WASPADA PASCA BANJIR: Ancaman Senyap Bakteri, Amuba, Cacing, dan Lonjakan ISPA
3 mins read

WASPADA PASCA BANJIR: Ancaman Senyap Bakteri, Amuba, Cacing, dan Lonjakan ISPA

SEMARANG – nujateng.com – Musim hujan dan bencana banjir yang melanda beberapa wilayah sering meninggalkan masalah kesehatan yang tak kalah serius: kontaminasi lingkungan.

Air bah yang surut membawa serta campuran berbahaya dari limbah domestik (luapan septic tank), limbah pabrik, dan kotoran hewan.

Campuran kotoran ini menciptakan “sup” patogen tempat bakteri, amuba, virus, dan larva cacing berkembang biak dengan cepat.

​Menurut dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, periode pasca banjir adalah masa krusial.

“Masyarakat tidak boleh lengah. Air kotor yang mencemari lingkungan adalah pintu masuk bagi banyak penyakit menular, terutama yang menyerang saluran cerna, kulit, dan pernapasan,” tegasnya.

Pintu Masuk Penyakit: Air Tercemar dan Tanah Berlumpur

​Ancaman terbesar datang dari air dan sanitasi yang buruk. Penyakit seperti Diare, Kolera, dan Demam Tifoid (Tipes) meningkat tajam karena kuman, termasuk amuba, masuk melalui makanan atau air minum yang terkontaminasi.

​Dr. Agus Ujianto juga menyoroti bahaya kontak langsung dengan lumpur:

Leptospirosis:
Dijuluki “demam tikus,” penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dibawa oleh urine tikus. Bakteri ini menembus tubuh melalui luka terbuka saat bersentuhan dengan lumpur atau air kotor.

Infeksi Cacing Kulit (Cutaneous Larva Migrans):
Larva cacing tambang yang tersebar di tanah berlumpur dapat menembus kulit (umumnya di kaki) ketika berjalan tanpa alas kaki. Gejalanya berupa ruam merah, timbul, dan terasa gatal luar biasa dengan pola seperti ular yang merayap di bawah kulit.

​Penyakit Kulit dan Gatal-Gatal: Kontak lama dengan air kotor yang mengandung bakteri dan jamur memicu infeksi kulit, gatal, ruam, hingga dermatitis.


Risiko ISPA dan Kelompok Paling Rentan

​Selain infeksi dari air, ancaman juga datang dari udara. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu keluhan tertinggi pasca banjir.

Peningkatan kasus ISPA dipicu oleh lingkungan yang lembap, udara dingin, debu, jamur, serta kepadatan di tempat pengungsian.

​”Dalam situasi pasca bencana, daya tahan tubuh seringkali menurun, sehingga virus dan bakteri ISPA mudah menyerang,” kata Dr. Agus.

Ia menekankan bahwa risiko ISPA, beserta penyakit pasca banjir lainnya, sangat tinggi pada kelompok rentan:

​Anak-Anak (terutama Balita):
Memiliki sistem imun yang belum sempurna dan cenderung bermain di area kotor.

​Lansia (Lanjut Usia):

Daya tahan tubuh yang menurun dan kemungkinan memiliki penyakit kronis (seperti asma) yang dapat diperburuk oleh infeksi.

​Individu dengan Penyakit Kronis dan Gizi Buruk:
Kelompok ini kesulitan melawan serangan patogen yang masif.

​Kunci Pencegahan:
Bersih, Lindung, dan Cepat

​Dr. Agus Ujianto mengajak masyarakat untuk disiplin menerapkan langkah-langkah pencegahan, fokus pada tiga pilar utama:

​Lindungi Diri:
Selalu gunakan sepatu bot, sarung tangan, dan pakaian tertutup saat membersihkan lumpur atau berada di air kotor untuk mencegah masuknya kuman dan larva cacing melalui kulit. JANGAN berjalan tanpa alas kaki.

​Sanitasi Mutlak:
Rebus air minum hingga mendidih. Cuci tangan dengan sabun setelah kontak dengan air kotor. Masak makanan hingga matang sempurna untuk memutus rantai penularan penyakit saluran cerna dan cacing.

​Kendali Lingkungan dan Pernapasan: Bersihkan rumah dengan disinfektan dan gunakan masker saat membersihkan debu atau berada di keramaian pengungsian. Keringkan genangan air untuk mencegah nyamuk DBD.

​”Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala seperti demam tinggi, diare berdarah, atau muncul ruam gatal yang mencurigakan seperti garis merayap di kulit, segera cari bantuan medis. Penanganan dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi fatal,” pungkas Dr. Agus.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *