Nujateng – Di tengah situasi politik yang dianggap semakin repetitif terhadap pola kekuasaan masa lalu, KontraS kembali menegaskan bahwa Aksi Kamisan bukan sekadar ritual mingguan. Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menyatakan bahwa aksi diam berpayung hitam yang digelar setiap Kamis di depan Istana Negara itu merupakan bentuk nyata perlawanan terhadap jejak otoritarianisme yang masih bertahan dalam sistem pemerintahan Indonesia. Kontras Warning! Aksi Kamisan Disebut Benteng Terakhir Lawan Otoritarianisme Warisan Orde Baru Aksi Kamisan Jadi Simbol Perlawanan yang Tak Pernah Padam
Dalam Aksi Kamisan ke-889, Kamis (4/12/2025), Dimas mengungkapkan bahwa kultur impunitas—yang lahir dari praktik kekuasaan otoriter—masih merajalela. Menurutnya, hal inilah yang membuat keluarga korban pelanggaran HAM berat terus menuntut pertanggungjawaban negara.
“Ada ketidakadilan yang dirasakan oleh keluarga korban karena tidak adanya mekanisme hukum yang menghukum pelaku pelanggaran HAM,” tegasnya.
“Sudah hampir dua tahun Prabowo menjadi Presiden, tetapi belum ada pejabat yang berani menyebut bahwa dia pelanggar HAM.”
Baca Juga: Ketika UAS Melantunkan Sholawat Thohirul Qolbi di Alun Alun Banjarnegara…
Pertanggungjawaban Tragedi 1998 Masih Mandek
Dimas juga menyoroti mandeknya proses hukum terkait tragedi kemanusiaan 1998 dan berbagai pelanggaran HAM berat lainnya. Ia menyebut bahwa hingga kini belum ada langkah konkret untuk membuka kembali pertanggungjawaban pihak-pihak yang diduga terlibat.
Spanduk Aksi Kamisan Masih Penuhi Wajah-Wajah yang Menunggu Keadilan
Dalam aksi tersebut, peserta tetap membawa spanduk berisi foto para korban maupun individu yang diduga terlibat dalam kasus-kasus pelanggaran HAM.
“Belum ada mekanisme hukum yang bisa menyentuh persoalan tanggung jawab atas tragedi 1998. Nama-nama itu masih terpampang jelas dalam spanduk Aksi Kamisan,” ujar Dimas.
Gejala Otoritarian Dianggap Bangkit dalam Wajah Baru
Dimas memperingatkan bahwa jika gejala otoritarianisme ini dibiarkan, Indonesia dapat kembali terseret dalam pola kekuasaan menyerupai era Orde Baru—bukan dalam bentuk sosok, tetapi dalam nilai-nilai dan praktik kekuasaannya.
Baca Juga: Pelatihan Totok Punggung Dasar & Pendalaman Digelar di Semarang, Dibuka oleh Wakil Wali Kota
“Hantu Orde Baru Masih Hidup”
“Hari ini tak ada sosok Soeharto, tetapi nilai dan paradigma otoritarianisme ala Soeharto masih hidup dan dipertahankan oleh orang-orang berkuasa,” jelasnya.
Anak Muda Menjadi Garda Moral
Dalam orasinya, Dimas juga menekankan peran generasi muda sebagai kekuatan moral dalam menjaga demokrasi. Ia menyebut sejumlah aktivis seperti Deltia Dwi Anjani, Hanna Karen, Harits Anhar, Syahdan Husein, Muzaffar Salim, Laras Faizzaty, Dera, hingga tokoh HAM Munir dan Sam Umar, sebagai simbol keberanian melawan praktik kekuasaan represif.
“Mereka punya keteguhan untuk berpihak pada yang tertindas dan menjaga ruang demokrasi,” kata Dimas, menutup orasinya.
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: KontraS Warning! Aksi Kamisan Disebut Benteng Terakhir Lawan Otoritarianisme Warisan Orde Baru
