H. Usmar Ismail: Ulama NU dari Ranah Minang yang Berjihad Lewat Layar Perak dan Jadi Bapak Film Indonesia
3 mins read

H. Usmar Ismail: Ulama NU dari Ranah Minang yang Berjihad Lewat Layar Perak dan Jadi Bapak Film Indonesia

NUJATENG.COM – Ketika berbicara tentang dunia perfilman Indonesia, nama H. Usmar Ismail tak bisa dilepaskan. Ia bukan sekadar sineas, melainkan ulama dan pejuang budaya yang menanamkan nilai-nilai Islam dan nasionalisme lewat film. Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, darah Minangkabau dalam dirinya berpadu dengan semangat kebangsaan yang kuat.

Sebelum dikenal sebagai sutradara, Usmar meniti karier sebagai wartawan dan sastrawan. Tulisan-tulisannya menggambarkan semangat perjuangan, moralitas, dan kesadaran nasional yang tinggi. Namun, ia kemudian menemukan bahwa layar perak bisa menjadi mimbar dakwah yang lebih luas tempat menanamkan nilai dan karakter bangsa lewat cerita.

“Kebudayaan adalah medan jihad yang tak kalah penting dari medan perang,” begitu keyakinan Usmar Ismail.

Film Sebagai Dakwah dan Alat Kebangkitan Nasional

Usmar Ismail hadir di masa ketika perfilman Indonesia masih dipengaruhi oleh kolonialisme. Ia memimpin revolusi budaya dengan menghadirkan film yang benar-benar ‘berjiwa Indonesia’. Melalui karya legendaris seperti Darah dan Doa (1950), Lewat Djam Malam (1954), dan Tamu Agung (1955), Usmar mengangkat tema perjuangan, kemanusiaan, dan moralitas sosial.

Baginya, film bukan sekadar hiburan, tetapi sarana pendidikan dan dakwah. Di balik setiap adegan, terselip pesan keislaman dan nilai-nilai kemerdekaan. Ia meyakini bahwa seni dan iman bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.

Ulama Modern dan Pemimpin NU yang Visioner

Sebagai Ketua I PBNU periode 1964–1970, Usmar Ismail memainkan peran penting dalam menjembatani dunia keagamaan dan seni. Ia dikenal sebagai sosok progresif yang memandang Nahdlatul Ulama bukan hanya lembaga keagamaan, tetapi juga pusat kebudayaan dan moral bangsa.

Kepemimpinannya di tengah gejolak politik masa itu menunjukkan kedewasaan berpikir dan visi kebangsaan yang luas. Ia berupaya membangun jembatan antara nilai-nilai Islam, seni, dan kehidupan bernegara.

Pahlawan Nasional: Pengakuan atas Jihad Lewat Budaya

Perjuangan Usmar Ismail akhirnya mendapat pengakuan negara. Pada 25 Oktober 2021, melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/TH 2021, ia resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Penghargaan itu bukan semata karena karya seninya, melainkan karena dedikasinya dalam membangun karakter bangsa melalui kebudayaan.

Usmar membuktikan bahwa jihad tidak selalu dilakukan dengan senjata. Ia berjuang lewat layar perak, menanamkan nilai Islam, moral, dan cinta tanah air di hati penontonnya.

Warisan Abadi: Ketika Film Menjadi Jalan Dakwah

Bagi Usmar Ismail, film adalah media dakwah dan pendidikan jiwa. Ia meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu baik melalui film-filmnya yang kini menjadi warisan sinema nasional, maupun pemikirannya tentang integrasi agama dan budaya.

Warisan itu masih hidup hingga kini. Setiap kali film Indonesia berbicara tentang kemanusiaan, kejujuran, dan perjuangan, di sana masih terasa roh dan semangat seorang ulama budayawan bernama H. Usmar Ismail sang Bapak Film Indonesia yang berjihad lewat karya.

H. Usmar Ismail adalah bukti bahwa perjuangan tak harus di medan tempur. Melalui pena dan kamera, ia melahirkan karya-karya yang menanamkan nilai Islam dan nasionalisme. Sosoknya menjadi inspirasi bagi generasi penerus bahwa dakwah bisa hadir dalam segala bentuk, termasuk lewat seni dan film.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: H. Usmar Ismail: Ulama NU dari Minang yang Jadi Bapak Film Indonesia dan Pejuang Lewat Layar Perak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *