Author: Dwi Widiyastuti

  • Cara Mudah Hitung Zakat Perdagangan: Panduan Lengkap agar Harta Bersih dan Berkah!

    Cara Mudah Hitung Zakat Perdagangan: Panduan Lengkap agar Harta Bersih dan Berkah!

    NUJATENG.COM – Dalam Islam, zakat bukan hanya kewajiban finansial, melainkan juga bentuk penyucian harta (tazkiyah al-mal) dan pengakuan bahwa semua rezeki berasal dari Allah SWT. Salah satu jenis zakat yang sering bersinggungan dengan aktivitas ekonomi modern adalah zakat perdagangan (zakat tijarah).

    Zakat ini penting karena menyangkut harta yang terus berputar dan berkembang, seperti barang dagangan, uang tunai, dan piutang. Melalui zakat perdagangan, seorang Muslim diingatkan bahwa keberhasilan bisnis bukanlah hasil kerja keras semata, melainkan juga karunia Allah yang perlu disucikan.

    Apa Saja yang Termasuk Objek Zakat Perdagangan?

    Menurut ulama, yang menjadi objek zakat perdagangan adalah barang yang diperjualbelikan, atau dalam istilah fikih disebut ‘urudh at-tijarah. Sementara itu, peralatan usaha dan aset tetap seperti rak, komputer, atau bangunan toko tidak dikenai zakat, karena sifatnya hanya mendukung operasional usaha, bukan untuk diperjualbelikan.

    Dalam al-Fiqh al-Manhaji, dijelaskan:

    “Tidak termasuk dalam harta perdagangan yang wajib dinilai adalah perabotan dan peralatan yang digunakan untuk mendukung usaha, bukan untuk dijual. Maka, tidak ada zakat atasnya, seberapa pun nilainya.”
    (Mushthafa al-Khin, al-Fiqh al-Manhaji, Juz II, hlm. 44)

    Selain itu, uang tunai dan saldo bank, serta piutang yang masih bisa ditagih, juga termasuk dalam objek zakat karena nilainya bisa diuangkan dan menambah total kekayaan perdagangan.

    Kapan Zakat Perdagangan Wajib Dikeluarkan?

    Dalam kitab Mughni al-Muhtaj dijelaskan bahwa zakat perdagangan wajib dikeluarkan setelah harta tersebut mencapai nisab dan telah dimiliki selama satu tahun (haul). Nisab zakat perdagangan disamakan dengan nisab emas, yaitu setara dengan 85 gram emas.

    Artinya, jika harga emas Rp 2.000.000 per gram, maka nisabnya sekitar Rp 170 juta. Bila nilai total harta dagang melebihi angka itu, maka zakat wajib dikeluarkan.

    Menghitung Berdasarkan Tahun Hijriah dan Masehi

    Pada dasarnya, zakat dihitung berdasarkan tahun Hijriah (Qamariyyah). Namun dalam praktik modern, banyak perusahaan yang menggunakan kalender Masehi (Syamsiyyah) untuk laporan keuangan.

    Karena itu, lembaga seperti Baitul Mal Kuwait memperbolehkan penggunaan kalender Masehi dengan penyesuaian tarif zakat, yaitu:

    2,577%, yang merupakan hasil penyesuaian dari 2,5% x (365 ÷ 354).

    Rumus Praktis Menghitung Zakat Perdagangan

    Ulama klasik seperti Maimun bin Mihran menjelaskan metode sederhana menghitung zakat perdagangan dalam kitab al-Amwal karya Abu Ubaid:

    “Jika waktu zakat telah tiba, lihatlah seluruh harta yang kamu miliki, tambahkan piutang yang masih bisa ditagih, kurangi dengan total utangmu, dan bayarlah zakat dari sisanya.”

    Rumus Dasar Zakat Perdagangan:

    (Harta Objek Zakat [Kas + Piutang + Persediaan]) – Utang Usaha = Nilai Kena Zakat

    Setelah diketahui jumlahnya, kalikan dengan tarif zakat (2,5% untuk Hijriah atau 2,577% untuk Masehi).

    Contoh Kasus Perhitungan

    Deskripsi Jumlah (Rp)
    Kas dan Bank 255.000.000
    Piutang 30.000.000
    Persediaan Barang Dagang 300.000.000
    Total Harta Zakat (A) 585.000.000
    Utang Usaha (B) 50.000.000
    Nilai Kena Zakat (A-B) 535.000.000
    Nisab Zakat (85 gram emas) 170.000.000

    Karena nilai harta melebihi nisab, maka zakat wajib dikeluarkan:

    • Zakat (Hijriah): 2,5% × 535.000.000 = Rp 13.375.000

    • Zakat (Masehi): 2,577% × 535.000.000 = Rp 13.786.950

    Mengapa Zakat Perdagangan Begitu Penting?

    Zakat perdagangan bukan hanya soal kewajiban, tetapi juga cara Allah menyucikan harta dan melatih empati sosial. Dengan membayar zakat, pelaku usaha ikut menggerakkan roda ekonomi umat dan menjaga keseimbangan sosial.

    Ustadz Abdul Wahid Al-Faizin, Dosen Manajemen Bisnis Syariah STAI Sidogiri, menegaskan bahwa zakat perdagangan memiliki nilai spiritual dan sosial sekaligus.

    “Zakat adalah bukti bahwa kesuksesan bisnis bukan semata hasil kerja keras, tetapi juga bagian dari amanah Allah yang harus disalurkan untuk keberkahan.”

    Bersihkan Harta, Raih Berkah

    Zakat perdagangan mengajarkan keseimbangan antara kewirausahaan dan spiritualitas. Dengan memahami dasar hukum, objek, nisab, serta cara menghitungnya, seorang Muslim bisa memastikan hartanya bersih, berkah, dan bermanfaat bagi sesama.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Zakat Perdagangan, Bagaimana Cara Menghitungnya?

  • Tidur di Masjid, Dosa atau Diperbolehkan? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Para Ulama

    Tidur di Masjid, Dosa atau Diperbolehkan? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Para Ulama

    NUJATENG.COM – Masjid dikenal sebagai tempat ibadah, pusat dakwah, dan pembinaan umat. Namun, fenomena seseorang tidur di dalam masjid bukanlah hal baru. Di berbagai kota, terutama masjid besar, kita kerap melihat orang beristirahat, bahkan bermalam di dalamnya.

    Motifnya pun beragam: ada yang musafir dan membutuhkan tempat singgah sementara, ada yang sedang beriktikaf hingga tertidur, dan ada pula yang menjadikan masjid sebagai tempat bernaung karena keterbatasan ekonomi. Lantas, bagaimana hukum tidur di masjid menurut pandangan para ulama?

    Hukum Tidur di Dalam Masjid Menurut Ulama Fikih

    Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarhil Muhadzdzab menjelaskan bahwa menurut Imam Syafi’i, tidur di dalam masjid diperbolehkan dan tidak makruh. Pendapat ini juga disepakati oleh mayoritas ulama mazhab Syafi’i.

    Beliau menyebut:

    “Diperbolehkan tidur di dalam masjid dan tidak makruh menurut kami. Imam Syafi’i telah menegaskan hal itu dalam kitab al-Um, dan para pengikut mazhab Syafi’i sepakat atasnya.”

    Bahkan, Imam Syafi’i berdalil dengan berbagai riwayat kuat, salah satunya dari sahabat Ibnu Umar, yang berkata:

    “Dahulu aku adalah seorang pemuda yang belum menikah, dan aku tidur di masjid pada masa Rasulullah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Riwayat ini menjadi dasar bahwa tidur di masjid bukanlah perbuatan yang tercela, apalagi jika dilakukan karena kebutuhan atau niat ibadah.

    Dalil-Dalil Pendukung: Dari Ashabus Shuffah hingga Ali bin Abi Thalib

    Imam Syafi’i juga menguatkan pendapatnya dengan kisah Ashabus Shuffah, sekelompok sahabat Nabi yang tinggal di serambi Masjid Nabawi. Mereka hidup sederhana, menuntut ilmu, beribadah, bahkan tidur di masjid. Rasulullah SAW tidak pernah menegur mereka atas hal itu.

    Selain itu, sejarah juga mencatat beberapa sahabat lain seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Shafwan bin Umayyah, hingga Tsumamah bin Utsal yang pernah tidur di masjid. Bahkan, kisah kaum Uraniyyun yang bermalam di masjid menjadi penguat bahwa tidur di masjid bukanlah perbuatan terlarang.

    Imam Syafi’i bahkan menyatakan dalam al-Um:

    “Jika seorang musyrik saja boleh bermalam di masjid, maka seorang Muslim tentu lebih berhak.”

    Pendapat Ulama Lain: Antara Boleh dan Makruh

    Namun, tidak semua ulama memiliki pandangan serupa.

    • Imam Malik memperbolehkan tidur di masjid hanya bagi orang asing (ghuraba), bukan bagi penduduk setempat.

    • Imam al-Auza’i menyebutnya makruh.

    • Imam Ahmad dan Imam Ishaq memberi perincian: boleh bagi musafir, tetapi tidak untuk menjadikan masjid sebagai tempat tidur tetap.

    • Sementara Ibnu Abbas memberi pengecualian, yakni boleh jika tidur itu untuk kepentingan ibadah, seperti menunggu waktu shalat.

    Perbedaan ini menunjukkan keluasan pandangan Islam terhadap praktik sosial di masjid, selama tetap menjaga adab dan kesucian rumah Allah.

    Ketentuan dan Adab Tidur di Masjid

    Meski diperbolehkan, para ulama menegaskan bahwa tidur di masjid tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ada beberapa syarat dan ketentuan agar perbuatan ini tidak berubah menjadi makruh atau bahkan haram.

    1. Tidak dalam Keadaan Junub atau Berhadas Besar

    Orang yang sedang junub, haid, atau nifas tidak diperkenankan berdiam di masjid, termasuk tidur di dalamnya. Hal ini karena menjaga kesucian masjid adalah kewajiban utama.

    2. Tidak Mengganggu Jamaah Lain

    Tidur yang menyebabkan gangguan misalnya menghalangi jalan masuk, mengotori area masjid, atau menimbulkan bau tak sedap dihukumi haram.

    Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan dalam Tuhfatul Muhtaj:

    “Tidak mengapa tidur di dalam masjid bagi selain orang yang junub, sekalipun bukan orang bujang. Namun, jika mempersempit ruang jamaah atau mengganggu orang shalat, maka haram tidur di dalamnya.”

    3. Menjaga Adab dan Kebersihan

    Masjid adalah tempat yang dimuliakan. Oleh karena itu, siapa pun yang tidur di dalamnya wajib menjaga kebersihan, tidak makan di sembarang tempat, serta tidak menjadikannya tempat tinggal permanen.

    Boleh, Tapi Jangan Lupa Adabnya

    Dari berbagai pandangan ulama, dapat disimpulkan bahwa tidur di masjid hukumnya boleh dan tidak makruh, terutama bagi musafir, santri, atau orang yang memiliki kebutuhan syar’i. Namun, kebolehan ini disertai dengan batasan adab, kebersihan, dan penghormatan terhadap kesucian masjid.

    Rasulullah SAW telah memberi teladan melalui para sahabat bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan umat Islam tempat belajar, berdiskusi, berzikir, bahkan beristirahat.

    Namun, jika tidur di masjid dilakukan tanpa adab, mengganggu jamaah, atau merusak kesucian tempat, maka hukumnya bisa berubah menjadi makruh bahkan haram.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Hukum dan Ketentuan Tidur di Dalam Masjid menurut Para Ulama

  • Rahasia Hidup Berkah: Mulailah Istiqamah Membaca Al-Qur’an Setiap Hari!

    Rahasia Hidup Berkah: Mulailah Istiqamah Membaca Al-Qur’an Setiap Hari!

    NUJATENG.COM – Membaca Al-Qur’an bukan sekadar ritual ibadah, tetapi kebutuhan spiritual bagi setiap Muslim. Dalam khutbah Jumat bertajuk “Mulailah Istiqamah Membaca Al-Qur’an”, umat diajak untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup yang terus menerangi jalan menuju ridha Allah SWT.

    Al-Qur’an berfungsi sebagai sumber kehidupan ruhani, menyatukan antara iman, ilmu, dan amal. Di dalamnya terkandung panduan moral, sosial, dan spiritual yang membantu manusia agar hidup selaras dengan kehendak Ilahi.

    “Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an bernilai pahala yang dilipatgandakan sepuluh kali,” demikian sabda Rasulullah SAW dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dari Abdullah ibn Mas‘ud.

    Keutamaan Membaca Al-Qur’an

    Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan:

    “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya.”
    (HR. At-Tirmidzi).

    Hadits ini menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya aktivitas ibadah, tapi juga investasi pahala yang tiada batas. Bahkan membaca satu huruf saja sudah mendatangkan kebaikan yang berlipat.

    Membaca Al-Qur’an, Menyembuhkan Jiwa

    Allah SWT berfirman dalam Surah Yunus ayat 57:

    “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.”

    Ayat ini menegaskan empat fungsi utama Al-Qur’an bagi kehidupan manusia: sebagai nasihat, penyembuh hati, petunjuk jalan hidup, dan rahmat bagi orang beriman.

    Empat Manfaat Membaca Al-Qur’an

    Para ulama klasik telah banyak menjelaskan keutamaan membaca Al-Qur’an. Di antaranya, Syekh Nawawi Al-Bantani dan Syekh Wahbah Az-Zuhaili memberikan penjelasan mendalam mengenai empat manfaat utama membaca Al-Qur’an.

    1. Al-Qur’an Sebagai Nasihat dari Allah

    Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsirul Munir, Al-Qur’an berisi nasihat dan peringatan agar manusia menempuh jalan kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Di dalamnya terkandung motivasi untuk berbuat baik serta ancaman bagi pelaku keburukan.

    Al-Qur’an menjadi “rambu-rambu” kehidupan yang menuntun manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat.

    2. Al-Qur’an Sebagai Penyembuh Hati

    Al-Qur’an menyembuhkan berbagai penyakit hati seperti kemunafikan, iri, dengki, kesombongan, dan keraguan terhadap kebenaran. Dengan membaca dan merenungi maknanya, hati menjadi tenang, pikiran jernih, dan jiwa kembali seimbang.

    3. Al-Qur’an Sebagai Petunjuk Jalan Lurus

    Bagi orang beriman, Al-Qur’an adalah kompas spiritual yang menuntun ke jalan lurus. Ia mengarahkan setiap langkah manusia menuju keyakinan yang kokoh, menjauhkan dari kesesatan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Tanpa Al-Qur’an, manusia kehilangan arah moral dan spiritual dalam hidupnya.

    4. Al-Qur’an Sebagai Rahmat Bagi Orang Beriman

    Al-Qur’an bukan hanya petunjuk, tapi juga rahmat (kasih sayang) yang menyelamatkan manusia dari kegelapan dosa menuju cahaya iman. Syekh Nawawi Al-Bantani menafsirkan bahwa Al-Qur’an membawa manusia dari kerendahan neraka menuju kemuliaan surga.

    Bahagia dengan Karunia Al-Qur’an

    Allah SWT berfirman dalam Surah Yunus ayat 58:

    “Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’”

    Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili, ayat ini menegaskan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa diperoleh melalui iman dan Al-Qur’an.

    “Anugerah Allah adalah iman, dan rahmat-Nya adalah Al-Qur’an,” tulis beliau dalam tafsirnya.

    Karunia terbesar bagi seorang Muslim bukanlah harta atau jabatan, melainkan kesempatan untuk beriman dan berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari.

    Ajak Diri untuk Istiqamah Membaca Al-Qur’an

    Membaca Al-Qur’an secara rutin membawa keberkahan dalam hidup. Walaupun seseorang belum memahami seluruh maknanya, setiap huruf yang dibaca tetap mengandung pahala dan ketenangan batin.

    Namun, memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an tentu memberikan nilai yang lebih tinggi, karena dengan itu seseorang bisa mengamalkan ajarannya secara benar dan menyeluruh.

    “Marilah kita mulai dari hari ini,” ajak khatib menutup khutbahnya,
    “Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari, memahami kandungannya, dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata.”

    Dengan istiqamah membaca Al-Qur’an, hidup akan lebih tenang, hati lebih damai, dan langkah lebih terarah menuju kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Khutbah Jumat: Mulailah Istiqamah Membaca Al-Qur’an

  • Dua Karunia Terbesar Hidup: Prof Sholihan Ungkap Makna Syukur atas Amanat Kehidupan dan Panggilan ke Tanah Suci

    Dua Karunia Terbesar Hidup: Prof Sholihan Ungkap Makna Syukur atas Amanat Kehidupan dan Panggilan ke Tanah Suci

    NUJATENG.COM – Dalam kajian tematik ke-58 yang bertajuk “Syukur atas Dua Karunia: Amanat Kehidupan dan Panggilan ke Tanah Suci”, Prof Sholihan mengajak jamaah untuk merenungkan dua nikmat besar yang sering kali terlupakan: amanat kehidupan dan panggilan menuju Tanah Suci.

    Kajian yang berlangsung selepas Maghrib itu disampaikan dengan penuh kehangatan dan kedalaman makna, mengingatkan setiap Muslim bahwa kehidupan adalah titipan Allah dan ibadah haji adalah panggilan khusus dari-Nya.

    “Setiap napas adalah amanah, dan setiap langkah menuju Tanah Suci adalah kehormatan yang tak ternilai,” ujar Prof Sholihan membuka kajian.

    Amanat Kehidupan: Tanggung Jawab dan Kesempatan untuk Beramal

    Prof Sholihan menjelaskan bahwa sejak lahir, setiap manusia telah memikul amanah (أمانة) dari Allah SWT tanggung jawab untuk hidup dengan baik, beribadah, dan berkontribusi bagi sesama.

    Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Anfal (8:27):

    “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu.”

    Ayat ini, menurutnya, menjadi pengingat agar setiap Muslim menjaga amanah kehidupan, baik dalam ibadah, pekerjaan, maupun hubungan sosial.

    Syukur atas Nikmat Hidup

    Bersyukur (syukr) atas kehidupan bukan sekadar ucapan “alhamdulillah,” melainkan mengisi hidup dengan amal saleh dan tanggung jawab moral.

    “Bersyukur itu bukan hanya berterima kasih, tapi membuktikan rasa syukur dengan tindakan nyata,” jelas Prof Sholihan.

    Ia menambahkan, setiap amal baik sekecil apa pun adalah bentuk nyata dari kesadaran akan amanah hidup yang harus dijaga dan disyukuri.

    Panggilan ke Tanah Suci: Nikmat yang Tak Semua Dapatkan

    Memasuki bagian kedua kajian, Prof Sholihan membahas karunia berikutnya: panggilan ke Tanah Suci, baik untuk haji maupun umrah. Ia menjelaskan bahwa panggilan ini bukan semata undangan ritual, tetapi sebuah kehormatan spiritual.

    “Tidak semua orang yang mampu secara finansial akan mendapat panggilan ke Tanah Suci. Itu adalah hak prerogatif Allah bagi hamba yang disiapkan hatinya,” ungkapnya.

    Haji, sebagai rukun Islam kelima, memiliki makna yang mendalam: perjalanan penyucian diri dari dosa dan keterikatan dunia. Dalam perjalanan itu, seorang Muslim diajak untuk menanggalkan kesombongan, melebur dalam kesetaraan, dan mendekatkan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

    Persiapan Fisik dan Mental Menyambut Panggilan Allah

    Prof Sholihan juga menekankan pentingnya persiapan menyambut panggilan haji atau umrah, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

    Ia menyebut beberapa langkah penting:

    • Menata niat agar semata karena Allah SWT.

    • Menyempurnakan ibadah wajib dan memperbanyak doa.

    • Menjaga kesehatan dan keikhlasan hati.

    “Haji yang mabrur dimulai bukan saat di Mekkah, tapi sejak niat tulus itu tumbuh di hati,” tutur beliau.

    Ajakan untuk Bersyukur dan Beramal Saleh

    Di akhir kajian, Prof Sholihan mengajak jamaah untuk memperbanyak amal saleh dan doa, agar termasuk dalam golongan yang dipanggil ke Tanah Suci di masa mendatang. Ia menegaskan bahwa dua karunia ini hidup dan kesempatan beribadah di Tanah Suci adalah dua nikmat besar yang menuntut rasa syukur yang mendalam.

    “Setiap detik kehidupan adalah anugerah. Setiap kesempatan menuju Baitullah adalah panggilan cinta dari Allah. Maka, jangan pernah abai untuk bersyukur,” pesannya menutup kajian.

    Menjalani Hidup dengan Amanah dan Syukur

    Kajian ini menjadi pengingat kuat bahwa hidup yang bermakna bukan diukur dari panjangnya umur atau banyaknya harta, tetapi dari seberapa baik kita menjaga amanah Allah dan mensyukuri setiap karunia-Nya.

    Dengan menjaga amanah kehidupan dan mempersiapkan diri menyambut panggilan suci, seorang Muslim akan mencapai keseimbangan antara dunia dan akhirat hidup yang diridhoi dan diberkahi.***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: Syukur atas Dua Karunia: Amanat Kehidupan dan Panggilan ke Tanah Suci

  • Empat Rahasia Ahli Hikmah: Cara Prof Sholihan Ungkap Jalan Hidup Seimbang Antara Tuhan, Nafsu, dan Dunia

    Empat Rahasia Ahli Hikmah: Cara Prof Sholihan Ungkap Jalan Hidup Seimbang Antara Tuhan, Nafsu, dan Dunia

    NUJATENG.COM – Sebuah kajian kitab kuning klasik, Nashaihul Ibad, kembali digelar usai salat Maghrib berjamaah. Dalam kesempatan kali ini, Prof Sholihan membahas lanjutan maqalah ke-20 dari Bab Rubai’i, yang mengupas tentang empat tanda atau posisi seorang ahli hikmah (hukama) dalam hubungannya dengan empat entitas berbeda: Allah, nafsu, sesama makhluk, dan dunia.

    Kajian ini disampaikan secara mendalam dan inspiratif, mengajak jamaah memahami bagaimana seorang muslim sejati menyeimbangkan keempat hubungan tersebut agar hidupnya penuh berkah dan kebijaksanaan.

    “Empat posisi ini menjadi cermin sejauh mana kita memahami makna hidup yang seimbang tidak berlebihan, tidak pula abai,” ujar Prof Sholihan dalam kajian tersebut.

    Hubungan dengan Allah: Selaras dan Patuh Total (‘Ala al-Muwafaqati)

    Seorang hukama memiliki hubungan dengan Allah dalam keadaan bermuafaqah atau berkesesuaian. Artinya, ia selalu menyesuaikan diri dengan kehendak Allah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

    Prof Sholihan menegaskan, kepatuhan ini bukan sekadar ritual, tetapi sikap batin yang mencerminkan keselarasan hati dengan kehendak Ilahi.

    “Ketika kehendak kita sudah sejalan dengan kehendak Allah, itulah puncak kebijaksanaan seorang hamba,” tuturnya.

    Hubungan dengan Nafsu: Lawan, Kendalikan, dan Taklukan (‘Ala al-Mukhalafati)

    Berbeda dengan hubungan kepada Allah, seorang ahli hikmah justru berlawanan dengan nafsu. Ia tidak tunduk pada hawa nafsunya, tetapi berjuang untuk mengendalikannya.

    Prof Sholihan menjelaskan, nafsu memang diperlukan untuk bertahan hidup, namun yang harus ditundukkan adalah nafsu ammarah dorongan yang selalu mengajak kepada keburukan.

    “Nafsu itu seperti kuda liar. Bila dikendalikan dengan benar, ia bisa membawa kita ke tujuan. Tapi jika dibiarkan, ia akan menjatuhkan kita,” katanya.

    Hubungan dengan Sesama Makhluk: Menjadi Penasehat yang Tulus (‘Ala an-Nasihah)

    Dalam hubungannya dengan sesama makhluk, seorang hukama berperan sebagai pemberi nasihat yang tulus (an-nasihah). Nasihat di sini berarti mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagaimana konsep amar ma’ruf nahi munkar.

    Namun, Prof Sholihan menekankan bahwa nasihat harus diberikan dengan niat yang bersih. Tulus berarti tanpa pamrih, tanpa niat menghakimi, melainkan karena kasih sayang.

    Ia juga mengingatkan bahaya jika seseorang memilih diam melihat kemungkaran.

    “Jika hati kita sudah tidak terusik oleh kemungkaran, maka itulah tanda selemah-lemahnya iman,” tegasnya.

    Beliau mengibaratkan masyarakat sebagai perahu besar: jika satu bagian dilubangi dan tidak ada yang menegur, maka semua penumpangnya akan tenggelam bersama.

    Hubungan dengan Dunia: Gunakan Secukupnya, Jangan Terikat (‘Ala ad-Dharurah)

    Ahli hikmah memandang dunia hanya sebatas darurat atau keperluan seperlunya saja. Dunia boleh dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup, tetapi tidak boleh menjerat hati.

    “Zuhud bukan berarti miskin, tapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati,” ujar Prof Sholihan menegaskan makna zuhud yang sesungguhnya.

    Kekayaan, lanjutnya, bukanlah sesuatu yang salah bahkan bisa menjadi keharusan jika digunakan untuk kebaikan, seperti membayar zakat atau bersedekah. Namun, harta itu harus diperoleh dan digunakan dengan cara yang benar.

    “Allah akan menanyakan dua hal tentang harta: dari mana diperoleh dan untuk apa digunakan. Jika cara mendapatkannya salah, maka penggunaannya tidak akan bernilai di sisi Allah,” imbuhnya.

    Empat Pilar Kebijaksanaan Hidup Seorang Muslim

    Kajian Nashaihul Ibad kali ini ditutup dengan doa dan harapan agar para jamaah dapat mengamalkan empat posisi penting seorang hukama: selaras dengan Allah, melawan nafsu, menasihati sesama, dan bersikap bijak terhadap dunia.

    Prof Sholihan menutup kajian dengan pesan reflektif:

    “Hidup ini akan menjadi indah bila kita mampu menyeimbangkan antara ibadah, perjuangan melawan diri, kasih sayang kepada sesama, dan kebijaksanaan dalam memandang dunia.”***

    Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: Kajian Nashaihul Ibad, Prof Sholihan: Empat Tanda Hukama

  • Mencetak Insan Berkarakter: Bedah Visi dan Misi SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara

    Mencetak Insan Berkarakter: Bedah Visi dan Misi SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara

    BANJARNEGARA – nujateng.com – SMAN 1 Sigaluh, yang lebih dikenal sebagai ESMEGA, merupakan sekolah berakreditasi A di Kabupaten Banjarnegara. Sekolah ini meneguhkan identitasnya melalui visi, misi, serta nilai-nilai yang digenggam erat oleh setiap insan di penjuru ESMEGA.

    Visi sekolah menjadi kompas utama untuk mengarahkan warga sekolah menuju cita-cita bersama. Visi SMA Negeri 1 Sigaluh berporos pada menjadikan siswa yang bertakwa dan berkarakter, mencakup nilai-nilai Pancasila seperti spiritual, moral, dan kepedulian sosial. Harapan sekolah adalah menciptakan individu yang dapat bersaing di tingkat global namun tetap memegang teguh akar-akar nilai kebangsaan dan agama.

    Untuk mencapai visi tersebut, SMA Negeri 1 Sigaluh merumuskan sejumlah misi, yaitu:

    1. Mengoptimalkan perencanaan pembelajaran yang mengintegrasikan pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup.
    2. Mengoptimalkan proses pembelajaran dan bimbingan konseling.
    3. Mengembangkan potensi akademik dan bakat siswa dalam pengembangan diri bidang olahraga dan seni budaya secara efektif.
    4. Mengoptimalkan pemenuhan sarana prasarana pendukung yang ramah lingkungan.
    5. Membiasakan budaya bersih dan sehat, antikorupsi, antinarkoba, berwawasan, dan peduli lingkungan.
    6. Menumbuhkan budaya meneliti dan jiwa kewirausahaan.
    7. Mengoptimalkan pembiasaan pelaksanaan ibadah.

    Aksi nyata dari visi dan misi tersebut adalah kegiatan tadarus setiap pagi dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta pelaksanaan salat Duha berjamaah dan salat Asar. Selain itu, para siswa juga dilatih untuk bersedekah dengan menyisihkan uangnya untuk amal.

    Dengan perpaduan visi yang kuat dan misi yang terstruktur, SMA Negeri 1 Sigaluh terus merajut identitasnya sebagai lembaga pendidikan yang berkomitmen penuh dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berprestasi, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.

    (Zalfa Izzati Oktifani/SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara)

  • SMAN 1 Sigaluh Meraih Prestasi: Perjalanan Siswa Berbakat di Dunia Silat

    SMAN 1 Sigaluh Meraih Prestasi: Perjalanan Siswa Berbakat di Dunia Silat

    BANJARNEGARA – nujateng.com – Tiga siswa berbakat dari SMA Negeri 1 Sigaluh, yaitu Rozi Bani Musyarof dari XI.4, Marya Nur Ulfa dari kelas XI.6, dan Widya Tama Riski Fitrian dari XI.4 berhasil menorehkan prestasi luar biasa di cabang olahraga pencak silat. Mereka berhasil meraih ajang Kejuaraan Daerah (KEJURDA).

    Rozi Bani Musyarof: Juara 2 Kelas B Putra Remaja
    Marya Nur Ulfa: Juara 3 Kelas F Putri Remaja
    Widya Tama Riski Fitrian: Juara 3 Jurus Tunggal Putra Remaja

    Keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras dan dedikasi tinggi selama berbulan-bulan latihan. Ketiganya mengaku sangat terinspirasi oleh Mas Kriss dan Hanifan, pelatih sekaligus inspirasi yang telah membimbing dan memotivasi mereka.

    Pertandingan yang digelar di GOR Tenis Indoor Banjarnegara pada tanggal 2 – 4 Agustus 2025 menjadi pengalaman berharga yang membuktikan kemampuan dan mental juang para siswa ini. Momen yang paling sangat berkesan bagi Rozi saat berhasil memenangkan kejuaraan di tingkat provinsi dan kabupaten, sedangkan Ulfa dan Tama saat berhasil memenangkan kejuaraan di tingkat kabupaten.

    Ketika ditanya alasan memilih silat dibandingkan cabang olahraga lain, mereka dengan jujur menyampaikan bahwa silat dipilih karena disekolah tidak memiliki jumlah peminat yang tidak terlalu banyak dan dorongan dari diri sendiri, sehingga persaingan lebih fokus dan peluang untuk berkembang lebih besar. Namun, mereka juga menegaskan bahwa silat bukan hanya tentang prestasi, melainkan tentang membangun karakter, kedisiplinan, dan rasa cinta terhadap budaya bangsa.

    Di masa depan ketiganya berencana untuk memilih jalannya masing-masing. Rozi dan Ulfa memilih untuk fokus ke kemampuan silat, sementara Tama memutuskan untuk fokus ke akademik.

    Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa semangat, ketekunan, dan kerja sama dapat membawa hasil yang membanggakan. Ketiga siswa ini telah menunjukkan bahwa dengan tekad kuat, siswa SMA pun mampu menembus kompetisi tingkat kabupaten dan mengharumkan nama sekolah.

    (Bagus Setiawan/SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara)

  • Guru SMAN 1 Sigaluh Berprestasi: Henny Murdhiastuti Raih Juara 3 Video Pembelajaran SMA PGRI

    BANJARNEGARA – nujateng.com – 4 November 2025 Henny Murdhiastuti, S.Pd, guru SMAN 1 Sigaluh yang mengampu mata pelajaran ekonomi, baru saja meraih juara 3 Video Pembelajaran SMA PGRI tingkat Kabupaten Banjarnegara. Prestasi ini merupakan bukti nyata dari dedikasi dan kreativitasnya dalam mengembangkan pendidikan di sekolah.

    Dia menjelaskan bahwa termotivasi untuk membuat video pembelajaran yang berkualitas karena panggilan jiwa sebagai seorang guru yang profesional, keinginan memberikan yang terbaik untuk muridnya, mengikuti perkembangan dan perubahan zaman, melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang guru, dan keinginan diri untuk selalu berkembang.

    “Pengalaman membuat video pembelajaran membuat saya lebih memahami karakteristik dan kemampuan diri siswa, mengurangi kesenjangan dalam kelas, dan membuat pembelajaran lebih kontekstual.” ujar henny

    Dia juga akan mengaplikasikan pengalaman ini dengan menggunakan video pembelajaran untuk menyampaikan materi dan membuat bank video pembelajaran, serta berkolaborasi dengan guru sejawat.

    Dengan prestasinya, Henny Murdhiastuti telah membuktikan dirinya sebagai guru yang berdedikasi dan kreatif dalam mengembangkan pendidikan di sekolah. Semoga prestasinya dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya.

    (Clarista Praselia Putri/SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara)

  • Januar Ainun Riski Nugroho, Siswa SMA Negeri 1 Sigaluh yang Berprestasi di Dunia Silat

    BANJARNEGARA – nujateng.com – Januar Ainun Riski Nugroho yang akrab disapa Kiki, siswa kelas XI.7 SMA Negeri 1 Sigaluh, telah membuktikan dirinya sebagai salah satu atlet muda berbakat di dunia silat. Kami memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Kiki tentang prestasinya dan rencana masa depannya.

    “Saya telah meraih Juara 3 Tingkat Internasional Kelas D Putra Remaja di Bidang Fighter pada bulan September 2025” ujar kiki.

    Adapun sosok yang menginpirasi dia. “Saya sangat berterima kasih kepada Mas Kriss, yang telah menjadi inspirasi dan motivasi bagi saya dalam berlatih silat.” ujar kiki.

    Momen paling berkesan bagi Kiki adalah saat memenangkan Juara 3 Tingkat Internasional Kelas D Putra Remaja di Bidang Fighter pada bulan September 2025.

    Kiki juga mengungkapkan bahwa kejuaraan paling berkesan yang pernah dia ikuti adalah di Semarang, sekitar UIN Walisongo.

    Dia memilih silat karena disekolah tidak memiliki jumlah peminat yang terlalu banyak, sehingga saingannya tidak begitu banyak dan ketat membuat peluang kemenangan yang luas bagi dia.

    Untuk kedepannya, dia akan fokus pada kemampuan silat yang sudah dia kuasai, namun dia tetap menjalankan kewajiban nya sebagai siswa sekolah dengan tetap menuntut ilmu dan mengerjakan tugas yang diberikan.

    Dengan prestasinya yang membanggakan, Januar Ainun Riski Nugroho telah membuktikan dirinya sebagai salah satu atlet muda berbakat di dunia silat. Kami berharap dia dapat terus mengembangkan kemampuan dan mencapai kesuksesan di masa depan.

    (Bagus Setiawan/SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara)