Ta’dhim: Ilmu Tak Akan Turun pada Hati yang Sombong Mengapa Santri Dulu Utamakan Adab Sebelum Kitab?
3 mins read

Ta’dhim: Ilmu Tak Akan Turun pada Hati yang Sombong Mengapa Santri Dulu Utamakan Adab Sebelum Kitab?

NUJATENG.COM – Di era serba cepat dan serba menuntut seperti hari ini, banyak orang mengejar ilmu namun melupakan adab. Banyak yang ingin menjadi pintar, tetapi tidak ingin merendah. Bahkan tak jarang, sikap hormat santri kepada guru seperti mencium tangan, menundukkan pandangan, atau menjaga suara dianggap sebagai budaya feodal. Padahal, dalam tradisi para ulama, ta’dhim bukan tentang kasta sosial, tetapi tentang cara hati menyambut cahaya ilmu.

Adab Sebelum Ilmu: Warisan Ulama yang Mulai Dilupakan

Imam Malik, pendiri Mazhab Maliki, pernah berkata penuh kerendahan hati:

“Aku belajar adab selama 30 tahun, dan belajar ilmu selama 20 tahun. Bahkan aku berharap seluruh waktuku itu menjadi adab semata.”

Ini bukan ungkapan puitis belaka. Ulama besar seperti beliau memahami bahwa ilmu tidak akan tinggal di hati yang keras, apalagi sombong. Bahkan murid beliau, Abdullah bin Wahb, membuka lembaran kitab dengan sangat pelan di hadapan Imam Malik agar suaranya tidak mengganggu sang guru. Begitu besar rasa hormat yang mereka jaga.

Mengapa Adab Sedemikian Penting?

Dalam tradisi para ulama, adab adalah pintu manfaat. Ilmu hanyalah teks tanpa makna apabila dibawa oleh hati yang tak menghormati pembawanya.

Dari Madinah ke Damaskus: Adab Para Ulama Syam

Di Damaskus, adab ini diwariskan turun-temurun. Syekh Wahbah az-Zuhayli mufassir kontemporer yang diakui dunia tetap duduk menunduk ketika gurunya, Syekh Mustafa az-Zarqa’, berbicara. Padahal ia sudah menjadi profesor, mufti, dan ulama kaliber internasional.

Beliau pernah menegaskan:

“Murid wajib memuliakan gurunya, baik di hadapan maupun di belakangnya. Tidak mendahuluinya berbicara, tidak meninggikan suara di atas suaranya, dan tidak bosan berlama-lama bersamanya. Adab kepada guru adalah kesempurnaan mengambil manfaat ilmu.”

Inilah ta’dhim: mengagungkan ilmu, bukan mengagungkan orang.

Ta’dhim Bukan Feodalisme: Bedakan Tunduk Karena Kuasa dan Tunduk Karena Cinta

Banyak yang salah kaprah. Mereka menyamakan adab dengan penindasan. Padahal, hakikat keduanya sangat berbeda:

  • Feodalisme memaksa tunduk karena kuasa.
  • Ta’dhim mengajarkan tunduk karena cinta dan penghormatan kepada ilmu.

Imam al-Qurtubi bahkan menegaskan bahwa meninggikan suara di hadapan orang berilmu termasuk perbuatan tercela, mengambil peringatan dari ayat Al-Qur’an:

“Jangan meninggikan suaramu di atas suara Nabi.” (QS. al-Hujurat: 2)

Jika kepada Nabi saja begitu, hormat kepada pewaris ilmunya adalah kelanjutan logis dari adab itu.

Para Ulama Paham: Cahaya Ilmu Tak Turun pada Hati yang Angkuh

Sang Raja Penyair, Ahmad Syauqi, menggubah syair legendaris tentang guru:

“Berdirilah untuk gurumu dan muliakanlah ia. Sebab guru hampir saja menyamai derajat seorang rasul.”

Bukan berarti guru itu maksum. Tetapi karena ia adalah perantara sampainya ilmu kepada murid. Tanpa guru, tak ada cahaya yang bisa dipahami.

Perkataan Ulama yang Menjadi Kaidah Emas

Syaikh al-Zarnuji, dalam kitab Ta’limul Muta’allim, menuliskan:

“Barang siapa tak beradab, ia tidak akan memperoleh ilmu.”

Artinya, adab adalah syarat diterimanya ilmu, bukan sekadar formalitas sosial.

Ta’dhim adalah Jalan Keberkahan, Bukan Pengkultusan

Ta’dhim bukanlah ritual memuja guru. Ia adalah kerendahan hati murid agar hatinya siap menerima keberkahan ilmu. Orang yang mencium tangan guru bukan sedang merendahkan diri, tetapi meninggikan martabat ilmu yang ia cari.

Adab mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi para ulama itulah pondasi. Sebab ilmu tidak akan turun kepada hati yang congkak.

Ketika engkau menghormati guru, ketahuilah:
itu bukan feodalisme, itu warisan cinta dari generasi ulama yang beradab.***

Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di nuonline.id dengan judul: Ta’dhim sebagai Jalan Keberkahan Ilmu: Telaah Etika Santri Menurut Ulama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *