Mengenang Jihad Para Kiai dan Santri: PPFF Hidupkan Semangat Resolusi Jihad NU
4 mins read

Mengenang Jihad Para Kiai dan Santri: PPFF Hidupkan Semangat Resolusi Jihad NU

SEMARANG – nujateng.com – Peringatan Hari Santri Nasional merupakan agenda istimewa yang selalu diselenggarakan setiap tahun oleh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF), Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang.

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) menjadi momentum untuk mengenang dan meneladani jasa para ulama, kiai, dan santri yang memprakarsai kemerdekaan NKRI, mempertahankan kemerdekaan dari serangan tentara Inggris dan Sekutu serta NICA yang kembali berusaha menjajah Indonesia.

Rabu, 22 Oktober 2025, usai salat Subuh berjamaah, PPFF menyelenggarakan mujahadah dan doa bersama untuk mendoakan para pejuang dari kiai, ulama dan santri yang telah gugur di medan perang. Acara dilanjutkan dengan upacara bendera peringatan HSN yang diikuti oleh seluruh santri PPFF.

Dalam amanat Inspektur Upacara, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., M.A. kembali mengingatkan santri untuk mengenang dan meneladani jasa para kiai dan santri, serta menjelaskan isi Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari upaya melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan NKRI.

“Sejatinya Indonesia adalah negara yang kemerdekaannya diraih melalui perjuangan bangsa Indonesia mengusir penjajah, bukan hadiah dari kolonial,” tegas Kiai Fadlolan.

Kiai Fadlolan menjelaskan situasi pascaproklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, di mana negara Indonesia baru 2 bulan merdeka, namun Inggris dan sekutunya berusaha kembali menduduki wilayah Indonesia dan memulihkan kontrol Belanda atas bekas jajahannya. Mereka belum terima kalau Indonesia merdeka.

Pada waktu itu Presiden Ir. Soekarno, mengutus Bung Tomo, untuk menghadap Hadrotus Syekh KH Hasyim As’ari, memohon fatwa hukum perang membela negara (bukan perang membela agama/Alquran).

Maka tanggal 22 Oktober 1945, keluarlah Fatwa Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama oleh Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari yang di antara isinya “Hukum perang membela negara melawan penjajah adalah fardu ‘ain atau wajib ‘ain bagi setiap orang mukallaf yang berada di dalam teritorial zona perang sejauh sholat bisa di jama’ dan qashar, dan fardlu kifayah bagi yang lebih jauh diluar zona fardlu ‘ain tersebut.”

Fatwa ini dikeluarkan karena merasa khawatir atas kondisi yang mengancam kemerdekaan dan kedaulatan NKRI. Pertempuran melawan tentara Sekutu berlangsung dari tanggal 21 Oktober 1945 hingga puncaknya pada tanggal 10 November yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Pertempuran selama tiga minggu ini dipimpin oleh KH. Abbas, Pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, seorang waliyullah, yang kehadiran Beliau di Surabaya dinantikan sebagai lampu hijau dimulainya peperangan.

Dengan doa Hizib Nashr dan doa-doa lainnya, bambu runcing di genggaman santri, tasbih yang dilempar menjadi granat, alu menjadi rudal serta lesung menjadi pesawat tempur yang mampu mengalahkan pasukan Sekutu yang bersenjata canggih.

Pada tanggal 30 Oktober 1945, terjadi ketegangan yang memicu baku tembak. Dalam insiden tersebut, Brigadir Jenderal Mallaby tewas tertembak dan mobilnya dibakar.

Pasukan pejuang dari kiai dan santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah di bawah KH. Wahab Hasbullah bergabung dengan Laskar Sabilillah.

Pasukan memasuki Surabaya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan dengan satu tekad: menolak menyerah.

Perang besar pun pecah dan ribuan pejuang gugur sebagai syuhada. Dengan ridho Allah, pasukan pimpinan Kiai Abbas berhasil memaksa pasukan Inggris mundur.

Dalam penutup, Kiai Fadlolan menegaskan:

“Perjuangan Indonesia dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan tidak dapat dipisahkan dari peran penting kaum santri. Hari ini adalah hari kita bersama, hari para kiai, hari para santri, hari para pembela negeri. Hidup Santri! Allahu Akbar!”

Setelah upacara, agenda dilanjutkan dengan penampilan marching band dari MI Al-Musyaffa’, dilanjutkan pertunjukan seni pencak silat Pagar Nusa PPFF.

Acara ditutup dengan bancaan tumpeng bersama Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., M.A. dan Ibu Nyai Fenty Hidayah, S.Pd.I., Gus Ahmad Syauqi dan Ning Naya, jama’ah pengajian bersama seluruh santri PPFF.

Hari Santri Nasional dan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama sekaligus menjadi pengakuan terhadap kontribusi monumental kaum santri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia hingga kini. Para santri tidak sekadar dikenal sebagai penjaga nilai-nilai moral, melainkan juga memberikan sumbangsih yang sangat berarti dalam pembangunan nasional.

Semoga dengan memperingati Hari Santri, dapat menumbuhkan rasa nasionalisme, patriotisme sehingga dapat meneruskan perjuangan para kiai dan santri yang telah berjihad melawan penjajah. Santri masa kini diharapkan dapat mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan semangat belajar serta melawan kebodohan. Allahumma amin

Selamat Hari Santri Nasional, Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *