Author: Dwi Widiyastuti

  • Rahasia Mandi Taubat dari Zina: Cara Lengkap Menyucikan Dosa Besar dan Kembali ke Jalan Allah SWT

    Rahasia Mandi Taubat dari Zina: Cara Lengkap Menyucikan Dosa Besar dan Kembali ke Jalan Allah SWT

    NUJATENG.COM – Zina merupakan dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Namun, kasih sayang Allah selalu lebih besar daripada murka-Nya. Selama pintu taubat belum tertutup, setiap manusia masih memiliki kesempatan untuk kembali bersih dan disucikan.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Setiap keturunan Adam pasti pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    Hadis ini menegaskan bahwa tak ada manusia yang luput dari dosa. Namun, orang beriman sejati adalah mereka yang berani mengakui kesalahan dan bertekad untuk kembali ke jalan Allah SWT dengan hati yang ikhlas.

    Makna Taubat dari Zina

    Dalam kitab Hadis Ahkam: Kajian Hadis-Hadis Hukum Pidana Islam karya Fuad Thohari, zina dijelaskan sebagai perbuatan persetubuhan tanpa ikatan pernikahan yang sah, bukan karena syubhat, dan bukan pula karena kepemilikan budak perempuan.

    Dosa ini termasuk dalam kategori kabair (dosa besar) yang menuntut taubat nasuha, yaitu taubat sungguh-sungguh disertai penyesalan dan tekad kuat untuk tidak mengulanginya.

    Tata Cara Mandi Taubat dari Zina

    Mengutip karya Ustaz Yazid Al-Busthomi dalam Cerdas Intelektual dan Spiritual dengan Mukjizat Puasa, berikut panduan lengkap mandi taubat dari zina:

    1. Membaca Niat Mandi Taubat

    Segala ibadah dimulai dengan niat. Ucapkan niat dalam hati dengan kesungguhan penuh.
    Bacaan Niat:

    نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِتَوْبَتِي عَنْ جَمِيْعِ الذُّنُوْبِ لِلَّهِ تَعَالَى
    Nawaitul ghusla lit-taubati ‘an jami‘idz dzunuubi lillaahi ta‘aala.
    Artinya: “Saya berniat mandi besar untuk bertaubat dari semua dosa kepada Allah Yang Maha Tinggi.”

    2. Membasuh Kedua Telapak Tangan

    Sebagai simbol awal penyucian diri dari najis lahiriah.

    3. Membersihkan Bagian Kemaluan

    Langkah penting untuk membersihkan area yang berkaitan dengan dosa yang ingin ditinggalkan.

    4. Berwudhu Seperti Akan Salat

    Menyucikan diri dari hadas kecil sebelum mandi besar.

    5. Membasuh Sela-Sela Rambut dan Kepala

    Pastikan air meresap hingga ke kulit kepala.

    6. Mengguyur Seluruh Tubuh

    Mulailah dari bagian kanan, lalu kiri, hingga seluruh tubuh terkena air secara merata.

    7. Membasuh Kaki

    Sebagai penutup ritual penyucian, melambangkan langkah baru menuju jalan yang diridhai Allah SWT.

    Langkah-Langkah Taubat Nasuha dari Zina

    Menurut Muhammad Nasrullah dalam buku Ibadah-Ibadah Paling Terhormat bagi Pelaku Maksiat Agar Taubat Nasuha, mandi hanyalah awal. Taubat sejati mencakup dimensi spiritual yang lebih dalam.

    1. Berhenti dari Perbuatan Dosa

    Hentikan segala bentuk hubungan atau kebiasaan yang mengarah pada zina.

    2. Menyesali dengan Sepenuh Hati

    Rasakan penyesalan tulus dan kesadaran penuh atas kesalahan yang dilakukan.

    3. Berjanji Tidak Mengulanginya

    Taubat sejati tidak akan berarti tanpa tekad kuat untuk berubah.

    4. Melaksanakan Salat Taubat

    Lakukan dua rakaat atau lebih, terutama di malam hari setelah Isya.

    5. Memperbanyak Istighfar dan Doa

    Mohon ampunan dengan penuh kerendahan hati, karena Allah Maha Pengampun bagi siapa pun yang kembali kepada-Nya.

    Waktu Terbaik untuk Mandi dan Salat Taubat

    Waktu paling utama untuk melakukan mandi dan salat taubat adalah sepertiga malam terakhir.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Pada waktu malam terakhir, Allah ‘turun’ ke langit dunia dan berfirman:
    ‘Adakah hamba-Ku yang memohon ampun, maka akan Aku ampuni?’” (HR. Muslim)

    Mandi taubat bukan hanya ritual fisik, tetapi simbol pembersihan jiwa dari kegelapan masa lalu. Setiap tetes air yang jatuh melambangkan penyucian hati dan pembukaan lembaran baru menuju cahaya rahmat Allah SWT.

    Allah Selalu Membuka Pintu Ampunan

    Tak ada dosa yang terlalu besar selama seseorang benar-benar tulus bertaubat.
    Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

    “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

    Mandi taubat adalah langkah nyata menuju kehidupan yang lebih bersih, damai, dan penuh keberkahan. Jangan tunda taubat, karena setiap detik adalah kesempatan untuk kembali kepada-Nya. Allah selalu menunggu hamba-Nya yang ingin kembali.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: “Mandi Taubat dari Zina: Rahasia Suci Membersihkan Dosa Besar, Lengkap dengan Tata Cara dan Niatnya”

  • Jangan Bangun Rumah Sebelum Kenal Tetangga! Begini Adab Bertetangga yang Benar Menurut Islam

    Jangan Bangun Rumah Sebelum Kenal Tetangga! Begini Adab Bertetangga yang Benar Menurut Islam

    NUJATENG.COM – Dalam Islam, bertetangga bukan sekadar tinggal berdekatan secara fisik, melainkan bagian dari ibadah sosial yang menunjukkan kematangan iman seseorang. Rasulullah SAW menegaskan bahwa iman seorang muslim belum sempurna jika tetangganya tidak merasa aman dari perbuatannya.

    Artinya, hubungan baik dengan tetangga bukan pilihan, melainkan kewajiban moral dan spiritual. Sebab, tatanan masyarakat yang harmonis bermula dari rumah-rumah yang warganya saling menghormati, peduli, dan menjaga satu sama lain.

    Tetangga, Cermin Tatanan Sosial Islami

    Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Setelah keluarga, tetangga adalah lingkar sosial terdekat yang membentuk karakter masyarakat. Allah SWT secara tegas menyebutkan pentingnya berbuat baik kepada tetangga dalam Surah An-Nisa’ ayat 36, di mana perintah itu datang setelah anjuran berbakti kepada orang tua dan kerabat.

    Hal ini menunjukkan betapa pentingnya posisi tetangga dalam kehidupan seorang muslim.
    Menurut tafsir Imam Zaid yang dikutip oleh Abdullah bin Wahab dalam Tafsirul Qur’an minal Jami’, tetangga terbagi menjadi dua:

    • Tetangga dekat, yaitu yang masih memiliki hubungan kekerabatan.

    • Tetangga jauh, yang tidak memiliki hubungan darah, namun tinggal berdekatan.

    Keduanya memiliki hak yang sama untuk dihormati dan diperlakukan dengan baik, meski tetangga dekat mendapatkan keutamaan ganda karena faktor kekeluargaan.

    Akhlak Bertetangga Menurut Rasulullah SAW

    Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam urusan sosial. Beliau bersabda:

    “Jibril terus berpesan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, hingga aku menyangka bahwa mereka akan menjadi ahli waris.”
    (HR. Al-Bukhari)

    Hadis ini menegaskan betapa seriusnya Islam memandang etika bertetangga. Dalam konteks modern, pesan ini tetap relevan bahwa kesalehan pribadi tidak akan sempurna tanpa kesalehan sosial.

    Seorang muslim sejati bukan hanya dikenal karena ibadahnya, tetapi juga karena kehadirannya membawa ketenangan dan manfaat bagi tetangganya.

    Dua Prinsip Emas dalam Bertetangga

    1. Berbagi Tak Harus Menunggu Kaya

    Islam mengajarkan bahwa berbagi tidak harus menunggu berlimpah harta.
    Rasulullah SAW bersabda:

    “Wahai para wanita muslimah, janganlah meremehkan pemberian tetangga walau hanya sepotong kuku kambing.”
    (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Pesan ini menggambarkan bahwa kebersamaan sosial dimulai dari hal kecil. Sebuah kampung akan lebih damai ketika warganya saling peduli berbagi makanan, membantu saat kesulitan, atau sekadar menyapa dengan senyum tulus.

    Lingkungan sederhana yang dihuni oleh orang-orang yang saling peduli akan jauh lebih tenteram daripada perumahan mewah yang penuh tembok tinggi dan hati yang dingin.

    2. Jangan Ganggu Kenyamanan Tetangga

    Kenyamanan hidup berdampingan adalah hak setiap orang. Rasulullah SAW memperingatkan:

    “Demi Allah, tidak sempurna imannya seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.”
    (HR. Al-Bukhari)

    Gangguan terhadap tetangga bukan hanya pelanggaran sosial, tetapi juga indikasi lemahnya iman. Gangguan bisa berupa suara bising, sampah sembarangan, gosip, atau sikap iri dengki. Maka, seorang muslim yang baik harus menjaga lingkungannya agar tetangganya merasa aman, nyaman, dan dihormati.

    Makna Sosial: “Al-Jāru Qabla Ad-Dār”

    Ungkapan Arab terkenal “al-jāru qabla ad-dār” berarti “lihatlah siapa tetanggamu sebelum membangun rumah.”
    Peribahasa ini bukan sekadar nasihat klasik, tetapi filosofi sosial Islam yang mengajarkan pentingnya memilih lingkungan yang baik sebelum membangun tempat tinggal.

    Rumah megah tak akan membawa kebahagiaan jika dikelilingi permusuhan. Sebaliknya, rumah sederhana di tengah tetangga yang saling peduli akan terasa seperti surga kecil di dunia.

    Islam tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal kepada Allah SWT, tetapi juga hubungan horizontal antar-manusia. Karena itu, bertetangga dengan baik adalah bagian dari keimanan dan ibadah sosial.

    Bangun Jembatan, Bukan Tembok

    Sebelum membangun tembok tinggi di sekitar rumah, bangunlah jembatan silaturahmi dengan tetangga. Sebab, mungkin suatu hari, doa dan pertolongan merekalah yang menjadi penolong kita saat kesulitan datang.

    Bertetangga dengan baik bukan hanya membuat hidup tenteram, tetapi juga mengundang keberkahan dari Allah SWT. Lingkungan yang harmonis akan melahirkan masyarakat yang kuat, damai, dan saling melindungi sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: “Jangan Bangun Rumah Sebelum Kenal Tetangga! Begini Cara Bertetangga yang Benar Menurut Islam”

  • Rahasia Mendidik Anak Cerdas dan Berakhlak Mulia: Ternyata Ada di Kisah Para Nabi Sebelum Tidur!

    Rahasia Mendidik Anak Cerdas dan Berakhlak Mulia: Ternyata Ada di Kisah Para Nabi Sebelum Tidur!

    NUJATENG.COM – Membacakan cerita sebelum tidur bukan sekadar rutinitas pengantar mimpi. Dalam dunia parenting modern, aktivitas ini terbukti membantu anak mengembangkan kemampuan bahasa, imajinasi, dan kecerdasan emosional. Namun, bagi keluarga muslim, kegiatan sederhana ini bisa menjadi ibadah dan pendidikan akhlak, terutama jika yang dibacakan adalah kisah para nabi.

    Kisah Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, hingga Rasulullah SAW bukan hanya dongeng penuh pesan moral, melainkan sumber inspirasi hidup yang dapat membentuk karakter dan keimanan anak sejak dini.

    Ilmu Parenting Modern: Dongeng Nabi, Latih Otak dan Emosi Anak

    Para ahli parenting menyebutkan bahwa anak yang rutin dibacakan cerita memiliki perkembangan bahasa dan kognitif yang lebih cepat. Saat mendengarkan kisah, otak mereka belajar memahami struktur kalimat, memproses emosi, dan menangkap makna di balik cerita.

    Namun, ketika yang dibacakan adalah kisah para nabi, manfaatnya menjadi berlipat ganda. Anak bukan hanya belajar berpikir logis, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur seperti:

    • Kesabaran dan kejujuran dari kisah Nabi Yusuf AS.

    • Pengorbanan dan keteguhan iman dari kisah Nabi Ibrahim AS.

    • Kasih sayang dan keteladanan akhlak dari kisah Rasulullah SAW.

    Dengan begitu, dongeng sebelum tidur bukan hanya melatih otak anak, tetapi juga membentuk hati dan perilakunya.

    Dampak Spiritual: Menanamkan Nilai Tauhid Sejak Kecil

    Dalam Islam, pendidikan tauhid adalah pondasi utama yang harus ditanamkan sejak usia dini. Membacakan kisah para nabi menjadi cara lembut mengenalkan Allah SWT tanpa kesan memaksa.

    Melalui cerita, anak belajar bahwa para nabi selalu bersandar kepada Allah dalam setiap ujian hidup. Dari sini tumbuh keyakinan bahwa segala sesuatu berasal dan kembali kepada Allah, membentuk akidah yang kokoh dan hati yang tawakal.

    Cerita para nabi pun menanamkan pemahaman sederhana namun bermakna: bahwa berbuat baik bukan untuk dipuji, tapi untuk diridai oleh Allah SWT.

    Momen Hangat: Eratkan Hubungan Orang Tua dan Anak

    Lebih dari sekadar aktivitas edukatif, membacakan kisah nabi menciptakan momen hangat dan emosional antara orang tua dan anak.
    Suara lembut ibu atau ayah menjelang tidur memberi rasa aman, nyaman, dan dicintai.

    Dalam suasana penuh kasih itu, pesan moral dari kisah nabi lebih mudah meresap ke dalam hati anak. Anak bukan hanya mendengar cerita, tetapi juga merasakan kasih sayang dan kehadiran orang tuanya.

    Kebiasaan sederhana ini bahkan bisa menjadi tradisi keluarga yang ditunggu-tunggu setiap malam momen di mana cinta, iman, dan pengetahuan bertemu dalam satu kisah.

    Langkah Praktis untuk Memulai Kebiasaan Baik Ini

    Agar membacakan kisah para nabi menjadi rutinitas yang menyenangkan dan bermakna, berikut beberapa langkah mudah yang bisa diterapkan di rumah:

    1. Pilih Buku Kisah Nabi Bergambar

    Gunakan buku dengan ilustrasi menarik agar anak lebih mudah memahami dan menikmati cerita. Visualisasi membantu mereka menangkap pesan moral dengan lebih cepat.

    2. Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Penuh Ekspresi

    Ceritakan dengan nada suara lembut, penuh emosi, dan ekspresif. Anak akan lebih terlibat dan merasa terhubung dengan karakter di dalam cerita.

    3. Ajak Anak Berdiskusi Setelah Cerita

    Tanyakan hal-hal sederhana seperti,

    “Menurutmu, kenapa Nabi Yusuf tidak marah kepada saudaranya?”
    Pertanyaan reflektif seperti ini melatih anak berpikir kritis sekaligus memahami nilai-nilai moral secara mendalam.

    4. Jadikan Rutinitas Sebelum Tidur

    Konsistensi adalah kunci. Dengan menjadikannya kebiasaan, anak akan tumbuh dengan kecintaan terhadap kisah-kisah keteladanan dan menjadikannya panduan moral dalam kehidupan sehari-hari.

    Dongeng Nabi: Warisan Emas untuk Generasi Masa Depan

    Membacakan kisah para nabi bukan sekadar kegiatan pengantar tidur. Ia adalah investasi karakter, kecerdasan, dan spiritualitas anak di masa depan. Dalam era digital yang serba cepat, menghadirkan kisah nabi di kamar tidur anak menjadi cara sederhana namun sangat efektif untuk menumbuhkan generasi yang cerdas pikirannya, lembut hatinya, dan kuat imannya.

    Jadi, jika ingin anak tumbuh bukan hanya pintar tetapi juga berakhlak, mulailah malam ini dengan kisah para nabi sebelum tidur.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: “Anak Cerdas dan Berakhlak Mulia? Rahasianya Ada di Kisah Para Nabi Sebelum Tidur!”

  • Menanamkan Jiwa dan Semangat 45 LVRI Banjarnegara Ajak Pelajar Kenali Sejarah Perjuangan Bangsa

    Menanamkan Jiwa dan Semangat 45 LVRI Banjarnegara Ajak Pelajar Kenali Sejarah Perjuangan Bangsa

    Banjarnegara – nujateng.com – Dalam rangka memperkuat karakter kebangsaan generasi muda, DPC Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Banjarnegara menggelar kegiatan Sosialisasi Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai 1945 (JSN 45) di Gedung Juang 45 Banjarnegara. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan siswa dari SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Banjarnegara, termasuk delegasi SMA Negeri 1 Banjarnegara yang terdiri atas unsur OSIS dan Majelis Perwakilan Kelas.

    Acara dibuka dengan pembacaan basmallah, doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta Mars Veteran Republik Indonesia. Suasana khidmat terasa sejak awal, menghadirkan semangat nasionalisme yang kuat di antara peserta yang memadati Gedung Juang 45.

    Kegiatan menghadirkan tiga narasumber dari LVRI Banjarnegara. Pemateri pertama, Drs. Ima Ustaat (68), Sekretaris Macab LVRI sekaligus veteran termuda di Banjarnegara yang pernah tergabung dalam pasukan perdamaian PBB di Timur Tengah pada tahun 1979, menyampaikan materi bertajuk Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai 1945 sebagai Landasan Karakter Bangsa.

    Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh 80 persen karakter dan 20 persen pengetahuan serta keterampilan. “Karakter adalah kekuatan utama bangsa. Tanpa karakter, ilmu tidak akan membawa keberkahan,” ujarnya.

    Ia juga menjelaskan bahwa Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai 1945 merupakan konsep yang berakar pada ruh perjuangan bangsa Indonesia. Jiwa 45 mencerminkan cinta tanah air, semangat rela berkorban, pantang menyerah, dan kepercayaan pada kemampuan sendiri. Semangat 45 menegaskan pentingnya kerja keras, gotong royong, serta persatuan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Sementara Nilai-Nilai 45 berlandaskan Pancasila dan Proklamasi 17 Agustus 1945, mencakup nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, musyawarah, dan nasionalisme.

    “Jiwa dan nilai-nilai 45 bukan hanya warisan sejarah, tetapi pedoman moral agar bangsa ini tetap kuat, berdaulat, dan bermartabat di tengah tantangan zaman,” imbuhnya.

    Pemateri kedua, Ismail, mengangkat tema Jejak Perjuangan dan Monumen Pahlawan di Banjarnegara. Ia menuturkan bahwa di Kabupaten Banjarnegara terdapat 167 makam pahlawan, dengan 150 di antaranya telah teridentifikasi. Salah satunya adalah makam Aji Rasetiya, prajurit muda berusia sekitar 20 tahun yang gugur di Papua dalam operasi melawan KKB dan kini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan “Sureng Yudha”.

    Ismail juga mengulas sejumlah monumen perjuangan seperti Monumen Trek Bon Kalimendong di Desa Danaraja Kecamatan Punggelan, Monumen Gerilya Desa Prigi Kecamatan Sigaluh, dan Monumen Tentara Pelajar di depan kawasan kuliner Banjarnegara. Kisah heroik tiga pemuda. Sapardi, Sandi, dan Purwadi yang berani menghadang konvoi Belanda pada 1947 turut menjadi sorotan. “Perjuangan mereka adalah bukti bahwa semangat 45 lahir dari keberanian dan pengorbanan,” ucapnya.

    Pemateri ketiga, H. Mulyanto, S.Sos., M.Si., memaparkan sejarah perjuangan bangsa mulai dari masa kerajaan, pergerakan nasional, hingga proklamasi kemerdekaan. Dalam penyampaiannya yang penuh semangat, beliau mengingatkan pentingnya memahami sejarah agar generasi muda tidak kehilangan jati diri kebangsaan. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dari sanalah kita belajar tentang arti perjuangan dan pengorbanan,” ujarnya mengutip pesan Presiden Soekarno.

    Pada bagian akhir pemaparannya, H. Mulyanto membacakan sebuah puisi berjudul Surat dari Akhirat yang pernah ditulis Bung Karno. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, beliau membacakan, “Kawan, kau pasti masih ingat kami mati dengan perut kosong berbaju compang-camping berendam dalam semangat membara…” Suasana ruangan seketika hening, dan beberapa peserta tampak ikut terharu menyaksikan pembacaan puisi tersebut.

    Sesi diskusi berlangsung interaktif. Salah satu perwakilan dari SMA Negeri 1 Banjarnegara, Azizah Khoirunnisa Qurrotul’ain, bertanya, “Bagaimana kita sebagai generasi muda dapat menjaga ingatan sejarah, terutama tentang perjuangan lokal yang jarang diajarkan di sekolah?”

    Menanggapi pertanyaan itu, Drs. Ima Ustaat menyarankan agar pelajar lebih aktif mengenal sejarah daerah dengan mengunjungi monumen perjuangan, menghadiri upacara di Taman Makam Pahlawan, dan membaca buku Banjarnegara Berjuang karya Maharani.

    Selain Azizah, perwakilan OSIS SMA Negeri 1 Banjarnegara yang hadir antara lain Azzahra Eka Nirmala Dewi dan Oryzativa Rasendria Setyaliani, serta dari MPK Amira Thalita Zahra dan Muhammad Ferizqi Rivandi. Mereka mengikuti kegiatan dengan penuh antusias dan rasa hormat kepada para veteran yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa.

    Melalui kegiatan ini, LVRI Banjarnegara berharap nilai-nilai perjuangan 45 dapat terus diwariskan kepada generasi muda sebagai fondasi karakter dan semangat nasionalisme. Sosialisasi tersebut menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali kesadaran sejarah dan rasa cinta tanah air di kalangan pelajar Banjarnegara.

    Azizah Khoirunnisa Qurrotul’ain

    SMA Negeri 1 Banjarnegara

  • KH Abdul Wahab Chasbullah: Sang Revolusioner Ulama Pendiri NU yang Menggelorakan Kebangkitan Umat dan Nasionalisme Islam

    KH Abdul Wahab Chasbullah: Sang Revolusioner Ulama Pendiri NU yang Menggelorakan Kebangkitan Umat dan Nasionalisme Islam

    NUJATENG.COM – Lahir di Jombang pada 31 Maret 1888, KH Abdul Wahab Chasbullah dikenal sebagai ulama pembaharu, organisatoris, dan tokoh nasionalis Islam yang memainkan peran sentral dalam sejarah pergerakan umat dan bangsa Indonesia. Ia bukan hanya seorang pemikir religius, tetapi juga seorang pejuang yang melihat Islam sebagai kekuatan moral untuk membebaskan umat dari kebodohan dan penjajahan.

    Sejak muda, KH Abdul Wahab Chasbullah menunjukkan semangat intelektual yang tinggi. Ia belajar di berbagai pesantren ternama, hingga akhirnya dikenal sebagai kiai muda dengan wawasan luas dan pandangan progresif. Dari sanalah muncul gagasan besar tentang pentingnya kebangkitan umat Islam melalui pendidikan, ekonomi, dan organisasi.

    Dari Tashwirul Afkar hingga Nahdlatul Ulama: Cikal Bakal Kebangkitan Islam Nusantara

    Sebelum Nahdlatul Ulama (NU) berdiri, KH Abdul Wahab Chasbullah telah memelopori berbagai gerakan kebangkitan intelektual dan sosial. Ia mendirikan Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) forum diskusi terbuka bagi para ulama dan cendekiawan muda untuk membahas isu-isu keagamaan dan kebangsaan secara rasional dan kontekstual.

    Dari gerakan ini lahir kesadaran baru bahwa umat Islam Indonesia tidak boleh tertinggal dalam bidang pemikiran dan peradaban. Tak hanya itu, KH Abdul Wahab Chasbullah juga mendirikan:

    • Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang berfokus pada pendidikan, dan

    • Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang) yang mendorong kemandirian ekonomi umat.

    Dua lembaga tersebut menjadi fondasi kuat bagi gerakan sosial dan ekonomi umat Islam di Indonesia.
    Dari semangat inilah akhirnya lahir organisasi besar Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926, bersama KH Hasyim Asy’ari dan para kiai lainnya. NU menjadi simbol kebangkitan Islam tradisional yang berakar kuat pada budaya Nusantara namun berpikiran maju.

    Pejuang Intelektual dan Nasionalis Religius

    KH Abdul Wahab Chasbullah dikenal luas sebagai nasionalis religius tokoh yang menyatukan semangat kebangsaan dan keislaman dalam satu napas perjuangan. Baginya, membela tanah air adalah bagian dari iman. Pandangan ini menegaskan bahwa cinta Indonesia tidak bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan bagian dari pengamalan agama itu sendiri.

    Di masa penjajahan Belanda, beliau turut menggagas berdirinya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) wadah persatuan berbagai organisasi Islam yang kemudian menjadi cikal bakal Partai Masyumi. Melalui forum ini, KH Abdul Wahab Chasbullah memperjuangkan posisi Islam sebagai kekuatan moral dan sosial dalam membangun tatanan masyarakat yang adil dan berdaulat.

    Warisan Perjuangan dan Pengakuan Negara

    Atas jasa dan pengabdian luar biasanya, pemerintah Indonesia menetapkan KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai Pahlawan Nasional. Penghargaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan atas perjuangannya dalam membangkitkan kesadaran umat Islam sekaligus membentuk karakter bangsa yang religius dan nasionalis.

    Warisan perjuangannya terus hidup melalui Nahdlatul Ulama, lembaga pendidikan Islam, dan pesantren-pesantren yang meneruskan gagasan moderatnya. Ia menanamkan nilai-nilai tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan ta’awun (gotong royong) sebagai pondasi Islam rahmatan lil ‘alamin di Indonesia.

    Ulama, Nasionalis, dan Inspirator Peradaban

    KH Abdul Wahab Chasbullah adalah potret sempurna ulama pejuang sosok yang memadukan ilmu dan tindakan, iman dan kebangsaan, spiritualitas dan perjuangan sosial. Dari tangannya lahir gagasan besar yang menegaskan bahwa Islam bukan penghambat kemajuan, melainkan penggerak utama peradaban.

    Warisan KH Abdul Wahab Chasbullah bukan hanya milik warga NU, tetapi milik seluruh bangsa Indonesia yang mencintai keadilan, perdamaian, dan kemerdekaan. Dari pesantren Jombang, suaranya terus bergema: “Cinta Tanah Air adalah bagian dari iman.”***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: KH Abdul Wahab Chasbullah: Ulama Revolusioner Pendiri NU dan Penggugah Kebangkitan Umat

  • KH Zainal Musthafa: Kiai Singaparna yang Menyalakan Api Jihad, Ketika Santri Mengguncang Penjajah Jepang!

    KH Zainal Musthafa: Kiai Singaparna yang Menyalakan Api Jihad, Ketika Santri Mengguncang Penjajah Jepang!

    NUJATENG.COM – Lahir pada 1 Januari 1899 di Tasikmalaya, Jawa Barat, KH Zainal Musthafa tumbuh dalam suasana penjajahan yang keras dan menindas. Sejak muda, ia menempuh pendidikan di berbagai pesantren dan dikenal sebagai santri yang cerdas, disiplin, serta teguh pendirian.

    Namun, kecerdasannya tidak hanya berhenti pada penguasaan ilmu agama. KH Zainal Musthafa memiliki pandangan nasionalis yang kuat. Ia percaya bahwa membela tanah air dari penjajahan bukan sekadar tindakan politik, melainkan bagian dari jihad fi sabilillah.

    Semangat itu yang kemudian mendorongnya untuk tidak hanya berdakwah dari mimbar, tetapi juga turun langsung dalam perjuangan membela kebenaran dan kemerdekaan bangsa.

    Pemberontakan Singaparna: Saat Santri Angkat Senjata Melawan Jepang

    Ketika Jepang menduduki Indonesia, rakyat dipaksa tunduk dan mematuhi kebijakan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Salah satunya adalah seikerei, ritual penghormatan kepada Kaisar Jepang yang diwajibkan bagi seluruh rakyat.

    Namun, KH Zainal Musthafa dengan tegas menolak perintah itu. Baginya, sujud kepada selain Allah adalah bentuk kemusyrikan yang tidak bisa diterima. Penolakannya membuat Jepang murka tetapi sang kiai tidak gentar. Ia justru mengobarkan semangat perlawanan dari Pesantren Sukamanah, Singaparna.

    Perlawanan 25 Februari 1944: Santri Melawan dengan Iman dan Nyali

    Pada 25 Februari 1944, KH Zainal Musthafa bersama para santri dan masyarakat sekitar memimpin perlawanan bersenjata melawan tentara Jepang. Meski kekuatan mereka jauh lebih kecil dibanding pasukan Jepang yang bersenjata lengkap, keberanian para santri Sukamanah menggetarkan seluruh Jawa Barat.

    Perlawanan itu akhirnya berhasil dipadamkan. KH Zainal Musthafa ditangkap, disiksa, dan akhirnya dijatuhi hukuman mati. Namun, semangat jihadnya tidak pernah padam. Pemberontakan Singaparna tercatat dalam sejarah sebagai simbol keberanian ulama dan santri dalam menegakkan kehormatan agama serta bangsa.

    Kiai yang Tak Takut Mati Demi Tauhid dan Kebenaran

    KH Zainal Musthafa adalah sosok yang meyakini bahwa dakwah tidak berhenti di balik kitab dan podium. Ia menjadikan ajaran Islam sebagai dasar perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan. Keteguhannya dalam mempertahankan tauhid membuatnya dihormati bukan hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh para pejuang kemerdekaan lintas golongan.

    Selain dikenal sebagai pejuang bersenjata, KH Zainal Musthafa juga berkiprah dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Ia pernah menjabat sebagai Wakil Rais Syuriyah NU, memperlihatkan kiprah intelektual dan spiritual yang melengkapi perjuangan fisiknya.

    Teladan Keberanian dari Tanah Santri

    Bagi rakyat Tasikmalaya dan dunia pesantren, KH Zainal Musthafa adalah teladan tentang keberanian sejati. Ia lebih memilih mati dengan terhormat di jalan Allah daripada hidup dalam ketundukan terhadap penjajah. Semangatnya menjadi api perjuangan yang terus menyala di hati para santri dan umat Islam Indonesia hingga kini.

    Pahlawan Nasional dari Tanah Singaparna

    Atas jasa dan pengorbanannya, KH Zainal Musthafa ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1972 melalui Keputusan Presiden Nomor 64/TK/1972. Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol formal, tetapi pengakuan atas keberanian seorang ulama yang menjadikan iman sebagai kekuatan melawan tirani.

    Nama KH Zainal Musthafa kini diabadikan di berbagai tempat dari pesantren, jalan raya, hingga museum perjuangan. Namun, lebih dari itu, warisan sejatinya hidup di dada para santri yang terus meneladani jihad tanpa pamrih demi agama dan bangsa.

    Jihad yang Tak Pernah Padam

    KH Zainal Musthafa adalah potret ulama pejuang sejati. Ia mengajarkan bahwa jihad tidak hanya berarti mengangkat senjata, tetapi juga menegakkan prinsip kebenaran dan keadilan meski harus berhadapan dengan maut.

    Dari tanah Singaparna, semangat jihad KH Zainal Musthafa membara hingga kini menginspirasi generasi muda untuk mencintai agama, bangsa, dan kemerdekaan dengan keberanian dan keikhlasan yang sama.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: KH Zainal Musthafa: Kiai Singaparna yang Guncang Penjajah, Api Jihad dari Tanah Tasikmalaya! 

  • KH Zainul Arifin: Panglima Hizbullah yang Buktikan Santri Bisa Pimpin Bangsa dari Medan Jihad hingga Parlemen

    KH Zainul Arifin: Panglima Hizbullah yang Buktikan Santri Bisa Pimpin Bangsa dari Medan Jihad hingga Parlemen

    NUJATENG.COM – Lahir di Barus, Sumatra Utara, pada 2 April 1909, KH Zainul Arifin tumbuh dalam lingkungan bangsawan. Namun, ia memilih jalan hidup yang berpihak kepada rakyat. Sejak muda, semangat sosial dan keagamaannya sudah terlihat menonjol. Ia aktif dalam berbagai kegiatan keislaman di Sumatra, hingga akhirnya bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan menjadi salah satu figur penting dalam sejarah Islam dan nasionalisme Indonesia.

    Kiai Zainul dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, berpikiran luas, dan memiliki pandangan keislaman yang inklusif. Ia percaya bahwa perjuangan membela tanah air adalah bagian dari jihad fi sabilillah semangat inilah yang kelak melahirkan pasukan santri legendaris: Laskar Hizbullah.

    Panglima Hizbullah: Saat Santri Mengangkat Senjata untuk Kemerdekaan

    Salah satu babak paling heroik dalam perjalanan hidup KH Zainul Arifin adalah ketika ia membentuk dan memimpin Laskar Hizbullah, pasukan semi militer yang terdiri dari para santri dan pemuda Islam.

    Didirikan menjelang kemerdekaan Indonesia, Laskar Hizbullah menjadi simbol kebangkitan santri dalam perjuangan melawan penjajahan. Di bawah komando KH Zainul Arifin, pasukan ini bukan sekadar kekuatan bersenjata, tetapi juga gerakan spiritual dan moral.

    Mereka bertempur dengan semangat jihad dan keikhlasan, membuktikan bahwa santri tak hanya mampu membaca kitab, tetapi juga sanggup mengangkat senjata demi membela negeri.

    Pesantren dan Nasionalisme: Dua Pilar yang Tak Terpisahkan

    Bagi KH Zainul Arifin, pesantren bukanlah tempat yang terpisah dari urusan kebangsaan. Ia menegaskan bahwa Islam dan nasionalisme bisa berpadu dalam satu misi suci: menegakkan kemerdekaan dan menjaga martabat bangsa.
    Gerakan Hizbullah menjadi wujud nyata bahwa kekuatan spiritual dan perjuangan fisik dapat berjalan beriringan, melahirkan kekuatan besar yang menggetarkan penjajah.

    Dari Medan Perang ke Ruang Parlemen: Perjuangan Berlanjut di Jalur Politik

    Setelah kemerdekaan, KH Zainul Arifin tidak berhenti berjuang. Ia melanjutkan perjuangannya di jalur politik dengan penuh dedikasi. Ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) lembaga yang menjadi cikal bakal parlemen Indonesia.

    Kepemimpinannya yang tegas, santun, dan berpegang pada prinsip moral membuatnya dipercaya menempati posisi penting dalam pemerintahan. Dari tahun 1953 hingga 1955, KH Zainul Arifin menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia, mendampingi Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo.

    Dalam posisi itu, ia dikenal sebagai politisi religius yang mampu menjembatani kepentingan umat Islam dengan arah kebijakan nasional. Sikapnya yang bijaksana membuatnya dihormati lintas golongan, dari kalangan ulama hingga kaum nasionalis.

    Ketua DPR-GR dan Penegak Marwah Santri

    Tak berhenti di sana, KH Zainul Arifin juga dipercaya sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) pada tahun 1960–1963. Pada masa penuh gejolak politik dan ideologi itu, ia tetap menjaga integritas dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan kebangsaan.
    Ia menunjukkan bahwa santri bisa menjadi pemimpin nasional yang berani, jujur, dan berkomitmen terhadap kemaslahatan rakyat.

    Pahlawan Nasional: Santri Pejuang yang Tak Pernah Lelah Membela Negeri

    Atas jasa dan pengabdian luar biasa sepanjang hidupnya, KH Zainul Arifin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 4 Maret 1963. Namun, penghargaan itu hanyalah simbol. Warisan sejatinya jauh lebih besar nilai-nilai perjuangan, kesetiaan terhadap bangsa, dan semangat jihad yang tulus.

    KH Zainul Arifin membuktikan bahwa pesantren adalah pusat lahirnya pemimpin sejati. Bahwa santri bukan hanya penghafal kitab, tetapi juga penjaga bangsa. Dari medan perang hingga kursi parlemen, perjuangannya mencerminkan sinergi antara iman, ilmu, dan kepemimpinan.

    Warisan yang Tak Pernah Padam

    KH Zainul Arifin adalah contoh nyata bahwa spiritualitas dan nasionalisme bisa bersatu. Ia tidak melihat perjuangan sebagai urusan pribadi, melainkan amanah suci untuk menegakkan keadilan dan martabat bangsa.

    Dari Barus hingga Jakarta, dari surau hingga gedung parlemen, jejak perjuangannya mengajarkan kita bahwa santri bukan hanya benteng moral bangsa, tetapi juga penggerak perubahan sejarah.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: KH Zainul Arifin: Panglima Hizbullah dan Wakil Perdana Menteri yang Tegakkan Marwah Santri di Panggung Nasional

  • KH Abdul Wahid Hasyim: Ulama Visioner yang Menyatukan Pesantren, Pendidikan, dan Kemerdekaan Indonesia

    KH Abdul Wahid Hasyim: Ulama Visioner yang Menyatukan Pesantren, Pendidikan, dan Kemerdekaan Indonesia

    NUJATENG.COM – KH Abdul Wahid Hasyim lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 1 Juni 1914. Ia bukan sosok biasa. Sebagai putra dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, dan ayah dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pemikiran KH Wahid Hasyim menjembatani tiga generasi emas pesantren: masa perjuangan, kemerdekaan, dan modernitas.

    Sejak muda, KH Wahid Hasyim menunjukkan kecemerlangan luar biasa. Ia tak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman secara mendalam di Pesantren Tebuireng, tetapi juga fasih dalam berbagai bahasa asing seperti Arab, Belanda, dan Inggris sebuah kemampuan langka bagi seorang santri di awal abad ke-20.

    Dengan wawasan global dan jiwa nasionalis yang kuat, KH Wahid Hasyim menjelma menjadi simbol ulama modern yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan jati diri keislamannya.

    Tokoh Nahdlatul Ulama di Garda Depan Kemerdekaan

    Di usia muda, KH Wahid Hasyim sudah aktif di panggung politik dan kenegaraan. Ia duduk sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dua lembaga kunci yang merancang fondasi berdirinya Republik Indonesia.

    Dalam sidang-sidang bersejarah itu, KH Wahid Hasyim dikenal sebagai jembatan antara kelompok nasionalis dan Islamis. Ia dengan cerdas menyatukan dua kutub ideologi yang kerap berseberangan. Gagasannya melahirkan kompromi luhur dalam bentuk Piagam Jakarta, yang menjadi salah satu dasar pembentukan Pancasila.

    Ia membuktikan bahwa Islam dan nasionalisme bukan untuk dipertentangkan, melainkan disinergikan demi cita-cita kemerdekaan bangsa.

    Pelopor Pendidikan Modern di Dunia Pesantren

    Selain berperan dalam politik, KH Wahid Hasyim juga menorehkan sejarah besar di bidang pendidikan. Ia melakukan reformasi pendidikan di Pesantren Tebuireng dengan mendirikan Madrasah Nidzamiyah, yang menggabungkan pelajaran umum dan agama.

    Kurikulum inovatifnya 70% ilmu umum dan 30% ilmu agama menjadi langkah revolusioner pada masa itu. KH Wahid Hasyim percaya bahwa santri tidak cukup hanya menjadi ahli agama; mereka juga harus cakap menghadapi tantangan dunia modern.

    Pendekatan inilah yang melahirkan generasi santri intelektual mereka yang fasih dalam ilmu agama sekaligus mampu berkiprah dalam pemerintahan, ekonomi, dan diplomasi.

    Tak berlebihan bila KH Wahid Hasyim disebut sebagai arsitek pendidikan Islam modern di Indonesia.

    Warisan Keabadian: Ulama, Negarawan, dan Pahlawan Nasional

    Atas seluruh kontribusinya, KH Abdul Wahid Hasyim dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 17 November 1960. Namun, lebih dari sekadar penghargaan, warisannya hidup dalam semangat bangsa yang religius dan pluralis.

    Ia bukan hanya ulama dan politisi, melainkan penjembatan antara pesantren dan republik antara iman dan kemerdekaan.

    Pemikirannya tentang pluralitas, moderasi, dan pendidikan masih relevan hingga kini, di tengah tantangan modernitas dan perubahan zaman.

    Inspirasi Abadi dari Seorang Visioner

    KH Abdul Wahid Hasyim bukan sekadar nama dalam sejarah. Ia adalah sosok yang menyalakan lentera di antara dua dunia: dunia pesantren yang sarat spiritualitas dan dunia modern yang menuntut keterbukaan berpikir.

    Dari tangannya lahir generasi santri yang berani berpikir kritis tanpa meninggalkan nilai agama. Dari gagasannya tumbuh sistem pendidikan Islam yang inklusif dan maju.

    Dan dari perjuangannya, bangsa ini belajar bahwa agama dan nasionalisme dapat berjalan seiring bahkan saling menguatkan demi Indonesia yang berkeadaban.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: KH Abdul Wahid Hasyim: Ulama Visioner, Peletak Fondasi Pendidikan Modern dan Kemerdekaan RI!

  • KH Hasyim Asy’ari: Ulama Pengguncang Penjajah, Pencetus Resolusi Jihad yang Membakar Semangat Arek Suroboyo!

    KH Hasyim Asy’ari: Ulama Pengguncang Penjajah, Pencetus Resolusi Jihad yang Membakar Semangat Arek Suroboyo!

    NUJATENG.COM – KH Hasyim Asy’ari lahir di Jombang pada 10 April 1875. Ia dikenal bukan hanya sebagai ulama besar, tetapi juga sebagai penggerak kebangkitan umat Islam dan tokoh perjuangan bangsa Indonesia. Melalui pemikiran dan kepemimpinannya, KH Hasyim memadukan kekuatan iman dengan semangat kebangsaan yang luar biasa.

    Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan pemegang gelar Rais Akbar, beliau menjadi figur moral sekaligus spiritual yang berperan penting dalam membentuk arah perjuangan umat. Pemikirannya jauh melampaui zamannya, menempatkan Islam bukan hanya sebagai agama ritual, tetapi juga sebagai kekuatan sosial dan politik yang membebaskan rakyat dari penjajahan.

    Resolusi Jihad: Nyala Api Perlawanan dari Pesantren

    Pada masa pasca-proklamasi, Indonesia belum benar-benar aman. Pasukan penjajah masih berusaha kembali menguasai negeri ini. Dalam situasi genting itu, KH Hasyim Asy’ari tampil ke depan dengan keberanian seorang ulama sejati. Ia menyatukan para kiai, santri, dan rakyat dalam satu seruan besar: jihad fi sabilillah.

    Puncak perjuangan beliau terjadi pada 22 Oktober 1945, saat KH Hasyim mengeluarkan Resolusi Jihad. Fatwa bersejarah ini menegaskan bahwa setiap muslim yang berada dalam radius 90 kilometer dari medan perang wajib turun berjuang melawan penjajah.

    Fatwa itu bukan hanya seruan moral, tetapi panggilan suci yang menggugah jiwa rakyat. Arek-arek Suroboyo menjawab seruan itu dengan keberanian luar biasa. Pertempuran besar pun meletus di Surabaya pada 10 November 1945, yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan Nasional.

    Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari menyalakan bara semangat perjuangan menjadikan jihad sebagai bentuk cinta tanah air yang sejati.

    Warisan Perjuangan dan Keilmuan yang Abadi

    Atas jasa-jasanya, KH Hasyim Asy’ari ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964. Namun penghargaan itu hanyalah bagian kecil dari warisan besar yang beliau tinggalkan bagi bangsa Indonesia.

    Beliau menanamkan ajaran penting bahwa “Hubbul Wathan Minal Iman” cinta tanah air adalah bagian dari iman. Prinsip ini menjadi dasar perjuangan warga Nahdlatul Ulama hingga kini.

    Selain sebagai pejuang, KH Hasyim juga seorang pendidik visioner. Melalui pesantren Tebuireng yang didirikannya, beliau mencetak ribuan santri yang kelak menjadi ulama, pemimpin masyarakat, dan pejuang bangsa.

    Islam, Nasionalisme, dan Spirit Kebangsaan

    KH Hasyim Asy’ari menunjukkan kepada dunia bahwa agama dan nasionalisme bukan dua hal yang bertentangan. Sebaliknya, Islam yang sejati menuntut umatnya untuk berjuang membela kebenaran dan keadilan.

    Dalam pandangan beliau, jihad tidak selalu berarti perang fisik, melainkan perjuangan tanpa henti untuk menegakkan kedaulatan, keadilan, dan kemerdekaan.

    Semangat Resolusi Jihad 1945 adalah bukti bahwa ketika iman berpadu dengan cinta tanah air, lahirlah kekuatan dahsyat yang melahirkan Indonesia Merdeka.

    Keteladanan Abadi Sang Ulama Pejuang

    KH Hasyim Asy’ari bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi sumber inspirasi abadi bagi generasi bangsa. Ia mengajarkan bahwa perjuangan harus berpijak pada nilai iman, keilmuan, dan kecintaan terhadap tanah air.

    Warisan beliau hidup dalam setiap denyut perjuangan umat Islam Indonesia hingga hari ini dari pesantren hingga medan juang, dari santri hingga rakyat jelata.

    KH Hasyim Asy’ari adalah simbol sinergi antara Islam dan nasionalisme pahlawan sejati yang menggetarkan penjajah lewat kekuatan iman dan kecintaan terhadap Indonesia.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: KH Hasyim Asy’ari: Sang Rais Akbar NU, Pengguncang Penjajah Lewat Resolusi Jihad 1945!

  • Pemuda Bergerak, Indonesia Bersatu! SMAN 1 Purwareja Klampok Gelar Upacara Sumpah Pemuda

    BANJARNEGARA – nujateng.com

    Banjarnegara, 28 Oktober 2025 — SMAN 1 Purwareja Klampok menggelar upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 di lapangan sekolah pada Selasa pagi. Kegiatan berlangsung khidmat dan diikuti oleh seluruh siswa, guru, serta staf sekolah.

    Upacara diawali dengan pengibaran bendera Merah Putih, pembacaan teks Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan naskah Sumpah Pemuda oleh Kepala Sekolah Linovia Karmelita, S.Sos., M.Pd. Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Mars Anti Narkoba.

    Dalam amanatnya, Linovia Karmelita yang bertindak sebagai pembina upacara membacakan pidato Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia pada peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2025. Ia menyampaikan bahwa tema peringatan tahun ini adalah “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu.” Tema tersebut mengajak seluruh pemuda Indonesia untuk meneladani semangat persatuan para pemuda tahun 1928 dan mewujudkannya melalui tindakan nyata di masa kini.

    Salah satu siswi SMAN 1 Purwareja Klampok, Dyah Karunia, mengungkapkan sedikit makna tentang Sumpah Pemuda bagi generasi muda. “Makna Sumpah Pemuda bagi kami adalah bagaimana menghargai teman-teman yang berbeda, menumbuhkan rasa cinta tanah air, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menghargai keberagaman di Indonesia,” ujarnya.

    • Melalui peringatan Hari Sumpah Pemuda ini, diharapkan seluruh siswa SMAN 1 Purwareja Klampok semakin termotivasi untuk menjadi generasi muda yang berkarakter, berprestasi, dan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

    (Jurnalistik SMA Negeri 1 Purwareja Klampok)