
SEMARANG – nujateng.com – Kajian Spesial Ramadan di Masjid Islamic Centre Jawa Tengah menghadirkan Dr. KH. Multazam Ahmad, M.A pada Ahad pagi yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Dalam tausiyahnya, beliau menegaskan bahwa ibadah puasa merupakan ibadah yang bersifat sirr (rahasia), berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya.
Kajian tersebut merupakan cuplikan dari kitab Nashaihul Ibad yang sarat dengan nasihat-nasihat hikmah untuk memperbaiki kualitas ibadah dan kehidupan seorang Muslim.
Menurut beliau, puasa adalah ibadah yang sangat spesial karena menjadi hubungan langsung antara hamba dengan Allah SWT (hablum minallah). “Shalat bisa terlihat gerakannya, sedekah bisa diketahui orang, tetapi puasa hanya Allah yang benar-benar mengetahui apakah seseorang itu sungguh-sungguh berpuasa atau tidak,” ungkap beliau.
Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, puasa dibagi menjadi tiga tingkatan. Pertama, puasa tingkat dasar, yakni sekadar menahan lapar dan dahaga. Kedua, puasa khusus, yaitu menjaga anggota badan dari perbuatan dosa. Ketiga, puasa khususul khusus, yakni puasanya hati dari segala selain Allah.
Dengan penuh kerendahan hati, beliau menyampaikan evaluasi diri. “Kalau melihat kondisi kita, usia sudah lanjut, tetapi ketika dievaluasi kok masih berada di puasa tingkat dasar saja. Maka Ramadan ini momentum untuk naik kelas, meningkatkan kualitas puasa kita ke level yang lebih tinggi,” tuturnya.
Beliau juga menyampaikan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi tentang empat golongan yang dirindukan surga:
1. Orang yang gemar membaca Al-Qur’an.
Jamaah diajak untuk meluangkan waktu membaca Al-Qur’an dalam kondisi apa pun. “Meskipun sedang menunggu istri belanja di mobil, sempatkan membaca Al-Qur’an,” pesannya.
2. Hafidzul lisan, yaitu orang yang menjaga lisannya.
Menjaga ucapan memang tidak mudah, bahkan terasa angel (susah). Namun, menurut beliau, hal itu harus terus dilatih agar lisan tidak menyakiti, memfitnah, atau berkata sia-sia.
3. Orang yang memberi kepada fakir miskin.
Kepedulian sosial menjadi bagian penting dari kesempurnaan puasa. Beliau menyinggung fenomena sosial di Semarang dan pengalamannya saat berkunjung ke Kediri bertemu dengan Gus Kautsar. Dalam refleksinya, beliau menyoroti potret kehidupan masyarakat, termasuk persoalan sosial seperti jalan rusak dan kesadaran kewajiban publik, sebagai bahan muhasabah bersama untuk meningkatkan kepedulian.
4. Orang yang berpuasa dengan penuh harap akan ridha Allah SWT.
Puasa tidak sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi dijalankan dengan niat tulus dan harapan mendapatkan ridha-Nya.
Di akhir kajian, beliau mengajak seluruh jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum peningkatan kualitas diri. “Semoga kita termasuk bagian dari orang-orang yang dirindukan surga,” pungkasnya, disambut doa dan harapan dari para jamaah yang hadir.


