1 min read

Ngaji Ta’limul Muta’allim: Larangan Thama’ dan Pentingnya Life Skill bagi Santri

Ngaji Bandongan Kitab Ta’limul Muta’allim Oleh : Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA (Rabu, 11/02/2026)

 

*فصل في بداية السبق وقدره وترتيبه*

(Bab tentang permulaan belajar, ukuran/kuantitas dan urutannya belajar)

Fashl Thama’

وَكَانُوا فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ يَتَعَلَّمُونَ
الْحِرْفَةَ ثُمَّ يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ حَتَّى لَا يَطْمَعُوْا فِي أَمْوَالِ النَّاسِ، وَفِي الْحِكْمَةِ مَنِ اسْتَغْنَى بِمَالِ النَّاسِ افْتَقَرَ

 

Para Ulama zaman dahulu belajar berwirausaha atau kerajinan tangan, kemudian belajar ilmu, sehingga mereka tidak pernah bersikap thama’ terhadap harta orang, disebut dalam kata-kata hikmah bahwa: “Barang siapa butuh dengan harta orang maka artinya dia melarat”.

 

Redaksi kitab tersebut menjelaskan bahwa seorang penuntut ilmu atau santri harus mempunyai keterampilan hidup _(life skill)_ atau kerajinan tangan seperti ulama zaman dahulu yang tidak hanya belajar ilmu saja, agar tidak thama’ dengan harta manusia.

 

Bila orang alim berbuat thama’ maka hilanglah kemuliaan ilmunya serta dia tidak berani untuk bicara jujur dan benar.

Do’a Nabi SAW sang pembawa syariat untuk memohon perlindungan dari sikap thama’:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ طَمْعٍ يُدْنِي إِلَى طَبَعٍ

Artinya : “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari sikap thama’ yang mendekatkan kepada prilaku/tabiat.”

 

Fashl Lillahi Ta’ala

وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَرْجُوَ إِلَّا مِنَ اللهِ تَعَالَى وَلَا يَخَافَ إِلأَمِنْهُ ، وَيَظْهَرُ ذَلِكَ بِمُجَاوَزَةِ حَةِ الشَّرْعِ وَعَدَمِهَا

Dan hendaklah para santri tidak berharap selain kepada Allah, jangan pula merasa takut kecuali kepada-Nya, sikap tersebut akan tampak dan dapat diukur dengan seberapa ia berani melampaui batas syariat.

 

Barangsiapa bermaksiat kepada Allah karena takut kepada makhluk, maka artinya dia telah takut kepada selain Allah.

 

Tetapi bila tidak bermaksiat kepada Allah karena takut kepada sesama makhluk, dan tetap berjalan pada aturan, maka tidak bisa disebut takut kepada selain Allah, namun ia tetap disebut takut kepada Allah.

Redaksi tersebut menjelaskan bahwa hendaknya para penuntut ilmu berharap dan memohon kecukupan hidup hanya kepada Allah. Demikian juga menjalankan konsep tentang Raja’ dan Khouf yang harus seimbang dalam menjalani kehidupan.

والله اعلم بالصواب

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *