
SEMARANG (nujateng.com) – Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat angka perceraian yang cukup memprihatinkan, yakni mencapai 67.500 kasus.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 54.000 kasus merupakan cerai gugat yang diajukan oleh pihak perempuan, sementara 13.500 sisanya adalah cerai talak.
Melihat fenomena ini, Ketua Forum Ayah Ungaran, Syaiful Huda, bergerak cepat. Sebagai wujud keprihatinan sekaligus solusi nyata, ia menginisiasi Sekolah Pra Nikah yang khusus ditargetkan untuk generasi muda atau Gen Z.
Acara peluncuran (launching) Sekolah Pra Nikah ini digelar di Resto Tahu Bakso Ibu Puji, Jl. Diponegoro No. 14 Mijen, Gedanganak, Ungaran, pada Ahad (17/05/2026).
Kurikulum Sekolah Pra Nikah: 6 Pertemuan Menuju Keluarga Sakinah
Program ini dirancang secara intensif selama 6 minggu (6 kali pertemuan). Adapun 6 materi pokok yang akan dipelajari oleh para peserta meliputi:
Haruskah Menikah? (Meluruskan niat dan tujuan pernikahan)
Fiqih Munakahat (Hukum-hukum pernikahan dalam Islam)
Membangun Mental dan Finansial untuk Menikah
Kesehatan Reproduksi
Komunikasi Efektif dalam Keluarga
Ta’aruf, Jalan Terindah Menuju Pernikahan

“Peserta yang ikut awalnya berjumlah 111 orang, dan yang siap melanjutkan ke kelas intensif ada 60 orang. Mereka tidak hanya berasal dari Kabupaten Semarang, tetapi ada juga yang jauh-jauh dari Kabupaten Kudus dan Kabupaten Grobogan,” urai Syaiful Huda.
Pentingnya Ilmu dan Sosialisasi Perda Ketahanan Keluarga

Hadir sebagai pemateri, Ida Nur Farida, anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah yang membidangi Kesejahteraan Rakyat (termasuk pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, keagamaan, dan sosial). Selain membagikan ilmu, Ida juga memanfaatkan momentum ini untuk mensosialisasi Peraturan Daerah (Perda) tentang Ketahanan Keluarga.
“Nikah itu bagian dari ibadah yang panjang. Maka, diperlukan ilmu yang cukup sebelum memutuskan untuk menikah, karena menikah itu tidak cukup hanya dengan modal cinta,” tegas Ida.
Ida juga menjabarkan konsep konsep Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah secara mendalam kepada Gen Z.
“Sakinah itu sumbernya dari mawaddah dan rahmah. Mawaddah itu bersumber dari hal luar/fisik seperti kecantikan, ketampanan, kepandaian, atau kekayaan. Sedangkan warahmah itu sumbernya dari dalam hati; berupa kesetiaan, kesabaran, saling menghormati, dan menghargai. Jika keluarga memiliki ketiganya, pernikahan akan berjalan panjang,” lanjutnya.
Pasca-menyelesaikan 6 materi ini, Ida berharap ada pendampingan berkelanjutan, misalnya pertemuan rutin bulanan sebagai circle positif agar para peserta konsisten belajar.
Habiburrahman El Shirazy: Rasulullah adalah Model Keluarga Idaman
Dalam kesempatan yang sama, novelis sekaligus ulama terkemuka, Dr. Phil Habiburrahman El Shirazy, Lc., M.A., turut memberikan pandangannya kepada awak media nujateng.com.
Menurut pria yang akrab disapa Kang Abik ini, model keluarga idaman terbaik sepanjang masa adalah keluarga Rasulullah SAW.
“Untuk teladan yang lebih dekat dengan kita, kita bisa mencontoh keharmonisan keluarga pendiri NU Kyai Haji Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah Kyai Haji Ahmad Dahlan,” ujar penulis novel Ayat-Ayat Cinta tersebut.

Tantangan Gen Z di Era Media Sosial
Kang Abik mengingatkan bahwa tantangan Gen Z hari ini jauh lebih berat akibat arus informasi yang tidak terbendung.
“Di era medsos ini, perilaku publik figur yang kawin-cerai, hingga pengaruh tontonan seperti Drakor (Drama Korea) dan Dracin (Drama China) perlu diwaspadai. Ormas-ormas Islam harus saling aware untuk memberikan pembekalan dan keilmuan kepada anak-anak Gen Z sebelum mereka memutuskan menikah,” urainya.
Beliau juga mengingatkan kembali mengenai hukum pernikahan dalam Islam yang bersifat dinamis, tergantung kondisi masing-masing individu. Hukum nikah bisa menjadi wajib, sunnah, mubah, bahkan haram.
”Jika seseorang sudah tidak bisa menahan syahwat dan ia mampu secara finansial serta fisik, maka hukumnya wajib. Namun, jika pernikahan itu justru menimbulkan kemudaratan atau kezaliman, maka hukumnya bisa menjadi haram,” jelas Kang Abik.
Sebagai penutup, Ustadz Habiburrahman menyampaikan sebuah pesan mendalam bagi para calon pengantin agar selalu menjaga kesetiaan.
“Menikah adalah ibadah yang paling nikmat. Maka jagalah keluarga agar tetap sakinah, mawaddah, warahmah. Jika suatu saat di luaran sana Anda menemukan ada orang lain yang terlihat lebih menarik, segeralah pulang. Sebab, apa yang ada di luaran sana, pasanganmu di rumah juga memilikinya,” pungkasnya.***
