Harlah FKDT Ke-14: Saiful Mujab Tegaskan Pentingnya Penguasaan Database untuk Kemajuan Madin

UNGARAN, NUJATENG.COM – Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) kini resmi memasuki usia ke-14. Perayaan Harlah tahun ini dipusatkan di Sekretariat DPW FKDT Jawa Tengah, Dusun Krajan, Nyatnyono, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, pada Kamis (23/04/2026).
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, mulai dari perwakilan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Kakanwil Kemenag Jateng, hingga perwakilan Bupati Semarang.
Komitmen FKDT Jawa Tengah dalam Pendataan Madin
Ketua FKDT Jawa Tengah, Kyai Abdulrahman, dalam sambutannya menekankan pentingnya validasi data. Saat ini, DPW FKDT Jawa Tengah menaungi sebanyak 9.757 Madrasah Diniyah (Madin) dengan total 80.000 guru yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.
”Program utama FKDT Jawa Tengah tahun 2026 adalah pendataan ulang untuk memastikan eksistensi Madin serta keaktifan guru-gurunya,” ujar Kyai Abdulrahman.
Ia juga mengajak para pengurus untuk tetap ikhlas berjuang meski tanpa honorarium tetap.
Terkait pembangunan sekretariat, ia menjelaskan bahwa tanah sekretariat seharga Rp975.000.000 baru terbayar sekitar Rp600.000.000 (akumulasi bantuan Kemenag dan penjualan kalender), sehingga masih terdapat kekurangan yang perlu diselesaikan secara mandiri dan bermartabat.
Kakanwil Kemenag Jateng, Data adalah Kunci Peradaban
Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah, DR. H. Saiful Mujab, MA memberikan arahan strategis mengenai digitalisasi dan administrasi. Menurutnya, di era modern ini, penguasaan data setara dengan menguasai peradaban.
”Data menjadi modal utama kita untuk perencanaan dan kebijakan dalam menentukan arah kemajuan lembaga,” tegas Saiful Mujab.
Beliau mengingatkan agar seluruh Madin memperbaiki data administrasi internal, mulai dari struktur kepengurusan, SDM, hingga data santri. Hal ini krusial mengingat rencana pembentukan Dirjen Pesantren yang sedang dibahas di tingkat pusat.
”Jangan sampai ada pesantren atau Madin yang aktif secara fisik, namun karena administrasi tidak lengkap, mereka kehilangan akses bantuan atau kebijakan strategis,” tambahnya.

Tantangan Gadget dan Pemberdayaan Ekonomi Madin
Selain masalah data, Saiful Mujab juga menyoroti dua isu penting lainnya:
Inovasi Kurikulum, Madin diharapkan mampu menciptakan metode pembelajaran muatan lokal yang menarik agar santri bisa lepas dari kecanduan gadget.
Kemandirian Ekonomi, Mendorong 9.000-an Madin untuk berkolaborasi dengan BAZNAS menjadi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Skema 80% dana kembali ke asnaf dapat menjadi motor penggerak perjuangan Madin.
Respon DPC FKDT Sragen
Senada dengan arahan tersebut, Ketua DPC FKDT Kabupaten Sragen, Bahrur Rosid, didampingi Sekretaris Mufid, menyatakan kesiapannya untuk membawa hasil pertemuan ini ke tingkat daerah.
”Kami sepakat bahwa FKDT harus menjadi jembatan antara Madin dan Kementerian, sekaligus garda terdepan dalam perbaikan akhlak santri melalui kolaborasi dengan orang tua untuk mengatasi ketergantungan anak pada gadget,” pungkas Mufid.***
