By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Reading: WASPADA PASCA BANJIR: Ancaman Senyap Bakteri, Amuba, Cacing, dan Lonjakan ISPA
Share
Font ResizerAa
Search
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Have an existing account? Sign In
Follow US
Home » Blog » WASPADA PASCA BANJIR: Ancaman Senyap Bakteri, Amuba, Cacing, dan Lonjakan ISPA
ArtikelKolom

WASPADA PASCA BANJIR: Ancaman Senyap Bakteri, Amuba, Cacing, dan Lonjakan ISPA

Ali Arifin
Last updated: November 3, 2025 2:08 am
Ali Arifin
Published: November 3, 2025
Share
SHARE

SEMARANG – nujateng.com – Musim hujan dan bencana banjir yang melanda beberapa wilayah sering meninggalkan masalah kesehatan yang tak kalah serius: kontaminasi lingkungan.

Air bah yang surut membawa serta campuran berbahaya dari limbah domestik (luapan septic tank), limbah pabrik, dan kotoran hewan.

Campuran kotoran ini menciptakan “sup” patogen tempat bakteri, amuba, virus, dan larva cacing berkembang biak dengan cepat.

​Menurut dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, periode pasca banjir adalah masa krusial.

“Masyarakat tidak boleh lengah. Air kotor yang mencemari lingkungan adalah pintu masuk bagi banyak penyakit menular, terutama yang menyerang saluran cerna, kulit, dan pernapasan,” tegasnya.
​
Pintu Masuk Penyakit: Air Tercemar dan Tanah Berlumpur

​Ancaman terbesar datang dari air dan sanitasi yang buruk. Penyakit seperti Diare, Kolera, dan Demam Tifoid (Tipes) meningkat tajam karena kuman, termasuk amuba, masuk melalui makanan atau air minum yang terkontaminasi.

​Dr. Agus Ujianto juga menyoroti bahaya kontak langsung dengan lumpur:

​Leptospirosis:
Dijuluki “demam tikus,” penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dibawa oleh urine tikus. Bakteri ini menembus tubuh melalui luka terbuka saat bersentuhan dengan lumpur atau air kotor.
​
Infeksi Cacing Kulit (Cutaneous Larva Migrans):
Larva cacing tambang yang tersebar di tanah berlumpur dapat menembus kulit (umumnya di kaki) ketika berjalan tanpa alas kaki. Gejalanya berupa ruam merah, timbul, dan terasa gatal luar biasa dengan pola seperti ular yang merayap di bawah kulit.

​Penyakit Kulit dan Gatal-Gatal: Kontak lama dengan air kotor yang mengandung bakteri dan jamur memicu infeksi kulit, gatal, ruam, hingga dermatitis.
​

Risiko ISPA dan Kelompok Paling Rentan

​Selain infeksi dari air, ancaman juga datang dari udara. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu keluhan tertinggi pasca banjir.

Peningkatan kasus ISPA dipicu oleh lingkungan yang lembap, udara dingin, debu, jamur, serta kepadatan di tempat pengungsian.

​”Dalam situasi pasca bencana, daya tahan tubuh seringkali menurun, sehingga virus dan bakteri ISPA mudah menyerang,” kata Dr. Agus.

Ia menekankan bahwa risiko ISPA, beserta penyakit pasca banjir lainnya, sangat tinggi pada kelompok rentan:

​Anak-Anak (terutama Balita):
Memiliki sistem imun yang belum sempurna dan cenderung bermain di area kotor.

​Lansia (Lanjut Usia):

Daya tahan tubuh yang menurun dan kemungkinan memiliki penyakit kronis (seperti asma) yang dapat diperburuk oleh infeksi.

​Individu dengan Penyakit Kronis dan Gizi Buruk:
Kelompok ini kesulitan melawan serangan patogen yang masif.

​Kunci Pencegahan:
Bersih, Lindung, dan Cepat

​Dr. Agus Ujianto mengajak masyarakat untuk disiplin menerapkan langkah-langkah pencegahan, fokus pada tiga pilar utama:

​Lindungi Diri:
Selalu gunakan sepatu bot, sarung tangan, dan pakaian tertutup saat membersihkan lumpur atau berada di air kotor untuk mencegah masuknya kuman dan larva cacing melalui kulit. JANGAN berjalan tanpa alas kaki.

​Sanitasi Mutlak:
Rebus air minum hingga mendidih. Cuci tangan dengan sabun setelah kontak dengan air kotor. Masak makanan hingga matang sempurna untuk memutus rantai penularan penyakit saluran cerna dan cacing.

​Kendali Lingkungan dan Pernapasan: Bersihkan rumah dengan disinfektan dan gunakan masker saat membersihkan debu atau berada di keramaian pengungsian. Keringkan genangan air untuk mencegah nyamuk DBD.

​”Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala seperti demam tinggi, diare berdarah, atau muncul ruam gatal yang mencurigakan seperti garis merayap di kulit, segera cari bantuan medis. Penanganan dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi fatal,” pungkas Dr. Agus.***

You Might Also Like

Terkuak! Begini Dinamika Panas Hubungan Sufi dan Penguasa dari Zaman Kerajaan hingga Indonesia Modern
Disaat Urusan Terasa Sulit dan Rezeki Seret, Inilah Do’a Pembuka Rejeki dan Kemudahan 
Kebahagiaan Tak Terduga, Doa yang Tersembunyi: Pesan Menyentuh dari Gus Baha tentang Cinta dan Keikhlasan
Tidur di Masjid, Dosa atau Diperbolehkan? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Para Ulama
Rekayasa Epigenetik dan Metabolik Terpadu Melalui Pendekatan Omic: Potensi Stimulasi Non-Invasif
TAGGED:amubabakteribanjirbanjir kaligawebanjir kaligawe semarangcacingdemam tifoiddemam tikusdiarekaligawekoleralarvaleptospirasemarangtipesviris
Share This Article
Facebook Email Print
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

  • ES Money
  • U.K News
  • The Escapist
  • Insider
  • Science
  • Technology
  • LifeStyle
  • Marketing

About US

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

Subscribe US

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?