KH Zainul Arifin: Panglima Hizbullah yang Buktikan Santri Bisa Pimpin Bangsa dari Medan Jihad hingga Parlemen
NUJATENG.COM – Lahir di Barus, Sumatra Utara, pada 2 April 1909, KH Zainul Arifin tumbuh dalam lingkungan bangsawan. Namun, ia memilih jalan hidup yang berpihak kepada rakyat. Sejak muda, semangat sosial dan keagamaannya sudah terlihat menonjol. Ia aktif dalam berbagai kegiatan keislaman di Sumatra, hingga akhirnya bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan menjadi salah satu figur penting dalam sejarah Islam dan nasionalisme Indonesia.
Kiai Zainul dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, berpikiran luas, dan memiliki pandangan keislaman yang inklusif. Ia percaya bahwa perjuangan membela tanah air adalah bagian dari jihad fi sabilillah semangat inilah yang kelak melahirkan pasukan santri legendaris: Laskar Hizbullah.
Panglima Hizbullah: Saat Santri Mengangkat Senjata untuk Kemerdekaan
Salah satu babak paling heroik dalam perjalanan hidup KH Zainul Arifin adalah ketika ia membentuk dan memimpin Laskar Hizbullah, pasukan semi militer yang terdiri dari para santri dan pemuda Islam.
Didirikan menjelang kemerdekaan Indonesia, Laskar Hizbullah menjadi simbol kebangkitan santri dalam perjuangan melawan penjajahan. Di bawah komando KH Zainul Arifin, pasukan ini bukan sekadar kekuatan bersenjata, tetapi juga gerakan spiritual dan moral.
Mereka bertempur dengan semangat jihad dan keikhlasan, membuktikan bahwa santri tak hanya mampu membaca kitab, tetapi juga sanggup mengangkat senjata demi membela negeri.
Pesantren dan Nasionalisme: Dua Pilar yang Tak Terpisahkan
Bagi KH Zainul Arifin, pesantren bukanlah tempat yang terpisah dari urusan kebangsaan. Ia menegaskan bahwa Islam dan nasionalisme bisa berpadu dalam satu misi suci: menegakkan kemerdekaan dan menjaga martabat bangsa.
Gerakan Hizbullah menjadi wujud nyata bahwa kekuatan spiritual dan perjuangan fisik dapat berjalan beriringan, melahirkan kekuatan besar yang menggetarkan penjajah.
Dari Medan Perang ke Ruang Parlemen: Perjuangan Berlanjut di Jalur Politik
Setelah kemerdekaan, KH Zainul Arifin tidak berhenti berjuang. Ia melanjutkan perjuangannya di jalur politik dengan penuh dedikasi. Ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) lembaga yang menjadi cikal bakal parlemen Indonesia.
Kepemimpinannya yang tegas, santun, dan berpegang pada prinsip moral membuatnya dipercaya menempati posisi penting dalam pemerintahan. Dari tahun 1953 hingga 1955, KH Zainul Arifin menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia, mendampingi Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo.
Dalam posisi itu, ia dikenal sebagai politisi religius yang mampu menjembatani kepentingan umat Islam dengan arah kebijakan nasional. Sikapnya yang bijaksana membuatnya dihormati lintas golongan, dari kalangan ulama hingga kaum nasionalis.
Ketua DPR-GR dan Penegak Marwah Santri
Tak berhenti di sana, KH Zainul Arifin juga dipercaya sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) pada tahun 1960–1963. Pada masa penuh gejolak politik dan ideologi itu, ia tetap menjaga integritas dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan kebangsaan.
Ia menunjukkan bahwa santri bisa menjadi pemimpin nasional yang berani, jujur, dan berkomitmen terhadap kemaslahatan rakyat.
Pahlawan Nasional: Santri Pejuang yang Tak Pernah Lelah Membela Negeri
Atas jasa dan pengabdian luar biasa sepanjang hidupnya, KH Zainul Arifin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 4 Maret 1963. Namun, penghargaan itu hanyalah simbol. Warisan sejatinya jauh lebih besar nilai-nilai perjuangan, kesetiaan terhadap bangsa, dan semangat jihad yang tulus.
KH Zainul Arifin membuktikan bahwa pesantren adalah pusat lahirnya pemimpin sejati. Bahwa santri bukan hanya penghafal kitab, tetapi juga penjaga bangsa. Dari medan perang hingga kursi parlemen, perjuangannya mencerminkan sinergi antara iman, ilmu, dan kepemimpinan.
Warisan yang Tak Pernah Padam
KH Zainul Arifin adalah contoh nyata bahwa spiritualitas dan nasionalisme bisa bersatu. Ia tidak melihat perjuangan sebagai urusan pribadi, melainkan amanah suci untuk menegakkan keadilan dan martabat bangsa.
Dari Barus hingga Jakarta, dari surau hingga gedung parlemen, jejak perjuangannya mengajarkan kita bahwa santri bukan hanya benteng moral bangsa, tetapi juga penggerak perubahan sejarah.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: KH Zainul Arifin: Panglima Hizbullah dan Wakil Perdana Menteri yang Tegakkan Marwah Santri di Panggung Nasional
