Kiat Umar bin Khattab Hadapi Cobaan Hidup, Prof Sholihan: Ada Nikmat di Balik Setiap Musibah

SEMARANG (nujateng.com) – Dalam sesi kajian kitab Nashaihul Ibad ke-299 di Masjid At-Taqwa, Prof Sholihan memaparkan secara mendalam Maqalah ke-22 dari Bab Rubā’i, yang berisi panduan agung dari sahabat sekaligus Khalifah kedua, Umar bin Khattab ra. (Raḍiyallāhu ‘anhu).
Inti dari maqalah ini adalah kunci bagi seorang mukmin untuk tetap kuat dan menemukan ketenangan di tengah badai kehidupan, yaitu dengan menyadari bahwa di balik setiap ujian, Allah SWT telah menyediakan empat kenikmatan (hikmah) yang wajib disyukuri.
Deklarasi Iman Sang Khalifah: Empat Nikmat dalam Ujian
Prof. Sholihan mengutip deklarasi tegas Umar bin Khattab, yang menunjukkan level keimanan beliau dalam menyikapi takdir:
“Wallāhi mā butulītu bi-baliyyatin illā wa lillāhi ‘alayya fīhā arba’u ni’āmin.” (Demi Allah, tidaklah aku diuji dengan ujian atau dicoba dengan cobaan, kecuali di dalamnya ada empat nikmat yang Allah berikan kepadaku.)
Berikut adalah penjelasan rinci mengenai keempat nikmat (kiat menghadapi musibah) tersebut:
1. Musibah Tidak Terkait Agama (Idz lam takun fī dīnī)
Nikmat yang pertama adalah menyadari bahwa cobaan yang menimpa tidak berhubungan dengan persoalan agama.
Pentingnya Agama: Prof. Sholihan menjelaskan bahwa ujian yang paling berat (a’ẓamu minal-imtihāni) adalah ujian dalam agama (fīd-dīni), dibandingkan ujian pada badan (fil-badani) atau harta (wal-māli).
Ancaman Ujian Agama: Contoh ujian agama adalah terjatuh kepada maksiat besar, meninggalkan kewajiban, atau yang paling mengerikan, terganggunya bahkan hilangnya iman.
Sikap Umar: Bagi Umar, diuji dengan sakit badan atau kerugian harta adalah hal yang ringan (ringanlah, entenglah) selama agamanya selamat.
2. Ujian Tidak Lebih Besar dari yang Seharusnya (Idz lam takun a’ẓamu minhā)
Nikmat kedua adalah bersyukur karena musibah yang diterima tidak lebih besar daripada yang mungkin terjadi.
Konsep Bersyukur: Poin ini mengajarkan tentang pentingnya rasa syukur saat tertimpa cobaan, karena selalu ada cobaan yang lebih besar yang dialami orang lain.
Falsafah “Untung”: Prof. Sholihan merujuk pada ungkapan dalam tradisi Jawa, yaitu kata “Untung” (beruntung), yang muncul saat musibah. Contohnya, “Untung cuma kaki yang keseleo, bukan tangan,” atau “Untung cuma kerugian harta, bukan nyawa.”
Makna Alhamdulillāh ‘alā kulli ḥāl: Selama seseorang masih bisa berkata “untung,” maka dia masih bisa bersyukur (syukur). Ini membuat musibah terasa ringan, seberat apa pun itu, karena cobaan yang ada tidak ada seberapanya dibandingkan nikmat Allah yang tak terhitung.
3. Tidak Menghalangi Rida Kepada Allah (Idz lam takun muḥarrimun rida bihā)
Nikmat ketiga adalah bahwa musibah tersebut tidak menghalangi sikap rida kepada ketentuan Allah.
Rida Ekspresi Iman: Rida merupakan ekspresi tertinggi dari keimanan terhadap takdir Allah. Jika seseorang betul-betul yakin bahwa segala yang terjadi, baik dan buruk, adalah ketentuan Allah, maka ia harus rida.
Peringatan Keras: Dikutip sebuah hadis Qudsi, bahwa Allah memerintahkan orang yang tidak rida terhadap ketetapan-Nya untuk mencari Tuhan dan bumi selain milik-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pilihan lain bagi mukmin selain rida.
Fungsi Takdir: Takdir diturunkan agar manusia tidak terlalu berbangga diri saat mendapat nikmat, dan tidak terlalu bersedih atau putus asa saat mendapat musibah.
4. Berharap Pahala di Balik Ujian (Inni arjū ṡṡawāba ‘alayhā)
Nikmat keempat adalah adanya peluang untuk berharap mendapatkan pahala (ṡawāb) dari Allah SWT melalui cobaan yang diterima.
Netralitas Ujian: Prof. Sholihan menekankan bahwa nikmat dan ujian/cobaan pada dasarnya bersifat netral. Yang menentukan nilai baik atau buruknya adalah sikap kita terhadap keduanya.
Nikmat → Bersyukur → Pahala
Ujian → Rida dan Sabar → Pahala
Kemuliaan Kesabaran: Bahkan, orang yang sabar dan rida ketika diuji cenderung lebih mulia dibandingkan orang yang kaya dan bersyukur. Sebab, sabar dan rida ketika dalam kesulitan adalah hal yang luar biasa.
Kiat-kiat dari Umar bin Khattab ini menjadi pegangan agar cobaan seberat apa pun yang menimpa umat manusia dapat terasa ringan, dengan memfokuskan pandangan pada sisi nikmat dan hikmah di baliknya.
URL Video Kajian: https://youtu.be/5J4pMbMOE-E
