By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Reading: Fenomena Ujub di Media Sosial: Ketika Pamer Kebaikan Jadi Racun Spiritual yang Tak Disadari
Share
Font ResizerAa
Search
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Have an existing account? Sign In
Follow US
Home » Blog » Fenomena Ujub di Media Sosial: Ketika Pamer Kebaikan Jadi Racun Spiritual yang Tak Disadari
Fenomena Ujub di Media Sosial: Ketika Pamer Kebaikan Jadi Racun Spiritual yang Tak Disadari
Artikel

Fenomena Ujub di Media Sosial: Ketika Pamer Kebaikan Jadi Racun Spiritual yang Tak Disadari

Dwi Widiyastuti
Last updated: November 11, 2025 4:21 am
Dwi Widiyastuti
Published: November 11, 2025
Share
Fenomena Ujub di Media Sosial: Ketika Pamer Kebaikan Jadi Racun Spiritual yang Tak Disadari
SHARE

NUJATENG.COM – Di tengah derasnya arus informasi dan budaya self-branding, ruang media sosial menjadi lahan subur bagi tumbuhnya penyakit hati bernama ujub rasa bangga diri yang berlebihan hingga lupa bahwa segala kebaikan berasal dari Allah SWT. Jika dahulu ujub muncul dalam ruang-ruang ibadah atau lingkaran spiritual, kini ia bermetamorfosis menjadi fenomena digital pride yang menjangkiti pengguna media sosial di berbagai lapisan.

Contents
Makna Ujub Menurut Ulama TasawufBahaya Ujub: Dari Ibadah Hingga Perilaku Sosial1. Ujub Merusak Spiritualitas2. Ujub Menghancurkan Hubungan SosialGejala Ujub di Media Sosial1. Ujub Intelektual Bangga dengan Kecerdasan2. Ujub Moral Merasa Paling Baik3. Ujub Materi Bangga dengan Kepemilikan4. Ujub Kolektif Bangga dengan Jumlah atau PopularitasCara Mengobati Ujub di Era Digital1. Sadari Bahwa Semua Nikmat Adalah Titipan2. Sandarkan Semua Keberhasilan kepada Allah3. Perbanyak Syukur dan Muhasabah4. Hindari Pamer Amal di Media SosialMenutup Diri dari Racun Digital: Menyadari, Mengakui, dan Mengobati

Mulai dari unggahan motivasi, story edukatif, hingga komentar bernada santun, semua bisa menjadi sarang ujub tanpa disadari. Inilah alasan mengapa penting bagi kita untuk meneliti lebih jauh gejala-gejala ujub di ruang digital agar tidak terjerumus pada kesombongan halus yang berbalut “niat baik”.

Makna Ujub Menurut Ulama Tasawuf

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ujub bermakna keangkuhan atau rasa bangga diri. Namun, dalam perspektif tasawuf, maknanya jauh lebih dalam. Ujub adalah pengagungan terhadap diri sendiri dan melupakan bahwa semua nikmat serta kebaikan bersumber dari Allah SWT.

Imam Al-Ghazali menjelaskan:

“Ujub adalah pengagungan atas nikmat disertai lupa untuk menyandarkannya kepada Sang Pemberi nikmat.”
(Ihya’ Ulumuddin, Jilid III, hal. 493)

Dengan kata lain, ketika seseorang merasa bahwa amal, kecerdasan, atau keberhasilannya murni hasil usahanya sendiri saat itulah ujub lahir.

Bahaya Ujub: Dari Ibadah Hingga Perilaku Sosial

1. Ujub Merusak Spiritualitas

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujub terhadap diri sendiri.” (HR. At-Thabarani)

Ujub membuat seseorang lupa pada dosa-dosanya karena terlampau fokus pada amal baiknya sendiri. Ia merasa cukup dan tidak lagi introspeksi. Imam Al-Ghazali menyebut ujub sebagai akar dari kesombongan (kibr), yang kemudian menumbuhkan berbagai penyakit hati lain seperti riya’, dengki, dan meremehkan orang lain.

2. Ujub Menghancurkan Hubungan Sosial

Dalam konteks sosial, ujub bisa melahirkan perilaku diskriminatif. Orang yang terjangkit ujub cenderung menilai dirinya lebih baik dari orang lain, merendahkan yang berbeda, dan menganggap kelompoknya paling benar. Inilah yang menjadikan ujub bukan sekadar dosa personal, tapi juga ancaman moral sosial.

Gejala Ujub di Media Sosial

1. Ujub Intelektual Bangga dengan Kecerdasan

Kalimat seperti “Kalau udah biasa mikir pakai data, susah debat sama yang pakai perasaan” tampak cerdas, tapi menyiratkan kesombongan intelektual. Imam Al-Ghazali menyebutnya ujub bil-‘aqli, yaitu bangga terhadap kecerdasan hingga menyepelekan pendapat orang lain.

Obatnya: sadari bahwa kecerdasan adalah karunia Allah, dan bisa hilang kapan pun entah karena sakit, usia, atau ujian kehidupan.

2. Ujub Moral Merasa Paling Baik

Kalimat seperti “Susah jadi orang baik di dunia penuh munafik” mengandung sinyal ujub moral. Ia merasa lebih suci daripada orang lain. Padahal, menurut Al-Ghazali, manusia sebaik-baiknya tetaplah tempat salah dan lupa.

Cara mengobatinya: ingatlah bahwa setiap orang berjuang di jalan kebaikan dengan kadar yang berbeda, dan hanya Allah yang berhak menilai siapa yang benar-benar baik.

3. Ujub Materi Bangga dengan Kepemilikan

Ungkapan seperti “Nggak perlu brand mahal, yang penting auraku tetap mahal” sering kali terdengar bijak, namun menyiratkan rasa bangga terhadap harta atau penampilan. Imam Al-Ghazali menegaskan, kebanggaan terhadap harta adalah penyakit hati yang halus tapi berbahaya.

Obatnya: merenungi bahwa harta hanyalah titipan yang suatu hari akan diminta pertanggungjawabannya.

4. Ujub Kolektif Bangga dengan Jumlah atau Popularitas

Kalimat seperti “Inilah bedanya kami, walau minoritas tetap berprinsip” mencerminkan ujub kelompok. Dalam konteks digital, hal ini bisa berupa kebanggaan terhadap banyaknya pengikut (followers) atau pengaruh sosial.

Obatnya: sadari bahwa jumlah pengikut bukan ukuran kebenaran. Banyaknya pengikut tidak selalu berarti kebaikan di mata Allah.

Cara Mengobati Ujub di Era Digital

1. Sadari Bahwa Semua Nikmat Adalah Titipan

Kecerdasan, harta, atau pengikut hanyalah titipan sementara. Kesadaran ini menjadi tameng utama dari ujub.

2. Sandarkan Semua Keberhasilan kepada Allah

Ketika menulis status motivasi, sertakan kesadaran bahwa inspirasi datang dari Allah, bukan semata kemampuan diri.

3. Perbanyak Syukur dan Muhasabah

Rasa syukur mengikis kebanggaan diri, sementara muhasabah menjaga hati tetap rendah dan sadar posisi sebagai hamba.

4. Hindari Pamer Amal di Media Sosial

Kebaikan tidak perlu selalu diumbar. Jika pun dibagikan, niatkan untuk menginspirasi, bukan untuk menonjolkan diri.

Menutup Diri dari Racun Digital: Menyadari, Mengakui, dan Mengobati

Media sosial memang telah menjadi “dunia kedua” manusia modern. Namun, di balik cahaya layar yang menyala, tersembunyi potensi gelap berupa kesombongan terselubung. Ujub bukan hanya dosa hati, tapi juga racun spiritual yang perlahan merusak hubungan kita dengan Allah dan sesama.

Maka, mari jadikan setiap posting-an, komentar, atau karya digital sebagai ladang pahala yang bersih dari ujub dengan cara selalu mengingat bahwa semua kebaikan adalah milik-Nya semata.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Urgensi Menilik Gejala Ujub di Media Sosial: Bahaya, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

You Might Also Like

Mengapa Berbakti kepada Orang Tua Bisa Menentukan Nasib Akhirat? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Ingin Dikaruniai Anak Saleh dan Salehah? Inilah 3 Doa Mustajab dari Al-Qur’an dan Sunnah yang Diamalkan Para Nabi!
Potensi Fisiologis Air Alkali (pH Tinggi) dan Penerapannya: Studi Kasus Air Zam-Zam dalam Stimulasi Sel Punca dan Metabolisme
Tidur Jadi Ibadah, Inilah Do’a dan Sunnah Sebelum Tidur Sesuai Ajaran Rasulullah SAW
Do’a Setelah Sholat Tahajud yang Diajarkan Rasulullah SAW, Lengkap dengan Artinya
TAGGED:media sosialmoralitas islampenyakit hatitasawuf digitalujub
Share This Article
Facebook Email Print
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

  • ES Money
  • U.K News
  • The Escapist
  • Insider
  • Science
  • Technology
  • LifeStyle
  • Marketing

About US

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

Subscribe US

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?