
SEMARANG — nujateng.com – Kegiatan Sabtu Ceria di Masjid Islamic Centre Jawa Tengah kembali berlangsung dengan penuh semangat dan kekhidmatan, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan diawali dengan istighosah bersama, kemudian dilanjutkan kajian keislaman yang disampaikan oleh Dr. KH. Multazam Ahmad, MA.
Dalam kajiannya, Dr. KH. Multazam Ahmad mengangkat tema tabayun, dengan mengajak jamaah untuk semakin bijak dalam menerima, menyampaikan, dan menyebarkan informasi, khususnya di tengah derasnya arus komunikasi digital.
Beliau menjelaskan kandungan QS. Al-Hujurat ayat 11, yang mengajarkan umat Islam agar tidak merendahkan, mencela, atau memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan yang lain, boleh jadi perempuan yang diolok-olok lebih baik daripada perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Menurut beliau, perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam pola komunikasi manusia. Tahun 1970–1980-an mulai berkembang penggunaan komputer, kemudian internet berkembang pada 1990-an, hingga memasuki era media sosial yang memberikan dampak luar biasa dalam kehidupan masyarakat.
“Media sosial memiliki sisi positif dan negatif. Karena itu, mari kita gunakan untuk membuat dan menyebarkan sesuatu yang baik,” pesan beliau.
Dr. KH. Multazam kemudian mengingatkan pentingnya prinsip tabayun, terlebih ketika seseorang mendapatkan informasi melalui media sosial. Jangan sampai informasi yang belum jelas kebenarannya langsung dipercaya, dikomentari, atau disebarluaskan.
Kajian juga dilanjutkan dengan pesan Al-Qur’an tentang pentingnya keberadaan umat yang menyeru kepada kebaikan:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَأُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran: 104)
Beliau mengaitkan pesan tersebut dengan kehidupan di era digital. Jika dahulu dikenal ungkapan “mulutmu adalah harimaumu”, maka pada zaman media sosial ungkapan tersebut dapat diperluas menjadi “jemarimu adalah harimaumu.”
Sebab, apa yang ditulis dan dikirim melalui telepon genggam dapat menjadi jejak digital dan berpotensi menimbulkan dampak yang luas.
Beliau memberikan contoh ringan yang menggambarkan pentingnya memahami konteks dalam komunikasi digital. Dalam sebuah percakapan melalui chat, pernah terjadi tulisan “terima kasih, Dog”. Padahal maksud sebenarnya adalah panggilan “Dok” untuk seseorang yang bergelar doktor. Kesalahan satu huruf saja dapat mengubah makna dan menimbulkan salah persepsi.
Karena itu, jamaah diajak untuk tidak mudah berprasangka, tidak tergesa-gesa menyimpulkan, serta membiasakan diri melakukan tabayun sebelum memberikan respons maupun menyebarkan informasi.
Di penghujung kajian, Dr. KH. Multazam Ahmad mengajak jamaah untuk senantiasa memohon pertolongan Allah agar diberikan tuntunan dalam menjalani kehidupan.
“Semoga Allah selalu menuntun kita dan memberikan keberkahan di dalam keluarga kita,” demikian doa yang disampaikan beliau.
Sosialisasi Gerakan Wakaf Karpet dan Persiapan Geber Mas
Dalam sesi ramah tamah setelah kajian, jamaah juga mendapatkan informasi mengenai sejumlah agenda yang akan dilaksanakan di Masjid Islamic Centre Jawa Tengah.
Salah satunya adalah Gerakan Wakaf Karpet dalam rangka menyambut bulan Rabiul Awal. Pada bulan tersebut, Masjid Islamic Centre Jawa Tengah akan menggelar rangkaian kegiatan pembacaan Maulidurrasul selama satu bulan penuh, yang insya Allah akan ditutup dengan Maulid Akbar pada 31 Agustus 2026 bersama Habib Umar Muthohar.
Gerakan wakaf karpet diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk ikut mengambil bagian dalam memakmurkan masjid sekaligus menjadi amal jariyah.
Selain itu, disampaikan pula persiapan program Geber Mas (Gerakan Bersih Masjid) yang akan dilaksanakan pada Senin, 10 Agustus 2026. Kegiatan tersebut akan melibatkan sejumlah unsur, di antaranya pegawai Kementerian Agama, perwakilan unit sekolah, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Majelis Taklim Sakinah, remaja masjid, serta warga sekitar.
Program Geber Mas ini diharapkan menjadi langkah awal yang baik dalam membangun budaya kebersihan masjid secara bersama-sama. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari sinergi berbagai unsur masyarakat dan pemerintah.
Program perdana ini diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi gerakan bersama yang semakin luas.
Sabtu Ceria bukan sekadar agenda kajian rutin, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat ilmu, silaturahmi, kepedulian sosial, sekaligus membangun semangat bersama dalam memakmurkan Masjid Islamic Centre Jawa Tengah.
