Menguak Rahasia Tajalli: Bisakah Cahaya Ilahi Hadir di Tengah Hidup Modern yang Penuh Hiruk-Pikuk?
NUJATENG.COM – Di tengah gaya hidup modern yang cepat, penuh tekanan, dan berorientasi material, banyak orang merasakan kekosongan batin yang sulit dijelaskan. Dalam tradisi tasawuf, kondisi batin seperti ini sesungguhnya dapat dijawab melalui konsep tajalli proses spiritual ketika cahaya Ilahi hadir dan menerangi hati seseorang.
Secara etimologis, tajalli berarti “penampakan” atau “manifestasi”. Dalam praktik tasawuf, istilah ini merujuk pada tersingkapnya cahaya keimanan dalam hati seorang hamba setelah melalui perjalanan penyucian diri. Haidar Putra Daulay, Zaini Dahir, dan Chairul Azmi Lubis dalam jurnal Pandawa (2021) menyebut tajalli sebagai fase ketika nur ghaib memancar, melahirkan akhlak mulia dan kebiasaan amal saleh yang tumbuh dari keimanan mendalam.
Konsep ini juga didukung para sufi klasik seperti Ibnu ‘Arabi, Al-Ghazali, dan Al-Jili yang menegaskan bahwa tajalli merupakan penampakan hakikat Ilahi melalui ciptaan-Nya. Alam, manusia, dan segala peristiwa bukan hanya rangkaian kejadian fisik, tetapi cermin tempat Allah menampakkan kebesaran-Nya.
Tahapan Menuju Tajalli
1. Takhalli Membersihkan Hati dari Sifat Buruk
Tajalli tidak muncul begitu saja. Prosesnya dimulai dengan takhalli, yakni mengosongkan diri dari sifat yang merusak: sombong, dengki, riya, cinta dunia, dan segala hal yang mengotorinya. Tahap ini ibarat membersihkan lahan sebelum ditanami.
2. Tahalli Menghiasi Diri dengan Akhlak Terpuji
Tahap berikutnya ialah tahalli, yaitu mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji seperti sabar, ikhlas, tawakal, kasih sayang, dan kelembutan. Tahalli adalah proses merawat “tanaman kebaikan” agar tumbuh subur.
3. Tajalli Hadirnya Cahaya Ilahi dalam Hati
Barulah setelah dua tahap tersebut dijalani, seseorang memasuki fase tajalli. Imam Al-Qusyairi menyebutnya sebagai:
“Tersingkapnya cahaya kebenaran dalam hati seorang murid.”
Pada tahap ini, seseorang menyadari bahwa dirinya bukan pusat dari segala sesuatu. Segala peristiwa dipandang sebagai bagian dari kehendak Allah. Yang tampak hanyalah keabadian Ilahi, sementara semua selain-Nya bersifat fana.
Bagaimana Tajalli Dipraktikkan di Era Modern?
Meski terkesan mistis, konsep tajalli ternyata sangat relevan untuk kehidupan masa kini. Ketika seseorang mampu “melihat Allah” dalam tiap momen, hidup akan terasa lebih damai dan terarah.
Praktik Tajalli dalam Keseharian
- Dalam bekerja: seseorang melihat pekerjaannya sebagai amanah Ilahi, bukan sekadar mencari penghasilan.
- Saat menghadapi cobaan: musibah dipahami sebagai bentuk ujian Allah untuk menguji keikhlasan.
- Saat menikmati alam: keindahan yang dilihat menjadi jalan untuk semakin mengenal kebesaran Allah.
- Dalam relasi sosial: setiap orang dipandang sebagai manifestasi kasih Allah sehingga melahirkan empati dan kebaikan.
Latihan penting untuk membuka pintu tajalli antara lain muraqabah (kesadaran bahwa Allah selalu hadir), dzikir, dan terus-menerus menata niat.
Tajalli sebagai Jawaban atas Kekosongan Manusia Modern
Pada akhirnya, tajalli bukan sekadar konsep metafisis, melainkan pengalaman spiritual yang menguatkan tauhid serta menjernihkan hati. Di dunia yang penuh distraksi, tajalli menolong manusia menemukan makna: melihat Tuhan di balik layar kehidupan sehari-hari dalam pekerjaan, hubungan, bahkan penderitaan.
Tajalli bukan membuat seseorang menjauh dari dunia, melainkan menempatkan dunia pada posisinya yang tepat: sebagai jalan untuk mengenal Allah.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Praktik Konsep Tajalli dalam Tasawuf di Hari Ini
