Author: Dwi Widiyastuti

  • Syarifah Eriana Putri Ketua OSIS yang Meraih Juara Puisi, Rahasia Sukses Mengatur Waktu

    Syarifah Eriana Putri Ketua OSIS yang Meraih Juara Puisi, Rahasia Sukses Mengatur Waktu

    BANJARNEGARA – nujateng.com – Syarifah Eriana Putri, ketua OSIS SMA Negeri 1 Purwareja Klampok, berhasil meraih juara ketiga lomba puisi dalam ajang Bulan Bahasa yang diadakan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada 18 Oktober 2025. Dalam wawancara eksklusif, Syarifah membagikan cerita tentang prestasi yang paling berkesan baginya, serta tips jitu membagi waktu antara mengikuti perlombaan dan menjalankan tugas sebagai ketua OSIS.

     

    Syarifah mengungkapkan bahwa prestasi juara pertama di lomba puisi Bulan Bahasa UMP merupakan pencapaian yang sangat berarti setelah mengikuti berbagai perlombaan di bidang puisi. “Itu adalah juara pertama yang saya raih, dan tentu sangat berkesan bagi saya,” ujarnya.

     

    Selain berprestasi di bidang puisi, Syarifah juga aktif sebagai ketua OSIS di sekolahnya. Ia membagi waktu dengan cermat antara latihan puisi dan tugas OSIS. “Saya biasanya mendahulukan yang paling penting dulu dan membuat jadwal yang efektif supaya tidak menunda-nunda tugas,” jelasnya.

     

    Syarifah juga memberikan motivasi bagi teman-teman yang ingin berprestasi. “Pertama, jangan takut mencoba hal baru dan jangan menyia-nyiakan kesempatan. Kedua, jangan menyerah apabila menghadapi kesulitan, tetap berusaha dan percaya pada diri sendiri,” pesan Syarifah.

     

    Manajemen waktu dan semangat pantang menyerah menjadi kunci keberhasilan Syarifah dalam menggapai prestasi sambil menjalankan peran sebagai ketua OSIS yang penuh tanggung jawab.

    jurnalis smansa perjaka

    -naura haifa afanin-

  • Jangan Remehkan Doa Keluar Rumah! Tiga Malaikat Siap Menjagamu Setiap Melangkah!

    Jangan Remehkan Doa Keluar Rumah! Tiga Malaikat Siap Menjagamu Setiap Melangkah!

    NUJATENG.COM – Banyak dari kita terbiasa langsung beraktivitas begitu keluar rumah terburu-buru, lupa berpamitan, apalagi membaca doa. Padahal, Rasulullah SAW telah mencontohkan satu amalan sederhana yang memiliki kekuatan luar biasa: membaca doa keluar rumah.

    Doa ini bukan hanya bentuk dzikir, tetapi juga benteng perlindungan spiritual agar langkah kita senantiasa dalam bimbingan dan penjagaan Allah SWT.

    Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Siapa yang membaca (doa berikut ini) ketika keluar dari rumahnya, akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan dicukupkan, dijaga, dan diberi petunjuk,’ dan setan pun akan menyingkir darinya.”
    (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi)

    Doanya adalah sebagai berikut:

    بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
    “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.”

    Artinya:
    “Dengan nama Allah (aku keluar). Aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.”

    Doa ini menjadi bentuk pengakuan bahwa segala urusan, keselamatan, dan rezeki sepenuhnya bergantung pada kehendak Allah SWT.

    Tiga Malaikat yang Menjaga Orang yang Membaca Doa Ini

    Sebuah penjelasan yang disampaikan dalam kajian dari Ikhtiarlangit.id mengungkapkan keutamaan luar biasa di balik doa keluar rumah. Disebutkan bahwa tiga malaikat akan menyertai seseorang yang membacanya dengan penuh keyakinan.

    1. Malaikat Pemberi Petunjuk

    Ketika seseorang membaca “Bismillahi”, malaikat pertama berkata,

    “Aku ditugaskan oleh Allah untuk memberikan petunjuk jalan bagimu.”
    Setiap langkah akan diarahkan menuju kebaikan dan dijauhkan dari keburukan.

    2. Malaikat Pencukup Rezeki

    Saat seseorang menambahkan “Tawakkaltu ‘alallah”, malaikat kedua akan berkata,

    “Aku ditugaskan untuk menjaga dan mencukupkan rezekimu hari ini.”
    Artinya, rezeki kita akan datang dari arah yang tak disangka-sangka, selama kita berserah diri sepenuhnya kepada Allah.

    3. Malaikat Pelindung

    Kemudian, ketika ditutup dengan “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah”, malaikat ketiga berkata,

    “Kamu akan diproteksi dan dilindungi.”
    Doa ini menjadi tameng dari marabahaya, godaan setan, dan segala bentuk keburukan di luar sana.

    Perlindungan Lengkap untuk Setiap Langkah

    Membaca doa keluar rumah bukanlah ritual kecil tanpa makna. Di balik kalimat singkat itu tersimpan janji besar: perlindungan, petunjuk, dan kecukupan rezeki.

    Dengan membaca doa ini, seorang Muslim menunjukkan rasa tawakal dan kebergantungan penuh kepada Allah SWT dua hal yang menjadi kunci keberkahan dalam hidup.

    “Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
    (QS. Ath-Thalaq: 3)

    Amalan Sederhana, Pahala Luar Biasa

    Mulai hari ini, jangan pernah remehkan doa keluar rumah. Cukup satu kali ucap sebelum melangkah, tapi pahalanya mengiringi sepanjang hari.
    Bayangkan, setiap kali Anda membuka pintu, tiga malaikat siap menjaga dan mendampingi langkah Anda dari rumah, ke tempat kerja, hingga kembali lagi.

    Maka, biasakanlah membaca doa ini:

    “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.”

    Sebuah kalimat pendek yang bisa menjadi penjaga hidup, pembuka rezeki, dan pelindung dari bahaya.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: Dahsyatnya Membaca Doa Keluar Rumah, Jangan Diabaikan!

  • Bukan Sekadar Bebas Riba! Inilah 4 Nilai Dasar Ekonomi Syariah yang Bedakan dari Sistem Konvensional!

    Bukan Sekadar Bebas Riba! Inilah 4 Nilai Dasar Ekonomi Syariah yang Bedakan dari Sistem Konvensional!

    NUJATENG.COM – Banyak yang mengira ekonomi syariah hanyalah sistem ekonomi yang menolak bunga atau riba. Padahal, esensinya jauh lebih dalam. Ekonomi syariah adalah sistem yang menyatukan dimensi spiritual dan material, menjadikan setiap aktivitas ekonomi sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

    Sebagaimana dijelaskan dalam buku Ekonomi Syariah untuk Sekolah Menengah Atas terbitan Bank Indonesia (2020), konsep ekonomi Islam berakar pada tauhid keyakinan bahwa seluruh aktivitas manusia, termasuk dalam mencari rezeki, adalah bagian dari penghambaan kepada Allah. Dari prinsip inilah lahir empat nilai dasar yang menjadi pembeda utama antara ekonomi syariah dan sistem konvensional.

    1. Kepemilikan: Semua Milik Allah, Manusia Hanya Pengelola

    Dalam Islam, seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah SWT. Firman-Nya:

    “Ketahuilah, sesungguhnya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Yunus: 55)

    Manusia hanya diberi amanah untuk mengelola dan memanfaatkannya secara bijak. Kepemilikan pribadi memang diakui, tapi sifatnya tidak mutlak. Setiap harta harus dikelola sesuai syariat bukan untuk menimbun, apalagi menzalimi pihak lain.

    Contoh konkret:
    Seorang pengusaha Muslim menyadari bahwa harta yang dimilikinya adalah titipan. Karena itu, ia menunaikan zakat, bersedekah, dan mengalokasikan sebagian keuntungan untuk kegiatan sosial atau wakaf produktif.

    2. Keadilan dalam Berusaha: Tak Harus Sama, tapi Harus Adil

    Islam mengajarkan bahwa adil tidak selalu berarti sama rata, melainkan menempatkan sesuatu pada porsi yang seharusnya. Dalam ekonomi, keadilan mencakup seluruh aspek: transaksi, pembagian keuntungan, hingga pengelolaan aset.

    Sistem ekonomi syariah menolak segala bentuk kezaliman ekonomi, baik dalam bentuk bunga, manipulasi harga, maupun eksploitasi pekerja.

    Contoh nyata:
    Dalam sistem mudharabah (bagi hasil), pemodal dan pengelola sama-sama menanggung risiko dan berbagi keuntungan sesuai kesepakatan. Tak ada satu pihak yang diuntungkan secara sepihak.

    3. Kerja Sama dalam Kebaikan: Persaingan yang Bernilai Ibadah

    Salah satu keindahan ekonomi syariah adalah semangat ta’awun (tolong-menolong). Sistem ini menumbuhkan kompetisi yang sehat, di mana pelaku usaha bukan hanya mengejar keuntungan, tapi juga kebaikan dan keberkahan.

    Contoh penerapan:
    Para pelaku UMKM Muslim saling bekerja sama untuk memperkuat rantai pasok halal, berbagi pengetahuan produksi, hingga membantu pemasaran sesama pengusaha kecil. Persaingan bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk saling menguatkan demi keberkahan bersama.

    4. Pertumbuhan yang Seimbang: Duniawi dan Spiritual

    Islam tidak menolak pertumbuhan ekonomi. Namun, pertumbuhan itu harus seimbang antara aspek material, spiritual, dan lingkungan. Ekonomi syariah menolak kapitalisme yang berorientasi pada akumulasi harta tanpa batas dan mengabaikan dampak sosial.

    Contoh konkret:
    Investasi syariah yang memperhatikan prinsip green finance tidak merusak alam dan mendukung pemberdayaan sosial mencerminkan keseimbangan antara keuntungan dunia dan tanggung jawab akhirat.

    Ekonomi Syariah: Jalan Tengah untuk Keadilan dan Keberkahan

    Empat nilai dasar ini menunjukkan bahwa ekonomi syariah bukan sekadar alternatif, melainkan solusi holistik terhadap ketimpangan sistem konvensional. Dengan mengedepankan tauhid, keadilan, kerja sama, dan keseimbangan, umat Islam bisa membangun tatanan ekonomi yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan.

    Ekonomi syariah mengajarkan bahwa rezeki bukan hanya tentang berapa banyak yang kita dapatkan, tetapi seberapa berkah cara kita memperolehnya.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: Pahami 4 Nilai Dasar Ekonomi Syariah yang Bedakan dari Sistem Konvensional

  • Riba Nasi’ah dan Riba Fadhl: Dosa Tersembunyi di Balik Transaksi Digital Modern

    Riba Nasi’ah dan Riba Fadhl: Dosa Tersembunyi di Balik Transaksi Digital Modern

    NUJATENG.COM – Zaman boleh berubah, teknologi boleh melesat cepat, tapi satu hal tak pernah berubah: bahaya riba. Dalam ekonomi digital, praktik ini justru makin tersamarkan. Dari bunga pinjaman online, cicilan kendaraan, hingga “biaya keterlambatan” dalam transaksi aplikasi keuangan semuanya bisa mengandung unsur Riba Nasi’ah dan Riba Fadhl tanpa disadari.

    Padahal, Al-Qur’an dan Hadis telah melarang riba secara tegas, baik dalam bentuk tambahan waktu maupun perbedaan nilai dalam pertukaran barang. Dua jenis riba ini menjadi dosa finansial yang masih bernafas di tengah kemajuan teknologi.

    Apa Itu Riba Nasi’ah?

    Secara bahasa, nasi’ah berarti penundaan atau pengakhiran waktu pembayaran. Dalam fikih, riba nasi’ah diartikan sebagai tambahan nilai pada barang atau uang karena penundaan waktu pembayaran.

    Praktik ini sudah dikenal sejak masa Jahiliyah. Qatadah rahimahullah menjelaskan:

    “Sesungguhnya riba di zaman Jahiliyyah ialah seseorang menjual barang dengan pembayaran ditangguhkan sampai batas waktu tertentu. Ketika waktu itu tiba dan orang yang berutang belum mampu melunasi, maka hutangnya ditambah dan waktunya diperpanjang.”

    Contoh Modern Riba Nasi’ah

    Misalnya, seseorang meminjam uang Rp1 juta dan diwajibkan mengembalikannya sebulan kemudian sebesar Rp1,2 juta “karena biaya administrasi” atau “bunga waktu”. Tambahan itu, sekecil apa pun, tetap disebut riba.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Tidak ada riba kecuali pada nasi’ah.” (HR. Bukhari)

    Di era sekarang, bunga bank, cicilan kredit, hingga biaya keterlambatan pinjaman digital menjadi bentuk baru dari riba nasi’ah di mana waktu dijadikan alat untuk mengambil keuntungan dari kebutuhan orang lain.

    Riba Fadhl: Ketika Pertukaran Tak Lagi Seimbang

    Riba Fadhl muncul dalam transaksi tukar-menukar barang sejenis yang tidak setara nilai atau takarannya. Misalnya, menukar 10 gram emas dengan 12 gram emas, atau 1 kg beras kualitas rendah dengan 1,5 kg beras kualitas premium.

    Tambahan itu dianggap riba karena Rasulullah SAW telah bersabda:

    “Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam ukurannya harus sama dan dilakukan tunai.” (HR. Bukhari)

    Syarat agar Terhindar dari Riba Fadhl:

    1. Nilainya harus sama.

    2. Serah terima dilakukan langsung (tunai).

    Jika salah satu dilanggar baik karena perbedaan berat, kualitas, atau penundaan pembayaran maka transaksi itu termasuk riba.

    Mengapa Riba Masih Berbahaya di Era Digital?

    Riba bukan sekadar dosa ekonomi, tapi penyakit moral dan sosial. Ia menciptakan ketimpangan orang kaya makin kaya, sedangkan yang miskin terjebak hutang. Dalam QS. Al-Baqarah: 278–279, Allah SWT berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang belum dipungut, jika kamu orang beriman. Jika tidak, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu…”

    Perang dari Allah adalah ancaman yang nyata. Inilah bentuk dosa yang tidak hanya merusak sistem keuangan, tapi juga menyalahi keadilan sosial dalam masyarakat.

    Riba di Balik Layanan Digital: Bahaya yang Tak Terlihat

    Di era fintech dan e-commerce, praktik riba seringkali tampil dalam bentuk yang lebih “sopan”:

    • “Biaya keterlambatan” dalam pinjaman online.

    • “Bunga flat” pada kredit motor atau mobil.

    • “Bonus saldo” dengan syarat waktu tertentu.

    Semua tambahan yang muncul karena penundaan atau perbedaan nilai dalam barang sejenis, sejatinya termasuk dalam lingkaran riba yang diharamkan.

    Kembali ke Prinsip Syariah: Ekonomi yang Adil dan Berkah

    Islam tidak menolak transaksi modern, tetapi menolak eksploitasi dan ketidakadilan di balik sistem ekonomi yang tidak seimbang.

    Memahami Riba Nasi’ah dan Riba Fadhl bukan sekadar mempelajari hukum, tapi juga menjaga keberkahan harta dan keadilan sosial. Sebab, keuntungan sejati bukan berasal dari tambahan yang haram, melainkan dari rezeki yang halal dan penuh keberkahan.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: Riba Nasi’ah dan Riba Fadhl: Dosa Finansial yang Masih Hidup di Zaman Modern

  • Riba Tak Sekadar Bunga Bank! Waspadai Praktiknya yang Terselubung di Kehidupan Sehari-hari

    Riba Tak Sekadar Bunga Bank! Waspadai Praktiknya yang Terselubung di Kehidupan Sehari-hari

    NUJATENG.COM – Dalam ajaran Islam, riba termasuk dosa besar yang tegas diharamkan dalam Al-Qur’an. Meski begitu, praktiknya kini sering terselubung dalam berbagai bentuk transaksi ekonomi modern, bahkan dalam kegiatan keuangan rumah tangga yang tampak “biasa saja”.

    Secara bahasa, riba berasal dari kata Arab az-ziyadah, yang berarti “tambahan” atau “kelebihan”. Menurut Fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2004, riba adalah tambahan tanpa imbalan (ziyadah) yang timbul karena penangguhan dalam pembayaran (ziyadah al-ajal) berdasarkan kesepakatan sebelumnya jenis ini dikenal sebagai riba nasi’ah.

    Allah SWT telah memperingatkan keras tentang praktik ini dalam QS. Ali Imran ayat 130:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”

    Ayat tersebut menegaskan bahwa segala bentuk tambahan dalam transaksi utang-piutang yang tidak memiliki dasar syariah tergolong riba dan termasuk perbuatan zalim.

    Riba Tak Hanya di Bank Konvensional: Bisa Terjadi di Rumah Sendiri

    Banyak orang beranggapan bahwa riba hanya terdapat pada bunga bank. Namun menurut Adi Wicaksono, SE., MEI, dosen Ekonomi Islam di Universitas Islam Indonesia (UII), pandangan itu keliru. Ia menegaskan bahwa riba bisa terjadi di berbagai level kehidupan ekonomi, bahkan di lingkungan masyarakat paling sederhana.

    “Contohnya, kas RT atau dana arisan yang dipinjamkan dengan sistem bunga. Begitu juga di pasar modal konvensional, bunga muncul dalam transaksi margin trading ketika investor meminjam dana dari sekuritas,” jelas Adi.

    Dengan demikian, praktik riba bisa menjangkiti kegiatan ekonomi harian, baik disadari maupun tidak. Itulah mengapa penting bagi umat Islam untuk mengenali berbagai bentuk riba agar tidak terjebak dalam transaksi yang dilarang syariat.

    Jenis-Jenis Riba yang Harus Dikenali Umat Muslim

    Menurut penjelasan Dewan Syariah Nasional-MUI, riba terbagi ke dalam beberapa jenis utama:

    1. Riba Jahiliah

    Terjadi ketika pelunasan utang dilakukan dengan jumlah lebih besar dari pinjaman pokok karena penundaan pembayaran.

    2. Riba Qardh

    Riba yang timbul dari pinjaman dengan syarat pengembalian lebih besar, misalnya pinjaman kas atau kredit berbunga.

    3. Riba Fadhl

    Penambahan nilai dalam transaksi barter atau tukar-menukar barang sejenis dengan nilai yang tidak setara, seperti menukar emas 10 gram dengan 12 gram emas lain.

    4. Riba Nasi’ah

    Tambahan yang timbul akibat penundaan pembayaran dalam transaksi barang sejenis.

    5. Riba Yad

    Terjadi ketika transaksi belum diserahterimakan langsung dan salah satu pihak menunda pembayaran sehingga muncul tambahan nilai.

    Semua bentuk riba ini dianggap haram karena menimbulkan ketidakadilan dan merugikan salah satu pihak dalam transaksi.

    Cara Menghindari Riba di Kehidupan Modern

    Agar tidak terjerumus dalam riba, Adi Wicaksono memberikan dua langkah sederhana namun penting:

    1. Tingkatkan Literasi Keuangan Syariah

    Pelajari perbedaan antara transaksi halal dan yang mengandung riba. Jangan asal menandatangani perjanjian pinjaman, kredit, atau investasi tanpa memahami akadnya.

    2. Diskusikan dan Amati Praktik Lapangan

    Konsultasikan dengan ahli ekonomi Islam atau ustaz yang memahami fikih muamalah. Banyak hal yang terlihat “normal” dalam dunia keuangan modern ternyata mengandung unsur riba.

    Menuju Ekonomi yang Berkah dan Bebas Riba

    Riba bukan sekadar urusan bunga bank atau sistem pinjaman, tetapi menyangkut nilai keadilan dan keberkahan dalam bermuamalah. Larangan riba bertujuan menjaga keseimbangan ekonomi, agar tidak ada pihak yang dirugikan oleh keserakahan atau eksploitasi.

    Dengan meningkatkan literasi keuangan syariah, masyarakat dapat membangun ekonomi yang lebih adil, transparan, dan berkah. Semakin banyak umat sadar akan bahaya riba, semakin dekat pula kita menuju sistem ekonomi Islam yang diridhai Allah SWT.

    Semoga Allah menjauhkan kita dari praktik riba, dan menjadikan harta kita penuh berkah. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: Riba Bukan Hanya Soal Bunga Bank?! Apa Penjelasannya?

  • H. Usmar Ismail: Ulama NU dari Ranah Minang yang Berjihad Lewat Layar Perak dan Jadi Bapak Film Indonesia

    H. Usmar Ismail: Ulama NU dari Ranah Minang yang Berjihad Lewat Layar Perak dan Jadi Bapak Film Indonesia

    NUJATENG.COM – Ketika berbicara tentang dunia perfilman Indonesia, nama H. Usmar Ismail tak bisa dilepaskan. Ia bukan sekadar sineas, melainkan ulama dan pejuang budaya yang menanamkan nilai-nilai Islam dan nasionalisme lewat film. Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, darah Minangkabau dalam dirinya berpadu dengan semangat kebangsaan yang kuat.

    Sebelum dikenal sebagai sutradara, Usmar meniti karier sebagai wartawan dan sastrawan. Tulisan-tulisannya menggambarkan semangat perjuangan, moralitas, dan kesadaran nasional yang tinggi. Namun, ia kemudian menemukan bahwa layar perak bisa menjadi mimbar dakwah yang lebih luas tempat menanamkan nilai dan karakter bangsa lewat cerita.

    “Kebudayaan adalah medan jihad yang tak kalah penting dari medan perang,” begitu keyakinan Usmar Ismail.

    Film Sebagai Dakwah dan Alat Kebangkitan Nasional

    Usmar Ismail hadir di masa ketika perfilman Indonesia masih dipengaruhi oleh kolonialisme. Ia memimpin revolusi budaya dengan menghadirkan film yang benar-benar ‘berjiwa Indonesia’. Melalui karya legendaris seperti Darah dan Doa (1950), Lewat Djam Malam (1954), dan Tamu Agung (1955), Usmar mengangkat tema perjuangan, kemanusiaan, dan moralitas sosial.

    Baginya, film bukan sekadar hiburan, tetapi sarana pendidikan dan dakwah. Di balik setiap adegan, terselip pesan keislaman dan nilai-nilai kemerdekaan. Ia meyakini bahwa seni dan iman bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.

    Ulama Modern dan Pemimpin NU yang Visioner

    Sebagai Ketua I PBNU periode 1964–1970, Usmar Ismail memainkan peran penting dalam menjembatani dunia keagamaan dan seni. Ia dikenal sebagai sosok progresif yang memandang Nahdlatul Ulama bukan hanya lembaga keagamaan, tetapi juga pusat kebudayaan dan moral bangsa.

    Kepemimpinannya di tengah gejolak politik masa itu menunjukkan kedewasaan berpikir dan visi kebangsaan yang luas. Ia berupaya membangun jembatan antara nilai-nilai Islam, seni, dan kehidupan bernegara.

    Pahlawan Nasional: Pengakuan atas Jihad Lewat Budaya

    Perjuangan Usmar Ismail akhirnya mendapat pengakuan negara. Pada 25 Oktober 2021, melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/TH 2021, ia resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Penghargaan itu bukan semata karena karya seninya, melainkan karena dedikasinya dalam membangun karakter bangsa melalui kebudayaan.

    Usmar membuktikan bahwa jihad tidak selalu dilakukan dengan senjata. Ia berjuang lewat layar perak, menanamkan nilai Islam, moral, dan cinta tanah air di hati penontonnya.

    Warisan Abadi: Ketika Film Menjadi Jalan Dakwah

    Bagi Usmar Ismail, film adalah media dakwah dan pendidikan jiwa. Ia meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu baik melalui film-filmnya yang kini menjadi warisan sinema nasional, maupun pemikirannya tentang integrasi agama dan budaya.

    Warisan itu masih hidup hingga kini. Setiap kali film Indonesia berbicara tentang kemanusiaan, kejujuran, dan perjuangan, di sana masih terasa roh dan semangat seorang ulama budayawan bernama H. Usmar Ismail sang Bapak Film Indonesia yang berjihad lewat karya.

    H. Usmar Ismail adalah bukti bahwa perjuangan tak harus di medan tempur. Melalui pena dan kamera, ia melahirkan karya-karya yang menanamkan nilai Islam dan nasionalisme. Sosoknya menjadi inspirasi bagi generasi penerus bahwa dakwah bisa hadir dalam segala bentuk, termasuk lewat seni dan film.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: H. Usmar Ismail: Ulama NU dari Minang yang Jadi Bapak Film Indonesia dan Pejuang Lewat Layar Perak!

  • Senam dengan Musik Remix, Sehat dengan Cara Asyik! SMAN 1 Purwareja Klampok Ajak Warga Sekolah Bugarkan Badan Bersama

    BANJARNEGARA – nujateng.com

    Purwareja Klampok, 30 Oktober 2025 — Siswa kelas X dan XI SMAN 1 Purwareja Klampok menggelar kegiatan senam bersama dalam rangka kokurikuler Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH). Kegiatan berlangsung di lapangan sepak bola SMAN 1 Purwareja Klampok, dipandu oleh pengurus OSIS. Tepat pukul 07.00 WIB, seluruh peserta berkumpul dan berbaris rapi di bawah sinar matahari pagi yang cerah.

    Senam “Anak Indonesia Hebat” versi remix menjadi pembuka kegiatan yang berlangsung meriah. Kegiatan dilanjutkan dengan senam “Tabola-bale” yang juga diiringi musik remix, menambah semangat para siswa dalam menjaga kebugaran. Suasana semakin hidup saat senam “Sipong” dilakukan dengan penuh tawa dan keceriaan. Sebagai penutup, senam “Maumere” menghadirkan gerakan energik yang membuat seluruh peserta bersemangat hingga akhir kegiatan.

     

    Guru PJOK SMAN 1 Purwareja Klampok, Rohanto, S.Pd., mengapresiasi antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan senam rutin ini.

    “Antusias siswa luar biasa. Beberapa bulan terakhir, terutama sejak diterapkannya pembiasaan siswa untuk senam pagi. Di sekolah ini, kegiatan senam juga sudah menjadi agenda rutin setiap bulan,” ujarnya.

    Sementara itu, Andreas Nugroho, salah satu siswa kelas XI, menyampaikan bahwa kegiatan senam pagi membantu menjaga kebugaran jasmani.

    “Tujuan senam ini untuk melatih kebugaran tubuh. Biasanya kalau di rumah kita jarang bergerak, nah dengan senam bareng seperti ini badan jadi lebih segar dan semangat belajar pun meningkat,” tuturnya.

     

    Tidak hanya para siswa, sejumlah guru juga tampak antusias mengikuti setiap gerakan senam. Pemilihan musik remix dinilai mampu menambah energi dan keceriaan peserta.

    Kegiatan senam pagi bersama ini menjadi wujud nyata pelaksanaan kokurikuler di SMAN 1 Purwareja Klampok dalam menumbuhkan karakter siswa yang sehat, disiplin, dan bersemangat dalam menjalani kegiatan belajar.

     

    (Auranissa Syawalia dan Desviana Khairunnisa)

  • LPBI NU Kota Semarang Dirikan Posko Peduli Banjir di Tambak Rejo

    SEMARANG – nuonline.com — Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) PCNU Kota Semarang mendirikan Posko LPBI NU PCNU Kota Semarang di Kelurahan Tambak Rejo, Kecamatan Gayamsari, sejak 28 Oktober 2025. Posko ini didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang terdampak banjir di wilayah tersebut.

    Posko tersebut melayani kebutuhan konsumsi bagi sekitar 1.200 warga yang tersebar di 9 RW di wilayah Kelurahan Tambak Rejo. Penanggung jawab kegiatan adalah Ketua LPBI NU Kota Semarang dr. Hayi Wildani dan Sekretaris LPBI NU Zidane Esriyanto.

    Adapun tenaga di posko terdiri dari relawan NU dan pengurus lembaga yang bertugas di berbagai bagian, seperti dapur umum, pelayanan kesehatan, dan distribusi logistik. Setiap hari, para relawan bergotong royong menyiapkan makanan bagi warga yang masih terdampak genangan air.

    Dalam kunjungan ke posko pada Kamis (30/10), hadir Plt Lurah Tambak Rejo Sukiswo serta Camat Gayamsari Cinung Jatmiko. Mereka turut memberikan dukungan dan apresiasi kepada LPBI NU atas kepeduliannya terhadap masyarakat.

    Pada kesempatan yang sama, dr. Agus Khunaifi selaku Ketua MECNU Ngaliyan, juga turut hadir memberikan bantuan bingkisan berupa beras, minyak goreng, dan telur bagi warga terdampak banjir. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang masih berada di pengungsian.

    Ketua LPBI NU, dr. Hayi Wildani, menyampaikan bahwa pendirian posko ini merupakan bentuk nyata khidmat NU kepada umat.

    > “Kami berharap bencana banjir ini segera teratasi, dan warga diberikan kesabaran serta ketabahan dalam menghadapi ujian ini,” ujar dr. Hayi.

     

    Sementara itu, Sekretaris LPBI NU, Zidane Esriyanto, menambahkan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan dan kecamatan untuk memastikan bantuan tersalurkan tepat sasaran.

    Posko LPBI NU PCNU Kota Semarang rencananya akan tetap beroperasi hingga kondisi di Tambak Rejo benar-benar pulih dan warga bisa kembali beraktivitas secara normal.

    Semarang, 30 Oktober 2025

    (Saifudin)

  • H. Andi Djemma: Datu Luwu Pendiri NU Sulsel yang Menolak Takluk pada Penjajah, Bukti Raja Pun Bisa Jadi Mujahid!

    H. Andi Djemma: Datu Luwu Pendiri NU Sulsel yang Menolak Takluk pada Penjajah, Bukti Raja Pun Bisa Jadi Mujahid!

    NUJATENG.COM – Dalam sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama H. Andi Djemma tak bisa dipisahkan dari semangat jihad dan nasionalisme di Tanah Sulawesi. Ia bukan sekadar Raja Luwu, melainkan seorang pejuang, ulama, dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Sulawesi Selatan.

    Sosoknya membuktikan bahwa perlawanan terhadap penjajah tidak hanya datang dari rakyat kecil, tetapi juga dari kalangan bangsawan yang menolak tunduk pada kekuasaan kolonial.
    Dengan keberanian dan iman yang kokoh, Andi Djemma menjadikan Islam dan cinta tanah air sebagai dua kekuatan utama perjuangannya.

    Dari Datu Luwu Menjadi Pejuang Rakyat

    Lahir dari keluarga bangsawan, Andi Djemma tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai kepemimpinan dan tanggung jawab terhadap rakyat. Sebagai Datu Luwu, ia tidak hanya berperan sebagai penguasa adat, tetapi juga pelindung bagi masyarakatnya.

    Perlawanan Terhadap Penjajah Pasca Proklamasi

    Ketika Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, Andi Djemma tidak tinggal diam. Antara tahun 1946 hingga 1948, ia memimpin perlawanan bersenjata rakyat Luwu, bekerja sama dengan tokoh-tokoh Islam dan laskar setempat.

    Perlawanan ini bukan semata-mata perjuangan politik, tetapi juga jihad melawan penindasan, di mana rakyat berjuang mempertahankan kehormatan dan kemerdekaan yang baru diraih.

    NU Sulsel dan Perjuangan Berbasis Islam

    Selain sebagai pemimpin perang, Andi Djemma juga dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan. Di bawah kepemimpinannya, NU menjadi wadah perjuangan rakyat dan sarana konsolidasi moral umat.

    Islam Sebagai Ideologi Pembebasan

    Andi Djemma memandang Islam bukan hanya ajaran ibadah, tetapi juga ideologi pembebasan. Nilai-nilai keadilan, persaudaraan, dan keberanian dalam Islam dijadikannya dasar perjuangan melawan kolonialisme. Ia sering menegaskan kepada rakyatnya bahwa melawan penjajahan adalah bagian dari ibadah kepada Allah.

    Dengan pendekatan spiritual dan sosial inilah, semangat jihad rakyat Sulawesi Selatan bangkit, menyatukan ulama, santri, dan masyarakat adat dalam satu barisan melawan Belanda.

    Menolak Takluk hingga Akhir Hayat

    Keberanian Andi Djemma membuatnya menjadi target utama penjajah. Belanda menganggapnya musuh berbahaya, karena pengaruhnya yang besar di kalangan rakyat dan ulama.

    Keteguhan dalam Prinsip

    Meski dihadapkan pada ancaman, tekanan politik, dan kekuatan militer, Andi Djemma tetap menolak kompromi dengan penjajah. Baginya, kemerdekaan tidak bisa dinegosiasikan, karena itu adalah amanah dari Tuhan dan hasil perjuangan darah rakyat.

    Hingga akhir hayatnya, Andi Djemma tetap menjadi simbol perlawanan dan keberanian, membuktikan bahwa kekuasaan sejati terletak pada keberpihakan kepada kebenaran dan rakyat.

    Pahlawan Nasional: Pengakuan untuk Sang Raja Pejuang

    Atas jasa besar dan pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan, H. Andi Djemma dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 073/TK/2002 pada 6 November 2002.

    Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan negara bahwa perjuangan bangsa tidak hanya lahir dari pusat kekuasaan di Jawa, tetapi juga dari daerah-daerah yang memiliki semangat jihad dan keadilan yang tinggi.

    Andi Djemma dikenang bukan hanya sebagai raja, tetapi juga sebagai ulama pejuang dan pahlawan Islam Nusantara.

    Jejak Abadi H. Andi Djemma: Ulama, Raja, dan Mujahid Bangsa

    Kisah hidup H. Andi Djemma memberikan pelajaran penting bagi generasi penerus bangsa: bahwa kepemimpinan sejati adalah keberanian berpihak kepada rakyat dan kebenaran, meski harus mengorbankan kekuasaan dan keselamatan diri.

    Ia adalah contoh nyata perpaduan antara agama, adat, dan nasionalisme, di mana perjuangan melawan penjajah bukan hanya tindakan politik, tetapi juga bentuk pengabdian spiritual.

    H. Andi Djemma telah menorehkan jejak abadi sebagai Datu Luwu, pendiri NU Sulsel, dan pahlawan sejati bangsa Indonesia. Warisan perjuangannya akan terus hidup dalam semangat umat dan generasi muda yang mencintai tanah airnya karena iman.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: H. Andi Djemma: Raja Luwu Pendiri NU Sulsel, Sang Datu yang Menolak Takluk pada Penjajah!

  • KH Masykur: Ulama Perumus Pancasila dan Panglima Sabilillah, Pahlawan yang Satukan Iman dan Nasionalisme Indonesia

    KH Masykur: Ulama Perumus Pancasila dan Panglima Sabilillah, Pahlawan yang Satukan Iman dan Nasionalisme Indonesia

    NUJATENG.COM – Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, nama KH Masykur menempati posisi istimewa. Ia bukan hanya ulama karismatik dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga tokoh politik, pejuang militer, dan perumus dasar negara, Pancasila.

    Sosok KH Masykur menjadi bukti nyata bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman, sesuai ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin. Dalam dirinya menyatu tiga hal penting: iman, ilmu, dan perjuangan.

    Ulama di Tengah Revolusi dan Perumusan Dasar Negara

    Lahir dari lingkungan pesantren, KH Masykur tumbuh dengan semangat keislaman dan kebangsaan yang kuat. Kecerdasannya mengantarkannya menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) forum bersejarah tempat perumusan dasar negara.

    Peran KH Masykur dalam BPUPKI

    Di forum itu, KH Masykur dikenal sebagai salah satu tokoh ulama yang vokal memperjuangkan nilai-nilai Islam dan moral dalam Pancasila. Ia menegaskan pentingnya menjadikan agama sebagai ruh kehidupan berbangsa, tanpa meniadakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Bagi KH Masykur, Islam dan kebangsaan bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan dalam membangun Indonesia yang berdaulat dan bermartabat.

    Dari BPUPKI ke Medan Perang: Panglima Sabilillah 10 November

    Semangat perjuangan KH Masykur tidak berhenti di ruang perundingan. Ketika Indonesia menghadapi agresi militer Belanda, ia turun langsung ke medan tempur dengan memimpin Barisan Sabilillah, sebuah laskar santri yang menjadi garda depan dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

    Jihad Fi Sabilillah di Medan Surabaya

    Barisan Sabilillah beranggotakan santri, kiai, dan rakyat biasa yang terinspirasi oleh seruan jihad melawan penjajahan. KH Masykur tampil sebagai panglima yang karismatik dan berani, menjadikan Pertempuran Surabaya bukan sekadar perlawanan militer, tetapi jihad fi sabilillah demi mempertahankan kemerdekaan.

    Perjuangannya menunjukkan bahwa ulama tidak hanya memimpin dengan doa dan fatwa, tetapi juga dengan keberanian di medan perang.

    Dari PETA hingga Menteri Agama: Ulama di Jantung Pemerintahan

    Sebelum menjadi tokoh nasional, KH Masykur juga dikenal sebagai salah satu pendiri Pembela Tanah Air (PETA) organisasi militer bentukan Jepang yang kelak menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Langkahnya mendirikan PETA menunjukkan pandangannya yang luas: bahwa kekuatan spiritual dan militer harus bersatu untuk menjaga kemerdekaan bangsa.

    Perjuangan di Kabinet Indonesia

    Dalam masa awal kemerdekaan, KH Masykur dipercaya menjadi Menteri Agama Republik Indonesia sebanyak dua kali, yakni pada periode 1947–1949 dan 1953–1955.

    Dalam jabatannya, ia memperjuangkan agar pendidikan agama memiliki tempat penting dalam sistem pendidikan nasional, serta menjaga kerukunan antarumat beragama di tengah gejolak politik masa itu. Dedikasinya membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dapat menjadi perekat persatuan bangsa.

    Gelar Pahlawan Nasional: Pengakuan atas Jasa Seorang Ulama Pejuang

    Atas jasa besar dan kontribusinya di bidang agama, militer, dan politik, KH Masykur akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2019. Penghargaan ini bukan sekadar penghormatan, tetapi pengakuan negara atas peran strategis ulama dalam menjaga dan membangun Indonesia. KH Masykur tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga pembentuknya sosok yang menjembatani spiritualitas dan nasionalisme dalam satu napas perjuangan.

    Jejak Abadi KH Masykur: Ulama, Negarawan, dan Mujahid Bangsa

    Kisah hidup KH Masykur adalah inspirasi bagi generasi muda. Ia mengajarkan bahwa menjadi ulama bukan berarti menjauh dari urusan dunia, melainkan menghadirkan nilai-nilai ilahiah dalam kehidupan berbangsa.

    Dengan semangat jihad dan nasionalisme, KH Masykur menegaskan bahwa iman tanpa cinta tanah air adalah hampa, dan perjuangan tanpa iman adalah sia-sia.

    Ia bukan hanya membangun negeri dengan doa dan fatwa, tetapi juga dengan darah dan pengorbanan. KH Masykur adalah simbol ulama pejuang yang menjadikan Islam dan Indonesia berdiri berdampingan, hingga akhir hayatnya.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: KH Masykur: Ulama Perumus Pancasila dan Panglima Sabilillah, Bukti Cinta Tanah Air Adalah Bagian dari Iman!