
SEMARANG – nujateng.com – Suasana kajian Kopikhas di Kantor MWCNU Kecamatan Ngaliyan berlangsung hangat dan penuh dinamika. Kajian yang digelar pada Jumat malam tersebut mengangkat pembahasan kitab Irsyadus Sari, yang dibacakan oleh Gus Sa’dullah, dengan Ust. Amir sebagai moderator.
Dalam kajian malam ini, peserta diajak menyelami pemikiran dan pesan Mbah Hasyim mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap ketika bergaul dan hidup bersama masyarakat. Pesan utama yang mengemuka adalah pentingnya berlaku adil, berbuat baik, tidak membalas keburukan dengan keburukan, serta tidak takut terhadap celaan manusia dalam menegakkan kebenaran.
Pembahasan menjadi semakin menarik ketika memasuki sesi tanya jawab dan diskusi. Salah seorang peserta melontarkan pertanyaan yang cukup mengagetkan sekaligus menggugah peserta lainnya, “Apa kepentingan Mbah Hasyim menulis bab ini?”
Pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi diskusi yang luas dan menarik. Salah satu peserta, Pak Agus Hunaifi, menyampaikan bahwa tugas seorang kiai setidaknya memiliki tiga ranah penting. Pertama, ngaji bersama para santri. Kedua, berdakwah melalui ceramah. Ketiga, membaur bersama masyarakat, termasuk dalam kehidupan sosial dan berpolitik (bersiasah).
Menurutnya, seorang kiai tidak cukup hanya berada di ruang pesantren dan menyampaikan ilmu, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan umat, serta memberikan tuntunan dan keteladanan dalam kehidupan bersama.
Peserta lain menambahkan bahwa pembahasan bab tersebut memiliki cakupan yang sangat luas. Pesannya tidak hanya ditujukan kepada pemerintah atau para pemegang kekuasaan. Setiap manusia pada hakikatnya adalah pemimpin, sebagaimana pesan Rasulullah ﷺ dalam hadis tentang kepemimpinan dan tanggung jawab masing-masing.
Karena itu, penekanan tentang keadilan sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah ayat 8 menjadi inti penting yang perlu terus direnungkan. Mbah Hasyim memperkaya pembahasannya dengan berbagai contoh dari kehidupan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Bahkan, dibahas pula bagaimana pada zaman jahiliyah terdapat upaya-upaya memengaruhi atau menyuap dalam urusan zakat, yang menunjukkan pentingnya menjaga amanah dan keadilan dalam mengelola urusan umat.
Pesan tersebut juga dikaitkan dengan prinsip akhlak dalam hadis:
أَحْسِنْ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ
“Berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.”
Pesan ini mengajarkan agar seseorang tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan. Dalam diskusi, peserta juga merumuskan empat hal yang perlu dihindari dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu:
1. Suka membuat kesalahan.
2. Mudah menyalahkan orang lain.
3. Mencari-cari kesalahan orang lain.
4. Nyalahin orang lain atau usil terhadap kehidupan orang lain sebab iri dls.
Dari diskusi tersebut semakin terasa bahwa kajian kitab bukan sekadar membaca teks dan menerjemahkan makna, tetapi menjadi ruang untuk menghubungkan warisan keilmuan ulama dengan persoalan kehidupan masyarakat hari ini.
Waktu pun tidak terasa berjalan. Diskusi yang berlangsung penuh antusias dan rasa ingin tahu itu akhirnya harus berakhir ketika jarum jam menunjukkan sekitar pukul 22.00 WIB. Sebuah kesadaran kembali mengemuka: ilmu, semakin dibahas, justru semakin membuat seseorang merasa haus dan penasaran untuk terus menggali dan mempelajarinya.
Kajian Kopikhas malam itu pun ditutup dengan harapan agar seluruh peserta senantiasa diberikan kekuatan untuk terus belajar, mengamalkan ilmu, dan istiqamah dalam menghadiri majelis ilmu.
“Sampai jumpa di Jumat mendatang. Semoga kita semua dapat terus istiqamah dalam menuntut ilmu dan menghidupkan majelis-majelis kajian.”
