NU Bukan Sekadar Organisasi: Kisah Mistis dan Heroik di Balik Lahirnya Nahdlatul Ulama
4 mins read

NU Bukan Sekadar Organisasi: Kisah Mistis dan Heroik di Balik Lahirnya Nahdlatul Ulama

NUJATENG.COM – Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar peristiwa sosial atau politik, melainkan buah dari perjalanan spiritual yang panjang. Kisahnya dimulai dari seorang ulama besar, KH Cholil Bangkalan, guru para kiai Jawa yang dikenal memiliki kedalaman ilmu dan karamah.

Suatu ketika, beliau memberikan sebuah tasbih sakral kepada muridnya, KHR As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo, dengan pesan agar disampaikan langsung kepada KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Tasbih itu tidak boleh disentuh selama perjalanan tanda bahwa amanah ini bukan perkara biasa.

Setibanya di Tebuireng, Kiai As’ad menyampaikan pesan spiritual dari gurunya dengan lantunan kalimat sakral:

“Ya Jabbar, Ya Qahhar.”

Kalimat itu diucapkan tiga kali sesuai pesan KH Cholil. Mendengar itu, KH Hasyim Asy’ari langsung berkata,

“Allah SWT telah memperbolehkan kita mendirikan jam’iyyah (organisasi).”

Momen itulah yang diyakini sebagai isyarat langit atas lahirnya Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi yang berdiri bukan karena ambisi manusia, tetapi restu Ilahi.

Tongkat, Tasbih, dan Asmaul Husna: Simbol Restu Langit

Sebelum amanah tasbih tersebut, KH Cholil lebih dulu mengutus Kiai As’ad membawa sebatang tongkat disertai bacaan Surat Thaha ayat 17–23, yang menceritakan mukjizat tongkat Nabi Musa.

Setahun kemudian, beliau kembali diutus dengan tasbih dan doa “Ya Jabbar, Ya Qahhar.”
Dua tanda ini memiliki makna mendalam:

  • Tongkat melambangkan kekuatan, kepemimpinan, dan perjuangan.

  • Tasbih dan Asmaul Husna mencerminkan kesucian niat serta kedalaman spiritual.

Dengan dua simbol itu, NU lahir dari sinergi kekuatan lahiriah dan batiniah, antara perjuangan sosial dan restu langit fondasi yang membuatnya bertahan hampir satu abad.

Dari Gagasan Kiai Wahab hingga Restu Mbah Hasyim

Sekitar tahun 1924, KH Abdul Wahab Chasbullah menggagas pendirian sebuah jam’iyyah (organisasi) untuk memperkuat posisi ulama dan umat Islam di tengah arus modernisme dan kolonialisme.

Namun, KH Hasyim Asy’ari tidak serta merta menyetujuinya. Ia memilih melakukan shalat istikharah, memohon petunjuk dari Allah SWT. Petunjuk itu datang melalui KH Cholil Bangkalan yang kemudian mengirimkan isyarat spiritual melalui Kiai As’ad.

Dari sinilah NU lahir, hasil kolaborasi antara wahyu spiritual dan kesadaran intelektual. Sebuah organisasi yang berdiri atas dasar ilmu, iman, dan keikhlasan.

Komite Hijaz: Diplomasi Ulama Menjaga Peradaban Islam

Pada waktu yang sama, dunia Islam tengah bergolak. Dinasti Saud di Hijaz (Arab Saudi) berencana menerapkan paham Wahabi secara mutlak, bahkan sampai ada isu pembongkaran makam Nabi Muhammad SAW.

Mengetahui ancaman itu, KH Wahab Chasbullah bergabung dalam Centraal Comite Al-Islam (CCI) yang kemudian menjadi Centraal Comite Chilafat (CCC). Dalam Kongres Al-Islam ke-IV di Yogyakarta (1925), beliau mengusulkan agar dikirim delegasi ke Makkah untuk mendesak Raja Ibnu Saud menjaga kebebasan bermazhab.

Sayangnya, usulan itu ditolak oleh kelompok modernis. KH Wahab tidak menyerah. Ia membentuk Komite Hijaz pada Januari 1926 dengan restu KH Hasyim Asy’ari.

Pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H), para ulama berkumpul di Surabaya dan menunjuk KH Raden Asnawi Kudus sebagai utusan ke Makkah.

Pertanyaannya: atas nama siapa beliau berangkat?
Jawabannya melahirkan sejarah besar:

“Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.”

NU pun resmi berdiri sebagai lembaga ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang berakar kuat pada tradisi keilmuan dan spiritualitas Islam Nusantara.

NU: Dari Spirit Keislaman Menuju Spirit Kebangsaan

Berdirinya NU bukan hanya jawaban terhadap isu keagamaan global, tapi juga jawaban atas penderitaan bangsa yang dijajah Belanda.

Sebelum NU lahir, para ulama pesantren telah menyiapkan fondasinya lewat beberapa gerakan awal:

  • Tashwirul Afkar (1914) – kebangkitan pemikiran Islam.

  • Nahdlatul Wathon (1916) – kebangkitan nasionalisme dan cinta tanah air.

  • Nahdlatut Tujjar (1918) – kebangkitan ekonomi umat.

NU hadir sebagai sintesis dari ketiganya, menyatukan aspek intelektual, ekonomi, dan spiritual dalam satu gerakan peradaban.

Warisan Abadi: NU Penjaga Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Sejak 1926 hingga kini, NU tetap tegak menjadi penjaga moral, spiritual, dan kebangsaan Indonesia.

Setiap tahun, NU memperingati dua momentum kelahirannya:

  • 31 Januari (Masehi)

  • 16 Rajab (Hijriyah)

Keduanya bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat bahwa NU lahir dari dzikir dan cinta tanah air.
KH Hasyim Asy’ari pernah berkata:

“Hubbul wathan minal iman cinta tanah air sebagian dari iman.”

Kalimat itu bukan semboyan kosong, melainkan roh perjuangan NU yang menegaskan bahwa mencintai Indonesia adalah bagian dari ibadah.

Lahir dari Dzikir, Tumbuh dengan Cinta Tanah Air

Nahdlatul Ulama bukan sekadar organisasi, tetapi wahyu peradaban. Ia lahir dari doa dan tasbih, tumbuh karena cinta ilmu dan kemanusiaan, serta bertahan karena cinta kepada Indonesia.

Selama hampir satu abad, NU terus menjadi mercusuar Islam yang menyejukkan, membumi, dan mempersatukan. Sebuah bukti bahwa ketika spiritualitas bersatu dengan nasionalisme, lahirlah kekuatan yang tak tergoyahkan.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: Bukan Sekadar Organisasi, Tapi Wahyu Peradaban: Sejarah Mistis dan Heroik Berdirinya Nahdlatul Ulama!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *