
YOGYAKARTA – nujateng.com – Hari ini Ahad (12/7/2026) Takmir Masjid Al Falah Mendut Semarang bersama jamaahnya 12 orang ditambah 40 peserta dari Jamaah Haji Armina Sukoharjo melaksanakan kegiatan ngangsu kaweruh manajemen masjid di Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB – jelang waktu Dzuhur bertujuan memperluas wawasan tentang tata kelola masjid agar mampu menjadi pusat ibadah, dakwah, pelayanan, dan pemberdayaan masyarakat.
Rombongan disambut hangat oleh Mas Rizki, pengurus Remaja Masjid Jogokariyan Bidang Media Sosial. Dalam sambutannya, ia mengucapkan selamat datang dan berharap silaturahmi ini menjadi sarana berbagi pengalaman sehingga semakin banyak masjid yang makmur dan bermanfaat bagi umat.
Mewakili rombongan, Pak Munjani menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan ikhtiar kulaan ilmu atau ngangsu kaweruh untuk mempelajari secara langsung pengelolaan Masjid Jogokariyan, khususnya dalam membina generasi muda serta meningkatkan kesejahteraan jamaah. Menurutnya, keberhasilan Masjid Jogokariyan tentu melalui proses yang panjang dan tidak diraih secara instan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Rombongan Jamaah Haji Armina Sukoharjo 2015, Bapak Nur Rohmat, menyampaikan bahwa rombongan telah menjaga silaturahmi selama sekitar 12 tahun melalui berbagai kunjungan pembelajaran. Setelah sebelumnya berkunjung ke Pondok Pesantren Temboro, kali ini mereka memilih Masjid Jogokariyan untuk mempelajari manajemen masjid secara lebih mendalam, terutama strategi memakmurkan masjid dan menarik minat generasi muda.
Dalam sesi pemaparan, Mas Rizki menjelaskan bahwa perjalanan Masjid Jogokariyan telah berlangsung lebih dari 60 tahun. Dahulu kawasan tersebut dikenal sebagai lingkungan masyarakat abangan dengan berbagai tantangan sosial. Perubahan yang terjadi saat ini merupakan hasil dakwah yang dilakukan secara bertahap, penuh kesabaran, dan berlandaskan konsep masjid pada zaman Rasulullah SAW.
Beliau mengutip pesan almarhum Ustaz Jazir bahwa masjid harus menjadi pusat solusi bagi setiap persoalan umat. “Masjid adalah rumah Allah, jamaah adalah tamu Allah, sedangkan pengurus adalah karyawan Allah. Kalau yang menggaji Allah, maka tugas kita adalah memberikan pelayanan terbaik kepada tamu-Nya,” ungkapnya.
Konsep pelayanan tersebut diwujudkan melalui berbagai program, seperti penyediaan tempat singgah gratis bagi musafir, unit usaha masjid, pelayanan sosial, ambulans, Baitul Mal, hingga berbagai kotak infak sesuai kebutuhan program agar masyarakat dapat menyalurkan infaknya secara tepat sasaran.
Dalam pembinaan remaja, Masjid Jogokariyan menekankan pentingnya memahami karakter dan potensi setiap anak muda. Pengurus tidak memaksakan seseorang berada pada bidang tertentu, melainkan memberikan amanah sesuai kemampuan dan minat masing-masing. Menurut Mas Rizki, keberhasilan membina remaja memerlukan kesabaran karena hidayah merupakan hak Allah SWT.
Mas Rizki juga memaparkan konsep pengelolaan keuangan dengan prinsip “Saldo Nol”, yakni dana infak yang masuk segera dimanfaatkan untuk pelayanan umat berdasarkan perencanaan yang matang. Sebagian besar biaya operasional masjid ditopang oleh hasil usaha milik masjid sehingga infak jamaah dapat dikembalikan sebesar-besarnya kepada masyarakat melalui berbagai program kemaslahatan.
Suasana semakin hidup saat sesi dialog. Berbagai pertanyaan disampaikan peserta, mulai dari cara menjaga persatuan jamaah yang berasal dari berbagai organisasi Islam, sistem pendanaan program, pengelolaan remaja, hingga kaderisasi pengurus. Seluruh pertanyaan dijawab secara terbuka disertai pengalaman nyata yang telah diterapkan di Masjid Jogokariyan.
Di akhir pertemuan, Mas Rizki berpesan agar para pengurus masjid tidak mudah menyerah dalam membina jamaah. Ia mengingatkan bahwa yang perlu diperbaiki adalah sikap, bukan membenci orangnya. Sebagai pengurus masjid, hendaknya selalu menanamkan semangat sebagai “karyawan Allah” dalam setiap bentuk pelayanan kepada umat.
Kegiatan ngangsu kaweruh ditutup dengan penuh keakraban. Seluruh peserta berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari Masjid Jogokariyan dapat menjadi inspirasi untuk terus memakmurkan masjid, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menghadirkan masjid sebagai pusat pelayanan dan pemberdayaan masyarakat di lingkungan masing-masing.

