Menanamkan Jiwa dan Semangat 45 LVRI Banjarnegara Ajak Pelajar Kenali Sejarah Perjuangan Bangsa
4 mins read

Menanamkan Jiwa dan Semangat 45 LVRI Banjarnegara Ajak Pelajar Kenali Sejarah Perjuangan Bangsa

Banjarnegara – nujateng.com – Dalam rangka memperkuat karakter kebangsaan generasi muda, DPC Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Banjarnegara menggelar kegiatan Sosialisasi Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai 1945 (JSN 45) di Gedung Juang 45 Banjarnegara. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan siswa dari SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Banjarnegara, termasuk delegasi SMA Negeri 1 Banjarnegara yang terdiri atas unsur OSIS dan Majelis Perwakilan Kelas.

Acara dibuka dengan pembacaan basmallah, doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta Mars Veteran Republik Indonesia. Suasana khidmat terasa sejak awal, menghadirkan semangat nasionalisme yang kuat di antara peserta yang memadati Gedung Juang 45.

Kegiatan menghadirkan tiga narasumber dari LVRI Banjarnegara. Pemateri pertama, Drs. Ima Ustaat (68), Sekretaris Macab LVRI sekaligus veteran termuda di Banjarnegara yang pernah tergabung dalam pasukan perdamaian PBB di Timur Tengah pada tahun 1979, menyampaikan materi bertajuk Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai 1945 sebagai Landasan Karakter Bangsa.

Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh 80 persen karakter dan 20 persen pengetahuan serta keterampilan. “Karakter adalah kekuatan utama bangsa. Tanpa karakter, ilmu tidak akan membawa keberkahan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai 1945 merupakan konsep yang berakar pada ruh perjuangan bangsa Indonesia. Jiwa 45 mencerminkan cinta tanah air, semangat rela berkorban, pantang menyerah, dan kepercayaan pada kemampuan sendiri. Semangat 45 menegaskan pentingnya kerja keras, gotong royong, serta persatuan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Sementara Nilai-Nilai 45 berlandaskan Pancasila dan Proklamasi 17 Agustus 1945, mencakup nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, musyawarah, dan nasionalisme.

“Jiwa dan nilai-nilai 45 bukan hanya warisan sejarah, tetapi pedoman moral agar bangsa ini tetap kuat, berdaulat, dan bermartabat di tengah tantangan zaman,” imbuhnya.

Pemateri kedua, Ismail, mengangkat tema Jejak Perjuangan dan Monumen Pahlawan di Banjarnegara. Ia menuturkan bahwa di Kabupaten Banjarnegara terdapat 167 makam pahlawan, dengan 150 di antaranya telah teridentifikasi. Salah satunya adalah makam Aji Rasetiya, prajurit muda berusia sekitar 20 tahun yang gugur di Papua dalam operasi melawan KKB dan kini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan “Sureng Yudha”.

Ismail juga mengulas sejumlah monumen perjuangan seperti Monumen Trek Bon Kalimendong di Desa Danaraja Kecamatan Punggelan, Monumen Gerilya Desa Prigi Kecamatan Sigaluh, dan Monumen Tentara Pelajar di depan kawasan kuliner Banjarnegara. Kisah heroik tiga pemuda. Sapardi, Sandi, dan Purwadi yang berani menghadang konvoi Belanda pada 1947 turut menjadi sorotan. “Perjuangan mereka adalah bukti bahwa semangat 45 lahir dari keberanian dan pengorbanan,” ucapnya.

Pemateri ketiga, H. Mulyanto, S.Sos., M.Si., memaparkan sejarah perjuangan bangsa mulai dari masa kerajaan, pergerakan nasional, hingga proklamasi kemerdekaan. Dalam penyampaiannya yang penuh semangat, beliau mengingatkan pentingnya memahami sejarah agar generasi muda tidak kehilangan jati diri kebangsaan. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dari sanalah kita belajar tentang arti perjuangan dan pengorbanan,” ujarnya mengutip pesan Presiden Soekarno.

Pada bagian akhir pemaparannya, H. Mulyanto membacakan sebuah puisi berjudul Surat dari Akhirat yang pernah ditulis Bung Karno. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, beliau membacakan, “Kawan, kau pasti masih ingat kami mati dengan perut kosong berbaju compang-camping berendam dalam semangat membara…” Suasana ruangan seketika hening, dan beberapa peserta tampak ikut terharu menyaksikan pembacaan puisi tersebut.

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Salah satu perwakilan dari SMA Negeri 1 Banjarnegara, Azizah Khoirunnisa Qurrotul’ain, bertanya, “Bagaimana kita sebagai generasi muda dapat menjaga ingatan sejarah, terutama tentang perjuangan lokal yang jarang diajarkan di sekolah?”

Menanggapi pertanyaan itu, Drs. Ima Ustaat menyarankan agar pelajar lebih aktif mengenal sejarah daerah dengan mengunjungi monumen perjuangan, menghadiri upacara di Taman Makam Pahlawan, dan membaca buku Banjarnegara Berjuang karya Maharani.

Selain Azizah, perwakilan OSIS SMA Negeri 1 Banjarnegara yang hadir antara lain Azzahra Eka Nirmala Dewi dan Oryzativa Rasendria Setyaliani, serta dari MPK Amira Thalita Zahra dan Muhammad Ferizqi Rivandi. Mereka mengikuti kegiatan dengan penuh antusias dan rasa hormat kepada para veteran yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa.

Melalui kegiatan ini, LVRI Banjarnegara berharap nilai-nilai perjuangan 45 dapat terus diwariskan kepada generasi muda sebagai fondasi karakter dan semangat nasionalisme. Sosialisasi tersebut menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali kesadaran sejarah dan rasa cinta tanah air di kalangan pelajar Banjarnegara.

Azizah Khoirunnisa Qurrotul’ain

SMA Negeri 1 Banjarnegara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *