By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Reading: NU Antara Dua Kutub Idiologi Politik dan Keagamaan
Share
Font ResizerAa
Search
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Have an existing account? Sign In
Follow US
Home » Blog » NU Antara Dua Kutub Idiologi Politik dan Keagamaan
Berita

NU Antara Dua Kutub Idiologi Politik dan Keagamaan

Ali Arifin
Last updated: November 4, 2025 9:05 am
Ali Arifin
Published: November 4, 2025
Share
SHARE

BREBES – nujateng.com –  Kaum Nahdliyyin patut menyimak baik-baik pernyataan KH Ahmad Badawi Basyir (Gus Badawi) selaku Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB saat menjadi Nara Sumber dalam Halaqoh Kebangsaan di Pondok Pesantren As Syamsuriyyah Jagalempeni.

“Kita akan membedah posisioning kita bersama sekalku Nahdliyin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada dua kutub idiologi yang menggerus idiologi kelompok Nahdliyin, yaitu kelompok liberal dan kelompok pemahaman Islam tekstualis. Kedua kelompok ini terus menerus menyerang kekuatan NU sampai pada aspek politik dengan tujuan agar NU tidak memiliki peran dalam politik kebangsaan,. Kelompok tekstualis dalam hal ini Wahabi yang lepas dari manhaj maslahah. Sementara kelompok kedua di bawah pemikiran Najmuddin At Tufi dari Mesir dengan pemikiran yang liberal, ” katanya.

Gus Badawi mengungkapkan bahwa ada beberapa kekuatan dalam kehidupan berbangsa selain memiliki jumlah juga memilik kekuatan yang meliputi kekuatan tradisi, harta , kekuasaan dan kekuatan lain untuk meraih kejayaan, kemenangan dan peradaban.

NU memiliki kekuatan tradisi yang kuat terutama dipegang oleh komunitas santri. Kekuatan ini menjadi ketakutan oleh beberapa pihak lain, sehingga berupaya agar kekuatan tersebut semakin lemah dan tidak berdaya.

“Semua bangsa tahu kekuatan rill di pedesaan ada di kaum santri, akan tetapi kekuatan tersebut hanya pada segmen kekuasaan istighosah. Belum menyentuh terhadap sendi sendi kekuatan bangsa dan negara yang meliputi ekonomi, politik, budaya pasar dan global. Gejala kekuasaan global kita lagi diserang oleh dua kekuatan besar terkait dengan idiologi politik dan agama. Dua kekuatan besar tersebut terus menggerus idiologi Ahlusunah Wal jamaah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara” lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus.

Gus Badawi menuturkan, para Kyai jarang memahami gejala ini karena sedikitnya kepedulian terhadap hal tersebut, sehingga santri kehilangan sensitifitas rasa hidup bersama dan rasaj jihad bersama. Kedua Idiologi tersebut bertarung menyerang kita. Sehingga pada saat yang sama orang yang bersikap netral sesungguhnya hanya mencari aman atau biar mendapatkan dari keduanya dengan doanya, agar kesana dapat kesini juga dapat sesuatu.

Menyinggung politik kebangsaan menurut Wakil Ketua DPW PKB Jawa Tengah, saat ini bicara politik kebangsaan yang senafas dengan NU hanya PKB. Meski di atas terjadi perbedaan pendapat tetapi sesungguhnya di bawah sama dalam satu tarikan. Oleh karena itu saat ini partai yang hijau di Senayan hanya PKB. Basis idiologis, historis dan aspirasi untuk nahdliyin sudah jelas PKB. Kalau bicara aspirasi yang dititipkan kepada partai lain tentu tidak bisa mengatasnamakan NU.

” Kami sudah berkeliling di beberapa Kyai di Jawa Tengah untuk bersama memperkuat PKB. Hal tersebut karena PKB menjadi partai politik yang mewadahi aspirasi politik Kyai. Inilah yang sudah dibuktikan saat kemarin ada ramai kasus Pondok Pesantren Al Khoziny dan Penghinaan terhadap Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, dewan PKB menjadi garda terdepan dalam memfasilitasi pertemuan dengan HIMASAL DKI Jakarta dan Jawa Barat. Tentu ini menjadi tugas kami selaku Dewan Syuro PKB dan para anggota dewan dari PKB,” imbuh wakil sekretaris Dewan Syuro DPW PKB Jawa Tengah.

Halaqoh Kebangsaan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren As Syamsuriyyah Jagalempeni Kec Wanasari Kab Brebes pada hari Ahad 2 Nopember 2025 dihadiri oleh perwakilan Pengurus Ranting NU se Kecamatan dan Badan Otonom di lingkungan MWC NU Wanasari. Hadir dalam kesempatan tersebut Gus Syaffa, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah sebagai Keynote Spech dalam Halaqoh tersebut.

Nyai Nafisatul Khoiriyah selaku anggota DPRD Kab Brebes juga hadir sekaligus memberikan sambutan atas nama Pengasuh Pondok Pesantren As Syamsuriyyah. Beberapa pengurus MWC NU juga hadir dalam kesempatan tersebut, termasuk Rois Syuriah, Ketua Tanfidziah dan beberapa jajaran Syuriyah dan Tanfidziah.***

You Might Also Like

Undip Animal Health Center untuk Praktik Bersama Dokter Hewan Semarang
Kanwil Kemenag Jateng Selenggarakan Peningkatkan Kualitas Manajemen MDT Angkatan 1 di Brebes
Akhmad Sururi Ajak Guru Madin Lakukan Inovasi Pembelajaran dengan Tetap Mempertahankan Tradisi Pesantren
Dari Hati ke Hati, 99 Mustahik Terima Zakat Perdana LAZ MAJT di Ramadan Penuh Berkah
Radio DAIS Raih Tiga Penghargaan Bergengsi KPID Jateng 2025
TAGGED:Brebeshalaqoh kebangsaanhus badawiPondok Pesantren As Syamsuriyyah Jagalempeni
Share This Article
Facebook Email Print
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

  • ES Money
  • U.K News
  • The Escapist
  • Insider
  • Science
  • Technology
  • LifeStyle
  • Marketing

About US

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

Subscribe US

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?