Menjadi Rendah Hati di Hutan Beton: Menghidupkan Tawadhu di Tengah Kehidupan Urban
NUJATENG.COM – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional 2024, sekitar 60 persen masyarakat Indonesia kini tinggal di wilayah perkotaan. Angka ini diprediksi akan melonjak hingga 65 persen pada 2035 dan 78 persen pada 2045.
Kebanyakan dari mereka awalnya hanya “merantau” untuk mencari nafkah, namun akhirnya menetap dan menjadi penduduk tetap kota. Pertumbuhan masyarakat urban ini tentu membawa dampak besar terhadap gaya hidup termasuk cara mereka beragama.
Di tengah kesibukan kerja, hiruk pikuk lalu lintas, serta ambisi mengejar karier dan materi, nilai-nilai spiritual seperti tawadhu perlahan mulai memudar. Padahal, tawadhu bukan sekadar ajaran moral, melainkan pondasi utama bagi keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Makna Hakiki Tawadhu Menurut Para Ulama
Dalam khazanah Islam klasik, tawadhu memiliki makna yang dalam. Imam Junaid al-Baghdadi ketika ditanya tentang tawadhu menjawab:
خفض الجناح للخلق ولين الجانب لهم
“Tawadhu adalah merendahkan diri di hadapan makhluk dan bersikap lembut kepada mereka.”
(Ar-Risalah al-Qusyairiyah, jilid I, hal. 278)
Sementara Imam Fudhail bin Iyadh menegaskan:
أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ
“Tawadhu adalah tunduk kepada kebenaran, walaupun engkau mendengarnya dari anak kecil, tetaplah menerimanya.”
(Ihya’ Ulumuddin, jilid III, hal. 342)
Dari dua pendapat besar ini, jelas bahwa tawadhu adalah sikap hati yang terbuka terhadap kebenaran dan kerendahan diri di hadapan sesama manusia. Tawadhu bukan tanda kelemahan, melainkan puncak kematangan spiritual seseorang.
Keistimewaan Tawadhu: Dihormati di Bumi, Dimuliakan di Langit
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebutkan berbagai keutamaan bagi orang yang bersikap tawadhu. Di antaranya:
1. Allah Akan Meninggikan Derajatnya
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”
(HR. Muslim)
2. Mendapat Rahmat Allah
“Bertawadulah kalian semua, niscaya Allah akan merahmati kalian.”
(HR. Ahmad)
3. Dicintai oleh Allah
“Ada empat hal yang hanya Allah berikan kepada hamba yang dicintai-Nya: khusyuk dalam ibadah, tawakal, tawadhu, dan zuhud terhadap dunia.”
(HR. Al-Baihaqi)
Ketika seseorang memahami keutamaan ini, maka akan tumbuh keinginan dalam dirinya untuk meneladani sifat tawadhu. Sebab, tidak ada manusia yang mulia di sisi Allah kecuali mereka yang rendah hati terhadap sesama.
Tantangan Menerapkan Tawadhu di Tengah Gaya Hidup Perkotaan
Hidup di kota seringkali membuat seseorang terperangkap dalam ego dan ambisi pribadi. Tekanan kerja, kompetisi sosial, serta dorongan untuk selalu “lebih sukses dari yang lain” dapat melahirkan kesombongan halus yang sulit disadari.
Sikap seperti menolak kritik, enggan mendengar nasihat, atau merasa paling benar adalah tanda hilangnya tawadhu. Padahal, tanpa keterbukaan terhadap orang lain, seseorang akan sulit berkembang secara spiritual maupun moral.
Imam Al-Ghazali dalam Mizanul ‘Amal memberikan nasihat berharga:
“Siapa yang ingin menanamkan sifat tawadhu pada dirinya, hendaklah ia membiasakan diri melakukan perbuatan orang-orang yang tawadhu secara terus-menerus dan berkelanjutan.”
(Mizanul ‘Amal, hal. 252)
Artinya, tawadhu tidak lahir dalam semalam. Ia perlu dilatih, dibiasakan, dan diamalkan secara konsisten, hingga menjadi karakter permanen dalam diri seseorang.
Membumikan Tawadhu di Tengah Masyarakat Urban
Untuk masyarakat urban yang hidup di tengah kemajuan teknologi dan budaya individualistik, tawadhu adalah oase di tengah padang gersang kesombongan modern.
Sikap ini bisa diwujudkan melalui hal-hal sederhana, seperti:
-
Menghargai pendapat orang lain, meski berbeda pandangan.
-
Menyapa dengan ramah tanpa melihat status sosial.
-
Menerima kritik dengan lapang dada.
-
Tidak pamer harta, jabatan, atau pencapaian.
-
Berani meminta maaf ketika salah.
Jika nilai-nilai ini tumbuh, maka masyarakat kota akan lebih manusiawi tidak hanya maju secara ekonomi, tapi juga matang secara spiritual.
Tawadhu, Fondasi Keseimbangan Hidup Modern
Di tengah gegap gempita kehidupan modern, tawadhu menjadi kunci agar manusia tidak kehilangan arah spiritualnya. Ia menjaga hati dari kesombongan, menumbuhkan empati sosial, dan memperkuat hubungan antarindividu.
Ketika masyarakat urban mampu mempraktikkan tawadhu, maka keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi akan terjaga. Kota tidak lagi sekadar tempat berlomba materi, tapi juga ladang menanam kebaikan dan keikhlasan.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Pentingnya Sikap Tawadhu di Tengah Kehidupan Masyarakat Urban
