Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Khidhir: 12 Adab Emas Menuntut Ilmu yang Mulai Hilang di Zaman Sekarang
NUJATENG.COM – Di era modern ini, kita sering mendengar berita tentang murid yang berani membantah, meremehkan, bahkan berbuat kasar kepada guru. Fenomena tersebut menjadi bukti nyata bahwa adab dalam menuntut ilmu semakin terkikis oleh arus zaman. Padahal, dalam tradisi Islam, adab seorang murid terhadap guru merupakan fondasi utama agar ilmu yang diperoleh membawa manfaat dan keberkahan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa seorang murid harus tunduk, rendah hati, dan menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada guru. Ia berkata:
“Murid tidak boleh menyombongkan diri terhadap ilmu dan menentang gurunya. Ia harus mempercayai bimbingan gurunya sebagaimana orang sakit mempercayai dokter yang ahli dan penyayang.”
(Ihya’ Ulumuddin, Jilid I, hlm. 50)
Adab ini bukan hanya sekadar tata krama, tetapi merupakan syarat turunnya keberkahan ilmu. Tanpa adab, ilmu bisa kehilangan ruhnya.
Pelajaran dari Kisah Nabi Musa dan Khidhir
Al-Qur’an memberikan contoh luar biasa tentang adab menuntut ilmu melalui kisah Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidhir a.s. yang termuat dalam Surat Al-Kahfi ayat 66:
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) dari apa yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?’”
(QS Al-Kahfi: 66)
Padahal, Nabi Musa bukan orang sembarangan. Ia seorang Rasul yang mendapat kehormatan berbicara langsung dengan Allah (Kalimullah). Namun, dalam kisah ini, beliau menunjukkan kerendahan hati luar biasa di hadapan seorang guru.
Imam Ismail Haqqi menjelaskan dalam Ruhul Bayan:
“Seseorang harus bersikap rendah hati kepada orang yang lebih berilmu darinya.”
(Ruhul Bayan, Jilid V, hlm. 273)
Sementara Imam Fakhruddin Ar-Razi menegaskan bahwa setiap ayat dalam kisah Musa dan Khidhir menggambarkan berbagai bentuk adab dan kelembutan seorang murid kepada guru.
12 Adab Menuntut Ilmu dari Kisah Nabi Musa dan Khidhir
Dalam tafsirnya, Imam Fakhruddin Ar-Razi merinci dua belas adab luar biasa yang ditunjukkan Nabi Musa a.s. saat belajar kepada Khidhir. Inilah pelajaran abadi yang seharusnya dihidupkan kembali oleh para penuntut ilmu masa kini:
1. Merendahkan Diri di Hadapan Guru
Ucapan Musa “هل أتبعك” (“Bolehkah aku mengikutimu?”) menunjukkan kerendahan hati dan pengakuan bahwa dirinya membutuhkan bimbingan.
2. Meminta Izin dengan Sopan
Musa tidak serta-merta mengikuti Khidhir. Ia terlebih dahulu meminta izin, menunjukkan etika dalam berinteraksi dengan guru.
3. Mengakui Keterbatasan Diri
Kalimat “أَنْ تُعَلِّمَنِ” menunjukkan kesadaran bahwa masih banyak ilmu yang belum ia ketahui, meski dirinya seorang nabi besar.
4. Tidak Menuntut Ilmu Secara Berlebihan
Beliau hanya meminta “sebagian dari ilmu” (مِمَّا عُلِّمْتَ), bukan seluruhnya. Ini mengajarkan rasa cukup dan kerendahan hati dalam belajar.
5. Menyadari Bahwa Ilmu Milik Allah
Ucapan “dari apa yang telah diajarkan kepadamu” menunjukkan bahwa sumber ilmu sejati adalah Allah, dan guru hanyalah perantara.
6. Meminta Ilmu yang Bermanfaat
Kata “رُشْدًا” menandakan bahwa ilmu yang diminta adalah ilmu yang membawa petunjuk dan manfaat, bukan sekadar pengetahuan kosong.
7. Menghargai Guru sebagai Perantara Nikmat Allah
Guru adalah jalan datangnya ilmu. Nabi Musa menghormati Khidhir bukan karena kedudukannya, tapi karena perannya sebagai perantara ilmu.
8. Tunduk dan Tidak Membantah Guru
Musa menunjukkan sikap tunduk dan tidak membantah, meski belum memahami maksud setiap tindakan Khidhir.
9. Mengikuti Guru Secara Total
Ia menunjukkan komitmen penuh untuk mengikuti bimbingan gurunya, bahkan dalam hal-hal yang tampak sulit dipahami.
10. Rendah Hati Meski Memiliki Kedudukan Tinggi
Meski seorang rasul besar, Musa tetap tawadhu dan menunjukkan penghormatan total kepada Khidhir.
11. Mendahulukan Khidmah Sebelum Menuntut Ilmu
Dalam ayat itu, “mengikuti” disebut lebih dulu daripada “belajar”, menunjukkan pentingnya melayani guru sebagai bagian dari proses menuntut ilmu.
12. Ikhlas Tanpa Mengharap Imbalan Duniawi
Musa menegaskan bahwa tujuannya bukan harta atau kedudukan, melainkan ilmu semata. Ketulusan ini menjadi kunci keberkahan ilmu.
Adab dalam Dunia Pendidikan Modern
Di zaman digital seperti sekarang, proses belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Guru bisa hadir lewat layar, dan ilmu bisa diperoleh dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini sering membuat murid kehilangan rasa hormat terhadap guru dan proses belajar itu sendiri.
Adab, yang dulu menjadi jantung pendidikan Islam, kini mulai dianggap usang. Padahal, sebagaimana dicontohkan Nabi Musa, adab adalah syarat turunnya ilmu yang bermanfaat.
Maka, meski teknologi berubah, prinsipnya tetap sama:
-
Rendahkan hati di hadapan orang berilmu.
-
Hargai guru, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
-
Niatkan belajar semata-mata karena Allah, bukan popularitas atau keuntungan duniawi.
Ilmu Tanpa Adab Akan Hilang Keberkahannya
Kisah Nabi Musa dan Khidhir mengajarkan bahwa keberkahan ilmu tidak ditentukan oleh banyaknya pengetahuan, tetapi oleh adab yang menyertainya.
Di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan teknologi, pelajar Muslim perlu kembali meneladani adab para nabi. Dengan adab, ilmu bukan hanya menambah wawasan, tetapi menjadi cahaya yang menuntun menuju kebaikan dunia dan akhirat.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Kisah Nabi Musa dan Khidhir: Hikmah Tentang Rendah Hati dalam Menuntut Ilmu
