Mendedikasikan Diri di Balik Genangan Rob: Kisah Inspiratif Dokter, Nakes, dan Karyawan RSI Sultan Agung
2 mins read

Mendedikasikan Diri di Balik Genangan Rob: Kisah Inspiratif Dokter, Nakes, dan Karyawan RSI Sultan Agung

SEMARANG — nujateng.com -Fenomena banjir tahunan dan rob (limpasan air laut) di kawasan Kaligawe, Semarang, telah menjadi bagian dari dinamika harian Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung.

Namun, di balik genangan air yang kerap menghambat akses jalan, terlihat jelas sebuah dedikasi luar biasa.

Dokter, tenaga kesehatan (nakes), serta seluruh karyawan RSI Sultan Agung menunjukkan komitmen teguh untuk terus mengabdi dan mencari nafkah, dengan satu tujuan utama: melayani pasien tanpa kompromi.

​Bencana sebagai Sahabat Pelayanan

​Bagi personel RSI Sultan Agung, bencana hidrologi seperti rob dan banjir tak lagi dipandang sebagai ancaman luar biasa, melainkan sebagai tantangan yang harus diatasi. Frekuensi bencana yang terjadi bertahun-tahun di kawasan ini telah menumbuhkan budaya kesiapsiagaan di seluruh lini pelayanan.

​”UGD RSI Sultan Agung beroperasi dengan prasangka 24 jam ada atau tidak ada bencana. Fenomena alam banjir dan rob ini telah menjadi sahabat kami,” ujar salah satu perwakilan RSI.

​Dedikasi yang Tak Kenal Usia dan Waktu

​Komitmen ini dihidupkan oleh dedikasi para individu, salah satunya adalah dr. Muslich Ashari, Sp.OG.

Sebagai dokter spesialis kandungan senior yang telah berpuluh tahun mendedikasikan diri di RSI Sultan Agung, beliau adalah cerminan loyalitas. Di usianya yang matang, dr. Muslich tetap setia melayani para ibu hamil dan pasien kandungan, memastikan setiap nyawa yang akan lahir mendapatkan penanganan terbaik, terlepas dari kondisi lingkungan rumah sakit yang dikepung air.

​Kisah lain datang dari para pejuang lapangan seperti dokter Sulaiman.

Saat banjir rob melanda permukiman sekitar dan akses menuju rumah sakit lumpuh total,

Dokter Sulaiman rela naik truk dan bahkan perahu sekoci demi menjangkau dan mengevakuasi pasien di daerah Genuk Indah.

Aksinya, yang dibantu sigap oleh petugas dari Koramil, Polsek Genuk, dan relawan setempat, menunjukkan bahwa batas antara tugas dan panggilan kemanusiaan telah melebur.

​Strategi Cerdas dan Kolaborasi Kemanusiaan

​Komitmen heroik ini didukung oleh strategi cerdas rumah sakit. RSI Sultan Agung membentuk Tim SADEWA (Sultan Agung Disaster, Emergency, and Wary Agile).

Tim ini bertugas melayani masyarakat selama 24 jam saat terjadi banjir dan rob, bahkan menyiapkan transportasi khusus—seperti kendaraan besar—untuk menjemput dan mengantar pasien yang kesulitan akses.

​Sinergi dengan aparat dan masyarakat juga krusial.

​”Kolaborasi ini merupakan fondasi dalam membangun peradaban yang tangguh di tengah ancaman lingkungan. Kesehatan yang kuat di masyarakat adalah kunci peradaban yang berdaya tahan di balik genangan rob Kaligawe,” ujar Direktur Utama RSI Sultan Agung.

​Kisah dr. Muslich, dokter Sulaiman, dan seluruh karyawan di RSI Sultan Agung adalah sebuah potret perjuangan heroik yang membuktikan bahwa dedikasi untuk kemanusiaan tidak luntur oleh kondisi alam yang sulit.

Mereka tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga menunaikan panggilan mulia, menjadikan rumah sakit ini sebagai simbol ketangguhan sejati di tengah tantangan rob.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *