercusuar Islam yang menyejukkan, membumi, dan mempersatukan. Sebuah bukti bahwa ketika spiritualitas bersatu dengan nasionalisme, lahirlah kekuatan yang tak tergoyahkan.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: Bukan Sekadar Organisasi, Tapi Wahyu Peradaban: Sejarah Mistis dan Heroik Berdirinya Nahdlatul Ulama!

  • Menyongsong Masa Depan Remaja melalui Pelatihan Jurnalistik

    Menyongsong Masa Depan Remaja melalui Pelatihan Jurnalistik

    BANJARNEGARA – nujateng.com –  Tepatnya di Aula SMAN 1 Banjarnegara 27 Oktober 2025, diselenggarakan suatu kegiatan dalam rangka memperingati Bulan Bahasa tahun 2025 yang mengusung tema Jurnalistik di Era digital dalam rangka menyongsong Indonesia emas 2045.

    Terpampang jelas bahwa siswa-siswi dari berbagai SMA/SMK/MA sangat bersemangat dan tentunya mereka mengharapkan ilmu yang mereka dapatkan pada hari itu juga dapat diimplementasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari, untuk kepentingan kualitas SDM di bidang profesi, tentunya dengan tujuan utama menyongsong Indonesia emas 2045.

    Pelatihan ini diselenggarakan oleh pihak MGMP SMA/SMK/MA se-Banjarnegara serta bersama Bapak Ali Arifin Sarjana Sosial sebagai narasumber.

    Ali Arifin sharing tentang berbagai pengalaman yang pernah beliau jalani selama melangkah dalam karir-karirnya yaitu yang pertama pada tahun 1997-2020 sebagai seorang wartawan, 2021 hingga saat ini beliau menjalani karir sebagai seorang pimpinan redaksi.

    Pelatihan ini menginspirasi siswa-siswi yang hadir di aula SMA Negeri 1 Banjarnegara pada hari itu, Ali Arifin  membagikan pengalaman-pengalaman mengesankan baik itu segala rintangan yang beliau lewati.

    Tentunya hal tersebut mengembangkan rasa ingin tahu para siswa-siswi tentang seluruh kegiatan apa saja yang dijalani oleh seorang jurnalistik.***

    (Alviana Lailatul Afidah /SMA Negeri 1 Wanadadi)