
SEMARANG – nujateng.com – Suasana pagi di Islamic Centre Jawa Tengah dipenuhi jamaah yang antusias mengikuti kajian rutin Ramadan. Dalam kesempatan tersebut, Dr. H. Multazam Ahmad, MA menyampaikan tema tentang keutamaan puasa dengan mengangkat hadis:
صُومُوا تَصِحُّوا
“Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.”
Beliau menjelaskan bahwa makna “sehat” dalam hadis tersebut tidak hanya sebatas sehat jasmani, tetapi juga sehat rohani. Secara fisik, puasa memberi kesempatan tubuh untuk beristirahat dan melakukan detoksifikasi alami. Namun yang lebih utama adalah kesehatan spiritual: hati menjadi lebih bersih, jiwa lebih tenang, dan ibadah semakin khusyuk.
Menurut beliau, sebelum Ramadan banyak orang menjalani hari-hari secara biasa saja. Namun ketika memasuki bulan puasa, semangat beribadah dan beraktivitas tampak meningkat secara signifikan. Meski tidak sarapan dan tidak ngopi, kaum muslimin tetap bersemangat bekerja, belajar, bersedekah, dan menghadiri majelis ilmu.
Mengutip tafsir Ibnu Katsir pada Surah Al-Qur’an, khususnya Surat An-Nahl ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً…
Allah berjanji akan memberikan hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) bagi siapa saja yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. Kehidupan yang baik ini mencakup ketenangan hati, kecukupan rezeki, dan keberkahan hidup—yang sangat terasa di bulan Ramadan.
Dr. Multazam juga menjelaskan bahwa Ramadan memiliki banyak nama yang menunjukkan keutamaannya, di antaranya:
Syahrus Shiyam (bulan puasa)
Syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an)
Syahrus Shadaqah (bulan sedekah)
Syahrul Ibadah (bulan ibadah)
Semua itu menunjukkan bahwa Ramadan adalah bulan penuh keberkahan dan kecukupan dari Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya.
Beliau menambahkan bahwa kewajiban puasa Ramadan disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriyah. Lalu bagaimana dengan puasa sebelum adanya kewajiban Ramadan? Umat Islam telah mengenal puasa-puasa sunnah seperti puasa Yaumul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), puasa 10 Muharram (‘Asyura’), serta puasa di bulan-bulan tertentu seperti Rajab. Bahkan dalam tradisi masyarakat Jawa, dikenal pula puasa weton yang diamalkan oleh para wali dan sesepuh sebagai bentuk latihan spiritual.
Secara historis, bulan Muharram termasuk bulan yang dimuliakan, di mana pada masa dahulu diharamkan peperangan. Ini menunjukkan nilai kesucian dan penghormatan terhadap waktu-waktu tertentu dalam Islam.
Menariknya, Dr. Multazam juga meninjau kata shaum dari pendekatan huruf-hurufnya dalam makna tarbawi:
Shad diartikan sebagai Shidqul Qaul (jujur dalam perkataan),
Wawu dimaknai sebagai Wara’ (menjaga diri dari yang haram dan syubhat),
Mim melambangkan Muttaqin (menjadi pribadi yang bertakwa).
Dengan demikian, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi proses pendidikan diri (tarbiyah) untuk memperkuat ilmu, amal, serta semangat amar ma’ruf nahi munkar. Semangat i’tikaf dan kesungguhan mendekatkan diri kepada Allah menjadi ciri khas bulan suci ini.
Kajian ditutup dengan ajakan agar jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri secara menyeluruh—fisik, mental, dan spiritual—agar benar-benar meraih derajat takwa sebagaimana tujuan utama disyariatkannya puasa.


