By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Reading: Kajian Kopikhas MWCNU Ngaliyan: Menggali Pesan Mbah Hasyim tentang Keadilan dan Akhlak Bermasyarakat
Share
Font ResizerAa
Search
  • Beranda
  • Berita
  • Khutbah
  • Kolom
    • Artikel
  • Profil
    • Lembaga
    • Tokoh
Have an existing account? Sign In
Follow US
Home » Blog » Kajian Kopikhas MWCNU Ngaliyan: Menggali Pesan Mbah Hasyim tentang Keadilan dan Akhlak Bermasyarakat
Uncategorized

Kajian Kopikhas MWCNU Ngaliyan: Menggali Pesan Mbah Hasyim tentang Keadilan dan Akhlak Bermasyarakat

Saifudin
Last updated: July 24, 2026 5:05 pm
Saifudin
Published: July 24, 2026
Share
SHARE

SEMARANG – nujateng.com – Suasana kajian Kopikhas di Kantor MWCNU Kecamatan Ngaliyan berlangsung hangat dan penuh dinamika. Kajian yang digelar pada Jumat malam tersebut mengangkat pembahasan kitab Irsyadus Sari, yang dibacakan oleh Gus Sa’dullah, dengan Ust. Amir sebagai moderator.
Dalam kajian malam ini, peserta diajak menyelami pemikiran dan pesan Mbah Hasyim mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap ketika bergaul dan hidup bersama masyarakat. Pesan utama yang mengemuka adalah pentingnya berlaku adil, berbuat baik, tidak membalas keburukan dengan keburukan, serta tidak takut terhadap celaan manusia dalam menegakkan kebenaran.
Pembahasan menjadi semakin menarik ketika memasuki sesi tanya jawab dan diskusi. Salah seorang peserta melontarkan pertanyaan yang cukup mengagetkan sekaligus menggugah peserta lainnya, “Apa kepentingan Mbah Hasyim menulis bab ini?”
Pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi diskusi yang luas dan menarik. Salah satu peserta, Pak Agus Hunaifi, menyampaikan bahwa tugas seorang kiai setidaknya memiliki tiga ranah penting. Pertama, ngaji bersama para santri. Kedua, berdakwah melalui ceramah. Ketiga, membaur bersama masyarakat, termasuk dalam kehidupan sosial dan berpolitik (bersiasah).
Menurutnya, seorang kiai tidak cukup hanya berada di ruang pesantren dan menyampaikan ilmu, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan umat, serta memberikan tuntunan dan keteladanan dalam kehidupan bersama.
Peserta lain menambahkan bahwa pembahasan bab tersebut memiliki cakupan yang sangat luas. Pesannya tidak hanya ditujukan kepada pemerintah atau para pemegang kekuasaan. Setiap manusia pada hakikatnya adalah pemimpin, sebagaimana pesan Rasulullah ﷺ dalam hadis tentang kepemimpinan dan tanggung jawab masing-masing.
Karena itu, penekanan tentang keadilan sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah ayat 8 menjadi inti penting yang perlu terus direnungkan. Mbah Hasyim memperkaya pembahasannya dengan berbagai contoh dari kehidupan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Bahkan, dibahas pula bagaimana pada zaman jahiliyah terdapat upaya-upaya memengaruhi atau menyuap dalam urusan zakat, yang menunjukkan pentingnya menjaga amanah dan keadilan dalam mengelola urusan umat.
Pesan tersebut juga dikaitkan dengan prinsip akhlak dalam hadis:
أَحْسِنْ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ
“Berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.”
Pesan ini mengajarkan agar seseorang tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan. Dalam diskusi, peserta juga merumuskan empat hal yang perlu dihindari dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu:
1. Suka membuat kesalahan.
2. Mudah menyalahkan orang lain.
3. Mencari-cari kesalahan orang lain.
4. Nyalahin orang lain atau usil terhadap kehidupan orang lain sebab iri dls.
Dari diskusi tersebut semakin terasa bahwa kajian kitab bukan sekadar membaca teks dan menerjemahkan makna, tetapi menjadi ruang untuk menghubungkan warisan keilmuan ulama dengan persoalan kehidupan masyarakat hari ini.
Waktu pun tidak terasa berjalan. Diskusi yang berlangsung penuh antusias dan rasa ingin tahu itu akhirnya harus berakhir ketika jarum jam menunjukkan sekitar pukul 22.00 WIB. Sebuah kesadaran kembali mengemuka: ilmu, semakin dibahas, justru semakin membuat seseorang merasa haus dan penasaran untuk terus menggali dan mempelajarinya.
Kajian Kopikhas malam itu pun ditutup dengan harapan agar seluruh peserta senantiasa diberikan kekuatan untuk terus belajar, mengamalkan ilmu, dan istiqamah dalam menghadiri majelis ilmu.
“Sampai jumpa di Jumat mendatang. Semoga kita semua dapat terus istiqamah dalam menuntut ilmu dan menghidupkan majelis-majelis kajian.”

You Might Also Like

Terhimpit Masalah Hidup? Bacalah Doa Nabi Yunus, Dijamin Pertolongan Allah Datang Tanpa Diduga
Pemuda Bergerak, Indonesia Bersatu! SMAN 1 Purwareja Klampok Gelar Upacara Sumpah Pemuda
Pengusaha Wajib Amalkan! Doa Pembuka Pintu Rezeki dan Pelancar Usaha yang Dijamin Mustajab
Puncak Hari Santri Nasional 2025 di Semarang: Spirit Jihad Santri dan Peluncuran Gerakan Wakaf Produktif
Habib Umar Muthohar: Jelang Wafatnya Rosulullah Saw, Fatimah Itu Ibarat Habis Sabtu kok Minggu
Share This Article
Facebook Email Print
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

  • ES Money
  • U.K News
  • The Escapist
  • Insider
  • Science
  • Technology
  • LifeStyle
  • Marketing

About US

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

Subscribe US

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?