nujateng.com – KH. Maimun Zubair atau akrab disapa Mbah Moen, dikenal sebagai ulama besar kharismatik yang meninggalkan warisan luar biasa dalam dunia pendidikan pesantren.
Tak hanya melahirkan ulama besar dan pemimpin bangsa, beliau juga membentuk generasi yang berilmu dalam, berakhlak mulia dan ikhlas dalam perjuangan.
Melalui riset dan pengamatan terhadap pola pendidikan KH. Maimun Zubair, penulis menemukan tujuh rahasia mendidik anak dan santri yang bisa menjadi inspirasi bagi para orang tua, guru, maupun pengasuh pesantren di masa kini.
1. Peran Ibu yang Sentral dalam Pendidikan
Menurut KH. Maimun Zubair, keberhasilan pendidikan anak dan santri tidak lepas dari peran seorang istri salehah.
Beliau selalu menekankan pentingnya mencari pasangan yang ahli riyadlah (tirakat) dan tidak terlalu mencintai dunia.
Istri yang salehah, menurut beliau, adalah yang menjadikan dunia sebagai wasilah ibadah dan perjuangan, bukan tujuan utama.
Potret istri beliau sendiri adalah sosok yang cinta ilmu, rajin ibadah malam, gemar berdoa, dan menghormati ulama.
Dari rahim wanita seperti inilah lahir generasi yang cinta ilmu dan cinta ulama.
2. Menjaga Rizki Halal, Menolak Syubhat
Salah satu prinsip utama KH. Maimun Zubair dalam mendidik anak dan santri adalah menjaga kehalalan rizki.
Beliau sangat berhati-hati dalam memastikan makanan yang dikonsumsi keluarga dan santri bersih dari syubhat apalagi haram.
Kiai Maimun membedakan rizki dari berbagai sumber seperti aktivitas politik, ceramah, atau hadiah pejabat.
Rizki yang diberikan untuk keluarga dan santri harus benar-benar bersih agar membentuk karakter yang lurus, tenang dan berkah.
Beliau menegaskan, “Darah yang dimasuki makanan haram akan membentuk karakter yang keras dan jauh dari keberkahan.”
3. Mengharap Berkah dari Para Kiai dan Ulama
KH. Maimun Zubair dikenal sebagai sosok yang penuh adab terhadap para ulama. Beliau sering memohon do’a dan berkah dari para guru dan tamu yang datang ke kediamannya.
Menurut kisah KH. Nashir Farah Tambak Beras, Kiai Maimun sering memanggil santri tertentu untuk diberi ijazah khusus di kamarnya bentuk perhatian dan do’a langsung dari sang guru.
Rumah beliau selalu terbuka bagi para habaib, ulama dan orang saleh.
Dari merekalah beliau memohon do’a agar anak-anak dan santrinya menjadi kader penerus agama yang berakhlak dan berilmu tinggi.
4. Teladan dalam Istiqamah
Salah satu kunci keberhasilan pendidikan ala KH. Maimun Zubair adalah keteladanan dalam istiqamah.
Beliau tetap mengajar meskipun baru pulang dari perjalanan jauh atau acara besar.
Bagi beliau, istiqamah adalah tanda keikhlasan dan jalan menuju keberkahan hidup.
Bahkan di usia senjanya, beliau tetap mengajar kitab hingga tuntas, sebagaimana terjadi di bulan Ramadan 1440 H ketika beliau menuntaskan pengajian kitab tasawuf karya Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani.
Inilah pelajaran penting: ilmu tidak hanya diajarkan dengan lisan, tapi juga dengan keteladanan dan konsistensi.
5. Tawadhu’ dan Kerendahan Hati
KH. Maimun Zubair adalah cerminan ulama sejati yang penuh tawadhu’.
Beliau tidak pernah merasa paling pintar atau paling suci. Meski ilmunya sangat luas, beliau tetap gemar membaca, belajar, dan meminta nasihat dari ulama lain.
Dalam pandangannya, tawadhu’ adalah kunci kemuliaan.
Orang yang rendah hati akan terus menjadi pembelajar sepanjang hayat, selalu introspektif dan tidak mudah meremehkan orang lain.
Beliau bahkan sering meminta do’a kepada santri-santrinya, sebagai wujud kerendahan hati dan penghormatan terhadap setiap jiwa yang berjuang di jalan Allah.
6. Hidup Sederhana dan Gemar Bersedekah
Kesederhanaan adalah ciri khas KH. Maimun Zubair. Meski dikenal secara nasional dan internasional, rumah beliau tetap sederhana.
Salah satu santri beliau, KH. Ali Mashar dari Pakis, Tayu, Pati, menceritakan bahwa Mbah Moen sangat dermawan dan sering membantu pembangunan masjid di berbagai daerah.
Setiap tamu yang datang selalu disuguhi hidangan ala santri yang sederhana namun penuh kehangatan.
Dari sikap ini, kita belajar bahwa kemuliaan seorang ulama bukan diukur dari kemewahan hidupnya, melainkan dari ketulusan memberi dan kesahajaan sikapnya.
7. Kaderisasi yang Berkesinambungan
KH. Maimun Zubair meneladani tradisi ulama terdahulu dalam mengkader anak dan santri menjadi pemimpin umat.
Banyak alumni Pondok Pesantren Al Anwar Sarang yang kemudian mendirikan pesantren sendiri di berbagai daerah, seperti KH. Naf’an dari Kudus yang menamai pesantrennya Al Maumuniyah.
Kaderisasi ala Mbah Moen tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi juga penanaman ruh perjuangan dan nilai-nilai keikhlasan.
Inilah sebabnya banyak murid beliau yang berhasil menjadi pemimpin, dai dan penggerak masyarakat dengan hati yang tenang dan akhlak yang terjaga.
Warisan pendidikan KH. Maimun Zubair bukan sekadar ilmu, tetapi juga adab, keikhlasan, dan keteladanan hidup.
Dari beliau, kita belajar bahwa membentuk kader bangsa dan dunia masa depan bukan hanya dengan kecerdasan otak, tapi juga dengan kekuatan hati dan kemurnian niat.
Semoga kita semua dapat meneladani tujuh rahasia KH. Maimun Zubair ini dalam mendidik anak, membina santri dan memperjuangkan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan modern.***
