KH Hasyim Asy’ari: Ulama Pengguncang Penjajah, Pencetus Resolusi Jihad yang Membakar Semangat Arek Suroboyo!
NUJATENG.COM – KH Hasyim Asy’ari lahir di Jombang pada 10 April 1875. Ia dikenal bukan hanya sebagai ulama besar, tetapi juga sebagai penggerak kebangkitan umat Islam dan tokoh perjuangan bangsa Indonesia. Melalui pemikiran dan kepemimpinannya, KH Hasyim memadukan kekuatan iman dengan semangat kebangsaan yang luar biasa.
Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan pemegang gelar Rais Akbar, beliau menjadi figur moral sekaligus spiritual yang berperan penting dalam membentuk arah perjuangan umat. Pemikirannya jauh melampaui zamannya, menempatkan Islam bukan hanya sebagai agama ritual, tetapi juga sebagai kekuatan sosial dan politik yang membebaskan rakyat dari penjajahan.
Resolusi Jihad: Nyala Api Perlawanan dari Pesantren
Pada masa pasca-proklamasi, Indonesia belum benar-benar aman. Pasukan penjajah masih berusaha kembali menguasai negeri ini. Dalam situasi genting itu, KH Hasyim Asy’ari tampil ke depan dengan keberanian seorang ulama sejati. Ia menyatukan para kiai, santri, dan rakyat dalam satu seruan besar: jihad fi sabilillah.
Puncak perjuangan beliau terjadi pada 22 Oktober 1945, saat KH Hasyim mengeluarkan Resolusi Jihad. Fatwa bersejarah ini menegaskan bahwa setiap muslim yang berada dalam radius 90 kilometer dari medan perang wajib turun berjuang melawan penjajah.
Fatwa itu bukan hanya seruan moral, tetapi panggilan suci yang menggugah jiwa rakyat. Arek-arek Suroboyo menjawab seruan itu dengan keberanian luar biasa. Pertempuran besar pun meletus di Surabaya pada 10 November 1945, yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari menyalakan bara semangat perjuangan menjadikan jihad sebagai bentuk cinta tanah air yang sejati.
Warisan Perjuangan dan Keilmuan yang Abadi
Atas jasa-jasanya, KH Hasyim Asy’ari ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964. Namun penghargaan itu hanyalah bagian kecil dari warisan besar yang beliau tinggalkan bagi bangsa Indonesia.
Beliau menanamkan ajaran penting bahwa “Hubbul Wathan Minal Iman” cinta tanah air adalah bagian dari iman. Prinsip ini menjadi dasar perjuangan warga Nahdlatul Ulama hingga kini.
Selain sebagai pejuang, KH Hasyim juga seorang pendidik visioner. Melalui pesantren Tebuireng yang didirikannya, beliau mencetak ribuan santri yang kelak menjadi ulama, pemimpin masyarakat, dan pejuang bangsa.
Islam, Nasionalisme, dan Spirit Kebangsaan
KH Hasyim Asy’ari menunjukkan kepada dunia bahwa agama dan nasionalisme bukan dua hal yang bertentangan. Sebaliknya, Islam yang sejati menuntut umatnya untuk berjuang membela kebenaran dan keadilan.
Dalam pandangan beliau, jihad tidak selalu berarti perang fisik, melainkan perjuangan tanpa henti untuk menegakkan kedaulatan, keadilan, dan kemerdekaan.
Semangat Resolusi Jihad 1945 adalah bukti bahwa ketika iman berpadu dengan cinta tanah air, lahirlah kekuatan dahsyat yang melahirkan Indonesia Merdeka.
Keteladanan Abadi Sang Ulama Pejuang
KH Hasyim Asy’ari bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi sumber inspirasi abadi bagi generasi bangsa. Ia mengajarkan bahwa perjuangan harus berpijak pada nilai iman, keilmuan, dan kecintaan terhadap tanah air.
Warisan beliau hidup dalam setiap denyut perjuangan umat Islam Indonesia hingga hari ini dari pesantren hingga medan juang, dari santri hingga rakyat jelata.
KH Hasyim Asy’ari adalah simbol sinergi antara Islam dan nasionalisme pahlawan sejati yang menggetarkan penjajah lewat kekuatan iman dan kecintaan terhadap Indonesia.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: KH Hasyim Asy’ari: Sang Rais Akbar NU, Pengguncang Penjajah Lewat Resolusi Jihad 1945!
