Pertanian Ramah Lingkungan: Jurus Petani Kendal Tingkatkan Hasil dengan Biaya Murah
Sukorejo, Kendal – nujateng.com – Sebuah inisiatif edukasi dan mentoring mengenai pertanian ramah lingkungan kembali digelar di kediaman Kang Ayis, Dusun Tlodas, Desa Pesaren, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jumat (6/12/2025). Acara ini menarik puluhan petani dan pegiat pertanian dari berbagai wilayah, termasuk Sukorejo, Weleri, Kendal, dan Semarang, yang antusias mempelajari cara bertani secara ideal dan berkelanjutan.
Program yang didampingi oleh Kang Ayis ini berfokus pada filosofi dasar bahwa petani tidak hanya harus benar dalam menanam, tetapi juga ideal dalam berbudidaya, dengan tetap menjaga keseimbangan alam.
- Produksi Pupuk Organik Mandiri: Hemat Biaya Hingga Nol Rupiah
Dalam sesi yang berfokus pada pertanian berkelanjutan, materi diajarkan secara bertahap setiap dua minggu sekali, meliputi dasar pembibitan, perawatan, penanggulangan hama, hingga seluruh masalah pertanian.
Salah satu materi utama adalah cara memperbanyak mikroba dan pupuk organik secara mandiri. Peserta diajarkan membuat Nitrobacter sebagai penambat nitrogen, Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), serta mikroba dekomposer lainnya.
“Pupuk yang kami buat sangat pekat. Dari satu liter pupuk, kita bisa mengencerkannya hingga 50 liter, artinya satu liter bisa dipakai untuk tiga tangki ukuran 16 liter,” jelas Kang Ayis.
Ia menambahkan, teknik ini memungkinkan petani memperbanyak sendiri pupuk dengan biaya yang sangat murah, bahkan mendekati 0 rupiah, sehingga secara signifikan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia pabrikan.
Selain itu, metode pengendalian hama juga dibahas, termasuk penggunaan berbagai jenis daun lokal di sekitar lahan yang berfungsi sebagai penangkal hama alami. Praktik ini didorong untuk menghasilkan panen yang lebih sehat dan menekan biaya produksi.
Sorotan Kendala Lahan dan Usulan Pemanfaatan Lahan Idle
Diskusi dalam mentoring ini juga menyentuh aspek ekonomi. Kang Ayis menyoroti pergeseran peluang bisnis, di mana keuntungan terbesar, terutama di perkotaan, kini tidak hanya dari hasil panen, tetapi juga dari penjualan edukasi dan workshop pertanian.
Namun, Pak Edi, salah satu peserta dari Kendal, menyoroti kendala klasik: lahan dan biaya perawatan yang tinggi di area Sukorejo/Batuan. Ia mengajukan usulan strategis pemanfaatan lahan idle (lahan tidur) yang tidak terpakai, seperti area di sekitar jalan tol (Rumija) atau aset pemerintah, melalui sistem kerja sama seperti bagi hasil.
Pusat Pembibitan dan Kesepakatan Harga Bersama
Usai sesi yang intens, para peserta mempererat silaturahmi dengan salat berjamaah dan sesi santai sambil menikmati kopi.
Di lokasi tersebut, tersedia beragam bibit tanaman unggul yang menjadi bagian dari pembahasan, di antaranya kopi, durian, alpukat, nangka, pete, mangga, rambutan, klengkeng, dan stroberi. Dalam pertemuan ini, disepakati bahwa bibit cabai jawa hibrida akan diproduksi mandiri dan sebagian diambil dari Temanggung, dengan target harga per bibit tidak melebihi Rp7.000 untuk pembelian kolektif.

