Hati yang Kosong dari Syukur: Dua Pertanda Bahaya yang Mulai Menggerogoti Umat Muslim
3 mins read

Hati yang Kosong dari Syukur: Dua Pertanda Bahaya yang Mulai Menggerogoti Umat Muslim

NUJATENG.COM – Di tengah derasnya arus media sosial, kita disajikan tampilan hidup orang lain yang seolah sempurna mulai dari flexing harta hingga parade pencapaian tanpa jeda. Akibatnya, sebagian orang tanpa sadar menjadikan standar maya itu sebagai tolok ukur kebahagiaan. Tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam rasa kurang, iri, dan hilangnya syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt.

Padahal, dalam ajaran Islam, syukur adalah salah satu pondasi paling penting untuk menjaga ketenangan batin dan kedekatan dengan Allah. Allah sendiri berjanji bahwa siapa pun yang bersyukur akan ditambahkan kenikmatan, baik duniawi maupun spiritual.

Janji Allah: Syukur Itu Mendatangkan Nikmat, Kufur Nikmat Datangkan Masalah

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7, syukur mendatangkan dua bentuk kenikmatan:

  • Kenikmatan duniawi, berupa ketenangan pikiran, produktivitas, dan hidup yang terasa lebih mudah.
  • Kenikmatan spiritual, yaitu kedamaian hati, cinta kepada Allah, serta meningkatnya kualitas ibadah.

Ulama seperti Syekh Nawawi Banten menegaskan bahwa orang yang membiasakan dirinya bersyukur akan dibukakan lebih banyak pintu nikmat, sementara yang tidak bersyukur akan jauh dari keberkahan.

Dua Tanda Dicabutnya Syukur dari Hati Seorang Muslim

Hilangnya syukur bukan hanya masalah akhlak ia adalah masalah spiritual tingkat tinggi yang berdampak pada cara seseorang memandang hidup. Para ulama menyebutkan dua tanda kuat bahwa syukur perlahan dicabut dari hati seorang Muslim.

1. Mudah Mengeluh dan Sulit Menerima Takdir

Tanda pertama adalah selalu merasa kurang, meski nikmat Allah begitu banyak. Orang yang tidak bersyukur lebih fokus pada kekurangan daripada kebesaran nikmat yang ia miliki. Ia menunda sedekah dengan alasan belum kaya, menunda kebaikan dengan alasan belum sempat, dan menunda kesabaran karena merasa hidup tidak adil.

Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa tidak bersyukur atas yang sedikit, tidak akan bersyukur atas yang banyak.” (HR. Ahmad)

Keluhan yang terus-menerus adalah sinyal bahwa seseorang telah kehilangan rasa tawakal dan syukur kepada Allah.

2. Tidak Menggunakan Nikmat untuk Ketaatan

Tanda kedua adalah menjadikan nikmat sebagai tujuan, bukan sarana ibadah. Ketika syukur dicabut, dunia menjadi orientasi utama. Nikmat seperti harta, kesehatan, jabatan, atau waktu tidak lagi digunakan untuk menolong sesama, memperbanyak ibadah, atau mendekat kepada Allah.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa syukur terdiri dari ilmu, sikap, dan amal:

  • Ilmu: menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
  • Sikap: rasa senang dan lapang dada atas nikmat itu.
  • Amal: menggunakan nikmat untuk menjalankan perintah Allah.

Jika seseorang tidak mengamalkan ketiganya, berarti syukur telah luruh dari hatinya.

Syukur Membawa Bahagia, Kufur Nikmat Membawa Sengsara

Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah” ia adalah gaya hidup seorang Muslim yang sadar bahwa semua yang ia miliki adalah titipan. Ketika syukur hadir, hati menjadi ringan. Ketika syukur hilang, hidup penuh kegelisahan.

Karena itu, menjaga syukur bukanlah pilihan, tetapi kebutuhan spiritual. Dengan memperbanyak syukur, seorang Muslim akan meraih kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Khutbah Jumat: Dua Tanda Dicabutnya Rasa Syukur dari Hati Seorang Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *