
nujateng.com – Bulan Dzulhijjah, Sebagai salah satu Asyhurul Hurum (bulan yang dimuliakan), Dzulhijjah membawa aroma spiritualitas yang luhur dan ladang pahala yang berlimpah.
Di balik kemuliaannya, terdapat syariat agung yang menjadi pembuktian cinta seorang hamba kepada Sang Khaliq: ibadah qurban.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Kautsar ayat 2: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.”
Ayat ini menetapkan prasyarat spiritual yang tegas: jika ingin mendambakan telaga nikmat di akhirat, kita harus melewati gerbang pengorbanan di dunia.
Meneladani Ketaatan Mutlak Nabi Ibrahim AS
Setiap kali Idul Adha tiba, kita menyaksikan prosesi penyembelihan hewan qurban.
Namun, pernahkah kita merenungkan ruang psikologis Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam? Sebagai seorang ayah yang menanti buah hati selama puluhan tahun hingga usia 86 tahun, perintah untuk menyembelih Ismail adalah ujian ketaatan tertinggi.
Nabi Ibrahim tidak menggunakan kalkulasi rasional atau mencari alasan untuk menolak perintah tersebut.
Beliau menunjukkan ketaatan mutlak (total submission) demi kecintaan kepada Allah.
Inilah getaran iman yang seharusnya menyengat kesadaran kita setiap kali kita memegang hewan qurban.
Refleksi Modern: Berqurban atau Memelihara Alasan?
Dalam konteks kekinian, ujian qurban sebenarnya jauh lebih ringan dibandingkan sejarah Nabi Ibrahim.
Kita tidak diminta mengorbankan nyawa, melainkan hanya menyisihkan sebagian harta untuk membeli hewan qurban.
Seringkali, kita mampu mengeluarkan jutaan rupiah untuk gadget, gaya hidup, atau liburan.
Namun, saat panggilan berqurban datang, muncul seribu alasan logistik dan finansial.
Ada ironi spiritual ketika kita merasa keberatan mengeluarkan biaya untuk Allah, sementara di sisi lain kita mengaku sebagai pengikut jejak Ibrahim.
Ingatlah firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 37:
”Daging (hewan qurban) dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
Ibadah ini bukanlah tentang harga hewan atau nominal uangnya, melainkan tentang mengikis sifat bakhil dan meruntuhkan ego materi yang membelenggu hati.
Belajar dari Mereka yang Terbatas
Fenomena yang sangat menyentuh adalah ketika kaum prasejahtera-seperti tukang becak atau buruh tani-mampu berqurban dengan menyisihkan uang sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
Mereka membuktikan bahwa qurban bukan soal seberapa besar pendapatan, melainkan seberapa besar kapasitas cinta di dalam dada.
Keteguhan mereka menjadi tamparan keras bagi kita yang secara ekonomi lebih mapan, namun masih ragu untuk berbagi.
Mari Menjemput Ridha Allah
Cinta adalah kata kerja yang menuntut pembuktian. Jangan biarkan Idul Adha tahun ini berlalu tanpa ada nama kita dalam daftar hamba yang membuktikan cintanya kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah pada hari Idul Adha daripada menyembelih hewan qurban.
Singkirkan segala keraguan dan ego materi. Mari berqurban dengan hati yang lapang, ikhlas, dan penuh suka cita.
Karena pada hakikatnya, ketakwaan kita telah sampai di sisi Allah bahkan sebelum tetesan darah hewan qurban menyentuh bumi.***
