Dua Karunia Terbesar Hidup: Prof Sholihan Ungkap Makna Syukur atas Amanat Kehidupan dan Panggilan ke Tanah Suci
NUJATENG.COM – Dalam kajian tematik ke-58 yang bertajuk “Syukur atas Dua Karunia: Amanat Kehidupan dan Panggilan ke Tanah Suci”, Prof Sholihan mengajak jamaah untuk merenungkan dua nikmat besar yang sering kali terlupakan: amanat kehidupan dan panggilan menuju Tanah Suci.
Kajian yang berlangsung selepas Maghrib itu disampaikan dengan penuh kehangatan dan kedalaman makna, mengingatkan setiap Muslim bahwa kehidupan adalah titipan Allah dan ibadah haji adalah panggilan khusus dari-Nya.
“Setiap napas adalah amanah, dan setiap langkah menuju Tanah Suci adalah kehormatan yang tak ternilai,” ujar Prof Sholihan membuka kajian.
Amanat Kehidupan: Tanggung Jawab dan Kesempatan untuk Beramal
Prof Sholihan menjelaskan bahwa sejak lahir, setiap manusia telah memikul amanah (أمانة) dari Allah SWT tanggung jawab untuk hidup dengan baik, beribadah, dan berkontribusi bagi sesama.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Anfal (8:27):
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu.”
Ayat ini, menurutnya, menjadi pengingat agar setiap Muslim menjaga amanah kehidupan, baik dalam ibadah, pekerjaan, maupun hubungan sosial.
Syukur atas Nikmat Hidup
Bersyukur (syukr) atas kehidupan bukan sekadar ucapan “alhamdulillah,” melainkan mengisi hidup dengan amal saleh dan tanggung jawab moral.
“Bersyukur itu bukan hanya berterima kasih, tapi membuktikan rasa syukur dengan tindakan nyata,” jelas Prof Sholihan.
Ia menambahkan, setiap amal baik sekecil apa pun adalah bentuk nyata dari kesadaran akan amanah hidup yang harus dijaga dan disyukuri.
Panggilan ke Tanah Suci: Nikmat yang Tak Semua Dapatkan
Memasuki bagian kedua kajian, Prof Sholihan membahas karunia berikutnya: panggilan ke Tanah Suci, baik untuk haji maupun umrah. Ia menjelaskan bahwa panggilan ini bukan semata undangan ritual, tetapi sebuah kehormatan spiritual.
“Tidak semua orang yang mampu secara finansial akan mendapat panggilan ke Tanah Suci. Itu adalah hak prerogatif Allah bagi hamba yang disiapkan hatinya,” ungkapnya.
Haji, sebagai rukun Islam kelima, memiliki makna yang mendalam: perjalanan penyucian diri dari dosa dan keterikatan dunia. Dalam perjalanan itu, seorang Muslim diajak untuk menanggalkan kesombongan, melebur dalam kesetaraan, dan mendekatkan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Persiapan Fisik dan Mental Menyambut Panggilan Allah
Prof Sholihan juga menekankan pentingnya persiapan menyambut panggilan haji atau umrah, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.
Ia menyebut beberapa langkah penting:
-
Menata niat agar semata karena Allah SWT.
-
Menyempurnakan ibadah wajib dan memperbanyak doa.
-
Menjaga kesehatan dan keikhlasan hati.
“Haji yang mabrur dimulai bukan saat di Mekkah, tapi sejak niat tulus itu tumbuh di hati,” tutur beliau.
Ajakan untuk Bersyukur dan Beramal Saleh
Di akhir kajian, Prof Sholihan mengajak jamaah untuk memperbanyak amal saleh dan doa, agar termasuk dalam golongan yang dipanggil ke Tanah Suci di masa mendatang. Ia menegaskan bahwa dua karunia ini hidup dan kesempatan beribadah di Tanah Suci adalah dua nikmat besar yang menuntut rasa syukur yang mendalam.
“Setiap detik kehidupan adalah anugerah. Setiap kesempatan menuju Baitullah adalah panggilan cinta dari Allah. Maka, jangan pernah abai untuk bersyukur,” pesannya menutup kajian.
Menjalani Hidup dengan Amanah dan Syukur
Kajian ini menjadi pengingat kuat bahwa hidup yang bermakna bukan diukur dari panjangnya umur atau banyaknya harta, tetapi dari seberapa baik kita menjaga amanah Allah dan mensyukuri setiap karunia-Nya.
Dengan menjaga amanah kehidupan dan mempersiapkan diri menyambut panggilan suci, seorang Muslim akan mencapai keseimbangan antara dunia dan akhirat hidup yang diridhoi dan diberkahi.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di portalpekalongan.com dengan judul: Syukur atas Dua Karunia: Amanat Kehidupan dan Panggilan ke Tanah Suci
