Makna Tersirat dari Sujud Malaikat: Pelajaran Adab Santri kepada Guru dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 34
4 mins read

Makna Tersirat dari Sujud Malaikat: Pelajaran Adab Santri kepada Guru dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 34

NUJATENG.COM – Pesantren sejak lama dikenal bukan hanya sebagai tempat menimba ilmu agama, tetapi juga sebagai kawah candradimuka pembentukan akhlak dan adab. Di lingkungan ini, santri diajarkan bukan sekadar memahami teks kitab kuning, melainkan juga bagaimana menundukkan ego, menjaga lisan, serta menghormati guru dengan tulus.

Nilai-nilai adab tersebut menjadi ruh dalam kehidupan pesantren. Menghormati guru bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penghormatan terhadap ilmu itu sendiri. Dalam pandangan ulama, keberkahan ilmu tidak akan hadir jika tidak disertai dengan adab kepada guru.

Imam Az-Zarnuji dalam Ta’limul Muta’allim menegaskan bahwa seseorang tidak akan meraih manfaat ilmu tanpa penghormatan terhadap guru dan orang berilmu.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya seorang pelajar tidak akan bisa mendapatkan ilmu dan manfaat ilmu kecuali dengan menghormati ilmu dan orang yang berilmu, memuliakan guru dan menghormatinya. Tidak sukses orang yang telah sukses kecuali dengan hormat, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali karena tidak hormat.”
(Ta’limul Muta’allim, Daru Ibn Katsir, 2014, hlm. 55).

Pernyataan ini menjadi pegangan kuat di pesantren, bahwa adab adalah kunci utama dalam menuntut ilmu.

Adab Lebih Tinggi daripada Ilmu

Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, menukil perkataan Imam Abdullah bin Mubarak yang sangat masyhur:

“Kita lebih membutuhkan sedikit adab dibanding banyak ilmu.”
(Adabul ‘Alim wal Muta’allim, Maktabah at-Turats al-Islami, hlm. 9).

Ungkapan ini menegaskan bahwa adab menjadi pondasi utama bagi keberhasilan seorang santri. Ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa akar mudah tumbang dan kehilangan maknanya. Maka tidak heran, jika santri di pesantren selalu diajarkan bagaimana bersikap sopan di hadapan guru, mulai dari cara berbicara, duduk, hingga menjaga pandangan.

Pelajaran dari Sujud Malaikat dalam Al-Baqarah Ayat 34

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 34:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.”
(QS. Al-Baqarah: 34).

Kisah ini bukan sekadar tentang perintah sujud, tetapi juga tentang penghormatan terhadap ilmu. Sebab, Allah memerintahkan malaikat untuk menghormati Nabi Adam as karena kelebihan ilmu yang diberikan kepadanya.

Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa sujud yang dimaksud bukanlah sujud penyembahan, melainkan sujud penghormatan.

“Yakni, sujud badan sebagai bentuk penghormatan dengan membungkukkan diri.”
(Tafsir Jalalain, Darul Kutub Ilmiah, 2021, hlm. 6).

Israfil: Malaikat Pertama yang Bersujud dan Rahasia Keberkahan Ilmu

Syekh Najmuddin Al-Ghazi meriwayatkan dalam Husnut Tanabbuh bahwa malaikat pertama yang bersujud kepada Nabi Adam as adalah Israfil. Karena ketulusannya dalam menuruti perintah Allah dan menghormati Nabi Adam sebagai sosok berilmu, Allah memberinya keistimewaan luar biasa: ilmu Lauhul Mahfuzh.

“Ketika para malaikat diperintahkan untuk sujud, yang pertama kali sujud adalah Israfil as. Maka Allah memberinya ilmu Lauhul Mahfuzh.”
(Husnut Tanabbuh, Darun Nawadir, juz I, hlm. 384).

Al-Ghazi kemudian menegaskan bahwa ini menjadi isyarat penting bagi para murid dan santri. Siapa yang paling cepat dan tulus dalam menghormati gurunya, dialah yang paling berpeluang mendapatkan keberkahan dan warisan ilmu dari gurunya.

“Barang siapa di antara para murid yang paling cepat dan ikhlas dalam melayani guru dan syekhnya, maka dia akan lebih tinggi derajatnya dalam mewarisi ilmu sang guru.”
(Al-Ghazi, I/384).

Makna Spiritual bagi Santri Masa Kini

Dari kisah ini, pesan yang dapat diambil sangat jelas: penghormatan kepada guru bukanlah bentuk pengultusan manusia, melainkan penghormatan terhadap ilmu yang dibawanya. Malaikat Israfil menjadi teladan bagi santri dalam bersikap rendah hati dan cepat tanggap dalam berkhidmah.

Di tengah era modern yang serba digital dan serba cepat, adab terhadap guru sering kali tergerus oleh ego dan rasa ingin bebas. Padahal, keberkahan ilmu tidak akan pernah hadir tanpa ketundukan hati dan penghormatan kepada sang pemberi ilmu.

Tradisi pesantren mengajarkan bahwa semakin tinggi adab seorang santri, semakin tinggi pula derajat ilmunya. Maka, sujud malaikat kepada Nabi Adam as bukan hanya kisah simbolik, melainkan pelajaran abadi tentang makna penghormatan, keikhlasan, dan keberkahan dalam menuntut ilmu.

Adab Adalah Kunci Warisan Keilmuan

Adab santri kepada guru merupakan manifestasi dari nilai ilahiah yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Kisah sujud malaikat kepada Nabi Adam as menegaskan bahwa ilmu yang diberkahi hanya akan diraih oleh mereka yang menghormati sumbernya.

Sebagaimana malaikat Israfil mendapatkan anugerah ilmu Lauhul Mahfuzh karena ketulusannya, demikian pula santri akan memperoleh keberkahan ilmu ketika menghormati gurunya. Dalam pesantren, adab bukan sekadar etika, tetapi jalan spiritual menuju kemuliaan ilmu.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Adab Santri kepada Guru dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 34: Makna Penghormatan dan Keberkahan Ilmu di Pesantren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *