Ternyata Al-Qur’an Sudah Lama Memberi Peringatan Keras Soal Kerusakan Lingkungan: Begini Penjelasan Lengkapnya
4 mins read

Ternyata Al-Qur’an Sudah Lama Memberi Peringatan Keras Soal Kerusakan Lingkungan: Begini Penjelasan Lengkapnya

NUJATENG.COM – Udara yang semakin penuh polusi, langit yang berubah kelabu, banjir dan kekeringan yang datang silih berganti semua ini bukan sekadar fenomena alam. Dalam perspektif Islam, apa yang terjadi pada bumi kita merupakan tanda bahwa manusia telah melanggar amanah besar: menjaga bumi yang dititipkan Allah.

Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia bukan hanya penghuni bumi, tetapi khalifah, pemegang mandat untuk mengelola dan memakmurkannya. Sayangnya, pembangunan yang tidak terkendali sering kali mengabaikan sisi spiritual dan moral dalam menjaga lingkungan.

Artikel ini mengulas secara mendalam ayat-ayat Al-Qur’an dan penjelasan para ulama mengenai larangan merusak lingkungan peringatan yang semakin relevan di era modern.

Manusia sebagai Khalifah: Amanah Ilahi untuk Menjaga Bumi

Dalam Surat Hud ayat 61, Allah menegaskan:

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari bumi dan memerintahkan kamu untuk memakmurkannya.”

Menurut Imam ath-Thabari dalam Jāmi‘ul Bayān, frasa “wa ista‘marakum fīhā” bermakna bahwa manusia ditugaskan untuk membangun, menjaga, dan memelihara bumi, bukan mengeksploitasinya tanpa batas.

Amanah ini bukan sekadar hak menggunakan sumber daya, melainkan bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah.

Larangan Keras Merusak Bumi Setelah Allah Menjadikannya Baik

Allah mengingatkan:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)

Dalam Tafsir As-Sam‘ani, ulama tabi’in Adh-Dhahhak menyebut contoh-contoh kerusakan, antara lain:

  • Mengubah atau memblokir aliran air
  • Menebang pohon berbuah tanpa alasan
  • Merusak alat tukar atau tatanan sosial ekonomi

Ini menunjukkan bahwa konsep fasad tidak hanya menyangkut moral, tetapi juga kerusakan ekologis dan sosial.

Bukti Kerusakan Masa Kini yang Sangat Relevan

Pembakaran hutan, limbah industri, polusi air, serta eksploitasi tambang adalah contoh nyata kerusakan modern yang telah dikecam Al-Qur’an sejak 14 abad lalu.

Manusia kerap lupa bahwa alam bukan objek ekonomi belaka, melainkan sistem kehidupan yang dijaga oleh keseimbangan ilahi.

Al-Baqarah 205 Peringatan Bagi Para Perusak Alam

Allah berfirman:

“…dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205)

Frasa “yuhlik al-harth wa an-nasl” menggambarkan tindakan yang merusak:

  • Tanaman (harth)
  • Hewan dan ekosistem (nasl)

Syekh Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menegaskan bahwa ayat ini mencakup perbuatan seperti:

  • Penebangan hutan sembarangan
  • Pembakaran lahan
  • Membunuh hewan tanpa alasan syar’i
  • Merusak keseimbangan alam demi kepentingan sesaat

Menurut ulama tabi’in Mujahid, pelaku perusakan akan mendapat celaan hingga hari kiamat karena telah mengkhianati amanah sebagai khalifah.

Menjaga Lingkungan Adalah Ibadah Sosial

Dalam Islam, menjaga lingkungan adalah bagian dari amal salih. Menanam pohon, menghemat air, mengurangi sampah, dan merawat bumi merupakan cerminan ketakwaan.

Fo­rum dunia mungkin menawarkan solusi teknis, tetapi Al-Qur’an menawarkan solusi moral dan spiritual bahwa manusia harus kembali memahami posisinya sebagai penjaga ciptaan Allah.

Dzikir Ekologis: Mengingat Allah Lewat Tindakan

Setiap tindakan kecil yang menjaga bumi adalah bentuk dzikir yang mencerminkan rasa syukur:

  • Menjaga kebersihan air
  • Mengurangi polusi
  • Membuang sampah pada tempatnya
  • Menggunakan energi secara bijak

Bumi adalah rumah ibadah terbesar yang diciptakan Allah, dan manusia bertugas menjaganya tetap bersih dan layak bagi generasi mendatang.

Warisan untuk Anak Cucu: Bumi yang Berkah atau Bumi yang Rusak?

Jika manusia terus merusak lingkungan, maka generasi mendatang akan mewarisi:

  • Udara kotor
  • Tanah tandus
  • Air tercemar
  • Ekosistem yang hancur

Namun jika manusia taat pada ajaran Al-Qur’an, mereka akan mewarisi bumi yang:

  • Hijau
  • Sehat
  • Produktif
  • Penuh keberkahan

Al-Qur’an menuntun manusia untuk menjadikan alam sebagai sahabat, bukan ladang kerakusan. Dalam setiap angin, hujan, pohon, dan sungai, terdapat ayat-ayat Allah yang mengingatkan manusia tentang kasih sayang dan keseimbangan ciptaan-Nya.

Larangan merusak bumi dalam Al-Qur’an adalah perintah tegas dan abadi. Mengabaikannya sama saja mengkhianati amanah Allah sebagai khalifah di bumi. Menjaga lingkungan bukan hanya tuntutan ilmiah atau sosial, tetapi kewajiban spiritual bagi setiap Muslim.

Kini saatnya kembali membaca ayat-ayat Allah dalam wujud alam dan memperbaiki cara kita memperlakukannya sebelum bumi benar-benar tidak mampu lagi menanggung ulah manusia.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Khutbah Jumat: Larangan Merusak Lingkungan dalam Al-Qur’an

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *