Hadiah Itu Berupa Zarkasi ke Mbah Dalhar Gunungpring dan Mbah Mad Watucongol Magelang

NUJATENG.COM – MAGELANG – Zarkasi ke Makam Mbah Dalhar Gunungpring dan Mbah Mad Watucongol Magelang adalah hadiah yang diberikan Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Semarang DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc. MA kepada Dewan Asatidz PPFF Semarang.
Ya, dengan berakhirnya semester ganjil di tahun ajaran 2025/2026, ditandai dengan pemulangan santri ke rumah masing-masing untuk libur semester.
Hal tersebut juga menandai rehatnya dari kepadatan aktivitas belajar mengajar bersama santri.
Pada kesempatan ini, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc. MA. memberikan hadiah kepada Dewan Asatidz PPFF Semarang, untuk melaksanakan Ziarah dan Rekreasi atau Zarkasi selama dua hari, 6 & 7 Januari 2026 di Magelang.
Perjalanan Zarkasi dimulai dengan ziarah ke Makam Mbah Dalhar Gunungpring dan Mbah Mad Watucongol.
KH Ahmad Abdul Haq “Mbah Mad” Watucongol adalah ulama besar pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucongol di Gunungpring, Muntilan, Magelang.
Ia dikenal dihormati lintas kalangan mulai dari masyarakat biasa sampai tokoh nasional, karena kedalaman ilmu, karisma, dan pengaruh dakwahnya di wilayah Kedu sampai akhir hayatnya (meninggal 8 Juli 2010).
Sepanjang hidupnya, ia mampu menunjukkan lokasi makam para wali yang sebelumnya tidak dikenal masyarakat, dan sering dikunjungi oleh para santri serta tokoh bangsa untuk meminta nasihat dan doa restu.

KH. Nahrowi Dalhar “Mbah Dalhar” Watucongol (lahir 12 Januari 1870, wafat 8 April 1959) ulama kharismatik dan mursyid Thariqah Syadziliyah yang mendirikan tradisi pengajian di Watucongol serta menjadi sosok sentral dalam penyebaran Islam di daerahnya.
Ia turut mewarisi jejak dakwah keilmuan dari guru-gurunya dan menjadi teladan masyarakat.
Setelah ziarah, perjalanan rehat sejenak di Harmony Homestay and Resto milik pak Edy Sutrisno, jamaah pengajian Ahad Pagi yang juga seorang santri muhibbin PPFF Semarang dan check in penginapan.
Sorenya, Dewan Asatidz berkeliling ke sentra pembuatan slondok dan Yangko, lanjut jelajah shoping serta menikmati sejuk indahnya pemandangan di area sekeliling Borobudur melintas bukit Menoreh.
Menuju malam, setelah jamaah, dilanjut dengan makan malam.
Kemudian masuk ke acara inti, yakni upgrading Dewan Asatidz oleh DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc. MA. Kyai Fadlolan menekankan pentingnya sinergi dari Dewan Asatidz dalam mewujudkan cita-cita PPFF yang telah dibangun oleh Kyai.

Selain itu, pentingya dasar keilmuan serta adab dan akhlak yang menjadi pilar dalam membina mendidik mengajari seluruh santri PPFF.
Disambung recharge materi oleh Pak H. Rachmad Joko, santri muhobbin yang juga pengawas Yayasan Syauqi Semarang, dilanjut Pak Ghufron Musyaffa’ adik kandung Kyai Fadlolan Musyaffa’, yang juga Wakil Ketua Yayasan Syauqi Semarang.
Terakhir nasihat dari Syaikh Ammar Azmi Arrafaty Aljailany (Cicit ke 28 Syaikh Abdul Qodir Aljaelany).
Pak Joko, memberikan wawasan agar para guru memiliki sifat seperti benalu yang prospek dan indah dimasanya sebagaimana bunya anggrek, ia benalu tapi tidak sekedar numpang hidup, namun menjadikan indah dan menarik perhatian banya orang yang memperhatikan dan mejadikan indah pada pohon yang ditumpanginya.

Jadilah guru yang kreatif inovatif dan produktif mengharumkan pesantren dan pasti memperindah diri sendiri pada waktu mendatang.
Syaikh Ammar, bepesan banyak hal kepada dewan asatidz, di antaranya harus bersyukur pada Allah dan berterimakasih kepada Kyai Fadlolan, karena beliau telah mengajarkan ilmu dan memberikan teladan dalm mengamalkan ilmu, tetutama dalam beribadah di PPFF, kyai Fadlolan ngimami jamaah sholat maktubah (dalam lima waktu sholat).
Hal tersebut diharapkan dapat berpengaruh untuk dicontoh seluruh asatidz maupun santri dalam beribadah, sholat, wiridan, dzikir dan berbagai amalan.
Sebagai guru harus ihlas dalam khidmah mengajar, tidak hanya fornalitas ngajar atau sekedar bertugas ngajar.
Sungguh beda pengaruh terhadan akhlak dan adab santri dan juga akan beda hasilnya terhadap pendidikan santri.Selain itu harus bersabar dalam menghadapi murid yang tidak kunjung paham dengan apa yang disampaikan oleh para guru.
Sebagai guru, yang terpenting adalah membentuk karakter santri, memberi tauladan akhlak mulia dan adab.
Guru hendaknya selalu berdoa untuk para santri agar difutuh ilmunya. Allahumma Amiin.***
