Bukan Cuma Ngaji! Santri Dilatih Jadi Baker, Bisa Bikin Kue Sampai Hias Tart

NUJATENG.COM – SEMARANG – Aroma manis dari adonan kue perlahan memenuhi ruangan. Suasana dapur PPFF Food & Bakery tampak hidup, lebih ramai dari biasanya. Di sana, para santri Madrasah Aliyah Al-Musyaffa’ PPFF Semarang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang menimbang tepung, ada yang mengocok adonan, sebagian lain menyiapkan loyang dan alat masak.
Hari itu, mereka bukan sedang menjalani kegiatan biasa, melainkan mengikuti pelatihan lifeskill, program unggulan pesantren yang dirancang untuk membekali santri dengan keterampilan nyata sebagai bekal masa depan.
Pelatihan dimulai dari hal-hal dasar. Santri diajak memahami bahan, belajar menakar dengan tepat, lalu mengolahnya menjadi adonan yang siap dipanggang. Dari proses sederhana itu, mereka mulai mengenal bahwa membuat kue bukan sekadar mencampur bahan, tetapi membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan teknik yang benar.
Hasilnya pun beragam. Tidak hanya roti dan kue manis, para santri juga belajar membuat makanan dan minuman kekinian yang bernilai jual. Mulai dari macaroni schotel, pempek sutra, hingga berbagai camilan dan minuman manis yang kini banyak digemari masyarakat.
Keseruan belum berhenti ketika kue matang. Pada sesi berikutnya, para santri dilatih untuk menghias kue tart agar tampil lebih menarik. Mereka belajar merapikan lapisan krim, membentuk dekorasi sederhana, hingga menulis dan menggambar di atas permukaan kue. Dari tangan-tangan santri itulah, kue tart biasa berubah menjadi sajian yang cantik dan siap dipasarkan.
Salah satu siswi peserta pelatihan mengaku sangat menikmati kegiatan tersebut. Baginya, pelatihan ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga membuka wawasan baru.
“Kegiatannya sangat menyenangkan. Saya jadi tambah pengetahuan tentang baking, mulai dari cara membuat adonan sampai proses menghias kue. Ini sangat membantu saya untuk mewujudkan mimpi membuka toko kue suatu saat nanti,” ungkapnya dengan antusias.
Program lifeskill ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya fokus pada pembelajaran agama dan akademik, tetapi juga memperhatikan kesiapan santri menghadapi kehidupan setelah lulus. Pelatihan ini khusus ditujukan bagi santri putra dan putri kelas XI dan XII Madrasah Aliyah Al-Musyaffa’ PPFF Semarang, agar mereka memiliki keterampilan yang dapat digunakan di dunia kerja maupun dunia usaha.
Para santri pun menyadari bahwa keterlibatan mereka dalam kegiatan usaha pesantren bukan sekadar membantu, melainkan bagian dari latihan untuk hidup mandiri. Dari sini mereka belajar disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta memahami bagaimana sebuah usaha dibangun dan dijalankan.
PPFF Semarang menegaskan bahwa kecerdasan dan prestasi akademik saja belum cukup menjadi bekal hidup. Keterampilan wirausaha yang disertai kemampuan komunikasi dan jejaring justru dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Lintang Anggun***
