Jangan Salah Paham! Menasihati Ustadz Bukan Berarti Menentang Islam
4 mins read

Jangan Salah Paham! Menasihati Ustadz Bukan Berarti Menentang Islam

NUJATENG.COM – Dalam kehidupan masyarakat Muslim, ustadz atau pemuka agama sering kali dianggap sebagai sosok yang tidak boleh disentuh kritik. Mereka dihormati sebagai panutan dan sumber ilmu agama, tempat orang bertanya dan mencari solusi dalam urusan spiritual maupun sosial.

Namun, muncul pandangan keliru bahwa memberi nasihat atau masukan kepada ustadz merupakan tindakan yang tidak sopan, bahkan dianggap menentang Islam. Anggapan semacam ini justru berbahaya karena menutup ruang dialog dan menghambat semangat amar ma’ruf nahi munkar yang diajarkan oleh agama itu sendiri.

Padahal, Islam tidak pernah menutup pintu kritik dan nasihat, bahkan terhadap pemimpin tertinggi, selama dilakukan dengan cara yang baik dan penuh adab.

Tradisi Nasihat dalam Islam: Nabi Pun Menerima Masukan

Islam memiliki tradisi yang sangat kuat dalam hal saling menasihati. Nabi Muhammad SAW sendiri memberikan contoh nyata bahwa seorang pemimpin, sekalipun Rasulullah, terbuka terhadap masukan dari sahabatnya.

Salah satu peristiwa yang terkenal adalah kisah Habbab bin al-Mundzir dalam Perang Badar. Ketika Nabi menentukan posisi pasukan di depan sumber air, Habbab bertanya dengan sopan apakah keputusan itu berdasarkan wahyu atau pendapat pribadi. Setelah Nabi menjawab bahwa itu pendapatnya, Habbab mengusulkan agar posisi pasukan dipindahkan ke belakang sumber air agar lebih strategis. Rasulullah menerima usulan itu dengan lapang dada.

Peristiwa lain adalah kisah Dzul Yadain, sahabat yang berani mengingatkan Rasulullah SAW ketika beliau menunaikan shalat Ashar hanya dua rakaat. Setelah dicek dan dikonfirmasi kepada jamaah lain, Rasulullah pun menyempurnakan shalatnya dan melakukan sujud sahwi sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.

Dua peristiwa ini menegaskan bahwa memberi masukan kepada orang berilmu bahkan kepada Nabi bukanlah bentuk penentangan, melainkan ekspresi cinta terhadap kebenaran dan tanggung jawab moral terhadap agama.

Nasihat Sebagai Bagian dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Memberi masukan kepada ustadz bukan berarti menolak keilmuannya, melainkan membantu menjaga kemurnian ajaran Islam. Dalam Tafsir Ar-Razi, disebutkan:

“Dan mereka saling menasihati, yakni antara satu dengan yang lain saling menasihati, baik dengan perbuatan maupun ucapan, untuk kebenaran.”
(Khatib Asy-Syarbini, Tafsir Asy-Syarbini, Jilid IV, Hal. 680)

Penjelasan ini menegaskan bahwa nasihat merupakan kewajiban bersama, tanpa memandang kedudukan seseorang. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan agar tidak terjerumus dalam kesalahan.

Bahkan Imam Al-Ghazali menegaskan dalam Ihya’ Ulumuddin:

“Syarat orang yang menjadi objek amar ma’ruf nahi munkar adalah berada pada kondisi di mana perbuatan yang dilarang benar-benar termasuk kemungkaran.”
(Jilid I, Hal. 420)

Artinya, siapa pun yang berbuat salah termasuk ustadz wajib diingatkan jika tindakannya menyimpang. Justru karena pengaruh ustadz sangat luas, kesalahan mereka harus segera diluruskan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi jamaah dan masyarakat.

Siapa yang Boleh Menasihati Ustadz?

Banyak yang berpikir bahwa hanya ustadz atau ulama selevel yang berhak mengoreksi sesama ustadz. Padahal, menurut Sayyid Abdurrahman Al-Hadrami dalam Bughyatul Mustarsyidin, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar berlaku bagi semua Muslim yang sudah baligh dan berakal.

“Maka mencakup orang merdeka dan hamba sahaya, kaya dan miskin, kuat dan lemah, rendah dan terhormat, tua dan muda. Tidak diriwayatkan bahwa anak muda tidak boleh mengingkari orang yang lebih tua, dan itu bukan bentuk tidak sopan kepadanya.”
(Bughyatul Mustarsyidin, Hal. 311)

Dengan demikian, siapa pun baik muda maupun tua, berilmu tinggi atau sederhana boleh menasihati ustadz selama memahami duduk perkaranya dan memiliki niat yang tulus untuk memperbaiki, bukan menjatuhkan.

Adab dan Etika dalam Memberi Nasihat kepada Ustadz

Meski dibolehkan, nasihat kepada ustadz harus dilakukan dengan adab dan cara yang bijaksana. Islam menempatkan orang berilmu pada kedudukan tinggi, sehingga adab dalam menasihati menjadi bagian penting dari etika Islam.

Beberapa prinsip yang harus dipegang antara lain:

  • Menasihati dengan lemah lembut dan tidak merendahkan.

  • Mengutamakan niat memperbaiki, bukan mencari kesalahan.

  • Menghindari publikasi atau hujatan terbuka yang dapat merusak kehormatan orang berilmu.

  • Menyampaikan nasihat di waktu dan tempat yang tepat, agar pesan diterima dengan baik.

Dengan adab seperti ini, nasihat kepada ustadz justru menjadi bentuk kasih sayang dan kepedulian terhadap umat, bukan bentuk perlawanan terhadap agama.

Nasihat Adalah Wujud Cinta terhadap Kebenaran

Memberi nasihat kepada ustadz bukanlah tanda kurang ajar atau menentang Islam. Sebaliknya, itu adalah bagian dari ajaran Islam yang luhur semangat amar ma’ruf nahi munkar yang menjaga kemurnian dakwah dan melindungi umat dari kesalahan tafsir maupun perilaku.

Selama dilakukan dengan adab, keikhlasan, dan rasa hormat, menasihati ustadz justru menunjukkan kepedulian terhadap agama dan cinta terhadap kebenaran.

Sebab diam melihat kesalahan bukanlah bentuk hormat, melainkan bentuk kelalaian terhadap amanah ilmu yang seharusnya disampaikan demi kemaslahatan bersama.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Jangan Keliru: Menasihati Ustadz Bukan Berarti Anti-Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *